
Max POV
Huaaa, setelah beberapa bab akhirnya aku dimunculkan juga!
Aku sekarang berada di Api Penyucian, Penguasa memberiku tempat disini karena belum saatnya aku mati jadi tidak ada tempat untukku disini sebenarnya.
Aku tinggal bersama Anthem dan selama masa hukumanku, aku dilarang keluar dari sini. Sudah setahun aku berada disini.
Kalau di luar jam kerja, biasanya aku ikut Anthem berjalan-jalan. Tidak ke tempat Lea tapi ke atas, ke tempat Penguasa. Kadang aku menunggu Anthem rapat sambil membantu para malaikat mencatat kebaikan atau pun kesalahan manusia.
Ada juga malaikat yang ditugaskan untuk membuat teguran kepada manusia. Pernah ada seorang manusia di bumi, ia adalah seorang pencuri namun karena Penguasa menilai hati pencuri itu baik, maka ia mengutus malaikatnya untuk memberikan teguran. Suatu hari saat hendak mencuri, ia mengalami kecelakaan kecil. Kakinya tersangkut di pagar dan tidak bisa di keluarkan. Mau tidak mau ia harus menunggu pertolongan datang sampai pagi. Setelah pagi tiba, satpam rumah itu membantunya dan melaporkan manusia itu kepada si empunya rumah. Alih-alih di hukum, pencuri itu diberikan kesempatan untuk bekerja di rumah tersebut sebagai supir pribadi. Begitulah tugas malaikat teguran.
Pernah juga aku melihat malaikat baik dan malaikat jahat. Mereka benar-benar berwarna merah dan putih. Tugas mereka adalah membisiki manusia, dan pada akhirnya setiap keputusan yang di ambil oleh manusia menyebabkan mereka akan bertengkar hebat.
Karena aku sering berkeliling disini aku jadi tau bentuk dan rupa malaikat. Kupikir malaikat itu seperti Lea, ternyata tidak. Akan tetapi malaikat yang berada di tahta Penguasa, mereka memiliki sayap. Ada sebuah taman disini, dan taman itu dijaga oleh malaikat-malaikat bersayap.
Nanti kalian akan melihatnya sendiri, sudah terlalu banyak yang aku bocorkan kepada kalian.
Saat ini, aku sedang menunggu Anthem yang sedang bertugas untuk turun ke bumi.
Aah, bosan sekali menunggu dia.
Apa kalian tau? Aku sekarang memiliki sayap tapi ini bukan sayap permanen, ini sayap sewaan. Aku harus membayarnya jika aku ingin memakainya. Ternyata sulit juga hidup disini.
"Max!"
Anthem pulang! Hatiku melonjak kegirangan, tapi tunggu dulu. Kenapa hatiku harus melonjak kegirangan saat Anthem pulang?
"Ya, Anthem. Aku disini. Aku tidak menunggumu atau menantimu. Aku sedang sibuk memeriksa hitungan dosa jiwa-jiwa disana itu." Sahutku berpura-pura membolak-balikan catatan itu.
"Aku percaya." Kata Anthem tersenyum lebar.
Sialan! Aku lupa dia bisa membaca pikiran.
"Ya, aku menunggumu karena aku sangat bosan. Kapan aku bisa kembali?" Tanyaku.
"Karena ragamu sudah terkubur maka..."
"Aku tidak bisa kembali? Benarkah?" Tanyaku histeris.
"Bisa, hanya saja kamu harus mencari tubuh baru." Jawab Anthem.
Apa! Aku terkejut mendengar jawaban Anthem. Tubuh siapa yang bisa kupakai? Kan tidak ada toko yang menjual tubuh? Dan...dan bagaimana Lea bisa mengenaliku nanti?
"Kalau aku tidak mau memakai tubuh baru apa yang terjadi?" Tanyaku kepada Anthem.
"Kamu hanyalah sebuah jiwa tanpa raga! Sudah kukatakan kepadamu, apa yang sudah menjadi kehendakNya akan terjadi. Dan kamu melawan kehendak itu." Ucap Anthem menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu? Bagaimana caraku mendapat tubuh baru?" Tanyaku.
"Kamu harus mencarinya setelah hukumanmu selesai, Max." Jawab Anthem.
"Dan dimana itu?" Aku bertanya lagi.
"Bisa di rumah sakit, rumah duka, atau di jalan-jalan dan..."
"Tunggu! Aku akan memakai tubuh orang yang sudah tiada? Maksudku tubuh orang yang meninggal?" Aku memotong pembicaraan Anthem.
Anthem mengangguk, "Yup, tapi tidak semua tubuh bisa kamu masuki. Tidak mudah mencari tubuh itu. Besok kamu boleh ikut aku. Akan tetapi kamu tidak akan terlihat oleh manusia atau pun Lea." Ujar Anthem lagi,
"Dan sekarang giliranku bercerita. Duduklah di sampingku!" Pinta Anthem.
Aku menurutinya, "Apa ceritamu itu Anthem?"
Anthem pun memulai ceritanya dengan penuh dramatis, "Max, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak tau ini kehendak Penguasa atau kehendak si penulis. Tapi, aku rasa aku jatuh cinta kepada seorang manusia yang akan kujemput lima hari lagi. Aku ingin membawanya detik ini juga, Max!" Seru Anthem.
Aku menanggapinya dengan santai, "Penulis ini lebih berkuasa daripada Sang Penguasa, Anthem. Lihat saja, dia mempermainkan nasib kita seenaknya sendiri." Ucapku kesal.
Anthem mengangguk dengan semangat, "Benar itu! Aaarrgghh... Tapi ketika aku mengingat wajah dan suara wanita itu jantungku berdetak dengan cepat, Max. Malam ini aku akan mengikutinya kembali." Sahut Anthem.
"Apa yang terjadi jika kamu jatuh cinta kepada manusia?" Tanyaku penasaran.
Anthem duduk kembali dan mengangkat bahunya dengan tatapan mata kosong, "Aku tidak tau, Max."
Tiba-tiba saja terlintas sebuah ide cemerlang di benakku, "Bagaimana kalau kamu pergi besok saja? Kita bisa pergi berdua." Usulku.
Aku memicingkan mataku, "Tentu saja! Ada siapa lagi disini selain kita berdua?"
"Apakah kamu sudah diijinkan untuk bepergian?" Anthem bertanya lagi.
Aku menggeleng, "Maka itu, ayo temani aku ke Penguasa." Sahutku memeluk lengan Anthem dengan manja.
Anthem menghela nafasnya, "Manusia merepotkan dan bisa-bisanya aku jatuh cinta kepada manusia." Gerutu Anthem.
***
Keesokan harinya aku meminta, memohon lebih tepatnya kepada Anthem untuk menemaniku menghadap Penguasa.
"Ayolah Anthem, temani aku. Kalau aku sudah bisa keluar kita menjadi dynamic duo saat kamu bertugas." Rayuku kepada Anthem.
"Apa itu dynamic duo?" Tanya Anthem.
"Persatuan makhluk tampan yang tidak dapat di tolak...hahahaha." Sahutku tertawa.
Dan karena aku membujuknya dengan kata tampan, akhirnya Anthem menyerah dan menemaniku menghadap Penguasa.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk kami terbang ke atas karena memang jaraknya yang dekat,
"Hai Max. Ada keperluan apa kamu ke atas sini?" Tanya malaikat bersayap lima.
Aku menunjuk kediaman Penguasa.
"Max, apa kamu akan melewatiku saja kali ini?" Salah satu malaikat kecil menghampiriku,
"Karena aku ada keperluan." Jawabku sambil melambaikan tangan kepada mereka.
"Hallo Max, hati-hati nanti ada yang terlewat." Tukas salah satu malaikat.
"Apa yang terlewat?" Tanyaku
"Ketampananmu... hihihi." Sahutnya.
Aku cukup terkenal disini, seperti sudah kuceritakan di awal bab. Aku mengenal mereka dengan sangat baik dan aku senang membantu mereka saat senggang.
Dok...dok
Dok...dok
Seorang malaikat Penjaga mendatangiku, "Ada sesuatu yang penting hingga kamu menghampiriNya?" Tanya malaikat itu.
Aku mengangguk, "Apa Dia sedang sibuk?" Tanyaku.
"Ini hari minggu, Dia beristirahat. Masuklah." Kata malaikat penjaga itu dan ia membukakan pintu untuk kami.
"Hohoho...kunjungan yang menyenangkan." Sambut Penguasa dan turun dari singgasanaNya.
Aku dan Anthem menyapanya serte membungkukkan kepala kami.
Aku menceritakan maksud kedatangan kami.
"Sebenarnya kamu sudah bebas hukuman hanya saja aku akui, kami kekurangan tenaga kerja di bagian itu dan dengan kehadiranmu pekerjaan kami jadi lebih mudah dan cepat...hahahaha." UjarNya.
Selama ini aku dimanfaatkan, aku terlalu baik sampai tidak tau ada maksud terselubung selama ini.
Aku memaksakan senyumku, "Jadi bagaimana?" Tanyaku lagi.
"Silahkan saja. Aku yang menetukan dimana jiwamu akan bersemayam. Di sebuah rumah sakit Rampai Hospital ada seorang pria berusia 27 tahun dalam keadaan koma, Anthem tuntun jiwanya ke surga karena dia orang baik, dan Max kuasai raganya sebelum kegelapan menguasainya. Kamu harus bergerak cepat, aku yakin kamu pasti sanggup mengingat dulu kamu seorang mafia." Kata Penguasa menjelaskan,
"Kamu juga harus mengganti nama serta identitasmu, aku yang akan menentukannya." Sambung Penguasa lagi.
Aku mengangguk, "Baik dan terimakasih." Sahutku.
Apapun akan kulakukan supaya aku bisa kembali dan melihat Lea.
__ADS_1
"Sebelum itu Max, kamu memiliki tagihan untuk biaya sewa sayapmu selama disini. Silahkan menyelesaikan tagihanmu di sebelah sana. Dan bersukacitalah, hahaha." Sorak Penguasa tersenyum sangat bahagia.
...----------------...