
Max POV
"Kemarin kuanggap kamu telah gagal Max, dan aku tidak memintamu untuk mengerti apa maksudku atau berusaha untuk mengingat apa yang telah kamu lupakan. Sulit untuk melepas mantra yang sudah ditujukan untuk kita." Ucap Raja Wren dengan suara menggelegarnya.
Sejujurnya aku memang tidak tau dan tidak paham apa yang dibicarakannya hanya saja aku merasa sangat bersalah entah apa yang telah aku lakukan dan mengapa Rue memberikanku mantra untuk melupakan? Kalau aku menyukai Lea kemudian menciumnya, apa itu salah?
"Dan kali ini aku hanya meminta kepadamu untuk menjauhi putriku! Kecuali, kamu bisa menjaganya!" Seru Raja Wren.
Aku membungkuk di bawah titah sang Raja, "Yang Mulia, baik Yang Mulia." Ucapku.
Raja Wren mengibaskan tongkatnya dan tampaklah percakapan antara Lea dan seorang putri duyung di bawah laut.
"Aku memberikan peringatan kepadamu Nona Lea, jauhi manusia bumi itu kalau kamu ingin selamat. Peperangan akan terjadi, pertumpahan darah akan segera berlangsung, dan Nona Lea akan ditangkap, disiksa, dan mati! Titik lengah manusia bumi itu adalah Nona Lea! Dia mencintaimu, namun ada seorang wanita yang tidak bisa dilepasnya! Jauhilah dia selagi bisa!" Seru putri duyung itu.
Dan tampak Lea sedang membalas ucapan putri duyung itu, tapi aku tidak memahami apa yang ia bicarakan. Dalam satu kibasan tongkat, putri duyung dan Lea menghilang dari pandanganku.
"Airmata putriku akan berubah menjadi mutiara saat ia menangis. Itu yang diincar oleh teman-temanmu bukan?" Tanya Raja Wren.
Deg!
Aku tidak bisa berbohong di depannya karena dia akan dengan segera mengetahuinya.
"Ya Yang Mulia." Sahutku.
Raja Wren mengangguk-angguk, "Airmata itu bisa habis, apalagi mutiara. Lea akan menjadi cepat lelah setelah menangis. Aku takut ramalan Meltem menjadi kenyataan." Ucap Raja Wren sambil menyandarkan kepala pada tongkatnya.
"Saya bersumpah akan menjaga Nona Lea, Yang Mulia. Dengan segenap jiwa raga saya!" Aku menyerukan sumpahku.
Aku baru merasakan perasaan ini, aku tidak mau kehilangan Lea. Perasaan ini menggebu-gebu ingin di keluarkan. Ya, aku mencintai Lea.
"Aku akan langsung mencabut nyawamu Max begitu aku melihat putriku tergores sepanjang sat u centimetre!" Seru Raja Wren.
"Baik, Yang Mulia!" Jawabku.
***
Malam itu di kamarku aku tersadar ada banyak janji yang kubuat dan belum ada satu pun yang aku laksanakan. Aku membenamkan diriku di kedua tanganku.
Tak lama, aku merasakan sepasang tangan hangat merangkulku dan mengecup pucuk kepalaku, "Kamu kenapa, Max?" Bisiknya dalam des*ahan manja.
"Eleanor. Aku hanya lelah." Jawabku kemudian beranjak pergi meninggalkan Eleanor.
"Apakah kamu bersama Lea seharian ini? Lalu, aku menjadi apamu?" Tanya Eleanor.
Kepalaku berdentang-dentang kencang dan kuhampiri Eleanor. Aku menciumnya kasar, "Itu yang kamu mau?" Aku bertanya kembali kepadanya.
Eleanor membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya, kemudian ia menyerangku dengan kasar.
__ADS_1
Kami berpagutan cukup lama, namun tiba-tiba bayangan dan tawa Lea terngiang di benakku. Aku mendorong Eleanor untuk menjauh dan memegangi kepalaku.
Apa dia menyihirku? Apa dia memantraiku? Atau memang benar aku mencintainya? Segala pertanyaan itu bermunculan di kepalaku.
Keesokan harinya, aku bergegas menemui Lea di tempat Tom. Begitu aku sampai di pintu luar, Nelson menghadangku.
"Kita harus bicara." Sahutnya tegas.
Aku mengikutinya dari belakang, "Ada apa?" Tanyaku begitu kami sampai di ruangan Nelson.
Nelson duduk di depanku, aku melarangnya mempersilahkanku duduk karena ini rumahku dan dia adalah tamu di rumah ini.
"Aku mendengar selentingan kabar kurang menyenangkan di luar sana. Kalau kamu akan menurunkan pajak dan menghapuskan uang kemanan? Benarkah? Max?" Tanya Nelson.
Lea!
Aku memejamkan mataku kemudian aku mengangguk, "Baru wacanaku. Ada beberapa pedagang mengeluh padaku tentang pajak yang tinggi dan uang keamanan yang tidak menentu penagihannya. Dan kupikir kita harus memperhatikan hal itu. Mereka sumber dana kita, karena mereka jugalah yang mengolah uang kita, Nelson." Aku menjawabnya cepat.
Aku tidak tau apa yang dikatakan kepada Lea di luar sana sampai Nelson melaporkannya kepadaku.
"Daripada aku berbisnis obat-obatan dan bubuk dosa itu, huh!" Sahutku lagi menambahkan dengan menggoyang-goyangkan jariku.
"Uang akan lebih cepat berputar Max! Sayang ini daerahmu, kalau ini daerahku akan aku jadikan obat-obatan itu sebagai pusat komoditas." Jawab Nelson.
Aku mendengus kesal, "Huh! Aku sudah menemukan terangku, Nelson. Aku tidak akan ragu membuangmu apabila kamu menyeret kegelapan itu kembali kesini, di bawah hidungku!" Seruku.
Brak!
Tiba-tiba Nelson menggebarak meja, "Max, aku punya ide cemerlang! Bawa gadis bernama Lea itu, kita buat dia menangis dan menghasilkan mutiara untuk kita! Bayangkan berapa keuntungan yang akan kita dapatkan Max! Hahahaha!" Katanya menyeringai lebar. Wajahnya di penuhi nafsu dan keserakahan.
"Kamu boleh mengambil tubuhnya lalu aku? Aku akan mengambil mutiaranya! Hahahaha!" Sambung Nelson.
"Lantas, bagaimana denganku?" Tanya Eleanor yang sudah bergabung dengan kami.
"Max adalah suamiku dalam perjanjian itu! Kalau dia dengan Lea? Lalu bagaimana denganku?" Tanya Eleanor lagi.
"Peduli setan dengan perjanjian itu!" Tukas Nelson.
"Janji adalah hutang, Nelson! Max tetap harus membayarnya!" Tegas Eleanor.
"Aku lelah mendengarkan kalian!" Sahutku dan kutinggalkan mereka berdua.
Aku mengarahkan langkahku menuju tempat Tom, dan aku tidak mau ada pengawalan dari siapa pun.
Tak lama aku sudah melihat Lea menjamu para pengunjung di kedai es krim milik Tom.
"Lea!" Aku memanggilnya.
__ADS_1
Lea mendongak ke arahku kemudian melambaikan tangannya yang mungil. Kalau tidak ada sayapnya, dia tampak kecil sekali.
Aku menghampiri Lea karena Lea tampak sibuk bersama tamu-tamunya.
"Hai." Sapaku.
Lea terlihat malu-malu, rambut panjangnya yang biasa ia lepas, kini diikat rapi dengan seutas kain perca. Rambut depannya menjuntai bergerak kian kemari mengikuti kemana pun Lea melangkah.
"Duduklah Max. Ah itu Tom. Sapalah." Kata Lea.
Aku mengangguk dan menghampiri Tom yang sedang duduk mengamati para tamu. Di wajahnya terukir senyuman ramah kepada setiap tamu yang datang.
"Ohhoho, Tuan Max." Kata Tom, bergegas berdiri dan menyalamiku.
"Maaf mengganggu, aku hanya berkunjung." Sahutku.
Pria itu terkekeh, "Lea! Temani Max. Aku akan menggantikanmu sebentar. Pria tua ini tidak boleh banyak duduk, hehehe." Ucapnya tertawa.
Lea menoleh melihat Tom, "Baiklah jika kamu memaksaku, Tom. Hahaha." Balas Lea.
Aku mengajak Lea berkeliling, "Lea, ada yang ingin kusampaikan padamu." Sahutku memulai pembicaraanku.
"Apa itu?" Tanya Lea sambil menyesap es loli pemberian Tom.
"Sepertinya, aku menyukaimu. Maksudku belum sejauh itu tapi aku ingin selalu bersama denganmu dan menghabiskan waktu sesering mungkin bersamamu." Ucapku.
Lea menghentikan langkahnya, "Kurasa ayahku sudah memberitahukan kepadamu tentang ramalan Meltem?"
Aku mengangguk, "Lalu?" Aku bertanya kepadanya.
"Apa ayahku memberitahukan semuanya kepadamu?" Tanya Lea lagi.
Aku menceritakan apa yang kulihat bersama Raja Wren saat itu.
"Tidak semuanya." Sahut Lea.
"Misiku di bumi hanyalah untuk menyelamatkanmu bukan menerima cintamu. Aku juga menyukaimu tapi kita tidak bisa menjalin sebuah hubungan bersama. Kamu tau?" Jawab Lea.
Nyut!
Aku tidak tau rasa apa ini tapi sakit sekali rasanya, "Kenapa?" Aku bertanya.
"Pahami lagi, titik lengahmu adalah aku. Disini posisimu adalah kamu harus siap berperang dan tidak boleh lengah! Kamu harus selalu siaga, Max." Sahut Lea menegaskan.
Aku mendekapnya erat, "Aku akan melindungimu Lea. Percayalah padaku." Aku mencoba meyakinkan Lea.
Lea mendorongku menjauh, "Aku akan memberikan hatiku untukmu jika aku sudah menyelesaikan misiku." Sahutnya.
__ADS_1
...----------------...