
Max POV
"Max, apa itu ulang tahun?" Tanya Lea suatu hari.
Usia pernikahan kami sudah berjalan selama satu bulan dan sejauh ini kami sangat berbahagia kecuali ada saat dimana ayah Lea tiba-tiba datang di malam hari dengan cucuran airmata karena merindukan putri tunggalnya.
"Ulang tahun itu adalah hari lahir." Jawabku.
Lea berpikir lagi, "Ibuku melahirkanku tapi aku tidak pernah berulang tahun, bagaimana denganmu?" Tanya Lea.
"Aku juga tidak tau." Jawabku meringis.
"Maafkan aku Max, seharusnya aku tidak bertanya tentang itu. Bagaimana aku bisa lupa?" Kata Lea dengan perasaan bersalah.
Aku tersenyum melihatnya seperti itu, "Tidak apa-apa, bukan salahmu." Sahutku
Dan tiba-tiba saja terbersit sebuah ide untuk mengadakan acara ulang tahun Lea dan merayakan novel ini yang sudah sampai 50 bab.
Aku meminta bantuan Rue untuk membuat pesta kejutan, dan sekaligus aku meminta Rue untuk menemaniku menemui mertua tercintaku.
"Ulang tahun? Kami tidak pernah merayakan hal-hal seperti itu." Kata Rue.
"Kenapa seperti itu?" Tanyaku.
"Karena memang untuk apa? Ketika ulang tahun maka umurmu akan berkurang satu kan? Kenapa harus di rayakan? Aneh sekali." Jawab Rue.
Benar juga apa kata Rue. Kenapa manusia malah merayakan? Harusnya kan bersedih karena umur mereka berkurang satu tahun?
"Kapan kamu akan ke atas?" Tanya Rue.
"Hah? Atas?" Aku menyahut bodoh.
"Mertuamu loh Max." Jawab Rue.
"Kapan saja kamu siap mengantarku." Sahutku. Aku tidak pernah terbiasa menggunakan kata atas. Itu masih cukup mengerikan untukku, tapi karena mertuaku disana tidak mungkin aku tidak mengunjunginya kan?
"Sekarang saja." Kata Rue mendadak.
"Se ..sekarang? Aku belum siap dan aku belum menyiapkan apa pun untuk ayah Lea. Apa kira-kira yang ia sukai?" Tanyaku semakin tampak bodoh.
Melihat kebodohanku Rue tertawa, "Hahahaha... Apa yang ada di kepalamu Max?"
"Entahlah." Jawabku. Aku jujur tidak tau, selama ini kalau ada yang berkunjung ke rumah mertua mereka biasanya akan dibawakan roti atau buah. Lalu bagaimana dengan ayah Lea? Apa yang akan kubawakan?
"Bawakan saja sukacita Lea, Raja akan senang sekali." Kata Rue memberi saran.
"Maaf, apa Lea?" Tanyaku belum paham.
"Sukacita Lea." Jawab Rue tersenyum.
"Apa itu? Dan bagaimana aku membawanya? Maksudku itu sesuatu yang tidak berbentuk kan?" Tanyaku kepada Rue.
Rue kembali tersenyum, "Kami bisa membaca hatimu, Max. Jadi jika Lea bahagia atau sedih maka dia akan melukiskan perasaannya di dalam hatimu nanti Raja akan membacanya." Jawab Rue.
Aku spontan memegang hatiku. Apa yang dilukiskan Lea disana, apakah dia melukiskan kegiatan kami setiap hari yang hanya berfokus pada membuat anak. Aku menutupi hatiku.
__ADS_1
Rue tertawa, "Hahaha...Raja tidak ingin tau aktifitas dewasa kalian, Max. Percayalah." Kata Rue.
Aku menghela nafas lega, "Baiklah. Ayo kita jalan sekarang." Ucapku mengajak Rue.
Rue mengangguk dan mengeluarkan sayapnya,
Wush!
"Naiklah Max." Sahutnya.
"Aku mabuk udara, tidak bisakah aku terbang saja sepertimu?" Tanyaku. Aku tidak suka berada di atas sayap Rue. Umurku sudah tidak muda, dan diatas sana banyak sekali angin. Aku hanya manusia biasa yang bisa masuk angin.
Rue akhirnya menyerah dan memberikan bubuk terbang kepadaku, "Suatu saat nanti ajukan proposal permohonan permintaan sayap untukmu, Max." Kata Rue memberikanku gagasan.
"Apakah boleh seperti itu?" Tanyaku, dan kami terbang naik ke atas.
"Boleh saja." Jawab Rue.
Kami terbang semakin tinggi dan tinggi sampai menembus awan, dan munculah gerbang keemasan yang ditutupi oleh awan kecil. Dan begitu kami mendarat, awan-awan itu menyingkir.
Raja Wren sudah menungguku dengan wajah cemas dan ia menyambut kedatanganku dengan tongkat besarnya, "Max! Ada apa? Mana anakku? MANA PUTRIKU? MANA LEA!" Tanya sang Raja.
"Yang Mulia, maafkan sa...sa..."
"AYAH! PANGGIL AKU AYAH!" seru Raja Wren.
"A...ayah. Lea tidak ikut bersama kami karena aku ingin mengajukan sesuatu yang mungkin di setujui oleh ayah dan ibu." Jawabku.
Raja Wren menatapku tajam, "Apa itu?" Tanyanya.
"Ulang tahun? Sejenis apa itu?" Tanya Raja Wren.
Seorang pengawal yang berdiri di sampingnya, membisiki Raja Wren.
Selagi Raja mendengarkan penjelasan dari pengawal, Rue membisikiku juga, "Berikan sukacita Lea kepada Raja."
"Bagaimana caranya?" Tanyaku.
"Rentangkan tanganmu." Jawab Rue dalam bisikan.
Aku merentangkan kedua tanganku dan memejamkan mataku, berusaha fokus kepada Raja Wren untuk memberikan sukacita Lea kepada Raja Wren.
Raja tersentak dan menatapku dengan lembut, "Sebanyak ini?" Tanya Raja.
"Apanya?" Tanyaku bodoh.
Fix Raja akan menganggapku sebagai menantu bodoh selama-lamanya.
"Sukacita anakku. Anakku sangat bahagia bersamamu, dan sukacitanya melimpah ruah. Walau pun kamu seperti ya sudahlah, tapi aku berterimakasih karena telah membuat putriku bahagia." Kata Raja menarikku dalam dekapannya dan memukul punggungku.
Buk! Buk!
"Uhuk! Uhuk! A...ayah..hen...henti...uhuk!" Aku berusaha menghentikan hentakan Raja.
Raja tertawa melihatku nyaris mati, "Ahahahaha, maafkan aku...maafkan aku. Aku suka lupa kalau kamu manusia." Katanya riang.
__ADS_1
Inilah yang kutakutkan, ekspektasi mertuaku adalah seorang dewa bukan manusia. Tapi aku manusia keren, berani nan tampan yang bisa menaklukan Lea. Aku cukup bangga dengan itu.
Raja mengarahkan tongkatnya ke arahku, "Hentikan pikiranmu itu Max!" Perintahnya.
Aku mengibaskan tangan ke atas kepalaku, "Maafkan aku ayah."
"Jadi?" Tanya Raja
"Jadi, aku ingin merayakan ulang tahun Lea malam ini juga." Sahutku.
Raja tampak berpikir sambil mengelus janggut panjangnya, "Baiklah, kami akan datang!" Katanya bersukaria. Kemudian Raja berdiri dan dengan suara besarnya ia memberikan pengumuman untuk turun ke bumi malam ini,
"Kenakan pakaian terbaik kalian, karena kita akan berpesta! Putriku Lea berulang tahun!" Serunya bahagia.
Aku hanya meminta ijin darinya untuk merayakan ulang tahun Lea bukan mengundang mereka, tapi penyesalan itu kuhapus cepat-cepat dari benaku.
***
Malam itu aku menghias rumahku dengan warna kesukaan Lea, dia suka warna kayu manis.
Lea di sembunyikan oleh Brad.
Tak lama Raja dan Ratu pun tiba dengan diikutin pasukan langit, para duyung, peri-peri kecil yang menyerupai bunga pun beterbangan masuk ke dalam rumahku.
Kalau aku tidak menikahi Lea, aku tidak akan tau mereka itu peri bunga. Pasti aku sudah menepuk mereka dengan sebuah buku karena kupikir mereka nyamuk atau lalat.
Setelah segalanya siap, aku menghubungi Brad untuk mengantarkan Lea ke rumah kami.
"Oke. I'm on my way, Max." Jawabnya.
Jantungku berdegup kencang apa Lea menyukai kejutan ini atau tidak?
Selang beberapa menit, suara mobil Brad terdengar mendekat dan berhenti di depan rumah kami.
"Ssstttt!" Seru Rue. Ia mematikan lampu dengan kibasan tongkat ajaibnya.
Brad menggandeng tangan Lea dan terdengar suara protes Lea, "Brad, kenapa kamu menutup mataku? Ada apa ini? Brad!" Katanya.
Satu...
Dua...
Tiga..
"Selamat ulang tahun Lea!" Kami semua berseru kepada Lea.
Lea mencariku dan begitu matanya bertemu denganku ia berlari memelukku, "Oh Max! Terimakasih ini kejutan yang menyenangkan sekali untukku. Aku bisa ulang tahun." Ucapnya terharu.
Butiran mutiara mulai berjatuhan di lantai, Raja dan Ratu memeluk Lea.
Raja menarik badanku untuk bergabung bersama dalam sebuah pelukan keluarga.
Aku menyukai keluarga baruku, walau pun mereka bukan manusia tapi mereka sangat memperhatikan satu sama lain, dan yang jelas mereka menyayangiku.
...----------------...
__ADS_1