
Max POV
"Ada apa memanggilku Max? Kamu merindukanku?" Tiba-tiba saja Anthem muncul di depanku.
Aku melihat ke arah Lea yang masih tertidur pulas di sampingku,
"Ikut aku! Jangan berisik di kamarku nanti Lea bangun!" Tukasku dan menyeret Anthem keluar.
"Hei! Hei! Max! Aku ini malaikat kematian loh, setidaknya hargai aku sedikit dan jangan menarikku seperti itu. Apa kamu tidak takut kepadaku?" Tanya Anthem.
Aku menggeleng, "Tidak. Untuk apa aku takut kepadamu." Jawabku santai, "duduklah. Mau minum apa?" Tanyaku kepadanya.
Anthem memegang dadanya, "Arrgghh, Max. Kamu melukai harga diriku." Ucap Anthem bersedih kemudian dengan terhuyung-huyung ia menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Aku menggelengkan kepalaku, "Apakah semenyakitkan itu menjadi malaikat?" Tanyaku prihatin.
Anthem mengibaskan tangannya, "Sudahlah. Kita lupakan itu. Terimakasih untuk tehnya." Kata Anthem menyesap teh hangat yang kubuatkan untuknya.
"Sayang sekali aku tidak punya camilan. Biasanya Lea selalu memberikanku camilan dan kita menikmatinya berdua." Sahutku.
Aku menyadari, tanpa Lea hidupku terasa sangat sepi dan malam ini terasa sangat lama. Padahal Lea hanya kelelahan dan tidur.
"Bersyukurlah Max kamu yang hanya manusia biasa, penuh dosa, tidak terlalu tampan, tidak terlalu pintar juga dan biasa saja mendapatkan cinta yang sempurna dari seorang wanita sempurna." Kata Anthem.
Aku melemparkan bantal ke arah Anthem, "Apa maksud perkataanmu itu, Anthem. Walau pun kamu malaikat jika kamu menyakitiku dengan kata-katamu aku sanggup mengajakmu bergelut!" Tukasku kesal.
Tapi memang benar apa yang diucapkan Anthem, ah aku jadi sedih jika mengingat itu.
"Kamu sudah mulai mengikutiku yah?" Tanyaku kepada Anthem.
"Entahlah. Disini tidak tertulis nama kalian tapi aku hanya diminta untuk mengikuti kalian dan mengambil salah satu dari kalian untuk aku bawa. Mengerikan bukan?" Ucap Anthem menjelaskan.
Jantungku berdetak dengan cepat, "Bisakah aku bertemu dengan kamu tau," aku mendekatkan diriku kepada Anthem dan berbisik, "Penguasa?" Tanyaku.
"Untuk apa?" Anthem bertanya.
"Atau aku titip pesan kepadamu. Katakan kepadaNya, aku yang akan mati. Bawalah aku jangan Lea. Biarkan dia tetap hidup." Bisikku lagi.
Anthem mendengarkanku dengan seksama sambil mengangguk-angguk, "Ini kisah cinta yang menarik. Apa kalian tidak terpikirkan untuk hidup berdua dengan damai selamanya?" Tanya Anthem.
Aku menghela nafas panjang, baru kali ini aku menemukan malaikat kematian yang cukup bodoh.
Bugh!
"Ouch! Kenapa kamu memukulku?" Tanyaku kepada Anthem yang tiba-tiba memukul kepalaku dengan menggunakan notebooknya.
"Pikiranmu itu harus segera dibersihkan, Max!" Tukasnya.
Aku tertawa, "Hahaha...maafkan aku. Aku berpikir seperti itu karena kamu tau kan kami sudah di ramalkan." Ujarku suram.
"Ramalan itu hanya sekedar ramalan, jangan terlalu mempercayainya. Yakinlah saja kalian akan hidup bahagia selamanya dalam keadaan sehat." Kata Anthem.
Wajahku serasa ditampar oleh kata-kata Malaikat Kematian yang ada di sampingku sekarang dan sedang mengomentari teh cammomile buatanku yang menurutnya kurang manis.
"Anthem, terimakasih." Sahutku tulus.
Anthem mengangguk dan memberikan senyumannya. Ternyata dia lebih seram saat tersenyum.
__ADS_1
"Max, lusa pukul dua siang." Kata Anthem.
Setelah memberitahukanku tentang waktu yang tidak jelas itu, Anthem menghilang dan meninggalkan sehelai bulu dari sayapnya.
***
Keesokan harinya, aku memikirkan ucapan Anthem malam itu. Dia berkata aku tidak boleh mempercayai ramalan begitu saja tapi malaikat bodoh itu meramalkanku tentang waktu kematianku. Secara tidak sadar aku menggelengkan kepalaku sendiri.
"Max, bagaimana keadaanmu dan bagaimana Lea?" Tanya Rue.
Aku menunjuk diriku sendiri, "Aku? Aku baik." Jawabku.
Anthem kembali mengikutiku hari itu, dengan tersenyum lebar ia meminta untuk dibuatkan satu cangkir th lagi.
"Hei, ada apa dengan lusa?" Aku bertanya kepadanya sembari memberikan secangkir teh cammomile untuk Anthem.
"Tidak ada apa-apa hanya saja aku akan membawa salah satu dari kalian." Kata Anthem.
Aku tidak takut sama sekali, yang aku takutkan kalau terjadi sesuatu dengan Lea. Aku beranjak ke kamarku dan membangunkan Lea.
"Hai, kamu sudah bangun?" Tanyaku saat melihat Lea sudah berdiri di depan jendela.
Lea tersenyum dan memelukku, "Hari ini mereka akan berhasil bertemu denganmu, Max. Kita bisa merubah ini tanpa adanya pertumpahan darah."
Aku ikut melongok ke arah luar, "Apa aku ajak mereka masuk saja?" Tanyaku kepada Lea.
"Ide bagus. Aku akan menghilangkan mantranya." Kata Lea.
Aku mengangguk, "Boleh. Sekarang?" Tanyaku.
Lea menatapku, "Kapan saja kamu siap." Jawabnya.
"Ada apa Max?" Tanya Brad dari sebrang.
"Apa kamu ingat janjimu?" Aku bertanya kepadanya.
Brad tertawa, "Tidak usah bicara yang aneh-aneh, Max. Sudah kubilang aku akan menua bersama kalian." Katanya.
"Aku hanya ingin menitipkan Lea padamu. Jagalah dia dan bersiaplah mulai hari ini sampai dengan lusa. Jika aku mati, pergilah sejauh mungkin, ubah identitas kalian. Untuk dua hal itu aku sudah mempersiapkannya." Kataku tenang.
Entah kenapa hatiku terasa sangat tenang seperti tidak ada yang terjadi.
"Sembarangan kamu Max!" Tukas Brad.
"Ayolah. Waktu kita kurang dari 24 jam lagi." Ucapku.
Ada keheningan ganjil di antara kami cukup lama, sampai akhirnya Brad berkata, "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi misalkan aku jadi jatuh cinta dengan Lea, kamu tidak boleh marah." Kata Brad.
Aku mendengus tertawa, "Silahkan. Buatlah dia bahagia dan jangan pernah sekali pun melupakanku." Jawabku.
Setelah berbicara dengan Max, aku menghampiri Lea. Aku mendekapnya erat dalam pelukanku.
"Bukalah." Sahutku kepada Lea untuk membuka mantra perlindungannya.
Lea mengangguk, kemudian ia mengayunkan tongkat berbintangnya dengan satu kali gerakan.
"Milik Rue cukup kuat. Tapi paling tidak mereka bisa mendekati rumah ini dan kamu bisa menyapanya." Kata Lea menjelaskan.
__ADS_1
Aku bersiap untuk menemui mereka namun Lea menarikku, dan dengan lembut ia menciumku.
***
"Kami ingin bertemu dengan Max!" Aku mendengar salah satu dari mereka berbicara.
Aku menghampiri mereka, "Aku Max." Ucapku dan bergegas menemui mereka.
"Masuklah." Sahutku mempersilahkan mereka masuk.
Kalau bisa kulakukan secara damai, aku akan memilih jalan itu.
Mereka masuk, tidak semua.
Deg!
Seorang pria berwajah kecil memandangku tajam.
Ya! Dialah keturunan yang tersisa dari keluarga yang kuhabisi saat itu. Sisanya mungkin pengikut Nelson.
"Ada perlu apa ingin bertemu denganku?" Tanyaku ramah. Aku menjamu mereka seperti tamu terhormat di rumahku.
"Kamu mengingatku?" Tanya pria kecil itu.
Aku mengangguk, "Tentu saja. Anak laki-laki dalam foto yang bersembunyi saat aku datang." Jawabku.
"Aku tidak bersembunyi Max. Aku menunggu! Aku menunggu saat yang tepat untuk menghabisimu." Katanya tenang. Tatapan matanya mengerikan. Begitulah tatapan mataku dulu, tatapan mata ingin membunuh.
"Dan sekaranglah saat yang tepat untuk membunuhku?" Tanyaku.
Pria kecil itu menyeringai, "Targetku dari dulu bukan kamu, Max. Tapi orang yang kamu cintai. Aku ingin kamu melihat dan menyaksikan secara langsung apa yang kurasakan. Dan aku ingin kamu tau bagaimana rasanya menjadi aku saat itu." Katanya lagi.
Emosiku kali ini terpancing, "Brengsek kamu!" Ucapku. Saat ingin menghajarnya ada tangan yang sangat mencengkram lenganku dan menahanku untuk tidak bergerak.
Lea tiba-tiba datang dan menyajikan minuman serta snack untuk mereka, "Silahkan dimakan." Ucapnya mempersilahkan.
Pria kecil itu memandangi Lea dengan tatapan liar. Aku mengepalkan tanganku, mengeluarkan segala emosiku disana.
Lea tidak beranjak pergi, alih-alih pergi ia memilih duduk di sampingku.
"Siapa namamu?" Tanya Lea kepada pria berwajah kecil itu.
"Hunter." Jawabnya dengan seringai menyeramkan.
"Aku tau apa yang kalian inginkan maka aku akan menyerahkan diriku sendiri." Ujar Lea.
Aku menoleh ke arah Lea, "Bicara apa kamu LEA!" Tukasku.
Hunter tersenyum, "Aku tau rahasiamu nona cantik. Nelson memberitahuku sebelum kematiannya." Sahut Hunter sekarang menjadi sangat tertarik dengan Lea.
Ceklek!
Aku mengarahkan senapanku ke arah Hunter, "Berhenti memandangnya, brengsek!" Sahutku.
Segera saja empat hingga lima senapan mengarah kepadaku, "Kamu sanggup melawanku, Max?" Tanya Hunter menyeringai.
Aku melihat Anthem sudah melayang-layang di atas kami, inikah waktunya? Apa aku akan mati hari ini?
__ADS_1
...----------------...