
Max POV
"Lakukan ini dengan tenang. Aku tidak mau Lea mengetahui pekerjaanku yang sesungguhnya." Sahutku kepada anak buahku.
"Baik bos." Jawabnya.
Malam itu aku mendapat kabar bahwa akan ada capo yang datang. Kami harus segera bersiap-siap karena tidak tau kapan mereka datang.
Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk berjaga setiap titik wilayah teritorial kami. Senjata sudah kami siapkan. Dan tinggal menunggu untuk berpesta.
"Bos, apa orang-orang tidak perlu mengungsi?" Tanya salah satu anak buahku.
"Evakuasi mereka jika keadaan sudah terdesak. Selama masih aman biarkan mereka beraktifitas seperti biasa. Persiapkan rumah singgah sebanyak-banyaknya untuk mereka!" Perintahku.
"Baik bos." Jawabnya.
Yang kutakutkan adalah jika mereka datang malam ini juga. Apa yang harus kukatakan kepada Lea? Entah kenapa aku memikirkannya, cih! Malah jadi beban untukku. Tapi mengapa aku tidak mau melepasnya? Apa ini karena pengaruh sihir yang ia gunakan kepadaku?
Aku menghampiri Rue, "Rue, ini aku." Sahutku.
Rue membuka pintu ruangannya, "Masuklah." Katanya mempersilahkanku masuk.
"Ada apa?" Tanya Rue.
"Aku butuh bantuanmu. Malam ini kita akan kedatangan tamu, sepertinya akan ada pesta besar. Aku ingin kamu menyembunyikan Lea malam ini." Sahutku.
"Tamu? Pesta? Apa maksudmu?" Tanya Rue.
"Kamu tau siapa aku kan?" Tanyaku.
Rue menggeleng.
"Aku seorang mafia. Wilayah ini, barat dan timur adalah wilayah kekuasaanku. Semua yang berada di wilayahku berarti itu milikku. Akan tetapi, aku termasuk mafia yang cukup baik. Aku tidak seperti mereka yang suka melenyapkan nyawa seseorang. Tanganku bersih." Ucapku menerangkan kepadanya.
"Jadi? Apa yang kamu lakukan malam ini?" Tanya Rue tanpa basa basi.
"Capo. Capo adalah anak buah mafia. Aku mempunyai beberapa musuh, tentu saja. Dan malam ini mereka akan datang untuk merebut wilayah kekuasaanku ini. Maka dari itu sembunyikan Lea." Pintaku.
"Aku akan membantumu." Jawab Rue.
Aku mengacak-acak rambutku, "Membantu apa? Kamu bisa apa?" Tanyaku kesal.
"Aku pinjam anak buahmu 1 orang." Sahut Rue.
Aku berdecak kesal, "Ikut aku." Ajakku.
Aku dan Rue keluar ruangan untuk menemui capo-capoku. Dan memanggilnya satu orang.
"Siapa namanya?" Tanya Rue.
__ADS_1
"Luca." Jawabnya.
Rue mengeluarkan tongkat kecil berbentuk seperti sebilah kayu tebal berwarna coklat, kemudian ia mengeluarkan tongkat kecil satu lagi, berwarna putih cemerlang kali ini bentuknya seperti mainan dengan bintang kecil di ujungnya.
"Ini milikku.." Kata Rue mengambil tongkat berwarna cokelat,
"Ini milik Lea." dan ia mengambil tongkat putih cemerlang itu.
"Aku tidak bisa menggunakan milik Lea. Aku hanya menggunakan milikku. Sebelumnya, Luca maafkan aku tapi semoga ini tidak terlalu sakit." Jata Rue lagi.
Rue mengacungkan tongkatnya, aku menutupi telingaku dengan kedua tanganku, karena aku membayangkan akan meledak seperti di film-film yang beberapa kali kulihat.
Splash!
"Aarrgghhh!" Luca terpelanting jauh, memegang dadanya dan pingsan.
Rue berlari menghampirinya, "Apa aku terlalu kencang?" Tanyanya. Dan dengan ayunan tongkat kayu itu, Luca melayang kemudian mendarat mulus di atas ranjangnya.
Bahkan bunyi ledakan pun tidak ada.
"A..apa itu? Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku berusaha menenangkan otakku. Ini di luar nalarku. Di tahun modern seperti ini, seharusnya para penyihir ini musnah. Dan bahkan mereka seharusnya hidup tenang dan bahagia di dalam dongeng saja tanpa perlu keluar ke dunia nyata seperti ini kan? Ini lebih mengerikan dari capo lawanku.
Rue tersenyum, "Bagaimana boleh aku ikut membantu kalian?" Tanyanya.
Aku mengangguk setuju, semakin banyak bala bantuan akan semakin mudah bukan? Aku dan Rue berjaga malam itu, kami bolak balik bergantian hanya untuk mendengar atau melihat sesuatu.
"Bos, mereka datang!" Kata salah satu anak buahku.
Aku dan Rue bergegas ke ruang bawah tanah, disana sudah ada yang berjaga. Aku terus menunggu laporan dan menyusun strategi, meminta anak buahku untuk terus siaga.
"Bos, kamp pertama tumbang!" Laporan pertama yang masuk dari capoku.
"Siapkan senapan api di belakangnya. Aktifkan peledaknya begitu mereka menginjakan kaki merek di wilayah kita!" Sahutku.
"Siap bos!" Balasnya, kemudian berlari untuk meneruskan perintahku kepada yang lainnya.
Bunyi ledakan dan rintihan mulai terdengar. Aku menunggu dengan santai di ruang bawah tanah itu sambil menyesap minumanku.
"Nikmatilah Rue. Aku hanya akan menunggu 5 menit lagi. Hanya 5 menit. Bukannya sombong, tetapi pasukanku cukup kuat." Sahutku berbangga diri, mengharapkan pujian.
"Kamu sangat sadis Max." Sahut Rue.
"Ini pekerjaanku. Mau tidak mau, suka tidak suka kamu harus menerimanya jika kamu mau mengenalku." Jawabku sambil lalu.
5 menit kemudian,
"Bos, kondisi sudah aman." Bisiknya.
"Baiklah, kerja bagus. Bereskan kekacauannya, aku tidak mau ada bekas atau sisa. Lenyapkan semua yang masih hidup dan jangan tinggalkan jejak!"
__ADS_1
...----------------...
Lea POV
"Aku tidak mau!" Tukasku.
Malam itu, Rue tiba-tiba mengetuk kamarku dan mengatakan kalau aku harus bersembunyi karena akan ada perang dahsyat
"Kalau kamu ikut, aku ikut!" Seruku lagi.
"Ini terlalu berbahaya untukmu, non...ah maksudku Lea." Jawab Rue.
Aku menatapnya tajam, "Apa kamu lupa aku membantu perang saat pasukan centaurus berusaha menjatuhkan singgasana ayahku? Apa kamu lupa aku berada di garda terdepan saat kita harus berhadapan dengan peri kegelapan yang membuat kerajaan kita gelap selama beberapa waktu?" Tuntutku.
Rue mengalihkan tatapanku, "Aku tidak pernah melupakan itu. Dan kuakui kamu hebat sekali. Tapi kali ini berbeda, mereka memakai senjata api untuk melawan dan senjata itu dapat meledak. Ayolah." Kata Rue masih berusaha membujukku.
Aku melipat tanganku, "Apa kamu membawa debu bintang? Aku bisa merapal mantra perlindungan, bahkan untuk 1 area kota ini. Ayo kita lakukan." Seruku bersemangat, bergegas mengobrak abrik isi tas Rue.
Rue menahan tanganku, "Lea, kamu tanggung jawabku. Aku pengawalmu. Berhati-hatilah." Kata Rue pada akhirnya. Dia selalu menyerah dengan sifat kerasku. Karena percuma saja, aku akan terus mengoceh jika ia tidak mengabulkan permintaanku.
Aku mengangguk, "Pasti Rue. Disini lahanku untuk mencari cuan, jadi aku akan mempertahankannya. Raksasa sekali pun akan aku hadapi!" Sahutku bertekad.
Hanya tinggal satu orang yang harus aku yakinkan, Max. Si pria lemah itu!
"Aku ikut!" Tukasku.
Dia mendorongku untuk masuk ke dalam ruangannya, "Tidak! Kamu tinggal!" Katanya.
"Aku ikut!" Seruku, menahan langkah kakiku.
"Lea!"
"Max!" Tukasku tak kalah kencang.
Max mengehela nafasnya, "Aku mohon tinggallah. Jangan libatkan dirimu." Katanya.
"Ajari aku memakai senjata api itu!" Pintaku.
"No! Tidak!" Tolak Max.
Aku memegang tangannya, "Oh, ayolah Max." Bujukku supaya paling tidak aku tau bagaimana kira-kira lawanku.
Max menatapku, apa mungkin akhirnya ia menyerah? Atau tetap melawanku? Jantungku berdegup kencang saat mata Max menembus bola mataku.
"Baiklah." Kata Max pada akhirnya.
Aku bersorak kegirangan, saat Max mengajakku untuk berlatih senjata api. Rue sudah membekaliku dengan tongkatku untuk berjaga-jaga karena aku meminta Rue untuk menyiapkan perbekalan perang kami.
Aku berjalan dengan percaya diri dan gagah, namun begitu masuk ruangannya tiba-tiba mataku sangat berat, aku mengantuk sekali.
__ADS_1
Aku terjatuh, seakan tulang-tulangku tak sanggup menopangku lagi. Segalanya berputar-putar. Aku melihat Max ada 2 sampai 3 Max di depanku. Aku berusaha bangkit, namun ketika aku berdiri segalanya menjadi gelap.
...----------------...