
Lea POV
Wuusshh!
Aku terbang dengan kecepatan tinggi di malam itu, aku tidak peduli dengan angin yang menerpa wajahku, aku tidak peduli akan tertabrak oleh helikopter atau pesawat, dan aku tidak peduli dengan dua makhluk yang mengikutiku dari belakang serta memanggil-manggil namaku.
"Lea! Kamu tidak bisa pergi begitu saja, kita harus bicarakan hal ini terlebih dahulu, dan la,-"
Cling!
Kraaak!
Beres sudah! Bawel sekali Anthem itu! Aku membekukan dia selama sepuluh menit di udara dan dia akan kembali normal setelah es nya berubah menjadi tetesan embun.
"Lea! Kamu tidak bisa memantraiku! Aku seniormu!" suara Anthem kembali berkumandang.
Aku menengok ke belakang,
Cih! Rue memusnahkan mantraku!
Terserahlah! Yang pasti malam ini aku akan membuat perhitungan dengan Matt! Seenaknya sendiri pergi dan tidak pulang kemudian bersenang-senang bersama wanita lain!
Ah, itu dia tempatnya!
Aku mendarat dengan cantik dan sempurna. Aku segera menuju ke kamar kecil untuk merubah penampilanku.
Plop!
Dengan cepat sayapku mengundurkan diri mereka dan kembali bersembunyi di belakang punggungku. Baru saja aku hendak melangkah, Anthem dan Rue sudah menghadang di depanku.
"Mau apa kamu kesini tanpa persiapan matang?" tanya Anthem.
"Memangnya, apa yang sudah kamu persiapkan?" tanyaku kesal kemudian aku bergegas melangkah.
Namun, sekali lagi, Anthem dan Rue menghadang langkahku. "Kamu mau menghancurkan tempat ini? Kamu mau bertarung dengan Hades? Apa kamu tidak memikirkan berapa banyak manusia yang ada di dalamnya?" tanya Anthem dan Rue bersahutan.
Aaah! Aku kesal sekali kepada mereka!
"Sudahlah, lihat dan ikuti saja jika menurut kalian aku akan menghancurkan tempat ini!" sahutku kesal, kemudian mendorong mereka untuk membuka jalan untukku.
"Lalu, kamu mau kemana sekarang?" tanya Rue.
Aku membalikan badanku. "Ke toilet. Mau ikut?" tanyaku geram.
Anthem dan Rue tersenyum lebar. "Tidak, terimakasih," jawab mereka.
Aku berdiri di depan cermin, memperhatikan para wanita yang keluar masuk serta cara berpakaian mereka. Apakah manusia-manusia itu tidak kedinginan hanya memakai pakaian selapis seperti itu apalagi banyak di antara mereka yang berpakaian seperti tidak berpakaian. Apakah ini yang di sebut mode? Aku ingat Eleanor dan pakaian yang selalu di kenakannya. Ah, benar. Ini namanya fashion.
Aku membayangkan apa yang ingin aku pakai. Aku tidak ingin terkesan murahan, aku mau dress pendek dengan lengan terbuka berwarna biru metalik yang elegan dan sepatu warna senada.
__ADS_1
Cling!
Aku kembali mematut diriku di depan cermin. "Sempurna," bisikku kagum kepada diriku sendiri. Setelah puas bercermin aku segera keluar dari kamar kecil tersebut.
Seperti bayanganku, Anthem dan Rue benar-benar menungguku di depan kamar kecil.
"Wah, kamu cantik sekali, Lea. Kalau begitu, tadi aku akan mengajak Alesya. Kasihan kan dia sendirian di rumah," sahut Anthem menyesal.
"Ajak saja dia sekarang supaya kamu punya bahan pembanding. Mana wanita yang sejati dan mana wanita jadi-jadian, begitu kan?" tukasku kesal kepada Anthem.
Anthem menggoyangkan kedua tangannya. "Tidak seperti itu, Lea. Aku tidak sekejam itu," katanya.
"Sudahlah, ayo masuk! Kita selesaikan ini dengan cepat setelah itu kembali," usulku.
Aku berjalan masuk ke dalam, dan,
Jedag! Jedug! Jedag! Jedug!
Musik sialan itu nyaris membunuhku! Musik macam apa ini! Bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri!
"Anthem, astaga! Musik apa ini! Merusak gendang telinga saja!" tukasku kesal, karena Anthem tidak dapat mendengarkanku!
Aku mengirimkan pesan kepadanya lewat pikiranku, dan tak berapa lama dia membalasnya,
"Fokus saja kepada Matt! Pusing sekali aku berada disini. Lampu dan musiknya, benar-benar manusia aneh. Ayo cepat selesaikan dan kita keluar dari sini!" kata Anthem, suaranya bergaung di kepalaku.
Aku berusaha memusatkan penglihatanku di tempat aneh nan gelap nan berisik ini untuk mencari Matt. Setauku, meja-meja ini memiliki nomor. Aku mengingat nomor meja tempat Matt dan Hades. Tunggu! Hades! Ya, Hades adalah kuncinya!
Anthem dan Rue menarikku ke sebuah ruangan, tempat ini cukup tenang hanya saja lampunya sama seperti tempat sebelumnya.
"Aku lupa Hades bersamanya," kata Anthem.
"Akhirnya kita bisa berbicara dengan normal. Tempat apa ini? Aneh sekali," tanyaku.
"Ini namamya club malam," jawab Rue.
"Kepalaku pusing," aku memegangi pelipis kananku. Pusing karena mendengar musik aneh dan lampu kelap kelip ini.
Kami bertiga memikirkan dimana kira-kira Matt berada. "Hades pasti senang sekali berada disini karena banyak sekali manusia yang bersemangat dan seperti Matt," kata Anthem.
"Tidak begitu, hanya Matt yang memilikiku sebagai kekasihnya," aku menimpali ucapan Anthem.
Mengingat Matt membuat hatiku sakit, apalagi saat aku melihat Matt sedang berangkulan dengan tiga orang gadis. Matt brengsek!
Prang! Prang!
Tak lama terdengar suara teriakan histeris dari para pengunjung club malam itu.
"Apa yang kamu lakukan Lea?" tanya Anthem menatapku tajam.
__ADS_1
"Ah, maaf. Aku membayangkan Matt dan tanpa sadar aku menatap salah satu bola lampu itu dan dia pecah. Maafkan aku," sahutku meminta maaf.
Rue membekukan waktu sepersekian detik untuk membetulkan lampu itu seperti sedia kala. "Seharusnya Hades sadar kehadiran kita," kata Rue.
Namun, Anthem menggelengkan kepalanya. "Tidak akan jika dia terlalu asik dengan situasi seperti ini," jawab Anthem kalem.
Aku menerbangkan tongkatku ke atas dan memintanya untuk mencari Matt. "Carikan Matt untuk kami," perintahku.
Kami menunggu di dalam ruangan itu sedangkan tongkatku bergerak melayang-layang melewati kepala-kepala manusia yang berlalu lalang.
Tak lama, ia berkelap-kelip. "Dia sudah menemukan Matt, ayo kita kesana," ajakku. Anthem dan Rue mengikutiku dari belakang.
Setibanya kami di tempat yang di tunjukkan oleh tongkatku, Matt ada disana. Ya, ia sedang asik berpagutan dengan seorang wanita, dan tangan Matt sibuk menjelajah di tubuh wanita yang di pagutnya.
Aku memicingkan mataku dan menggeser wanita itu, kemudian aku menggantikan wanita itu untuk duduk berhadapan dengan Matt,
"Hai Matt. Lama tak jumpa, ternyata kamu sibuk sekali yah disini sampai tidak sempat pulang," ucapku sinis.
Matt membuka matanya. "Lea?"
Tak hanya Matt, Hades pun muncul dari belakang Matt. Hades tersenyum melihatku. "Madam Lea, tak ingin ketinggalan untuk bersenang-senang juga rupanya, hmm?" tanya Hades.
Aku meminta Anthem dan Rue untuk menjaga Matt, karena ini pertarunganku dengan Hades, selebihnya aku akan mengurus Matt.
Hades dalam posisi yang sangat mudah di kalahkan bahkan di musnahkan karena ia tidak sedang marah.
Bugh! Bugh! Bruk! Brak!
"Aargghhh! Madam...maksudku Lea, darimana asal kekuatanmu itu?" tanya Hades begitu aku mengajaknya keluar.
Karena aku sudah berjanji tidak akan menghancurkan tempat dan fasilitas umum lagi, maka aku menarik Hades untuk keluar dan bertempur dengannya disana.
"Dari akal sehatku dan keinginanku untuk selalu berbuat baik! Aku kecewa terhadapmu, Hades. Mana janjimu!" ucapku. Tongkatku dan sayapku tak hentinya memukuli Hades.
"Uhuk! Uhuk! Lea, cukup! Hentikan! Pe... Penguasa yang memintaku untuk,-"
Bugh!
"Tapi kau melewati batasmu, Hades!" sahutku murka. Aku menariknya ke langit yang lebih tinggi dan kemudian aku akan menjatuhkan si bedebah satu ini!
"Rasakan kemarahanku, Hades!" teriakku.
"Lea, hentikan!" Rue menahanku
Aku mengerjapkan kedua mataku tanpa melepaskan Hades. Rue mendekatiku perlahan. "Lea, berikan Hades kepadaku. Aku bersumpah akan menghukumnya," janji Rue. Ia berusaha membujukku.
Tangan Rue terulur, ia meminta aku memberikan Hades kepadanya.
Aku melemparkan Hades ke arah Rue, dan sebelum Rue menangkapnya, aku mengubah Hades menjadi seekor kepiting jelek. "Satukan dia bersama para duyung. Biarkan ia menjadi mainan untuk mereka," sahutku, kemudian aku kembali ke dalam untuk mengurus Matt.
__ADS_1
...----------------...