
Matt POV
"Harusnya kukatakan saja kepada Lea kalau aku juga merindukannya! Kenapa aku harus berlagak serius sih? Tolong aku, Rue!" Ujarku menyesal.
"Entahlah. Aku tidak tau harus apa." kata Rue tenang.
"Ayolah, mundurkan waktu atau bagaimana. Padahal aku ingin sekali memeluknya. Aaarrgghh! Bodoh sekali aku ini!" sahutku merutuki kebodohanku.
"Baru sadar yah kalau kamu itu kadang tidak berpikir, ckckck." Anthem tiba-tiba muncul entah darimana.
Aku menatapnya kesal, "Sudahlah!" tukasku.
Tapi tunggu, "Hei, kapan kamu menjadi manusia?" tanyaku.
Anthem memajukan bibirnya, "Entahlah hanya Dia yang tahu." Kata Anthem sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
Benar juga. Semua melalui kehendakNya.
Brad!
"Bagaimana tentang Brad?" Tanyaku kepada Rue dan Anthem.
"Apa kamu benar-benar mau menyelidikinya?" Rue bertanya kembali.
"Bagaimana menurutmu?" Aku meminta pendapat kepada mereka.
Anthem dan Rue saling menatap, "Tidak ada salahnya menyelidiki dia. Toh supaya ada penambahan bab juga kan?" kata Anthem.
Aku tersenyum lebar, "Betul." jawabku.
Kenapa tiba-tiba nama Bradd muncul? Sebenarnya ini hanya kecurigaanku saja. Saat berada di Api Penyucian aku bertemu dengan Hunter, dan setelah aku melihat data-data Hunter ternyata dia tidak ada hubungannya dengan keluarga mafia yang aku bunuh.
Aku sempat mengobrol bersama Nelson saat Anthem bertugas. Aku mengeluarkan Nelson dari Api Penyucian itu dan aku bertanya-tanya kepadanya. Dia mengenak Hunter tapi Hunter bukan dari keluarga besar atau sebuah klan.
Ada seseorang yang memerintahkan Hunter untuk mencari dan membunuhku.
Kecurigaanku beralih kepada Brad. Mengingat dia baik sekali kepada Lea dan Rue.
Saat awal Rue bertemu Bradd, Rue berkata bahwa Bradd adalah orang baik. Namun, setelah kejadian itu dan Lea kembali ke bumi, Rue mencurigai Bradd.
Aku mempercayai insting Rue, dia tidak pernah salah menilai orang.
"Dekati Lea, Matt." Usul Anthem.
Aku memandang Anthem tak percaya dan memeluk Rue, "Beritahu dia, Rue kalau aku melakukan kebodohan yang sangat akut dan sulit di sembuhkan." sahutku.
Rue menepuk punggungku, "Cari cara lain untuk itu, Matt. Memangnya kamu tidak mau kembali bersama Lea lagi?" Tanya Rue.
Aku mengangguk dan meraung, "Tentu saja aku mau, Rue! Tapi aku tidak tau caranya dan tadi malam aku telah menolaknya." sekali lagi aku merutuki kebodohanku.
__ADS_1
Sebenarnya aku tidak mau kehilangan dia lagi walaupun aku tau dia sudah abadi di usia semuda itu tapi tetap saja. Aku hanya ingin memastikan kali ini langkah yang aku ambil tidak salah.
Saat aku di atas sana, aku berbicara dengan Penguasa. Lea ingin menjadi manusia sedangkan aku ingin menjadi seperti Lea dengan maksud supaya aku bisa melindunginya.
Tapi Penguasa menertawakanku, "Pada akhirnya kalian akan menjadi diri kalian sendiri yang sekali lagi harus berjuang untuk mendapatkan apa yang kalian impikan." Jawab Penguasa saat itu.
Maka dari itu aku akan menjauhkan Lea dari masalah seperti ini, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Di saat aku sedang merenung, Anthem menarikku. "Ikut aku!" Perintahnya.
"Kemana?" Tanyaku.
"Lea." Jawab Anthem.
Kali ini aku tidak bisa di bodohi karena sekarang Lea dan Alesya berteman baik, jadi andaikan Anthem berkata ingin bertemu Lea itu artinya dia ingin bertemu Alesya.
"Sekalian saja kamu berbicara kembali dengan Lea dan carilah informasi tentang Brad sebanyak-banyaknya. Dan jangan sampai dia mengetahui bahwa kamu adalah Max." Ucap Anthem.
Aku mencibir, "Tidak mungkin, kan?" sahutku.
"Bisa saja. Gaya bicaramu mirip sekali dengan Max, saat ingatanmu belum kembali kamu seperti Axel yang bernama Matt. Begitu ingatanmu kembali kamu adalah Max yang berada di dalam tubuh Axel." ucap Anthem.
Aku berpikir bagaimana caraku berbicara dengan gaya Axel, "Ehem! Ehem! Bagaimana dengan sekarang, Anthem?" Tanyaku.
"Masih sama." jawab Anthem singkat.
"Kamu meninggalkanku disini begitu saja?" tanyaku tidak percaya. Cih! Aku pikir kami akan berempat berada di suatu tempat.
Anthem mengibaskan tangannya tanpa berbicara.
Aku pergi ke kantor Lea, semoga saja ada Bradd disana sehingga aku bisa menganalisa kesimpulanku.
"Pagi Nona Lea." Sapaku.
Aku membuat gaya bicaraku menjadi seperti Axel yang bernama Matt.
"Pagi Matt. Sudah sarapan?" Tanya Lea.
Apakah ini kesempatan untukku? Aku mencuri pandang ke arah Rue meminta pertolongan kepadanya. Rua mengangguk.
"A...aku sudah sarapan Nona." jawabku.
Lea tak hilang akal, "Makan siang nanti maukah kamu makan bersamaku?" Lea kembali bertanya.
Aku mengangguk, "Baik, Nona Lea." Jawabku.
"Maaf, apakah Tuan Bradd bekerja disini juga? Karena nama kantor ini kan Lea and Brad Corp." Ucapku mulai memancing.
Lea menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian menggeser kursinya mendekatiku, "Hei, ada apa sebenarnya dengan Brad? Dia pria baik, kalian bersahabat dekat." Bisik Lea.
__ADS_1
"Nanti akan aku ceritakan untuk sementara bersikaplah seolah aku tidak pernah mengatakan ini kepadamu. Bagaimana Brad?" Tanyaku sambil berbisik.
Jantungku berdegup kencang hanya berbicara sedekat ini dengan Lea. Aku sudah tidak dapat menahan rinduku kepadanya.
"Brad? Dia jarang datang kesini. Hanya satu kali dia datang saat pembukaan kembali kantor ini setelah itu dia tidak datang lagi." Jawab Lea masih berbisik.
"Ehem!" Rue berdeham kemudian bergabung bersama kami.
"Berarti kecurigaanku benar?" Rue bertanya dengan berbisik juga.
Sebenarnya ini aneh sekali karena ruangan di tempatku ini sangat besar dan tidak ada siapa-siapa selain kami bertiga, lalu kenapa harus berbisik?
Aku mengangguk lalu beralih ke Lea, "Apa kamu punya nomor ponselnya?" Tanyaku.
Lea mengambil ponselnya dan memberikannya kepadaku, "Aku tidak membutuhkan ini, pakailah." Sahut Lea.
Aku membuka ponsel Lea,
Deg!
Dia memasang wallpaper dirinya yang bersayap dan pria yang bayangannya mirip sekali denganku.
Aku mencari nomor Brad dan kukirimkan ke nomorku setelah itu aku mengembalikan ponsel Lea.
"Kira-kira apa yang menyebabkan Brad datang kesini?" Tanyaku.
"Suatu masalah seperti dokumen hilang atau harga saham turun. Dia pasti akan datang secepat kilat." jawab Rue.
Aku mengangguk dan tersenyum, "Aku punya ide." Aku berbisik kepada Lea dan Rue.
***
"Aku yakin kamu banyak belajar dari Anthem dalam hal kepribadian. Matt berbeda sekali dengan Max." Ucap Lea saat makan siang.
Aku tersenyum, "Ya, dia memintaku untuk tetap menjadi Matt dimana pun, tapi itu sulit setelah ingatanku terbuka." Jawabku.
"Aku tau bagaimana rasanya. Matt, kapan kamu punya waktu untuk membicarakan tentang kita?" Tanya Lea menuntut.
"Maafkan aku soal kemarin. Sejujurnya aku juga merindukanmu, aku ingin memelukmu, aku ingin kita kembali seperti dulu tapi dengan tubuh seperti ini butuh sebuah proses. Akan aneh sekali jika tiba-tiba aku memelukmu, kan?" Jawabku berusaha untuk jujur.
"Ya, aku mengerti. Tapi maksudku bisakah kita meluangkan waktu berdua saja di saat kita sedang senggang? Tanpa perlu ada orang lain tau." pinta Lea.
Aku mengangguk dan kembali tersenyum, "Bisa saja. Ayo kita buat rencana tentang itu." Sahutku menimpali.
Bebanku sedikit terangkat, karena aku yakin hubunganku dengan Lea tidak akan berhenti sampai sini walau pun kami harus menatanya kembali dari awal dengan perlahan.
Aku percaya itu.
...----------------...
__ADS_1