
Max POV
Keesokan harinya, aku terbangun karena ada suara ketukan pintu yang memekakan telingaku.
Duk...duk
Duk... Duk
Aku terbangun dan duduk di tepi ranjang sambil merutuki sang pengetuk pintu.
"Kemana para pelayan itu!" Sahutku.
Aku segera keluar dari kamarku dan begitu aku membuka pintu kamarku, lima sampai enam orang dengan memakai sayap dan memegang tongkat telah menungguku.
Ini penyebab pelayanku tidak dapat meredam ketukan pintunya.
"Ha... halo. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku.
"Saya raja Wren, ayah Lea. Mana anak saya?" Tanya salah satu pria bersayap itu.
Aku tertawa kaku, "Ah, oh. Lea. Tunggu sebentar saya akan panggilkan." Jawabku kemudian masuk ke dalam kamarku lagi untuk mencari Lea.
Aku membuka kamar tapi tidak menemukan Lea disana. Apa yang terjadi?
Aku ke ruangan Rue siapa tau Lea ada disana. Aku mengetuk pintu kamarnya, "Rue!" Aku memanggilnya.
Rue membukakan pintu untukku, "Ada apa Max?" Tanya Rue.
"Dimana Lea? Ayahnya ada disini." Ucapku.
Rue tampak panik, "Aku tidak tau dimana Lea. Dia memang sering menghilang di pagi hari. Benarkan Raja Wren datang ke rumahmu?" Tanya Rue cepat.
Sebelum menemui ayah Lea, Rue memegang pundakku, "Max, jika aku dipecat dari pekerjaanku ini. Aku mohon ijinkan aku menjadi capomu." Sahutnya.
Dan dengan gagah ia berjalan menemui ayah Lea dan teman-teman bersayapnya.
Nelson!
Apa yang harus kulakukan dengan Nelson?
Kacau! Apa yang terjadi sebenarnya?
Aku segera mencari Lea lagi. Kali ini aku mencarinya di taman. Tidak ada.
Aku mencarinya di ruang bawah tanah juga tidak ada.
Aku meminta anak buahku untuk mencari Lea di pusat kota di tempat Vivi dan Rose berada.
Aku masih berusaha mencarinya tapi aku tidak tau harus mencari kemana lagi. Sesekali aku mengintip Rue yang sedang berbicara dengan ayah Lea. Wajahnya serius sekali.
Apakah Lea bersama Nelson? Aku segera berlari ke ruangan Nelson. Aku menggedor-gedor pintunya.
"Nelson!"
"Nelson! Apa Eleanor ada di dalam?" Aku bertanya dari balik pintu.
__ADS_1
Nelson membuka pintu dengan senyum misteriusnya, "Cintamu tidak bersamaku, Max." Jawabnya.
Aku mengambil senapanku dan mengarahkan ke pelipis Nelson sambil mendorongnya masuk ke dalam ruangannya kembali, "Kalau kamu pagi ini keluar dari ruanganmu, aku tak akan segan-segan menghabisi nyawamu! Tetaplah di dalam!" Bisikku kepada Nelson.
Aku memerintahkan anak buahku untuk berjaga agar Nelson tetap berada di bawah pengawasan mereka.
"Lea dimana kamu?" Ujarku dalam hati.
Karena tak sabar menunggu, aku berjalan menuju pusat kota. Aku melewati kedai es krim favorit Lea.
Entah kenapa aku melongok ke dalam, belum buka, tentu saja. Masih sangat pagi untuk berbelanja es krim kan?
Aku segera berbalik dan mengarahkan tujuanku semula, ke pusat kota. Saat aku berbalik aku mendengar seseorang memanggilku, "Max!" Panggilnya.
Aku berbalik ke arah suara, Lea. Dengan rambut panjang terurai, ia tersenyum ceria sambil membawa sekotak es krim yang ia dapatkan entah bagaimana caranya.
Dengan bangga, ia memperlihatkan kotak es krim itu kepadaku, "Lihatlah apa yang kudapat!" Serunya dengan senyum ceria.
Deg!
Senyum dan wajahnya mengalahkan sinar matahari pagi. Seketika aku lupa apa tujuanku mencarinya, "Ah iya. Ayahmu mencarimu." Sahutku pada akhirnya.
"Ayahku? Apa! Ayahku! Kenapa kamu tidak bikang daritadi Max!" Lea berlari sangat cepat bagaikan terbang. Apa mungkin dia terbang? Aku menggelengkan kepalaku.
***
"Aku tidak mau kembali!" Aku mendengar suara Lea dari dalam.
"Kita harus menyelesaikan ini dulu, Lea. Rue, bawa dia!" Sahut ayah Lea. Setelah kusadari ayah Lea berbadan lebih tegap dan lebih tinggi dari Rue.
Rue menangkap Lea, "Maafkan aku nona." Sahut Rue.
Hatiku terenyuh melihatnya. Ayah Lea dan pasukannya kemudian terbang dan menghilang. Tak lama Rue dan Lea yang masih menangis menyusul mereka. Masih aku ingat dengan jelas wajah Lea yang menangis, airmatanya yang mengalir berjatuhan dan berubah menjadi mutiara kecil berwarna putih.
Aku memgumpulkan mutiara-mutiara itu, dan kusimpan di dalam sebuah kantong. Kalau terdesak akan aku jual, aah! Bukan begitu maksudku! Aku harus mencari Vivi dan Rose untuk mengantarku ke tempat asal Lea.
...----------------...
Lea POV
"Rue! Mengapa Lea bisa lolos dari pengawasanmu?" Tanya Raja Wren kepada Rue yang tertunduk.
Suara gemericik air terjun menemani suasana tegang yang terjadi di kerajaan Magic of Wands.
"Maafkan saya Yang Mulia." Jawab Rue masih tertunduk.
"Yang Mulia, saya yang sengaja menjatuhkan diri ke bumi. Bukan salah Rue!" Sahutku.
"Ini bukan giliranmu untuk bicara. Aku ingin mendengarnya dari Rue!" Gertak ayah.
"Maafkan saya Yang Mulia, saya ingin menyelamatkan nona Lea, tapi kami mengalami kecelakaan kecil. Kami diculik oleh sekawanan orang tak dikenal." Jawab Rue jujur.
Mata ayah membesar, "Diculik? Siapa yang berani menculik anakku?" Suara ayah menggelegar hingga membangunkan seekor naga peliharaan kami yang sedang tertidur.
Pandangan mata ayah beralih kepadaku, "Kamu diculik? Kenapa tidak melawan? Kenapa tidak memukul mereka?" Tanya ayah kepadaku.
__ADS_1
"Itu salah paham Yang Mulia." Aku menjawabnya.
Raja Wren bolak balik dan mondar-mandir di depan kami.
"Apa pemakaian kekuatan sihir kalian untuk melawan sekelompok orang jahat itu?" Tanya ayah lagi.
Aku melirik ke arah Rue, apa yang harus kukatakan.
"Iya Yang Mulia." Jawabku.
Raja Wren memanggil Nyonya Lily, sang pembaca kebenaran di dalam bola kristal.
"Tunjukan kebenarannya!" Ujar ayah.
Nyonya Lili membacakan sebuah mantra sambil tangannya membayangi bola kristal, tak lama kemudian bola kristal itu menyala berwarna kuning keunguan.
Dan seperti televisi di bumi, bola kristal itu memperlihatkan kejadian sebenarnya yang terjadi di hari Nelson bermain dengan Max dan Rue.
Aku memejamkan mataku, aku pasti akan dihukum gantung habis ini. Bola kristal itu juga memperlihatkan saat Max menciumku untuk meredakan emosiku.
Aku merasakan hawa panas berkumpul di pipiku.
"Jadi? Bisa kamu jelaskan ini kepadaku?" Tanya ayah kepada Rue.
"Aku yang akan menjelaskannya Yang Mulia."
"Max!" Sahutku.
Entah ia datang darimana yang aku tau Max menyusulku ke tempat asalku dan menyelamatkanku dari hukuman ayahku.
...----------------...
Max POV
Begitu Rue membawa Lea pergi, aku bergegas menemui Vivi dan Rose di pusat kota.
"Antar aku ke pusat kota, cepat!" Perintahku kepada anak buahku.
Aku meminta untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Begitu melihat Vivi dan Rose aku segera memaksa mereka masuk ke dalam mobil.
"Lea dan Rue dipaksa kembali ke tempat asalnya." Sahutku meminta pertolongan mereka.
"Antar aku kesana!" Perintahku.
"Maksudmu Raja Wren turun ke bumi dan memaksa Lea untuk kembali?" Tanya Vivi dan Rose.
"Apa yang telah Lea lakukan sampai Raja memaksanya kembali?" Tanya Rose.
Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau. Tolong aku. Antar aku kesana." Pintaku.
Vivi dan Rose mengangguk, tak lama mereka mengajakku terbang menembus awan sampai tiba di depan sebuah gerbang yang sangat tinggi berwarna keemasan.
Vivi dan Rose mengajakku masuk, pengawal di kanan kiri gerbang itu membungkuk kepada mereka.
Greg!
__ADS_1
Tiba-tiba sayap mereka muncul dari belakang dan mereka membawaku terbang menuju kerajaan Magic Of Wands. Aku bermimpi, aku yakin sekali ini mimpi.
...----------------...