
Matt POV
Saat ini kami sedang rapat untuk membicarakan bagaimana kami dapat menemukan Alesya, karena tempat Hades kosong. Bahkan Bradd pun tidak ada disana.
"Jadi, bagaimana kita bisa menemukan Alesya?" tanyaku kepada mereka.
"Dari apa yang telah kupelajari tentang Hades, dia adalah seorang yang pemarah. Yang harus kita perhatikan disini adalah, jika Hades marah, dia akan terus mengoceh tanpa henti. Jadi, kita harus terus memancingnya supaya dia bisa memberitahukan dimana ia menyembunyikan Alesya dan Bradd." kata Anthem.
Wah, benar-benar tipikal seorang adik.
"Bagaimana memancing kemarahannya sedangkan kita sendiri tidak tau dimana Hades berada," sahutku.
Anthem menautkan kedua alisnya, "Itulah, Matt. Hades itu pintar sekali bersembunyi. Dan saat aku tidak tau dia bersembunyi dimana. Aku yakin Alesya masih baik-baik saja bersamanya." jawab Anthem.
Rue berjalan mondar-mandir, "Aku bisa merasakan Alesya baik-baik saja. Tapi aku tidak dapat melihat dimana Hades berada." kata Rue.
Aku menggelengkan kepalaku, "Penulis ini pasti sedang kumat. Banyak sekali kalimat yang diulangnya." sahutku.
Anthem dan Rue menyetujui pendapatku, "Benar apa katamu, Matt." jawab mereka.
Tak lama Lea pun datang dan bergabung bersama kami. Dia mengambil posisi duduk di sebelahku, dan mulai bercerita.
"Ibuku, memintaku untuk berhenti berhubungan denganmu, Matt." bisik Lea di telingaku.
Sontak saja Rue dan Anthem memandangku dan Lea bergantian.
"Kenapa?" tanya Rue, "maksudku, kita semua tau kalau kalian pernah menikah dan kali ini hanya berbeda tubuh saja. Ratu Edwina juga sudah mengetahui itu, kan?" Rue melanjutkan pertanyaannya.
Lea mengangguk, "Alasannya sederhana, karena Matt manusia. Ibuku tidak mau aku tenggelam dalam kesedihan. Karena itu akan menyiksaku." jawab Lea.
Aku terdiam. Aku hanya seorang manusia yang kapan pun bisa mati, berbeda dengan mereka. Mau mereka dibanting, di tabrak, bahkan di jejalkan ke dalam lemari pembeku, mereka akan tetap hidup.
"Kasar sekali bahasamu, Matt. Kira-kira siapa yang akan menjejalkan kami ke dalam lemari pembeku? Ckckckck, sifat mafiamu belum hilang." kata Anthem menggelengkan kepalanya.
Aku hanya mendengus mendengar ucapan Anthem. Tapi ketika ingatanku di kembalikan, ada sebuah rasa yang menolakku untuk hidup tenang seperti ini. Aku ingin gejolak, aku ingin pergulatan.
Mungkin aku akan membuat sumpah, jika nanti aku tidak menikah Lea, maka aku akan kembali menjadi seorang mafia. Heh, pikiran itu menyenangkan.
Bletak!
"Ouch!" Anthem memukul pucuk kepalaku, dan aku melihat mereka bertiga beranjak pergi.
"Hei! Kalian mau kemana?" tanyaku.
"Kamu tau, kan? Kami bertiga tidak suka kalau kemu menjadi seorang mafia lagi. Dan sesekali belajarlah menutup pikiranmu." sahut Anthem, tampak kesal.
__ADS_1
Rue menyelanya, "Lebih baik jika kita tau pikirannya, kan? Kita jadi bisa mengetahui apa pikirannya dan apa yang akan ia lakukan. Begitu bukan?" Tanya Rue.
Anthem dan Lea setuju dengan ucapan Rue. Lea memandangku, mungkin dia tidak menyangka kalau aku masih ingin menjadi seorang mafia.
"Kalau kamu mau mengulang kesalahanmu, aku tidak akan sudi bertemu denganmu lagi! Huh!" seru Lea gusar.
Aku mengambil tangan Lea dengan cepat, "Maafkan aku," sahutku.
Mereka bertiga kembali memandangku, "Aku tidak tau apa yang kamu cari, Matt. Kamu sudah mendapatkan kedamaian bersama kami, tapi nampaknya itu kurang untukmu." kata Anthem.
"Apa yang harus kukatakan untuk meyakinkan kalian kalau aku menyukai kedamaian seperti sekarang ini?" tanyaku.
Mereka saling berpandangan dan akhirnya duduk kembali, "Kami tidak ingin kamu memikirkan hal itu lagi, Matt. Jika sekali lagi kamu memikirkan hal itu, aku tidak akan segan-segan memutuskan hubungan denganmu." ancam Lea.
"Jangan lakukan itu kepadaku, dan maafkan aku." ucapku tertunduk. Kali ini aku sungguh-sungguh minta maaf.
"Baiklah, kita kembali kepada Hades. Seperti aku bilang tadi, kita butuh pancingan yang tepat untuk membuat Hades marah, sangat marah sehingga ia akan terus mengoceh dan membocorkan rahasianya." kata Anthem.
Lea yang baru saja datang tidak paham dengan maksud Anthem, "Pancingan? Apa itu?" tanya Lea.
Aku sudah siap untuk menjawabnya, namun Rua dan Anthem menggelengkan kepalanya, "Lihat saja ke atas, Lea. Disitu sudah tertulis apa maksud pancingan." jawab mereka.
Lea cemberut, "Apa sulitnya menberitahuku saja tanpa perlu memintaku untuk memanjat ke atas." ucap Lea menggerutu. Dan ia bersiap memanjat ke atas.
Selagi menunggu kami berbincang-bincang mengenai adanya kemungkinan Hades menyembunyikan Alesya di balik stalakmit raksasa di tempatnya.
Itu benar, kalau ke tempat Anthem aku sudah 2 kali kesana. Namun, aku belum pernah ke tempat Hades. Tempat Anthem sangat dingin dan lembab. Apakah di tempat Hades demikian?
"Bagaimana kalau Matt yang kita jadikan pancingan?" usul Rue.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, "Tidak! Aku tidak bisa! Dan lagi, aku tidak mau!" seruku.
"Mudah saja, kamu hanya memenuhi pikiranmu dengan gairah dan hal-hal yang membuatmu bahagia." sahut Lea.
"Tapi tempat itu memang tidak di haruskan untuk dikunjungi manusia karena Hades butuh makan ran dan jiwa mereka yang akan terus dimakan oleh Hades nantinya." ujar Rue lagi.
Aku memandang Rue, "La...lalu sekarang aku harus apa?" tanyaku.
Mereka terdiam, Anthem mengusap-usap dagunya. Sedangkan Rue, asik mengetuk-ngetukan sebuah spidol ke meja dan wajahnya tampak berpikir keras.
Brak!
Anthem memukul meja dengan kencang, "Aku sudah memutuskan!" katanya ceria.
"Apa?" kami bertiga bertanya dengan serentak.
__ADS_1
"Aku akan menggunakan Matt dan Lea sebagai pancingan!" usul Anthem tersenyum lebar.
"Apa! Kenapa harus aku? Aku wanita, aku lemah dan tak berdaya! Bagaimana kalau Hades nanti akan menghabisiku? Aku berada di dasar piramida. Tega sekali kalian!" Lea berseru geram.
"Dan lagi, Matt manusia. Bagaimana kalau dia mati? Siapa yang akan mengisi hatiku? Ini tidak masuk akal! Aku menyatakan keberatanku!" tukas Lea lagi.
Aku memandang Lea, wanita ini benar-benar mencintaiku. Tanpa sadar aku bergerak ke arahnya dan menciumnya dengan panas.
"Woi! Kita sedang rapat!" tukas Anthem kesal menarikku untuk menjauh dari Lea.
Aku menyeringai lebar, "Maaf. Aku mencintainya. Sangat mencintainya." ucapku, dan mengedipkan sebelah mataku kepada Lea.
Lea tersipu malu.
"Nah, ini yang akan kalian bawa kepada Hades. Dia akan mengendus semua rasa cintamu itu, Matt. Tenang saja, kamu hanya akan diendusnya. Kalau kamu enak, dia melanjutkan menghisap jiwamu, tapi kalau menurutnya kamu tidak enak, mohon maaf, dia akan memuntahkanmu." kata Anthem tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak.
Dia menggodaku, malaikat kematian brengsek ini!
"Tapi memang begitulah kenyataannya, Matt." jawab Anthem lagi.
Wajahnya kembali serius, "Lalu, untuk Lea. Kamu itu seorang wanita yang sangat suka sekali berbicara dan terkadang cara bicaramu membuat kami yang mendengarnya emosi. Jadi, buatlah Hades seperti itu. Terpancing emosinya dengan ocehanmu." kata Anthem.
Rue tertawa tergelak di sebelah Anthem, tampak bahagia sekali Rue itu.
"Cih! Lalu apa tugas kalian?" tanyaku.
"Tentu saja mengeluarkan Alesya ketika Hades sudah membocorkan dimana tempat ia menyembunyikan Alesya." jawab Rue, dan dia berhigh five bersama Anthem.
"Aku tidak bisa!" kata Lea.
"Bisa dan harus bisa! Kita tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk di andalakan. Hanya kalianlah satu-satunya harapanku." sahut Anthem.
Aku menimbang-nimbang ide gila ini dan akhirnya aku telah memutuskan, "Baiklah. Aku setuju, tapi aku minta perlindungan penuh untukku." pintaku. Jelas sekali itu karena aku tidak mau di makan oleh Hades. Aku tidak rela bagian dari diriku di endusnya.
"Pasti! Kamu jangan khawatir, Matt." janji Anthem.
"Apa kamu yakin?" Lea bertanya untuk meyakinkanku lagi.
Aku mengangguk mantap, "Yup. Aku ingin menolong Anthem." jawabku.
Anthem memelukku, "Terimakasih sobat." katanya.
"Oke, kita laksanakan ini saat fajar menyingsing besok. Bagaimana?" tanya Anthem.
Kami semua mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
...----------------...