Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Wedding Day


__ADS_3

No POV


"Mohon maaf untuk semua karakter yang ada di novel ini, berhubung ini part yang cukup penting jadi aku yang akan mengambil alih cerita ini,"


Lea, Matt, Anthem, dan semua yang sedang berkumpul memandangku.


"Kenapa?"


"Kenapa begitu? Kenapa kamu egois, wahai penulis?" protes mereka.


"Sudah kukatan, ini adalah part penting, kalau aku bercerita dari salah satu sudut pandang kalian itu akan membuatku pusing,"


"Cih! Baiklah! Sesukamulah!" tukas Hades kesal.


"Oke, baiklah. Aku akan memulai cerita ini. Bersiaplah dan Matt, bangunlah, di bab ini kamu akan menikah. Paling tidak, tunjukan antusiasmu!"


Matt segera bangun dan tersenyum lebar. "Baiklah! Aku akan semangat," jawab Matt.


"Good! Aku akan memulai cerita ini. Siap di posisi kalian masing-masing yah, dan jika aku memanggil kalian, kalian harus segera masuk ke set. Oke?"


"Oke!" sahut mereka kompak.


"Get ready, go!"


Kerajaan Awan,


Seluruh Kerajaan Awan di pagi itu tampak sibuk. Para pelayan beterbangan kesana kemari. Begitu pula dengan para peri bunga. Mereka meletakkan bunga disana dan disini dan membuat aula Kerajaan Awan menjadi lebih indah.


Karena Lea menyukai warna ungu, maka seluruh Kerajaan Awan berubah menjadi lautan warna ungu.


"Lea, apa kamu tidak ingin mengubah rambutmu atau gaunmu?" tanya Ratu Edwina.


Lea mematut dirinya di depan cermin. "Untuk apa? Aku menikah dua kali dengan orang yang sama yang sudah mengetahui luar dan dalamku, untuk apa aku mengubahnya? Ribet sekali," jawab Lea santai.


Ratu Edwina menggelengkan kepalanya. "Paling tidak kamu bisa tampil cantik di depan Matt," balas Ratu Edwina masih berusaha membujuk putri semata wayangnya itu.


Lea hanya menguncir kuda rambut panjangnya, dan memakai gaun putih sederhana. Sedangkan Ratu Edwina memilihkan Lea sebuah gaun dengan brokot dan aksen renda di bagian bawah gaun, dan Ratu juga menambahkan hiasan pada sayap Lea. Namun, Lea menolaknya dengan alasan terlalu ramai.


"Aku tidak suka aksen-aksen seperti itu, ibu. Aku hanya akan mengulang pernikahanku. Jika ini terlalu ribet, aku akan kabur bersama Matt, dan menikah di bumi tanpa sepengetahuan kalian. Dan aku hanya akan memakai kaus dan celana jins dalam resepsiku nanti!" ancam Lea.


"Lea!" Ratu Edwina tampak terpukul mendengar ucapan Lea yang mengatakan bahwa ia akan memakai kaus dan celana jins saat resepsi pernikahan.

__ADS_1


Lea menanggapi ibunya dengan tertawa, setelah itu ia memeluk Ratu Edwina dengan sayang. "Mana mungkin aku tega berbuat seperti itu kepadamu, kan?" katanya.


"Matt akan selalu mencintaiku saat aku memakai pakaian apa pun, bahkan saat aku tidak berpakaian. Jadi, ibu tidak perlu mengkhawatirkan pakaianku," sambung Lea lagi.


Sontak saja Ratu Edwina tertawa mendengar ucapan Lea itu. "Hahaha. Baiklah, baiklah. Seharusnya itu jadi rahasia pribadimu dan kamu tidak perlu memberitahukannya kepadaku," sahut Ratu Edwina.


"Karena ibu terlalu mengkhawatirkan pakaianku," jawab Lea tak mau kalah.


Akhirnya, Ratu Edwina mengalah dan membiarkan Lea memilih sendiri gaun pengantinnya.


Sementara itu di Kediaman Penguasa,


"Wren, sudah siap untuk acara besok?" tanya Penguasa.


Raja Wren mengangguk. "Tentu. Ini sudah kupikirkan dari jauh-jauh hari," jawab Raja Wren.


Raja Wren memutuskan untuk melantik Matt menjadi seorang raja setelah Matt dan Lea menikah. Dan menurut rencana, sebelum dilantik, Matt akan di jadikan abadi oleh Raja Wren dan Penguasa.


Inilah yang dikhawatirkan oleh Anthem. Dia ragu akan keputusan Raja Wren yang ingin menjadikan Matt abadi.


"Kenapa kamu meragukan keputusanku?" tanya Raja Wren.


"Aku takut Matt akan melewati batas, dan,-"


"Semoga benar dugaanmu, Yang Mulia," harap Anthem cemas.


"Percayalah sedikit kepadanya, Anthem. Matt akan dewasa pada waktunya dan saat ini ia sedang dalam proses menuju kedewasaan. Bersabarlah. Aku yakin pilihan Wren sudah tepat," ucap Penguasa.


"Ah, sekarang giliranmu. Apa rencanamu?" tanya Penguasa kepada Anthem.


Ia memikirkan anak asuhnya itu. Karena Anthem masih setia pada pekerjaanya, Penguasa pun sulit untuk melepaskan Anthem.


"Aku? Ada apa denganku? Aku masih mendapatkan gelar Employee of the Month setiap bulan bahkan setelah aku menikah. Lalu, apa kau khawatirkan?" tanya Anthem.


"Bukan pekerjaanmu, tapi hidupmu. Kamu mau menjalani hidupmu sebagai manusia atau tetap sebagai malaikat kematian?" tanya Penguasa.


"Apapun akan kujalani selama aku bersama dengan Alesya. Bagaimana menurutmu, Yang Mulia?" jawab Anthem.


Hidup Anthem sudah sangat bahagia bersama dengan Alesya baik itu sebagai manusia maupun sebagai malaikat kematian.


Namun jika diharuskan untuk memilih, maka ia memilih untuk menjadi seorang manusia dengan harapan ia dapat menemani Alesya sampai kematian menjemput mereka.

__ADS_1


"Aku bisa membaca hatimu, Anthem. Aku hanya bertanya apakah kamu yakin ingin menjadi seorang manusia? Ketika kamu menjadi manusia kamu akan berhadapan dengan kematian dan rasa sakit Apakah kamu sudah siap dengan itu semua?" tanya Penguasa.


"Aku tidak khawatir tentang kematian rasa sedih, atau rasa sakit selama aku bersama dengan Alesya maka aku akan kuat menghadapi itu semua," jawab Anthem dengan pasti.


Raja Wren menatap Anthem seakan Anthem akan bepergian jauh. "Bagaimana kalau kamu tidak bisa bertemu dengan kami kembali, Anthem? Tidak ada manusia yang bisa naik ke atas ini kecuali jika mereka diajak," tanya Raja Wren khawatir.


Anthem mendengus. "Aku yakin Lea ataupun Matt tidak akan melupakanku dan mereka pasti akan selalu mengajakku kembali ke atas ini. Dan saat aku kembali ke sini, aku pasti akan menemui kalian," jawab Anthem.


"Jadi keputusanmu ini sudah bulat?" tanya Penguasa.


Anthem mengangguk dengan yakin. "Ya, aku yakin," jawab Anthem.


Raja Wren dan Sang Penguasa saling berpandangan dan menyerahkan semua keputusan kepada Anthem.


***


Hari pernikahan pun tiba. Lea mengundang seluruh penghuni langit serta mengajak Alesya untuk ke atas.


Pemberkatan acara pun dimulai dengan khidmat dan lancar. Tidak ada halangan atau hambatan saat Matt mengucapkan janji pernikahan.


Pesta pernikahan pun berlangsung dengan meriah. Para duyung asik memamerkan keahlian mereka di dalam air. Sedangkan peri bunga tidak henti-hentinya menaburkan kelopak bunga berwarna ungu di langit-langit Kerajaan Awan.


Semua penghuni langit tampak bergembira. Sampai tiba-tiba kegelapan menyelimuti mereka.


"Hades? Apa kau lupa mengundangnya?" tanya Anthem kepada Matt.


Matt menggelengkan kepalanya. "Aku menyerahkan pembagian kartu undangan kepada Lea dan aku memastikan bahwa Lea membagi ke seluruh penghuni langit tanpa terkecuali," jawab Matt.


Anthem membeku. "Lalu, kenapa Hades marah?" tanya Anthem.


Matt memastikan kepada Lea. "Apa kamu melupakan Hades?" tanya Matt.


Lea menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku mengundangnya. Aku akan menghadapi Hades. Tolong lindungi Alesya, Matt," seru Lea.


Benar saja, Hades mengamuk dan menjatuhkan segelanya bahkan ia menabrak beberapa peri bunga, tapi dengan cepat, Lea mengibaskan tongkatnya supaya mereja jatuh tanpa terluka.


Lea berubah menjadi pixie kembali, dan dengan suara menggelegar ia memanggil Hades. Suaranya mampu menggetarkan bumi. "HADES! APA YANG KAU LAKUKAN DI HARI PERNIKAHANKU!" seru Lea.


Hades berhenti dan menoleh ke arah Lea, lalu tertawa mengejek, "Hahahaha. Lalu?" tanya Hades.


Lea menyipitkan matanya, siap menyerang Hades tak peduli ini hari besarnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2