Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Show Off


__ADS_3

Lea POV


"Max, apa kamu memberitahukan kepada Nelson tentang identitasku?" Tanyaku kepada Max.


Max mengalihkan padangannya dariku, "Tidak, aku hanya memberitaunya bahwa kamu bukan Eleanor. Aku tidak menceritakan asalmu." Jawab Max.


Aku menangkap keraguan dari ceritanya, "Benarkah?" Tanyaku.


Max mengangguk, "Hmm. Aku tidak bohong." Katanya meyakinkanku.


"Baiklah kali ini aku percaya padamu, tapi begitu aku tau kamu bohong aku tidak akan mau lagi jadi temanmu!" Tukasku.


Aku melangkah pergi dengan santai, namun Max menahan tanganku, "Kalau aku minta kita lebih dari teman boleh tidak?" Tanyanya.


"Aku tidak paham maksudmu. Sudahlah, aku akan mengunjungi Vivi dan Rose." Sahutku


Max masih menahan tanganku, "Aku ikut." Katanya.


Aku mengangkat bahuku, "Terserah." Jawabku.


Kami pun keluar dari ruangan Max, tiba-tiba Nelson muncul dengan seringai lebarnya.


"Kalian mau kemana?" Tanyanya.


"Bermain!" Sahutku ketus.


Nelson mengangkat kedua tangannya, "Silahkan silahkan tuan putri." Katanya.


Aku rasa dia sengaja memancingku untuk mengeluarkan kekuatanku, tapi aku cerdas secara intelektual jadi aku tidak akan terpancing.


Aku mengajak Max berjalan kaki, karena aku senang menikmati pemandangan sekaligus aku ingin es krim yang banyak rasa itu mendinginkan kepalaku karena Nelson membuatku panas.


Sesampainya di kedai es krim, kami bertemu dengan Eleanor saat Max memesankan es krim untuk kami. Jarang-jarang kan seorang mafia membeli es krim. Aku tersenyum dalam hati.


Senyumku berubah jadi cemberut saat Eleanor menyapaku, "Lea, apa kabarmu? Sepertinya kamu menikmati sekali menjadi Eleanor istri tuan Max." Ucapnya.


Aku tidak meresponnya.


Eleanor memancingku lagi, "Aku dengar, Nelson teman Max sedang berada di rumah Max. Apa benar?" Tanya Eleanor lagi.


"Kalau kamu sudah tau, kenapa harus bertanya." Tukasku kesal.


Max datang dengan membawa 1 cone besar es krim dengan 3 scoops es krim yang besar. Ada rasa coklat, choco cip, dan kayu manis.


"Terimakasih Max." Ucapku dan mengambil cone es krim yang Max berikan kepadaku.


"Hei, Lea palsu." Katanya kepada Eleanor.


Eleanor menggebrak meja sehingga semua orang yang ada di kedai itu melihat ke arahnya.


"Kamu pikir siapa yang palsu diantara kami, Max?" Tanya Eleanor dengan suara berbisik. Dia baru menyadari bahwa kini ia menjadi pusat perhatian.


"Aku sedang menikmati hariku bersama istriku. Pergilah siapa pun kamu." Jawab Max.

__ADS_1


"Hohoho, Max kamu lupa berhadapan dengan siapa. Lihat saja!" Tukas Eleanor kemudian pergi meninggalkan keributan yang sudah dibuatnya.


Aku memandang Max sambil menggelengkan kepalaku, ""Ckckck...senangnya cari musuh." Ucapku.


"Berarti kita jodoh." Katanya sambil men*jilat es krimnya dengan santai.


Aku tertawa kecil saat Max kemudian menggandeng tanganku. Kami berjalan menyusuri pusat kota, aku langsung melihat Vivi dan Rose yang sudah menungguku dengan wajah berseri-seri.


"Eleanor!" Seru mereka.


Aku membalas lambaian tangan mereka kemudian berlari menghampiri mereka. Kali ini aku mendapatkan ijin untuk membantu Vivi dan Rose memetik strawberry. Max membiarkanku bermain.


Tak lama Max memanggilku untuk kembali, "Eleanor ayo kita kembali." Katanya.


Aku mendengus kesal, "Baiklah, sampai besok." Ucapku kepada Vivi dan Rose.


Mereka selalu berpesan kepadaku untuk tetap tenang dan mengendalikan kekuatanku. Aku mengangguk. Belum tau saja mereka jika harus berhadapan dengan Nelson.


Sesampainya di rumah Max, aku memanggil Rue, "Rue! RUE!" panggilku.


"Mencari temanmu yah?" Tanya Nelson yang entah muncul darimana.


Aku tidak mempedulikan Nelson, tapi begitu dia melihat Max dia merangkulnya, "Seperti sudah kukatakan kepadamu di hari pertamaku datang kesini aku ingin menghidupkan kembali kegelapan yang ada pada dirimu. Sekarang kita bermain-main sebentar." Bisiknya kepada Max.


Aku memandang curiga kepadanya, perasaanku mengatakan ada yang tidak beres saat kami pergi tadi. Dan benar dugaanku, anak buah Nelson membawa Rue yang sudah terikat tangannya, mata tertutup serta mulutnya tersumpal kain.


Nelson mendudukkan Rue di sebuah kursi, "Tenang Eleanor, kita hanya bermain. Nama permainanannya adalah uji ketepatan. Aku akan meletakkan sebuah apel di atas kepalanya, nanti Max yang akan menembak apel di atas kepala pengawal tampanmu ini." Kata Nelson dengan seringai mengerikan di wajahnya.


Aku mengepalkan tanganku untuk menahan emosi yang sedari tadi gagal kukeluarkan. Aku melempar pandanganku ke arah Max, "Apa kamu sanggup?" Tanyaku kepada Max.


Aku lemas mendengar jawabannya, dan lagi mengapa Rue tidak melawan? Dia bukan seseorang yang mudah tertangkap. Dia dijuluki Eel of Magic Wands karena kelihaiannya melarikan diri, tapi kenapa sekarang ia tertangkap?


Baiklah, aku akan memusatkan perhatianku untuk membantu Max.


Tiba-tiba Max memegang tanganku, entah kenapa segala emosiku menguap begitu saja melihat dia tersenyum, "Relax Lea. Percayakan ini padaku." Katanya lembut.


Max mengokangnya,


Duar!


Apel terjatuh dari kepala Rue.


"Kamu berhasil Max. Kamu berhasil! Terimakasih!" Sahutku hampir menangis. Aku berlari hendak membebaskan Rue, tapi Nelson menahanku.


"Belum selesai Eleanor sayang." Kata Nelson merangkul pundakku dan mengajakku duduk untuk menyaksikan Max dan Rue.


"Hei, tutup mata Max!" Perintah Nelson kepada anak buahnya.


"Kamu gila! Jangan lakukan itu!" Sergahku.


"Duduk saja disini, sayang. Dan nikmati pertunjukannya dengan seksama." Sahutnya sambil memaksaku untuk tetap duduk.


Nelson mengganti buah apel di kepala Rue menjadi buah strawberry, dia melihatku, "Buah kesukaanmu bukan?" Katanya.

__ADS_1


Aku tidak menjawabnya dan hanya berharap Max tau apa buah favoritku.


"Siap Max? Tembak sekarang, hahahaha." Nelson tampak sangat menikmati permainan ini.


Max berusaha menebak apa dan dimana targetnya berada, aku pun berusaha mengirimkan pesan kepada Max.


"Max, Rue tepat di depanmu. Arahkan sejajar dengan panjang senapanmu. Buahnya strawberry." Aku memusatkan pikiranku semoga Max menerima pesanku.


Duar


Aku tidak berani membuka mataku, tapi Max yang berseru dengan kegirangan, "Aku berhasil!" Katanya.


Aku berlari memeluk Max, "Apa kamu menerima pesanku?" Tanyaku berbisik.


"Tentu saja aku selalu bisa mendengar suaramu." Balasnya dengan berbisik juga.


Nelson tampak kurang puas dia kembali menyusun cara licik. Dia berdiri dan bertepuk tangan, "Harus kuakui kemampuanmu masih hebat Max. Satu lagi anggap saja ini final, bagaimana?" Tanyanya tersenyum lebar.


Dia membuka penutup mata dan sumpalan mulut Rue kemudian memberikannya senapan yang sama seperti Max. Nelson memposisikan Max dan Rue untuk berdiri berhadapan.


"Max di dalam senapanmu tersisa 3 peluru, begitu juga dengan senapan Rue berisi 3 peluru. Aku tidak tau mana peluru yang kosong dan mana peluru berisi. Kalian cukup saling menembak saja, diantara dua senapan itu terdapat 1 peluru yang berisi. Siapa yang beruntung mendapatkannya? Hahahaha. Oh, ambulance sudah siap di depan beserta tim dokter lengkap." Katanya menjelaskan.


Aku menerjang Nelson dan menarik rambutnya, "Kamu gila Nelson! Hentikan semua ini!" Tukasku dan menendang perutnya.


"Aawh!" Nelson mengerang kesakitan.


"Lea!" Rue dan Max bersamaan memanggilku. Rue mendekapku dan berbisik, "Lea kamu harus bisa tenang. Atur nafasmu dan tenangkan dirimu!" Ujar Rue.


Aku berusaha mengatur nafasku supaya aku tenang, tapi Nelson segera menarikku, "Wah, punya nyali juga kamu. Aku suka wanita berani sepertimu. Tapi kali ini turuti perintahku!" Katanya.


Anak buah Nelson menahanku, sedangkan Nelson mempersiapkan segalanya, "Pilih gambar koin kalian."


"Kepala." Jawab Max sambil sesekali melirik khawatir ke arahku.


"Rue mendapat angka. Aku akan melempar ini untuk menentukan siapa penembak pertama." Katanya kemudian melemparkan koin tersebut.


Dia menangkapnya dan menangkupkan di tangannya. Dengan perlahan Nelson membuka telapak tangannya, "Angka." Katanya dengan seringai lebar.


...----------------...


Rue POV


Siang itu tiba-tiba Nelson membuka pintu ruanganku dengan paksa, "Ikut aku. Kita akan bermain." Katanya dan menarikku kasar.


Begitu aku keluar tanganku diikat, "Apa maksudmu? Lepaskan aku!" Sahutku.


Nelson menyeringai lebar, "Aku hanya ingin melihat seberapa besar kemampuan Lea dan Max jika di gabungkan menjadi satu." Seringainya.


"Apa yang kamu bicarakan?" Tanyaku berusaha menutupi kemampuan sihirku dan Lea.


"Sudahlah! Kamu hanya seorang bawahan, ikuti perintahku saja dan tidak perlu banyak mengoceh!" Sahutnya.


Bugh!

__ADS_1


Seorang anak buahnya memukul tengkukku dan aku merasakan pusing yang amat sangat.


...----------------...


__ADS_2