
Lea POV
Deg
Deg
Deg
Akhir-akhir ini jantungku ritmenya berantakan kalau Max ada di sampingku. Apa aku harus ke dokter? Masa penyihir ke dokter? Kacau sekali.
"Rue, apakah aku tampak sakit?" Tanyaku kepada Rue. Aku anggap Rue pintar jadi aku bertanya kepadanya.
Rue melihatku, "Julurkan lidahmu." Perintah Rue dengan tongkat yang sudah menyala di ujungnya. Setelah itu, dia menyinari bawah mataku dan memegang keningku dengan telapak tangannya.
"Apa yang kamu lakukan Rue?" Aku bertanya lagi.
"Entahlah, aku sering melihat manusia seperti itu kalau mereka sedang sakit jadi aku ikuti saja tapi aku tidak paham." Jawabnya.
"Aku salah mengandalkanmu!" Tukasku kesal.
"Ya sudah, kan kamu yang bertanya aku hanya menjawab." Balas Ryu gusar.
"Aku akan bertanya kepada Brad." Sahutku dan bergegas menemui Brad tapi Rue sudah melakukan mantra tidak bergerak kepadaku.
"Apa maksudmu Rue!" Tanyaku geram, aku berusaha melawan mantranya tapi mantra Rue terlalu kuat.
"Diam disitu!" Kata Rue, "kenapa harus selalu Brad?" Tanya Rue.
Aku terdiam, "Karena Brad manusia kan? Dan kupikir aku akan bertanya kepadanya tentang sakitku ini." Aku menjawab Ryu santai.
"Kalau kamu terlalu sering melakukan itu, Brad akan menyangka kamu menyukainya. Apakah kamu menyukainya?" Tanya Ryu lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak. Kamu tau siapa yang selalu ada di hatiku, Rue?" Tanyaku.
Rue mengangguk, "Aku tau. Semakin kamu dekat dengan Brad, semakin jauh pula hubunganmu dengan Max. Apa kamu paham itu?" Sahut Rue.
Deg!
Pantas saja akhir-akhir ini Max suka kesal kalau aku bersama Brad. Ah, itu cemburu yang dikatakan Ryu. Drama percintaan.
"Begitukah? Jadi aku harus apa?" Tanyaku.
"Apa kamu serius mau menjadi manusia?" Ryu balik bertanya.
Aku mengangguk, "Ada masalah dengan itu?" Aku menantang Rue dengan pertanyaanku.
"Kamu harus merasakan sakit yang sakit sekali sampai bahkan energimu habis karena menangis." Jawab Rue.
"Adakah hal yang membuat manusia seperti itu?" Tanyaku lagi.
"Tentu saja ada dan banyak." Jawab Rue.
"Tapi itu mengerikan. Maksudku itu akan sangat melelahkan." Ujarku.
"Sangat. Andaikan kamu berhasil menahan sakit itu maka kamu akan menjadi seorang manusia. Dan saranku adalah kalau kamu mencintai Max ya dekati dia, jangan buat Max salah paham terhadap Brad." Kata Rue menjelaskan.
"Sulit sekali." Tukasku.
Rue mengangguk mantap, "Memang." Katanya.
"Tapi jantungku tidak aman jika Max dekat denganku, Rue." Ucapku lagi.
"Kalau dengan Brad?" Tanya Rue.
"Jantungku tenang sekali, seperti bunyi gemericik air. Begitu aku memikirkan Max, gelombang dahsyat menghantamku. Sangat berbeda." Jawabku.
__ADS_1
"Katakanlah kepada Max kamu menyukainya." Kata Rue.
"Aku malu." Sahutku berkilah.
Rue mencubit lenganku, "Beruntunglah kamu nonaku, Lea. Kalau status kita sederajat maka aku akan mengubahmu menjadi seekor kucing kecil dan aku akan memasukanmu ke dalam kandang." Tukasnya.
"Apa maksudmu?" Tanyaku lagi tidak paham.
"Sudahlah." Sahut Rue mengibaskan tangannya, "aku tidak bisa dekat denganmu terlalu lama, bahaya." Kata Rue kemudian ia bergegas pergi.
Dasar Rue tukang marah! Aku yakin dia akan menua lebih dulu dibandingkan dengan ayahku. Aku berani bertaruh dengan para duyung!
"Itu karena aku terlalu banyak mengurusmu, Lea!" Suara Rue bergaung memenuhi seluruh rumah ini, aku menutupi telingaku.
"Aku tidak memintamu mengurusku, itu ayahku yang selalu memintamu untuk menjagaku! Rue jelek!" Tukasku kesal.
***
Hari itu aku memberanikan diri bertemu dengan Max, padahal aku sudah berciuman dengannya saat kami pergi ke taman hiburan. Dan sekarang aku tidak sanggup bertemu dengannya.
"Lea!" Max tiba-tiba memanggilku.
"Darimana kamu tau itu aku?" Tanyaku, dan aku menyesal itu pertanyaan yang bodoh.
"Rambutmu yang panjang itu bergerak seperti tirai bergelombang yang bergerak-gerak." Jawab Max.
Aku memegang rambutku, "Oh, begitu." Sahutku salah tingkah.
"Kenapa kamu menghindariku?" Tanya Max.
Max mendekatiku, "Max, sadarlah kita sedang berada di kantor Brad." Bisikku ketika jarak di antara kami sudah semakin dekat.
"Ini kantorku, aku yang membeli gedung ini bukan Brad." Bisik Max.
Max berhasil memojokanku, "Jadi, kenapa kamu terus menghindar dariku Lea?" Tanya Max, sekarang ia merendahkan wajahnya sehinga mata kami bertatapan.
"Aku tidak menghindarimu, Max. Hanya saja kita sering berselisih jalan." Jawabku mengelak.
"Benarkah? Aku pikir kamu malu karena kamu menciumku lebih dulu." Bisik Max di telingaku.
Blush!
Aku menundukan kepalaku, "A...aku tidak menciummu, aku hanya..."
"Memulainya." Jawab Max melengkapi jawabanku.
Aku menatapnya dan tersenyum lebar, "Max, aku harus menyelesaikan laporanku. Aku punya deadline hingga jam 2 siang nanti." Ujarku berkilah.
"Aku juga punya deadline Lea. Bahkan sudah tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana ini?" Tanya Max semakin menggodaku.
"Ya sudah kita kerjakan bersama." Jawabku. Eh?!
"Ide bagus!" Sahut Max, yang kemudian karena jawaban tanpa dipikirkan olehku itu, dia mengangkatku seperti mengangkat karung beras.
"Max! Turunkan aku!" Aku berseru dan memukul-mukul Max.
Klek!
Max membawaku ke ruangannya. Ia menutup pintu bahkan menguncinya dan menutup semua jendela yang berhadapan langsung dengan meja kerja para staff dan karyawannya.
"Oke, ayo kita kerjakan bersama." Kata Max dan mendudukanku di atas meja kerjanya.
Jantungku kembali berdetak dengan tidak normal, aku benar-benar takut mati sekarang tapi Anthem tidak ada berarti aku hanya akan pingsan.
"Apa yang akan kita kerjakan bersama?" Tanyaku.
__ADS_1
Max memasukan tangannya ke balik rambutku, dan mendorong tengkukku kemudian ia menciumku dengan lembut.
"I...ini tidak bisa Max." Sahutku mendorongnya.
"Tidak bisa apa?" Tanya Max.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu dahulu." Ujarku.
"Tentang apa itu? Apakah penting? Kalau soal pekerjaan aku bisa menundanya." Kata Max cepat.
"Tentang hatiku." Jawabku.
Aku pikir Max akan mundur tapi tidak, dia terus maju dan memberikanku kesempatan untuk berbicara.
"Ada apa dengan hatimu?" Tanya Max serius. Tatapan matanya menatapku dengan tajam.
"Sepertinya aku jatuh cinta kepada seseorang dan..."
"Aku tau kamu jatuh cinta kepadaku." Jawabnya langsung.
Benar Max! Benar! Tapi harga diriku tidak terima dengan itu berbanding terbalik dengan hatiku yang saat ini melonjak-lonjak kegirangan. Aku butun sesuatu untuk mensinkronisasikan otak dan hatiku!
"Tidak seru bicara denganmu! Lupakan!" Tukasku kesal.
Max tertawa, "Hahaha, hei Lea. Terimakasih." Katanya.
"Untuk?" Tanyaku.
"Untuk segalanya." Jawab Max, "kamu memberikanku hidup serta artinya. Dan bahkan kamu mewarnainya dengan warna yang cerah dan terang." Sambung Max lagi.
"Saat itu jika kamu tidak memergokiku dengan Eleanor aku tidak akan bisa sampai di titik ini. Mungkin aku masih bersama Nelson berkutat di dalam kubang kegelapanku. Tapi kamu datang dan menyelamatkanku, Lea. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali kamu menyelamatkan hidupku." Max melanjutkan pembicaraannya.
"Jadi, sekali lagi terimakasih Lea." Kata Max, mengecup punggung tanganku layaknya seorang pangeran.
Aku membungkukkan badanku, "Maukah kamu menjadi pangeranku Max?" Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku.
"Dengan senang hati, Nona." Jawabnya.
Aku memeluk Max yang membuka tangannya lebar -lebar, "Seharusnya ada kuda putih." Sahutku menyayangkan moment indahku tanpa kehadiran seekor kuda putih.
"Aku punya. Tunggulah di jendela itu. Aku akan menjemputmu dari bawah menggunakan kudaku." Ucap Max. Ia segera membuka kunci pintu ruangannya dan berlari.
Apa yang akan ia lakukan? Aku menunggu Max di depan jendela ruangannya seperti yang telah Max instruksikan.
Tak lama,
Din...din
Din...din
Sebuah mobil putih dengan emblem seekor kuda berhenti tepat di bawah jendela ruangan Max tempat aku menunggu. Seluruh karyawan berbondong-bondong menyaksikan apa yang dilakukan oleh Max.
Atap mobil itu terbuka, dan kemudian muncullah Max disana dengan Ed yang menyandarkan sebuah tangga untuk Max naiki.
"Lea! Aku tidak punya seekor kuda putih, sulit sekali mencari kuda putih di kota ini tapi anggaplah itu kuda putihku." Kata Max sambil menaiki tangga itu sampai ke lantai tempat aku menunggu.
"Tapi, ikutlah bersamaku. Pegang tanganku dan jangan pernah kamu lepaskan." Katanya tersenyum dan mencium lembut bibirku.
Tidak masalah untukku Max menaiki kuda atau tidak karena untukku dia pangeranku seorang dengan atau tanpa kuda putih.
...----------------...
Guys, aku punya karya baru. Mampir dan dukung karyaku yah. Terimakasih.
__ADS_1