
Lea POV
Pagi hari aku terbangun dengan sesuatu yang hangat melingkari pinggangku. Aku menyentuhnya, tangan Max! Bagaimana bisa ada disini? Kenapa ia merangkulku? Dengan perlahan aku melepaskan tangannya dari pinggangku. Tapi tunggu, kenapa tidak mau terlepas.
Aku melupakan kelembutanku, dan mulai menggoyang-goyangkan lengannya.
Srruukkk!
Max menarikku masuk ke dalam pelukannya, "Max, lepaskan!" Sahutku.
"Good morning." Bisiknya di leherku.
Deg
Debaran bodoh itu muncul kembali. Berhentilah berdegup jantungku. Tapi kemudian aku berpikir, kalau jantungku berhenti berdegup, aku mati.
Ah, maksudku berdeguplah dengan normal wahai jantungku. Oke, begitu lebih baik.
"Max, ayo lepaskan tanganmu." Pintaku.
Alih-alih melepaskan, Max membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Max menatap mataku, aaahh tidak. Aku lemah kalau di tatap seperti itu, dan benar saja adrenalinku mulai bekerja dengan mengalirkan darah lebih banyak ke area wajahku.
"Balas salamku." Katanya.
"Se...selamat pagi." Aku membalas salamnya.
Max menggulingkan tubuhnya dan mengajakku untuk sarapan.
Tak lama kami keluar kamar dan melihat Rue sedang memasak menggunakan sihirnya, "Hai Lea. Roti lapis coklat ini untukmu." Katanya santai sambil menyesap kopi hitamnya sedangkan di belakangnya ramai perabotan dapur mengerjakan segala yang di perintahnya.
Aku menuju ruang makan, dan duduk berhadapan dengan Rue. Namun tidak dengan Max. Dia mundur dan kembali ke kamarnya.
"Max, sarapanmu." Panggilku.
"A...aku tidak terbiasa dengan itu." Jawabnya sambil menggerak-gerakkan jarinya mengikuti perabotan dapur yang sedang memasak sendiri.
Aku merapal mantra untuk meletakkan mereka ke tempatnya semula, "Sudah beres ayo sarapan." Sahutku santai.
"Mana ada mafia takut dengan panci terbang. Malu sama gelar, hahahaha." Ujarku lagi menertawakannya.
Wajah Max memerah. Rue memandangku dengan tidak suka, "Lea, biarkan Max sarapan dulu dan jangan mengganggunya." Tegur Rue kepadaku.
"Huh!" Tukasku sembari menggigit roti lapis cokelat buatan Rue. Aku akui makanan buatannya meningkat tajam semenjak di bumi. Andai dia bukan pengawalku, aku yakin aku pasti jatuh cinta kepadanya.
Ah, aku jadi mengingat kebersamaanku dengan Vivi dan Rose. Aku merindukan mereka. Baiklah, setelah ini aku ajan mengajak mereka bermain.
__ADS_1
Sesampainya di pusat kota,
"Maafkan kami Lea, tapi kami harus bekerja. Kalau tidak bekerja kami tidak akan mendapatkan bayaran hari ini." Jawab Rose saat aku mengajaknya bermain.
Aku menghela nafasku, "Aku ingin bermain bersama kalian. Apa kalian tidak bisa libur sehari saja?" Tanyaku.
Mereka menggeleng, "Tidak bisa karena banyak yang harus kami kerjakan. Atau maukah kamu bekerja bersama kami? Kamu boleh memilih mau memetik strawberry atau menyiapkan sayuran?" Tanya Vivi.
Aku mengangguk bersemangat, "Aku mau, ayo!" Sahutku. Namun sebelum aku pergi, paman dan bibi Eleanor mencegatku, "Nona, untuk apa bekerja? Kami sudah sangat berterimakasih sekali karena anda mau datang ke toko kecil kami. Ambillah strawberry ini berikan juga kepada tuan Max. Aku tidak menyangka keponakanku bisa menjadi orang terkenal seperti ini. Jangan kotori tanganmu hanya untuk memetik strawberry." Kata bibi Eleanor.
Mereka memaksaku membawa sekeranjang besar buah strawberry. Vivi dan Rose hanya tersenyum melihatku, akan tetapi sebelum aku pergi mereka memberiku pesan supaya aku bisa menahan diri dan tidak terlalu menggunakan kekuatan sihir di bumi.
Selagi aku berjalan, ada seorang pria memakai pakaian serba putih mengambil keranjang buahku.
"Ah, strawberryku!" Seruku kepadanya berusaha meraih keranjang buahku.
"Hai nona manis. Aku tidak akan mengambil strawberrymu aku hanya ingin membantumu membawakan ini. Kurasa tujuan kita sama." Katanya tersenyum lebar. Kemudian dia mengulurkan tanganku, "Nelson." Katanya memperkenalkan diri.
Aku membalasnya, "Lea. Ah maksudku Eleanor." Sahutku. Hampir saja mengucapkan nama asliku.
"Aku sudah tau. Namamu cantik sama seperti bunga yang tumbuh di padang ilalang atau senja di langit yang jingga. Secantik itulah namamu." Kata Nelson.
Apa-apaan orang ini, "Kenapa hanya namaku yang kamu puji cantik? Apa akunya tidak cantik?" Tanyaku.
Pria itu spontan tertawa, "Hahaha, kamu lucu juga." Katanya.
"Kamu istri dari Max bukan? Kemarin aku melihat wajahmu di koran harian dan aku terpesona, bagaimana kamu bisa menguasai ilmu bela diri seperti itu?" Tanya Nelson.
"Mudah saja. Tinggal pusatkan pikiranmu pada apa yang kamu mau, setelah itu selesai." Jawabku singkat.
Tak lama kami sampai di rumah Max, dan aku baru sadar bahwa ada beberapa anak buah Max yang mengikutiku dengan berpakaian seperti penjual di pasar.
Max menyambut kami, "Nelson! Kejutan yang menyenangkan." Katanya dan memeluk Nelson.
Aku memberikan keranjang strawberry kepada pelayan di rumah Max.
"Siapa dia?" Tanya Rue
"Nelson. Kawan Max. Dia kan yang memberitahukan bahwa aku dan Eleanor bertukar peran." Jawabku.
"Jangan terlibat dengannya!" Kata Rue memperingatkan.
"Aku tau. Aku tidak nyaman berada di dekatnya karena dia terlalu banyak basa basi." Jawabku.
Dan benar saja, kehadiran Nelson disana memang membuat situasi kurang nyaman karena banyak sekali yang ia komentari. Seperti netizen, pikirku.
__ADS_1
***
Sudah beberapa hari sejak kedatangan Nelson, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rue. Tapi entah kenapa Nelson tertarik sekali kepadaku dan Rue ketimbang dengan Max.
"Rue, apa mungkin dia tau tentang kita?" Bisikku suatu hari kepada Rue.
Rue mengangkat bahunya, "Mungkinkah Max bercerita kepadanya?"
"Aku juga tidak tau pasti tapi sepertinya dia tertarik sekali dengan kita." Ucapku.
Baru saja aku berbisik seperti itu tiba-tiba Nelson muncul dan duduk di tengah-tengah kami seperti kutu pada kucing yang dengan seenaknya menempel.
"Hai, kalian sedang bicara tentang apa?" Tanyanya tersenyum lebar.
Aku tidak menyukai Nelson, tidak terlalu maksudku karena seperti banyak kepalsuan di dalam dirinya. Seperti saat ini, dia melempar senyum palsu. Siapa dia sebenarnya?
"Tentang apa saja." Jawab Rue.
Aku berdeham keras saatnya kejujuran berbicara, "Ehem, maafkan aku sebelumnya Nelson jika perkataanku akan membuatmu tersinggung, tapi kenapa kamu selalu mengganggu kami? Jujur saja, aku tidak terlalu menyukaimu sejak awal kita bertemu." Ujarku.
Nelson tersenyum kali ini bukan senyum yang di paksakan, "Benar kata Max. Instingmu luar biasa sekali. Aku datang kesini memang mempunyai maksud tertentu, tapi sepertinya aku tidak perlu memberitahukan kepada kalian, bukan? Atau kalian tetap mau tau?" Tanya Nelson.
Aku menggeleng, "Tidak perlu. Aku tau kamu teman Max, tapi kalau kamu punya niat jahat terhadapnya aku tidak akan tinggal diam. Aku sudah menganggap Max sebagai temanku." Sahutku dengan sedikit mengancam.
Nelson mendekatkan dirinya ke arahku, aku menggeleng ke arah Rue yang sudah siap dengan blockingnya untuk melindungiku.
"Aku tau apa rahasiamu, Lea." Bisiknya.
...----------------...
Max POV
"Apa maksud kedatanganmu kesini Nelson? Kalau tidak ada yang penting kamu tidak akan rela turun dari tempat persembunyianmu." Tanyaku kepada Nelson.
"Tentu saja aku tertarik denganmu dan mainan barumu. Semenjak kedatangannya aura negatifmu sedikit menghilang karena aku melihat kegelapan dalam dirimu semakin memudar." Jawabnya.
Nelson adalah musuh sekaligus orang kepercayaanku. Dia tidak akan pernah keluar dari wilayahnya jika tidak penting sekali. Kaum rebahan seperti dia patut kuacungi jempol karena rela berjalan jauh hanya dengan alasan tertarik padaku dan Lea.
"Jadi?" Tanyaku.
"Aku ingin menghidupkan kembali kegelapan yang ada di dalam dirimu Max. Terlalu berbahaya jika Lea berada di dekatmu dalam waktu yang lama." Jawabnya.
"Katakan saja apa maumu?" Tanyaku lagi mendesaknya.
"Lihat saja nanti, hahahaha." Jawabnya kemudian pergi begitu saja seperti film-film super hero dimana musuhnya selalu tertawa tidak jelas kemudian menghilang. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya.
__ADS_1
Walaupun dia temanku, aku tidak ajan tinggal diam jika Nelson mengusik Lea. Dia akan berhadapan denganku andai itu terjadi.
...----------------...