
Lea POV
Aku sedang menghadapi kegalauan Anthem. Penulis cerita ini sedang mengangkat kisah cinta Anthem dan kehidupannya. Kapan giliranku?
Suatu hari, Anthem menarik tanganku dan mengajakku berbicaralah di suatu tempat. Dan dia memilih mengajakku ke Lembah Pelangi.
"Kenapa harus disini?" tanyaku pada Anthem.
"Aku merasa tenang disini." jawab Anthem.
Benar saja, dia tampak lebih tenang. Dia bisa bermain air, kadang ada beberapa duyung yang sedang berenang dan menyapa kami. Terkadang pelangi-pelangi ini memercikan warnanya ke arah kami.
Aku pernah mengajak Max kesini dan jika kita berjalan sedikit ke dalam, akan tampak Air Terjun Pelangi. Itu cantik sekali.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku.
"Apakah menurutmu aku bisa menjadi manusia yang baik?" tanya Anthem.
Aku mengangguk mantap, "Tentu saja bisa. Yang akan merasa kehilangan adalah Penguasa. Hei, apakah Alesya memintamu berubah menjadi manusia?" tanyaku lagi.
Anthem terdiam sejenak kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak. Dia tidak mengatakan itu. Ini hanya pendapatku saja. Aku ingin menjadi manusia karena aku ingin menemani pasanganku menua, dan aku ingin merasakan tua bersamanya." jawab Anthem.
Aku terdiam, itu juga yang ingin aku rasakan bersama Math. Aku ingin seperti itu juga.
"Anthem, kita berbeda dunia. Maksudku bisakah kita bersatu dengan mereka? Bahkan kita bukan manusia seperti mereka." ucapku.
Jujur saja, aku meragukan hubunganku dengan Matt. Walaupun di dalam tubuh Max terdapat jiwa Max, tapi itu berbeda. Dan kematian Max aku menganggapnya sebagai kesalahanku.
"Itu juga yang sedang aku pikirkan. Katakanlah, aku tidak menjadi manusia. Ketika Alesya nanti menua terus mulai rapuh, aku pasti akan merasa tidak nyaman karena dia akan membandingkan dengan kondisiku. Begitu kan, sifat manusia?" tanya Anthem.
Aku mengangguk kembali, "Ya, kamu benar. Lalu, bagaimana dengan jawaban Alesya kemarin?" Tanyaku lagi.
Anthem menghembuskan nafas panjang, "Huft. Entah aku yang bodoh atau memang seperti itu jawabannya. Dia meminta maaf kepadaku, kalau suatu hari nanti aku menemukan kesalahan kepadanya. Apakah itu di sebut jawaban?" tanya Anthem.
Malaikat yang satu ini harus sekolah. Dia benar-benar tidak memahami wanita.
"Itu artinya dia menerimamu, Anthem!" ujarku.
Anthem tercengang, "Benarkah? Tapi dia tidak bilang iya. Dia hanya bilang terimakasih dan maaf." jawab Anthem. Wajahnya berseri-seri tapi itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba dia muram kembali.
"Bagaimana jadinya?" tanya Anthem.
Aku menatapnya, "Kalau ragu, kenapa kamu menyatakan cintamu! Mengesalkan sekali!" tukasku.
"Karena aku ingin menikah dengannya! Aku ingin hidup bersamanya! Aku ingin menghabiskan hidupku dan ingin menua hanya dengan Alesya! Maka itu kunyatakan cintaku. Kamu tidak paham, Lea." sahut Anthem.
"Aku paham. Aku pun begitu. Tapi Penguasa memintaku untuk menunggu dan bersabar. Aku pun ingin sepertimu, Anthem. Entah apalagi yang harus kulalui dengan Matt?" tanyaku.
__ADS_1
Hubungan Anthem dan Alesya sudah ada titik terang, mereka sudah mengetahui perasaan masing-masing. Lalu, aku? Walaupun kami sudah tau perasaan kami tapi entahlah kami masih belum bisa bersama. Rasanya tidak benar, itu yang aku rasakan.
"Maksudku aku harus jadi apa?" tanya Anthem.
"Jadilah dirimu sendiri! Ayo kembali!" ajakku.
Anthem menggeleng, "Aku mau berkonsultasi dengan ayahmu." kata Anthem.
"Baiklah, aku juga akan mampir." sahutku.
***
"Lea, ayo kita kencan." ajak Matt. Ia menghampiri mejaku dan menatapku dengan tatapan nakal dan seksinya. Ini mata Max yang kurindukan.
"Aku mau sekali. Kencan apa kita nanti?" jawabku bersemangat.
Matt berbisik di telingaku, dan aku tercengang, "Apakah boleh begitu?" tanyaku. Aku bisa merasakan panas di wajahku.
Matt tertawa, "Bagaimana? Ayo kita lakukan!" ucapnya bersemangat.
Aku mengangguk dan tersipu. Aku harus memblokir pikiranku kembali dari Rue karena Rue melirik ke arah kami.
"Apa itu Lea?" tanya Rue suaranya bergaung di kepalaku.
"Tidak ada apa-apa." jawabku menjawab pertanyaan Rue yang ia kirimkan lewat pikiranku.
Aku menggelengkan kepala tak sabar, "Hei, Rue! Matt berkata ayo kita makan enak, bukan ayo buat anak!" jawabku dan tak sadar kata-kata itu kuucapkan begitu saja.
Matt memandangku dan menyembunyikan tawanya.
Aish! Aku membuat malu!
Sore itu, Matt menungguku dan mengajakku ke apartemennya. Apartemen Matt tidak besar, hanya ada satu tempat tidur single, meja makan kecil yang hanya terdiri dari 2 kursi dan 1 meja makan.
"Maaf, ini sempit. Beda sekali dengan rumahmu, kan?" tanya Matt.
Terkadang aku berpikir apakah pria itu begitu...entahlah. Sulit aku lukiskan dengan kata-kata.
"Matt, itu rumahmu. Aku mengajakmu pindah kesana." sahutku kepada Matt.
Matt keluar dengan tubuh bagian atasnya terbuka dan pemandangan itu membuat jantungku berdemo. Sisi gelapku memintaku untuk menyerangnya detik ini juga.
"Aku Matt bukan Max. Aku sudah berjanji kepada Axel untuk menjaga tubuh ini." jawab Matt.
Swossh!
Ayshill berkepak lemah dan tiba-tiba saja sudah membawaku tepat di depan Matt.
__ADS_1
Dia sungguh tidak sopan sekali! Ayshill dan Max maksudku. Sayapku ini tidak bisa menahan hasrat kedewasaannya, sedangkan Matt? Sopankah dia seperti itu di depanku.
"Lea, bisa mundur sedikit?" tanya Matt, kedua tangannya terangkat ke atas.
"Aku sudah mundur." jawabku. Padahal aku tidak bergerak sama sekali. Ada sesuatu yang menahanku.
Matt tersenyum, dia menurunkan tangannya dan merangkulku, "Aku merindukanmu, Lea." bisiknya lembut.
Ada monster di dalam diriku yang memintaku untuk menciumnya, untuk melucuti semua benang yang menutupinya dan ia memintaku untuk berada di atas Matt.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tahanlah...tahanlah!" pintaku dalam hati.
Aku mengangkat wajahku, "A...aku juga merindukanmu. Tapi, bisakah kamu berpakaian dahulu?" tanyaku tanpa melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya.
Matt tertawa kembali, "Asal kamu tau, aku ingin memakai kausku dan segera memasak untukmu, tapi tanganmu ini seakan menempel disini." katanya. Kemudian Matt mengambil tanganku dan menciuminya perlahan.
Matg berhasil menciptakan desiran yang menyenangkan di hatiku, "Matt, jangan berhenti." bisikku
"Heh? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Matt tersenyum.
Aku menarik tanganku, "Ma...maksudku tadi berhentilah Matt! Aku lapar!" tukasku, membelakangi Matt dan duduk kembali di meja makan Matt.
Matt menertawaiku. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam kamarnya dan berpakaian. Matt mulai sibuk di dapur. Dia membuatkanku menu makan malam sederhana, yaitu sup asparagus dan roti bagel.
"Selamat makan." ucap Matt saat masakannya sudah siap di santap.
Aku mencicipi satu suap sup asparagus buatan Matt, "Hmm, ini enak." sahutku.
Setelah menghabiskan sup dan roti, aku dan Matt berbincang-bincang di apartemen Matt. Dan tak lama hujan pun turun.
"Yah, ada apa dengan ayahku? Apa dia tidak tau aku belum sampai rumah! Kenapa harus bertengkar dengan ibu sekarang!" tukasku kesal.
"Tunggu saja sampai mereka berbaikan." jawab Matt santai.
Aku hanya berdua dengan Matt, dan apa yang harus kulakukan? Apa yang harus aku bicarakan sambil menunggu hujan reda? Apa yang terjadi dengan ayah ibuku?
Aku duduk di samping Matt yang berbaring di ranjangnya, akan tetapi mataku sudah berat sekali.
Matt memintaku untuk berbaring, "Berbaringlah, Lea. Aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu." janji Matt.
Aku berbaring di ranjang Matt, kami berbicara sambil berbaring. Apa saja kami bicarakan, sampai mata kami bertemu dan ia memandangiku lekat-lekat.
Sekali lagi, jantungku harus berpacu dengan cepat. Aku memejamkan mataku ketika Matt mendekatkan wajahnya ke arahku dan mulai mendaratkan bibirnya di bibirku.
"Ayah, ibu, bertengkarlah lebih lama lagi." sahutku berharap dalam hati.
...----------------...
__ADS_1