Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Matt Oh Matt


__ADS_3

Anthem POV


"Bagaimana dengan Matt?" tanyaku kepada Rue


Rue mengangkat bahunya. "Dia hilang timbul. Pikirannya tidak bisa kutebus. Apakah Hades ada di balik semua ini?" tanya Rue kepadaku.


"Pasti. Misalkan Matt menuruti Hades, maka tamatlah sudah cerita ini. Karena Lea akan meninggalkan Matt, kan?" tanyaku.


Rue mengangguk. Tapi andaikata itu benar seperti itu, dan Lea benar-benar meninggalkan Matt, aku yakin Matt bodoh sekali. Kehidupan dia saat ini sudah sangat nyaman dengan segala sesuatu yang mudah ia dapatkan. Apalagi yang ia cari di luar sana? Bodoh, benar-benar bodoh.


Belum lagi, ada seorang wanita abadi dengan cintanya yang tak kalah abadi, menunggu dan percaya bahwa ia akan datang kembali. Apakah Matt akan menyia-nyiakan Lea dan cintanya? Tidak ada lagi kata-kata yang bisa kuungkapjkan kepada Matt, selain bodoh.


Malam itu, aku menemui Lea. Tentu saja sambil menunggu istriku selesai bekerja.


Aura Lea, berantakan dan suram. Sudah pasti, kan? Lea menenggelamkan wajah di atas engannya dan ia membaringkan kepalanya di atas meja. Sudah pasti ia menangis.


"Hai. Apakah mengganggu?" tanyaku.


Lea menggelengkan kepalanya, dengan cepat ia mengibaskan tongkat ajaib berbintangnya untuk melenyapkan mutiara yang berada di bawah dan di atas meja, bukti air mata.


"Ada apa?" tanya Lea.


"Aku hanya ingin menemuimu saja," jawabku.


Aku duduk di samping Lea dan menatap wajahnya. Aku terbiasa melihat wajah Lea yang galak dan siap perang jika bertemu denganku, namun kali ini aku melihat wajah Lea yang baru. Sedih dan sendu. Menderita sekali sepertinya.


"Dimana Rue?" tanyaku berbasa-basi.


"Rue? Oh, entahlah. Akhir-akhir ini dia sibuk sekali. Dia harus mengurus beberapa kerjaan Matt yang ia tinggalkan, kemudian pekerjaannya sendiri belum lagi pekerjaan dari ayahku atau Penguasa. " jawab Lea.

__ADS_1


Aku menatap mata Lea yang berwarna biru terang, manik biru itu seakan tak bernyawa. "Apakah tidak masalah jika aku berbicara tentang Matt?" tanyaku memberanikan diri.


Lea mengangguk. "Silahkan saja. Tapi, jangan pernah kamu mengira bahwa aku dekat dengannya. Entah seperti apa hubungan kami karena dia sama sekali tidak memberitahukanku tentang apa pun bahkan tentang keinginannya. Aku bahkan tidak mengenalnya, kupikir hubungan kami dekat. Sangat dekat tapi pikiranku salah," jawab Lea.


Hebat sekali Lea itu, dia pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Aku tau hal ini pasti sangat menyakitkan untuknya, tapi bahkan saat dia berbicara seperti itu suaranya setenang lautan tanpa gelombang.


"Aku tidak berpikir hubungan kalian dekat. Kalian kan baru saja memulai kembali, hanya saja yang membuat hubungan kalian tampak istimewa adalah kalian sudah saling mengenal dan bahkan menikah," ucapku berusaha menghibur Lea dengan kata-kataku yang tidak terlalu tajam.


"Aku rasa di bagian menikah, hanya aku yang mengingatnya. Karena Matt tidak pernah mengajakku untuk menikah,-"


"Dia memikirkannya, Lea. Dia memikirkan bagaimana caranya mengajakmu untuk menikah tapi belum saatnya, kan? Dia merasa ada yang kurang entah apa itu," aku menyela ucapan Lea.


Karena memang Matt pernah memikirkan pernikahan antara Matt dengan Lea. Hanya saja dia merasa seperti harus menunggu sesuatu, terlepas penulis ini menunggu 50k dan karena si penulis sedang sakit saat ini, nasib kami terancam turun level, menyedihkan.


Baiklah, cukup sudah sesi si penulis. Matt menunggu sesuatu, dia sendiri tidak tau apa itu. Dan dia berusaha mencari tau tentang itu. Yang kami takutkan adalah, dia kembali menjadi seorang mafia kejam yang sanggup menghabiskan nyawa orang lain hanya karena tidak sengaja menginjak ujung sepatunya. Begitulah kira-kira kejamnya seorang mafia.


"Kalau dia memikirkannya, kenapa dia menuruti Hades? Dan lihat saja sekarang Castiel menjadi malaikat pengangguran di atas sana. Menurut Castiel, Matt memilih Hades untuk bersamanya. Castiel lelah terus membisiki perbuatan baik kepada Matt tapi Matt tidak mendengarkannya," kata Lea.


"Benarkah? Dimana Castiel saat ini?" tanyaku.


"Di tempat Penguasa," jawab Lea.


Apa maksud semua ini, Matt? Ada apa denganmu? Apa yang kamu sembunyikan dari kami dan apa yang kamu cari di luar sana?


***


Setelah mengantar Alesya, aku makan malam bersamanya dan menemani malam Alesya sebentar.


"Sepertinya kamu sibuk sekali, Anthem?" tanya Alesya saat aku berpamitan kepadanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, honey. Penguasa belum mengijinkanku menjadi seorang manusia jika aku belum bisa membimbing Matt ke jalan yang benar. Karena dalam kasus ini, Matt adalah tanggung jawabku," jawabku menjelaskan.


"Kenapa Matt menjadi tanggung jawabmu?" tanya Alesya.


Aku menceritakan kepada Alesya. "Saat itu, Matt yang sudah berhasil mengalahkan Nelson seorang diri datang ke kota ini. Kemudian Lea dan Matt bertemu kembali. Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya seorang pria dari masa lalu Matt, menuntut dendam kepadanya," aku memulai ceritaku.


"Tapi, apakah kamu akan percaya dengan apa yang kuceritakan?" tanyaku kepada Alesya. Dia seorang manusia yang tidak akan mudah mempercayai suatu hal yang mereka anggap itu tidak mungkin.


Alesya mengangguk. "Semua kata-kata yang keluar dari mulutmu, aku selalu percaya itu, Anthem," jawab Alesya kemudian ia menciumku lembut.


Yang ini tidak bisa aku tolak, jadi aku melanjutkan ciumannya.


"Aku lanjutkan atau kita lanjutkan ini saja?" tanyaku sambil tersenyum lebar.


Alesya terkikik. "Kamu nanti akan segera kembali kan? Kalau begitu ceritakan lagi tentang Matt," jawab Alesya.


Aku mengecup bibir Alesya kembali dan melanjutkan ceritaku.


"Penguasa menugaskanku untuk menjemput Matt saat itu bukan Lea. Namun, Lea menghadap Penguasa langsung ia memohon kepadaNya untuk tidak mengambil Matt dan menawarkan dirinya sendiri sebagai ganti Matt,-"


Alesya menutup mulutnya. "Lea, gadis itu sangat berani," kata Alesya.


"Pada akhirnya Penguasa mengabulkan keinginan Lea. Saat itu nama di notebook berubah menjadi Lea. Karena Lea anak Raja Wren yang mana Raja Wren adalah sahabat dekat Penguasa, maka Penguasa hanya membersihkan sisi manusia Lea di Api Penyucian. Kemudian, Matt yang bodoh itu memintaku saat ia di stasiun terakhir untuk menukar nyawa Lea dengannya. Dia bersikeras ingin menyelamatkan Lea. Pada akhirnya dia menerjunkan dirinya ke Api Penyucian tanpa berpikir kalau dia hanyalah seorang manusia biasa tanpa kekuatan. Setelah itu, habis sudah tubuhnya di Api Penyucian setelah 7 menit ia bertahan disana,"


Aku kembali melanjutkan ceritaku. "Penguasa sudah melihat bukti cinta dalam diri Matt terhadap Lea maka itu Ia memberikan Matt kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Segala masa lalu Matt di hapus, dan kami memberikan Matt kehidupan yang baru. Namun, aku membuka ingatannya kembali saat itu untuk menyelamatkanmu," sahutku menutup ceritaku.


Alesya mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. "Benarkah? Maafkan aku, Anthem," kata Alesya dengan nada bersalah.


Aku menggelengkan kepalaku. "Bukan kamu yang salah tapi aku yang membukanya dan Matt saat ini sedang di kuasai oleh Hades, jadi-" jawabku terputus.

__ADS_1


Ya, ini salahku. Aku yang harus memperbaikinya. Setelah mengucapkan selamat tidur kepada Alesya aku menghadap Penguasa untuk membantuku perihal Matt ini.


...----------------...


__ADS_2