
Anthem POV
Sejak Alesya pulih dan memilih untuk hidup, ia seakan dilahirkan kembali. Dia menjadi pribadi yang benar-benar lain dari sebelumnya. Dia lebih ceria, lebih banyak senyum, dan lebih banyak bercerita. Tambahan lagi, dia jadi suka makan sama seperti Lea.
"Aku lapar, bisakah kita membeli corndog di depan itu, Anthem?" tanya Alesya.
Aku membelalakkan mataku, "Tapi kamu baru saja selesai makan kentang goreng dan hamburger, Sya." ucapku.
"Itu semua kan makanan ringan. Tidak akan membuat berat badanku bertambah. Ayo kita kesana!" Alesya menarik tanganku. Aku menggenggamnya, dan dia tersenyum.
Beginikah jika aku menjadi manusia nanti? Tapi berarti uangku akan cepat habis? Mengerikan sekali! Akan akan bekerja dengan Lea jika aku menjadi manusia dan menuntut bayaran yang tinggi. Aku akan bekerja sampai minggu supaya aku bisa memenuhi kebutuhan makan Alesya.
Itu keputusanku tapi aku belum dapat kabar lagi dari Penguasa. Apakah aku ingin menjadi manusia untuk bisa menikah dengannya? Rasa cintamu untuk Alesya semakin besar setiap harinya. Aku harus berterimakasih kepada Lea karena dia yang membuat Alesya menikmati hidup.
Hubunganku dengan Alesya juga semakin baik, meskipun baru sampai tahap mencium pipi dan bergandengan tangan tapi aku sudah senang sekali.
Seperti sore ini aku mengajaknya berkencan, dan dia menyambut ajakanku dengan senang.
"Oh, ayo. Mari kita ajak Matt dan Lea. Apa kamu tau mereka juga habis berkencan. Lea menceritakannya kepadaku." sahut Alesya gembira.
Aku tau makanya aku diam. Aku takut aku akan membocorkannya kepada Alesya tapi si Lea bodoh itu bercerita kepada Alesya dan Alesya dengan bahagianya menceritakan itu kepadaku. Saat itu Lea berpesan, "Ini rahasia! Jangan beritahu siapa pun."
Dan sekarang aku berpikir apa itu rahasia?
"Terimakasih Anthem sudah mengantarku. Oh iya kapan rencana kencanmu itu?" tanya Alesya.
"Besok sore, bagaimana?" Aku menjawabnya.
Dia mengangguk, "Oke. Aku akan memberitahukan ini kepada Lea, dia pasti senang." kata Alesya.
Sepulangnya dari mengantar Alesya aku kembali ke atas, namun aku memutuskan untuk mengunjungi Lea dahulu.
"Yo!" sapaku.
"Masuklah. Ada apa kamu datang kesini?" Lea bertanya dan mempersilahkanku untuk duduk sedangkan Rue sibuk di dapur.
__ADS_1
"Aku bingung." ucapku.
"Bingung apakah kamu pada akhirnya ingin menjadi manusia atau tidak?" tanya Rue tepat sasaran.
"Apa yang membuatmu berat?" tanya Lea.
"Waktu. Aku harus menunggu berapa lagi supaya aku bisa menjadi manusia dan aku tidak tau bagaimana prosesnya. Dan yang kedua adalah jika aku menjadi manusia maka aku akan lemah. Aku tidak bisa melindungi Alesya dengan maksimal. Apakah boleh aku mitmnta setengah-setengah?" tanyaku.
Semua keputusan aku pertimbangkan dengan matang, aku ingin menikah dengan Alesya tapi aku takut jika aku menikah sebagai manusia aku akan lemah. Tapi jika aku tetap menjadi malaikat, bagaimana caraku menjelaskan kepada Alesya.
"Katakan sejujurnya kalau kamu adalah malaikat kematian yang telah membawa Leslie pergi. Dan katakan juga kalian pernah bertemu di stasiun terakhir, saat disana kamu sudah menjelaskan segala-galanya kepada jiwa Alesya." ucap Rue santai.
"Mana bisa seperti itu kan?" tanyaku kesal. Kenapa dua makhluk ini menanggapiku dengan main-main?
Ting... tong
"Siapa itu?" tanyaku, "Brad, dia ingin membahas sesuatu dengan kalian. Tenang saja dia tidak bisa melihatku. Lea, pancing terus tentang dirinya." pintaku.
Benar tebakanku, Brad masuk ke dalam dengan seny menawan dan membawa puding roti kesukaan Lea.
"Maaf mengganggu kalian. Aku hanya lewat dan mampir kebetulan aku melewati toko roti dan aku tau kamu sangat menyukai ini, jadi ini buatmu." kata Brad ramah.
Aku mendekati mereka, Lea melirik ke arahku tapi aku tetap tidak bergeming karena Brad tidak bisa melihatku kecuali kalau dia mati.
Brad mengangguk, "Ah, bagaimana kabar kantor?" tanya Brad.
Hmmm, aku tau mengarah kemana percakapan ini.
"Baik-baik saja. Semua berjalan dengan baik." Rue yang menjawabnya.
"Aku dengar kalian menerima pegawai baru?" Brad kembali menyelidiki.
Lea memandang Rue dan Rue mengangguk, "Ya, kebetulan dia saudara jauh dari salah seorang kenalan kami. Dia bekerja di restoran tapi merasa tidak cocok lalu mendaftar ke tempat kami." jawab Rue.
"Sedang tidak membuka lowongan pekerjaan kan, setauku? Kenapa dia bisa masuk? Apakah kalian mengenalnya cukup dekat? Siapa namanya?" tanya Brad menuntut.
__ADS_1
"Matthew Johnson. Tadi sudah kukatakan kalau dia adalah saudara jauh kenalan kami jadi kami membantunya. Apa ada masalah dengan itu?" tanya Rue lagi.
"Psst, tanya sesuatu tentang dia!" Perintahku.
"Apakah aku mengenal Matthew ini?" tanya Brad.
Lea dan Rue menggeleng bersamaan, "Tidak. Dan kenapa kamu jarang datang ke kantor? Bahkan nyaris tidak pernah Brad." Rue menuruti permintaanku.
Wajah Brad berubah menjadi tidak nyaman, "Aku ada urusan. Baiklah kalau kalian mau datang aku akan datang tapi aku tidak dapat datang setiap hari." jawabnya tersenyum.
Bukan senyum yang biasa ia berikan, ini semacam senyum formalitas.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Sampaikan salamu untuk teman baru kalian, siapa namanya tadi Matthew. Sepintas namanya seperti Max. Hahahaha, aku merindukan dia ternyata." Ucapnya berbasa basi.
Mengerikan! Manusia benar-benar mengerikan.
Setelah Brad pulang kami bertiga berkerumun kembali, "Adakah yang aneh?" tanya Lea.
Aku dan Rue mengangguk, "Ya, perubahan pada wajahnya yang sangat drastis saat kita meminta dia untuk datang dan saat kita menceritakan tentang Matt. Siapa dia sebenarnya?" tanya Rue.
"Menurut Max, Brad adalah seorang Don mafia dan Hunter adalah capo. Setelah ingatan Max kembali dia teringat tentang Brad dan memutuskan untuk mencarinya." Sahutku.
Aku menghela nafas, "Apa kalian sadar kalau manusia itu mengerikan? Aku jadi berpikir kembali apakah aku yakin aku ingin menjadi seorang manusia. Aku takut aku berubah jadi kejam dan jahat." Tanyaku.
Kami semua terdiam dan mengemukakan pertanyaan hanya untuk diri kami sendiri.
"Aku ingin tetap menjadi manusia." Kata Lea memecah keheningan.
"Kenapa? Apa karena kamu masih ingin mencari uang dan menjadi kaya?" Tanyaku.
Lea menggeleng, "Tentu saja tidak. Aku sudah punya uang dan sudah kaya. Aku berpikir manusia mempunyai banyak pilihan dalam hidup mereka. Jadi bukan salah manusianya jika mereka menjadi keji atau jahat. Pilihan merekalah yang membuat mereka seperti itu. Lebih kepada keinginan merekalah yang membuat mereka menjadi sebuah pribadi yang menyeramkan."
Jawaban Lea menyadarkanku bahwa mereka memang mempunyai banyak pilihan. Sedangkan aku dan Lea jika tidak turun ke bumi kami tidak mempunyai pilihan mau jadi apakah kami.
"Kita bisa belajar dari Max atau Alesya. Mereka mendapatkan kesempatan dua kali dalam hidup mereka dan mereka memilih untuk menjadi manusia baru yang lebih baik. Sedangkan mereka bisa saja memilih untuk menjadi pribadi yang sama, ya kan? Pilihanlah yang menetukan sifat manusia." Kata Lea lagi menyambung pendapatnya.
__ADS_1
Benar juga apa yang dikatakan Lea. Andaikan Penguasa memintaku memilih untuk menjadi manusia atau tetap menjadi sekarang, maka aku akan memilih untuk menjadi manusia yang baik yang selalu memberikan terang bagi sesama manusia. Ini adalah sumpah baruku dan aku yakin Penguasa mendengar sumpahku.
...----------------...