
Max POV
Aku sedang berada di tempat antah berantah yang penuh dengan hal-hal ajaib dengan warna warni memanjakan mata. Ini jauh dari peradaban namun segalanya tampak indah walau pun ada beberapa yang membuatku takut.
Seperti kedatangan putri duyung itu, kuakui mereka memang cantik. Namun saat seekor duyung masuk dan menarik Lea ke dalam aku takut. Aku takut dia membawa Lea, aku takut aku di serang oleh mereka dan dibawa ke kerajaan mereka di bawah laut.
Tapi kemudian logikaku mengambil alih, bagaimana bisa ada lautan seluas ini padahal kami berada di atas awan? Seperti sebuah film fantasi yang tidak masuk akal dimana seekor bintang laut tinggal di bawah laut dan disana ada pantai. Dan mengapa mereka harus mandi padahal mereka berada di dalam air? Rahasia yang hanya diketahui oleh sang pencipta dunia khayalan.
Ada satu hal yang tidak bisa di terima oleh logikaku namun sangat diperhatikan oleh hatiku, diamnya Lea.
Lea mengajakku ke air terjun pelangi yang tadi kami lewati dan kami duduk di bawah lengkungan pelangi yang ternyata dingin.
Lea dari ke tempat para duyung menjadi murung seketika, apa yang terjadi?
"Kamu baik-baik saja, Lea?" Tanyaku kepadanya. Beberapa menit yang lalu dia sangat ceria dan tidak berhenti mengoceh namun sekarang dia diam seribu bahasa. Aku tidak pernah bisa memahami wanita.
Lea mengangguk kemudian bertanya kepadaku, "Max, apakah kamu ingin menjadi orang baik selama hidupmu?"
Aku mengerutkan keningku, "Ada apa dengan pertanyaanmu?" Aku balik bertanya.
"Hanya saja aku teringat akan foto-foto di ruangan gelapmu, Max. Aku takut jika kamu berbuat kejahatan lagi." Kata Lea.
"Kenapa kamu memikirkanku sampai sejauh itu?" Aku bertanya kepadanya. Baru kali ini ada seorang gadis yang menyukaiku tapi sangat peduli dengan sifat dan sikapku.
Lea menghela nafasnya, "Kupikir aku menyukaimu, Max." Jawab Lea.
Aku melihat ke dalam matanya, gadis ini tidak berbohong. Dia tulus dan benar-benar mengungkapkan segala perasaannya kepadaku siang itu.
"A...aku tidak tau harus berbicara apa. Kamu terlalu jujur dan aku tidak tau bagaimana menghadapi seseorang yang terlalu jujur sepertimu. Terimakasih untuk rasa sukamu." Ujarku.
Jawabanku seperti pria brengsek, bukan?
"Kupikir aku juga menyukaimu. Bukan karena kamu seorang putri atau pemilik para duyung itu, tapi seperti yang kemarin sudah kukatakan aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Lea, teruslah di sampingku." Sahutku.
Dan dibawah lengkungan pelangi yang dingin itu aku mencium bibirnya dengan lembut. Apakah pelangi ini bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh kami?
__ADS_1
"Apakah kamu memantraiku sehingga aku suka padamu?" Bisikku sambil terus mendaratkan bibirku di bibirnya.
Lea menggelengkan kepalanya, "Aku hanya satu kali memantraimu untuk membuka ingatanmu." Jawab Lea.
"Apa yang salah dengan ingatanku?" Aku bertanya kepadanya.
"Karena aku tidak mau kamu melupakanku dan melupakan janjimu." Jawab Lea tanpa basa basi.
Aku mengerutkan keningku, "Janjiku? Apa aku pernah berjanji padamu?" Tanyaku.
Aku berusaha mengingat-ingat apa yang kujanjikan kepadanya tapi aku tidak mengingatnya sama sekali.
"Aku berjanji apa padamu?" Tanyaku akhirnya.
"Kamu selalu mimpi buruk dalam tidurmu, dan saat itu katamu kamu mempunyai pengalaman pahit di waktu kecil dan itu membuatmu trauma sampai sekarang. Dan kamu berjanji akan menceritakan itu kepadaku suatu saat nanti." Jawab Lea menjelaskan.
Aku menganggukkan kepalaku, "Ya, sampai sekarang mimpi itu masih menghantuiku. Aku jadi takut tidur. Namun saat aku menemanimu tidur, mimpi itu tidak datang kepadaku dan itu adalah hari terdamai dalam hidupku." Jawabku.
"Jadi, apa traumamu?" Tanya Lea menagih janjiku.
Aku tertawa, "Hahaha, baiklah. Aku akan menceritakannya kepadamu sekarang." Sahutku.
Lea memelukku dan menenangkanku, "Kalau kamu mau berhenti maka hentikanlah, kamu bisa cerita lagi saat kamu sudah siap, Max." Katanya lembut.
Aku memejamkan mataku, dan airmataku bergulir dan mengalir di pelukan Lea. Dialah orang pertama yang aku beritahukan tentang traumaku. Dan Lea jugalah orang pertama yang melihatku menangis selain orangtua Eleanor.
Lea mengusap airmataku, "Mau berhenti?" Tanya Lea.
Aku menggeleng, "Aku akan melanjutkannya, aku berharap aku akan menjadi lebih ringan karena sudah berbagi beban kepadamu." Sahutku.
Lea mengangguk dan menungguku melanjutkan ceritaku.
"Ibu terus mendekapku namun orang-orang itu memisahkanku dari ibu. Aku tidak tau apa yang dilakukan orang-orang itu kepada ibu. Yang aku ingat mereka melakukan sesuatu yang jahat sekali kepada ibuku, mungkin mereka tidak akan berhenti kalau ibu tidak pingsan dan menghembuskan nafas terakhirnya saat mereka menyiksa ibu beramai-ramai." Aku berhenti sejenak dan berusaha untuk tetap tenang.
Namun Lea selalu berhasil membuatku meluapkan emosiku. Kali ini dia memegang kedua pipiku dan menciumku dengan sangat lembut, seperti menelan permen kapas. Aku membalas ciumannya.
__ADS_1
Kembali airmataku mengalir entah apa yang dilakukan Lea selain menciumku, "Menangislah Max. Hanya itu yang kamu perlukan." Katanya lembut dan kembali memelukku dengan erat. Seolah aku seorang anak kecil tak berdaya yang kalah bermain dari temanku.
Setelah aku tenang, Lea mengambil gelas berisi air dari udara seperti memetik buah di atas pohon dan memberikan gelas itu kepadaku.
"Minumlah dulu. Ini hanya air biasa tidak perlu takut." Katanya.
Aku mengambil gelas itu dari tangan Lea dan meminumnya, rasa air itu segar dan sejuk sekali.
Aku melanjutkan ceritaku, "Setelah orangtuaku tiada, orang-orang itu mendatangiku. Mereka menggendongku dan membuangku di tempat sampah tinggi. Aku hanya bisa menangis karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dan aku sangat takut. Tak lama orangtua Eleanor datang dan menolongku,"
"Mereka mengasuhku bersama dengan Eleanor kecil. Dan ketika aku besar, aku mencari tau siapa orang-orang yang telah mengambil kedua orangtuaku. Dalam pencarianku aku menemukan sebuah surat, "
"Besarkanlah anak ini. Ketika dewasa nanti aku akan mengambilnya. Anak itu berasal dari Klan Maximilian!"
"Begitu tulisan di surat itu. Aku bertanya kepada orangtua Eleanor darimana mereka mendapatkan surat itu dan jawaban mereka adalah salah satu dari orang-orang biadab itu yang memberikannya kepada ayah Eleanor." Ujarku, sampai sini aku sudah tidak bisa dihentikan.
Emosiku meluap-luap saat ini, "Jadi, singkat kata. Aku mencari orang-orang itu dan membunuh mereka serta keluarganya satu per satu. Dendamku terbalaskan. Foto yang kamu lihat di ruangan gelap adalah foto mereka. Dan Nelson membantuku untuk membalaskan dendamku. Nelson gila itu." Sahutku mengakhiri ceritaku.
"Lalu kenapa kamu harus menikah dengan Eleanor?" Tanya Lea.
"Karena orangtuanya telah mengurusku dari kecil dan saat aku berkelana mereka jatuh miskin. Aku membantu mereka, aku memberikan mereka uang namun mereka menganggap itu sebagai hutang. Jaminan mereka adalah Eleanor." Jawabku.
Lea menatapku tersenyum, "Apa kamu sudah lega?" Tanyanya.
"Sedikit. Karena aku merasa tanganku masih berlumuran darah karena membantai keluarga orang-orang jahat itu." Jawabku.
"Dari saat itu, aku tidak pernah mau lagi mengotori tanganku karena sudah banyak dosa yang kulakukan." Aku menambahkan.
Lea kembali memelukku.
"Terimakasih karena sudah membantuku untuk mengeluarkan emosi yang telah kupendam selama bertahun-tahun, Lea. Aku tidak tau dengan apa aku membalasmu." Sahutku.
"Jadilah orang baik, Max. Orang baik yang selalu baik." Jawab Lea.
Aku meraih Lea dan mencium bibirnya lagi. Betapa aku berterimakasih sekali kepadanya.
__ADS_1
Aku tidak tau sampai kapan aku bisa bersamanya tapi aku berharap aku bisa bersama Lea untuk selamanya.
...----------------...