
Max POV
Aku tidak bisa bergerak, seluruh tubuhku terasa sakit seperti ditusuk menembus kulit dan tulangku. Nafasku sesak. Aku merasakan kedinginan yang dahsyat, aku ingin seseorang memberikanku selimut tapi untuk sekedar membuka mulutku pun aku tak sanggup.
Pandanganku berbayang, aku hanya melihat seorang gadis yang menangis untukku. Siapa dia? Kenapa dia menangis?
Perlahan-lahan aku menutup mataku yang sangat berat ini. Rasanya aku mengantuk sekali.
Tak beberapa lama aku tertidur, aku merasakan kehangatan luar biasa, seluruh rasa sakitku menghilang, dan nafasku kembali normal. Apa aku sudah mati? Tidak mungkin ada surga untukku, bukan?
Aku terbangun dan mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan. Sayup-sayup aku mendengar suara menangis.
"Hiks...hiks.."
"Max jangan mati. Kenapa sih dari dulu sampai sekarang kamu tidak pintar? Untuk apa kamu menghadang peluru? Max! Bangunlah dan hiduplah Max!"
Begitu suara tangisan yang kudengar. Sekarang hatiku yang tersayat mendengar tangisannya. Aku kembali membuka mataku dan berusaha melihat ke arah sumber suara. Aku meraba-raba sekitarku, dan aku menemukan sebuah benda berbentuk bulat.
Aku mengangkat tanganku, tapi berat sekali rasanya untuk di gerakkan.
Aku kembali mencari sumber suara dan kulihat gadis yang selama ini kucari, "Gadis mutiara..." Aku menggapai wajahnya dengan tanganku. Aku berusaha keras supaya aku kuat mengangkat tangan sialan ini.
Gadis itu duduk dan seakan tidak percaya dengan penglihatannya, "Max! Kamu bangun! Kamu hidup! Max, oh Max. Kamu bodoh sekali sih? Atau memang kamu terlahir bodoh? Bisa-bisanya menghadang peluru. Tapi syukurlah kamu tidak mati Max!" Sahutnya berisik.
Dengan sekuat tenaga aku duduk, gadis itu membantuku untuk bersandar. Aku tidak tau apa yang terjadi tapi darah ada dimana-mana. Siapa membunuh siapa ini?
"Kamu tidak apa-apa Max?" Tanya Gadis Mutiara itu.
Aku berusaha menegakkan tubuhku dan memandang wajahnya dengan jelas.
"Aku tidak apa-apa. Tapi apa yang terjadi disini? Dan kenapa kamu disini?" Aku bertanya kepadanya. Kemudian aku melihat sekelilingku,
"Kenapa ada banyak sekali mutiara? Apa itu milikmu?" Aku bertanya lagi.
Belum sempat gadis itu menjawab Eleanor masuk dengan tergopoh-gopoh, "Max! Ka..kamu sudah sadar? Ambulance baru saja datang." Katanya panik.
Sama sepertiku Eleanor melihat sekelilingnya dan baru menyadari kehadiran gadis itu serta mutiara yang ada di sekeliling kami.
Dengan wajah bengis, Eleanor menunjuk gadis mutiara itu, "Dia! Dia menangis dan airmatanya berubah menjadi mutiara! Dia pasti keturunan putri duyung!" Teriak Eleanor histeris.
"Kamu gila Eleanor. Aku tidak tau apa yang terjadi disini tapi aku rasa itu membuatmu cukup shock." Sahutku pelan.
Eleanor menggeleng, tatapan liarnya terus mengarah ke gadis mutiara itu, "Aku tidak gila Max! Memang airmata perempuan itu bisa berubah menjadi mutiara!" Tukasnya.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak ada putri duyung disini atau dimana pun Eleanor." Aku mencoba untuk bersabar.
Eleanor kemudian bergegas pergi dan dalam sekejap datang kembali dengan membawa ember besar penuh air di kedua tangannya, "Akan aku buktikan kalau perempuan itu adalah putri duyung." Katanya.
Aku menghadangnya, namun..
Byur!
Pakaianku basah semua dan sebagian air mengenai gadis mutiara itu.
Eleanor memperhatikan kedua kaki gadis itu, "Kita lihat apakah kakinya akan berubah menjadi ekor ikan!" Sahut Eleanor menyeringai.
Aku rasa Eleanor terlalu banyak menonton sinetron yang tidak jelas dan banyak iklan itu, aku menggeleng-gelengkan kepalaku tapi di lain sisi aku penasaran juga apa benar mutiara ini berasal dari airmata gadis itu.
Aku memperhatikan gadis itu dengan rasa penasaran namun gadis itu tetap santai dan menatap kami dengan tajam.
Lima menit tidak ada perubahan sampai hampir sepuluh menit tidak ada yang berubah dari gadis itu.
__ADS_1
"Eleanor cukup!" Tukasku, "lihat kan, dia bukan putri duyung!" Aku bodoh mempercayai hal yang tidak masuk akal seperti ini.
"Luca, bawa dia ke dalam ruangan isolasi di pojokan sana!" Perintahku kepada Luca, salah seorang dari anak buahku.
Gadis itu memberontak dengan sangat manis, "Lepaskan aku! Max, lepaskan aku!" Tukasnya.
Aku mengangkat tangan kiriku untuk berhenti, "Aku masih ingin berbicara denganmu lebih lama. Kamu yang mengumpankan dirimu sendiri ke kandang harimau jadi nikmatilah." Bisikku kepada gadis itu.
Gadis itu menatapku tajam dan tidak berhenti memanggil namaku dan meminta untuk di lepaskan.
Setelah kehebohan yang terjadi, aku mendengar seorang pria memanggil nama yang terdengar tidak asing di telingaku.
"Lea! Lea! Lepaskan Lea! Aku tau dia ada disini. Lea!"
Aku berjalan ke depan untuk melihat siapa yang membuat keributan di depan.
"Buka pintunya!" Perintahku kepada penjaga pintu.
"Baik tuan." Jawab mereka dan dengan secepat kilat pintu sudah terbuka. Aku melihat seorang pria tua mendekat ke arahku kemudian ia membungkukkan badannya di depanku.
"Maafkan kelancanganku tuan, tapi aku ingin Lea di bebaskan. Dia tidak bersalah. Dia hanya membelaku, tuan." Kata pria itu.
"Siapa namamu?" Aku bertanya kepadanya.
"Tom, namaku Tom." Sahut pria tua itu penuh hormat.
"Siapa tadi yang kamu panggil?" Aku kembali bertanya kepadanya.
"Lea, tuan. Lea adalah karyawanku di kedai es krim di dekat sana." Jawabnya.
"Untuk apa Lea kemari?" Tanyaku lagi.
Pria tua yang bernama Tom itu menceritakan kembali mengapa si gadis mutiara bisa sampai di rumahku.
"Tapi Tuan, dia hanya mau membelaku." Pria tua itu masih bersikeras untuk memintaku membebaskan Lea.
"Pergilah atau kamu bisa memilih hukumanmu, ditembak di tempat atau kupenggal kepalamu? Pilihlah! Aku berikan sepuluh detik untukmu berpikir." Ucapku mengancamnya.
"Sepuluh,"
"Sembilan,"
"Delapan,"
"Tujuh,"
"Baiklah...baiklah. Aku pergi!" Kata pria tua itu pada akhirnya.
Setelah pria tua itu pergi aku kembali ke dalam untuk menemui Lea. Namun betapa terkejutnya aku karena Nelson sudah menemukan gadis itu lebih dulu. Nelson menahan kedua tangan gadis itu di atas dengan kedua tangannya sendiri.
"Nelson! Apa yang kamu lakukan disini?" Gertakku kepadanya sambil melepaskan genggaman tangan Nelson pada kedua tangan gadis mutiara itu.
"Aku? Sedang bermain dengan mainan barumu." Jawab Nelson sambil tersenyum lebar.
"Tidak ada yang bisa menolak pesonaku, tapi gadis kecilmu ini tidak tertarik kepadamu. Kata dia, aku tidak tertarik denganmu, pergilah! Hahahaha! Dia memerintahku Max." Kata Nelson menirukan suara gadis mutiara itu.
"Pergilah! Pergilah!" Tukasku sembari mengibaskan tanganku untuk mengusir Nelson dari sana.
Nelson terkekeh, "Karena kamu yang pertama kali menemukannya aku akan membiarkanmu mencobanya terlebih dahulu jangan lupa sisakan untukku, hehehe." Katanya.
Setelah Nelson pergi aku berbicara dengan gadis itu, "Jadi, siapa kamu?" Tanyaku.
__ADS_1
Tapi gadis itu tidak menjawabku, "Apakan kamu masih mengalami mimpi buruk di malam hari? Apakah kamu masih sering terbangun dari tidurmu di tengah malam? Bagaimana kabarmu?" Tanya gadis itu.
Aku tersenyum, "Namamu Lea? Nama itu tidak asing untukku. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Atau apakah kita pernah cukup dekat?" Aku bertanya kepadanya dan lagi-lagi Lea tidak menjawabku.
"Apa kamu melupakan semudah itu? Galilah ingatanmu lebih jauh maka kamu akan menemukanku. Atau apakah aku masih mempunyai tempat di ingatanmu?" Tanya Lea lagi.
Aku mengangguk, gadis ini seru sekali. Berbeda dengan Eleanor yang selalu mengikuti kemana aku pergi. Aku kagum padanya.
Tak lama, Nelson dan Eleanor memasuki ruangan kami.
Dengan semangat Eleanor menampar pipi Lea,
Plak!
"Menangislah perempuan cengeng!" Tukasnya, kemudian begitu Eleanor hendak menamparnya lagi, aku menahan tangan Eleanor dengan cepat.
"Apa-apaan kamu Eleanor?" Aku bertanya dengan kesal kepadanya.
"Aku ingin membuatnya menangis supaya Nelson tidak menuduhku seorang pembohong.
Aku memandang Nelson! Ide gila ini pasti berasal dari Nelson.
Nelson mengangkat bahunya, "Aku hanya penasaran apakah dia bisa mengeluarkan mutiara." Katanya serakah.
"Biar aku Eleanor." Kata Nelson lagi.
Aku menahannya, "Nelson, dia tidak bisa mengeluarkan mutiara!!" Tukasku kesal.
"Kita lihat saja. Ikat dia!" Perintahnya dan anak buah Nelson bergerak mengikat tangan dan kaki Lea.
"Nelson, lepaskan dia! Jangan gila, Nelson!" Aku terus mencegah Nelson untuk berbuat gila namun tenaga Nelson sangat kuat menahanku.
Bugh!
"Ugh! Uhuk! Uhuk!" Sebuah bogem mentah dari Nelson mendarat di pipiku.
Bugh!
Kembali Nelson memukulku. Aku berdiri dan membalas pukulan telaknya, "Apa maumu brengsek?!" Sahutku.
Bugh!
Nelson terhuyung. Dengan susah payah ia berdiri dan berjalan ke arah Lea,
Krek!
Nelson merobek baju Lea dari atas ke bawah. Lea berteriak histeris.
Aku berlari mendekati Lea dan menutupi tubuhnya dengan jas yang kupakai. Dan kemudian aku melayangkan tinju kembali ke arah Nelson.
Bugh!
"Hentikan Nelson!" Tukasku.
Pletek
Pletek
Pletek
Dan seperti sihir, butiran mutiara terjatuh begitu saja. Aku dan Nelson menatap Lea bersamaan. Benar saja airmata Lea berubah menjadi mutiara.
__ADS_1
Nelson memungut mutiara itu dan menatap Lea dengan tatapan lapar.
...----------------...