
Anthem POV
"Hai." Sapaku kepada jiwa Alesya.
Sebenarnya aku kecewa kepada diriku sendiri karena aku salah perhitungan. Seharusnya aku mengawasi dia dari malam, aku hanya fokus pada jam kematiannya saja.
"Hai, apakah kamu Anthem? Apakah aku bermimpi? Dan apakah karena kamu terlalu sempurna aku membayangkanmu sebagai seorang malaikat?" Tanya Alesya tersenyum.
Sialan! Aku ingin sekali memeluknya!
"Tidak. Kamu benar. Aku seorang malaikat, malaikat yang menyedihkan." Jawabku.
"Malaikat itu selalu agung dan besar, tidak ada malaikat yang menyedihkan." Kata Alesya sambil terkikik kecil.
"Aku tidak." Sanggahku.
Alesya menggeleng, "Kamu tampan. Bersayap atau pun tidak, kamu tetap kuanggap sebagai penyelamat hidupku." Jawab Alesya.
Deg!
Aku semakin merasa bersalah karena telah membawa Leslie sumber kebahagiannya.
"Alesya, ada yang harus kukatakan kepadamu. Sebelumnya aku minta maaf, aku adalah malaikat kematian dan akulah yang membawa Leslie." Sahutku tertunduk.
Alesya terdiam, airmatanya sudah sangat siap untuk segera turun dari pelupuk matanya.
"Kalau begitu, apa kamu bisa membawaku juga?" Tanya Alesya.
Aku menggeleng, "Aku tidak bisa membawamu karena Penguasa memberikanmu satu kesempatan lagi untuk hidup. Maka itu kita berada disini." Ucapku.
Alesya melihat ke sekeliling, "Ini stasiun?" Tanya Alesya.
Aku mengangguk, "Ya, kamu punya dua pilihan. Mau terus atau melanjutkan hidup?" Tanyaku.
"Terus itu kemana?" Tanya Alesya.
Pertanyaan yang sama yang selalu di tanyakan oleh manusia yang mampir di stasiun ini.
"Terus itu kamu akan melanjutkan proses pembersihan dosamu." Jawabku.
"Apakah aku..."
Aku tersenyum kecut, "Kamu tidak bisa bertemu Leslie. Penyebab kematian kalian berbeda. Kematian Leslie sudah di tentukan oleh Penguasa sedangkan kamu, kematianmu kamulah yang menentukannya oleh karena itu jalan kalian berbeda." Jawabku.
"Apakah nantinya aku akan di neraka dan Leslie di dalam surga?" Tanya Alesya lagi.
"Tidak ada surga atau neraka. Semua makhluk pada akhirnya akan kembali kepadaNya." Jawabku.
Alesya terdiam, dia berjalan menyusuri rel kereta api dan duduk di pinggirnya.
"Damai sekali disini." Ucapnya sambil menarik nafas.
__ADS_1
"Karena sepi." Jawabku.
"Apakah ada waktu yang akan menungguku?" Tanya Alesya lagi.
Aku mengangguk kemudian Alesya bertanya kembali padaku, "Kalau aku bertanya kepadamu, apa keputusanmu untuk hidupku?"
Sekarang giliranku yang terdiam, "Aku? Aku akan memintamu untuk terus hidup." Jawabku tanpa ragu.
Tatapan Alesya beralih kepadaku, "Kenapa?" Tanyanya.
"Karena aku mencintaimu dan aku ingin hidup bersamamu." Jawabku.
Ya, itulah keputusan akhirku.
Saat Penguasa bertanya kepadaku apakah aku siap menjadi manusia, awalnya aku ragu tapi Penguasa pun memberikan aku pilihan.
Aku akan melepaskan gelar Malaikat Kematian Terbaik Sepanjang Masa jika aku menjadi manusia dengan syarat aku harus berhasil membimbing Alesya.
Karena penyebab kematian dia adalah mencoba membunuh dirinya sendiri dan itu tidak di benarkan maka Penguasa menberikan tugas untukku seumur hidup untuk membimbing Alesya supaya ia dapat menemukan terang dan kebahagiaannya.
"Kenapa kamu bisa mencintaiku, Anthem?" Tanya Alesya.
Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, itu terjadi begitu saja. Seharusnya kematianmu dan Alesya sebulan yang lalu tapi aku memohon kepada Penguasa untuk membiarkan kalian hidup dan Ia melihat kalian memiliki semangat untuk hidup jadi Ia mengabulkan keinginanku." Jawabku.
"Itu karena kamu datang, Anthem. Kamu datang ke hidupku, kamu memberikan terang di hidupku. Seperti cerita Matt tentang temannya yang seorang mafia. Ia diselamatkan oleh seorang gadis ajaib yang luar biasa yang mampu mengubah hidupnya yang gelap dan dingin menjadi terang dan hangat." Jawab Alesya.
"Kamu datang di saat yang tepat. Di saat kami kehilangan harapan dan semangat untuk hidup. Aku sempat putus asa karena melihat Leslie yang sakit-sakitan dan aku tidak mempunyai cukup uang untuk membawanya berobat, dan bahkan aku tidak punya waktu untuk sekedar menemaninya. Dan seperti seseorang menjawab doa dan harapanku, kamu datang. Tiba-tiba saja hidupku berubah, aku bisa melihat dunia menjadi lebih indah. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh teman Matt. Kamu adalah terangku, Anthem." Sambung Alesya.
Aku ingin memeluknya tapi sebagai pekerja profesional aku menahan keinginan itu. Bahkan aku menahan airmataku untuk tidak turun walaupun aku ingin sekali menangis saat ini.
"Waktumu lima menit Alesya. Pikirkanlah." Sahutku.
"Anthem, apakah jika aku terbangun nanti aku akan melupakan percakapan ini?" Tanya Lea.
Aku mengangguk, "Ya." Jawabku singkat.
Alesya berdiri dan memegang tengkukku, dengan lembut ia mendekatkan wajahnya ke arahku kemudian ia mendaratkan bibirnya ke bibirku.
Alesya memejamkan matanya, dan demi Penguasa apa yang harus aku lakukan?
Maka, aku tidak peduli dengan profesionalitas kerja! Aku membalas ciuman Alesya dan merengkuh pinggangnya kemudian memasukan ia ke dalam pelukanku.
***
Bip....bip...bip
Syut!
Matt, Lea serta Rue mengelilingi ranjang rumah sakit Alesya. Aku melihat Alesya dipasangi ventilator dan peralatan lainnya.
"Bagaimana?" Tanya Lea.
__ADS_1
Aku mengangkat bahuku, "Aku tinggal menungguku, kan?" Jawabku.
Mereka merangkul dan memegang tanganku. Apa pun keputusan Alesya nanti aku akan tetap menghargainya.
Aku tidak memaksa dia untuk tetap hidup, aku juga tidak memaksa dia untuk terus. Aku menyerahkan segala keputusan ini kepadanya. Aku membiarkan dia berpikir apa yang dia mau. Tugasku hanyalah membimbingnya dan itu sudah kulakukan.
"Berapa lama dia akan di atas sana?" Tanya Matt.
"Aku memberinya waktu lima menit untuk berpikir." Jawabku.
Matt protes, "Itu terlalu cepat! Saat itu kamu memberikan waktu tujuh menit untuk berpikir! Dia seorang wanita yang sedang labil, Anthem. Berbaik hatilah." Matt berseru.
"Aku sudah berbaik hati Matt. Tidak ada malaikat sebaik aku! Walaupun aku adalah Malaikat Kematian tapi aku baik. Sangat baik." Kataku membanggakan diriku sendiri.
"Apakah kalau dia memilih untuk hidup nanti, kamu akan berubah menjadi manusia? Apa kamu tidak sayang dengan sayap hitammu yang cukup keren ini?" Tanya Lea memanas-manasi.
Aku menengok ke belakang, "Sebenarnya aku menyayangi sayapku melebihi apa pun di dunia ini tapi itu semua berubah ketika aku bertemu Alesya. Dia dengan cepat menempati puncak klasemen di hatiku. Dan dia menjadi kesayanganku setelah sayap hitam kerenku ini." Jawabku tanpa penyesalan.
"Penguasa itu tidak adil! Kamu menjadi manusia, sedangkan aku dijadikan abadi! Huh!" Seru Lea geram.
"Karena kamu tidak mempunyai kontribusi selain menjadi beban di dunia kalau kamu menjadi manusia nanti, hahahaha!" Ejekku.
"Malaikat sialan!" Tukas Lea, "beruntunglah kamu Anthem, karena sekarang kita berada di rumah sakit aku tidak menyerangmu! Cih!" Balas Lea lagi.
Aahh, semangatku kembali karena aku berhasil membuat Lea kesal.
Bip...bip...bip
"Anthem, lihat Alesya! Lihat grafiknya!" Rue dan Matt berseru.
"Aku akan panggil dokter!" Matt pun segera berlari untuk mencari dokter.
Alesya menggerakkan jarinya, kemudian kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Dokter datang dan dengan sigap memeriksa Alesya, "Kita tunggu sampai ia sadar." Kata dokter.
"Nona Simpson. Apakah anda mendengar saya?" Tanya dokter itu dan mengecek respon cahaya dengan menggunakan senter kecil.
"Nona Simpson." Panggil dokter lagi.
Tak lama, Alesya mengerjapkan kedua matanya.
"Nona Simpson, apakah anda mendengar suara saya?" Tanya dokter itu lagi.
Alesya mengangguk pelan.
Aku maju mendekati Alesya, "Hai." Sapaku.
Alesya tersenyum di balik ventilatornya dan menggenggam tanganku, aku berbisik di telinganya, "Terimakasih karena kamu mau bertahan hidup."
...----------------...
__ADS_1