
Anthem POV
"Aku rasa dia belum siap menjadi raja, Wren," ucapku. Malam ini kami semua menginap di kediaman Raja Wren. Hanya tersisa aku dan Raja Wren yang masih asik berbincang-bincang.
"Hmmm, begitukah menurutmu?" tanya Raja Wren sambil mengusap-usap dagunya.
Aku menggangguk. "Ya, masih banyak keraguan di dalam hatinya," jawabku lagi.
"Tapi, apakah dia akan tetap menikah dengan Lea?" tanya Raja Wren.
Pertanyaan yang sulit. Karena aku juga tidak tau bagaimana kelanjutan hubungan mereka.
Ah, ini episode 100 harusnya episode spesial, kan? Penulisnya lupa pasti! Bagaimana dia bisa melupakan episode spesial ini?
Aku menghela nafasku dan kembali fokus pada pembahasanku mengenai pernikahan Lea dan Matt.
"Kalau soal itu aku tidak tau. Maksudku, bisa saja sekarang keadaan terbalik. Lea yang tidak mau menikah dengan Matt. Kesalahan Matt dan sifatnya yang masih kekanak-kanakan sulit di terima Lea yang suka memaksakan kehendak sedikit mengekang. Mereka perlu waktu lebih lama untuk bisa saling mengenal lagi," jawabku menanggapi pertanyaan Raja Wren.
Raja Wren tampak berpikir. "Aku sudah menyukai Max atau Matt itu. Kenapa semua harus berantakan hanya karena aku ingin mengujinya? Apa aku batalkan saja segalanya?" tanya Raja Wren.
Aku menepuk pundak Raja Wren untuk menenangkannya. "Bersabarlah, Wren. Anggap saja kamu sedang membantu percintaan anak sekolah. Karena mereka belum dewasa, Wren," sahutku.
Mata Raja Wren tiba-tiba membesar. "Itu dia, Anthem! Cupid! Kita butuh peri cinta serta ramuan cintanya untuk Matt dan Lea," seru Raja Wren.
"Hasilnya tidak akan alami, Wren. Mereka kan jadi seperti orang yang linglung dan dipaksakan untuk terlihat mesra dan romantis," sahutku.
Aku tidak pernah melihat pekerjaan Cupid itu benar. Mana ada hanya dengan menembakkan panah ke arah manusia dan manusia itu akan jatuh cinta? Di mana-mana setahuku ketika kita tertembak oleh panah itu akan terasa sangat sakit bukan malah jatuh cinta, kan?
Sebab itu Aku tidak percaya dengan Cupid. Lebih alami ketika kita berjuang untuk seseorang yang kita cintai melakukan apa yang kira-kira ia sukai atau mencari tentang segala sesuatu tentangnya kemudian kita memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kita itu adalah kepuasan tersendiri untukku daripada memakai jasa Cupid.
Raja Wren kembali mengusap-usap dagunya. "Hmm, benar katamu itu tidak akan terlihat alami dan sedikit dipaksakan. Tapi aku ingin mereka tetap menikah. Aku sudah mencintai Matt dan sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri," sahut Raja Wren.
"Bersabarlah dan berikanlah mereka waktu, Wren. Tidak baik Jika terlalu memburu-buru mereka apalagi memaksa mereka untuk segera menikah, kan? Biarkan mereka tumbuh dewasa dengan sendirinya dan kita sebagai orang tua harus menerima keputusan mereka apapun itu. Berharaplah segala keinginanmu akan terkabul, Wren," jawabku bijak.
Aku juga ingin Lea menikah dengan Matt, akan tetapi kalau mereka belum siap aku bisa berkata apa?
__ADS_1
***
Keesokan harinya setelah aku selesai mengantar Alesya, Matt mengajak aku ke sebuah cafe kopi dan dia berjanji akan membayar semua yang aku pesan jadi aku setuju.
"Sejujurnya aku ingin meminta nasehatmu, Anthem," kata Matt.
"Nasehat apa yang kau harapkan dariku? Aku juga bukan seorang manusia dan aku hanyalah malaikat kematian yang bertugas untuk mengambil jiwa-jiwa manusia. Lalu, apa yang kau harapkan dariku?" tanyaku.
Aku bingung jika aku harus memberikan sebuah nasehat atau wejangan kepada makhluk lain. Karena aku bukan orang yang pintar dan aku juga tidak pandai mengungkapkan perasaanku dan sejauh ini kebanyakan mereka selalu salah paham dengan maksudku.
"Bagaimana caraku melamar Lea?" tanya Matt.
Sontak saja aku terbatuk batuk dan menyembuhkan kopi hangatku. "Kapan kamu akan melamarnya? Apa kamu sudah yakin dia mau menikah denganmu? Atau kamu sudah yakin bahwa kamu siap untuk berubah?" Aku menuntutnya dengan pertanyaan karena pernikahan itu hanya satu kali dan dia harus benar-benar matang dalam hal ini sehingga tidak ada lagi kegagalan dalam pernikahan.
Matt mengganggukan kepalanya. "Aku siap dan aku yakin. Kalau untuk Lea aku berharap dia mau menikah denganku. Maka itu bantu aku supaya dia mau mengubah pikirannya dan mau menikah denganku saat aku menyatakan cintaku nanti," sahut Matt.
Aku menghela nafas dan memajukan bibirku. Ini bukan perkara yang mudah. "Bagaimana rencanamu untuk melamarnya? Dan kapankah kamu akan melamarnya, Matt?" Aku bertanya kembali.
Matt tampak berpikir. "Itu yang mau aku tanyakan kepadamu, Anthem," jawab Matt.
"Aku ingin sempurna, Anthem. Karena ini akan menjadi pernikahan yang kedua untuk kami, kan?" tanya Matt.
Benar juga, ini pernikahan mereka yang kedua sekaligus pengangkatan Matt menjadi seorang raja. Dan ketika Raja Wren turun tahta nanti, Matt akan di lantik untuk menggantikan Raja Wren.
"Baiklah, begini caranya," aku mulai merencanakan acara lamaran yang spesial untuk Lea.
Ah, sekarang aku tau kenapa penulis ini tidak memberikan episode spesialnya, karena dia belum terpikirkan acara apa yang terkesan spesial untuk kami.
***
"Sepertinya kamu sibuk sekali, hon?" tanya Alesya suatu hari.
"Memang, karena Matt meminta bantuanku untuk mempersiapkan acara lamaran," jawabku. Kemudian aku menyandarkan tubuhku ke dinding untuk relaks sebentar.
"Dan kau tahu, yang aku herankam adalah, dia tidak memiliki apa pun dan memintaku untuk memikirkan segalanya, dan yang lebih bodoh lagi, aku bersedia," aku menyambung jawabanku.
__ADS_1
Alesya tertawa. Ia menghampiriku dan memelukku. "Kamu tau, kenapa aku memilihmu walaupun kamu adalah Malaikat Kematian? Itu karena kamu baik, sangat baik. Dan aku bersyukur aku bisa mendapatkanmu," katanya, kemudian ia mengecup bibirku.
Aku meningkatkan level kecupannya menjadi sebuah ciuman. "Kalau begitu, bisakah aku minta bantuanmu?" tanyaku sambil terus menciuminya.
Alesya tertawa kegelian. "Tentu saja aku akan membantumu menyiapkan lamaran untuk Matt, begitu kan?" tanya Alesya.
Aku mengangguk. "Apakah aku boleh meminta bantuanmu yang lain?" tanyaku lagi.
"Apa itu?" Alesya balik bertanya.
"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya," jawabku tersenyum nakal.
Karena ini adalah adegan dewasa, maka aku tidak akan menceritakan detailnya kepada kalian, hahaha.
Selesai aku melakukan adegan dewasa bersama Alesya, tiba-tiba pintu rumah kami di ketuk. Ah, aku lupa, kami sudah kembali ke bumi. Kecuali Lea. Dia tidak mau kembali, maka itu aku ragu, apakah Lea masih mau menikah dengan Matt.
Aneh sekali, kenapa jadi aku yang pusing?
"Anthem!"
Suara itu, Lea!
"Kenapa berteriak?" sahutku membalas teriakannya sembari membuka pintu untuk Lea.
"Kamu lama sekali! Orang-orang melihatku seakan aku penagih hutang yang menunggumu untuk membayar hutangmu, itu memalukan," ujarnya kesal.
Lea kemudian duduk, dan mengintip Alesya yang sedang tertidur. "Pantas saja kamu lama membukakan pintu untukku, kalian baru saja bercocok tanam ternyata," kata Lea.
Aku mendengus kesal. "Ada perlu apa?" tanyaku, menutup kamar kami.
"Katakan kepada Matt, aku tidak jadi menikah dengannya!" ucapnya.
"Hah! Kenapa?" tanyaku terkejut.
...----------------...
__ADS_1