Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Bulletproof


__ADS_3

Max POV


"Rue, kemana Lea?" Tanyaku saat aku hendak mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Ada sesuatu yang akan dilakukannya dan dia memintaku untuk tidak memberitahumu." Jawab Rue.


Apa-apaan itu? Sejak kapan ada kesepakatan seperti itu?


Aku mencari Lea diluar, namun segerombolan mafia tampak berada di sekitaran gedung kantorku.


Puk...puk!


"Max, sedang apa?" Tanya Brad yang tiba-tiba muncul di belakangku.


Aku menahannya untuk tetap di tempat, "Sshht!" Seruku.


"Ada apa?" Tanya Brad lagi ikut berbisik.


Aku menunjuk ke arah gerombolan pria berjas hitam itu. Brad kembali bertanya, "Siapa mereka?" Tanya Brad lagi.


"Mereka mencariku, apakah aku sudah bercerita kepadamu tentang masa laluku? Dan itulah mereka." Jawabku kepada Brad.


Brad menarikku untuk kembali masuk ke dalam, "Kupikir mereka klien baru kita Max. Tapi apakah kamu yakin mereka bukan klien kita? Apa sebaiknya aku tanyakan saja siapa mereka?" Tanya Brad.


Entah Brad ini polos atau bodoh aku tidak paham, sudah jelas wajah mereka seram-seram seperti itu, masih mau di pastikan mereka klien atau mafia.


"Percayalah padaku, Brad. Mereka bukan orang baik. Dan aku yakin mereka mencariku untuk membalas dendam. Itu sudah di ramalkan." Jawabku.


Brad mengerutkan keningnya, "Siapa yang meramalkan?" Tanya Brad.


"Seekor duyung bernama Meltem." Jawabku singkat sambil menatap ke luar jendela.


"Pfft!" Brad mendengus tertawa.


Aku sudah menduga reaksi Brad akan seperti itu, "Tertawalah. Aku akan mengajakmu suatu hari bertemu dengannya. Apa kamu ingat dua orang wanita di pernikahan kami? Nah, mereka itu duyung." Sahutku. Aku tau ini akan terdengar gila tetapi aku tidak mau gila sendirian.


"Hahahaha! Max, tolonglah! Mereka tidak berekor dan tidak bersirip." Ucapnya tertawa.

__ADS_1


"Huh! Tertawalah sesukamu." Sahutku kesal.


Namun tiba-tiba Max terdiam, "Lea itu kan tidak seperti kita. Dia pernah memberitahukan identitas aslinya kepadaku. Malam itu, dia berkata kepadaku bahwa dia bukan yah bukan kaum kita. Dan tiba-tiba saja ada sepasang sayap muncul di belakangnya besar sekali, dia mengeluarkan tongkat berbintang dan membuat api di ruang tengahku. Aku pikir saat itu aku bermimpi, Max." Kata Brad menceritakan pengalamannya.


Pengalaman dia belum seberapa dibandingkan pengalamanku, "Apa kamu melihat mutiaranya?" Tanyaku.


Brad mengangguk, "Tapi bukan itu yang membuatku tertarik dengan Lea. Saat awal pertemuan kami, aku sudah menyukainya." Jawab Brad tersipu.


"Mmm...mohon maaf, Yang kamu bicarakan itu istriku." Kata Jack memotong memori Brad.


"Hahahaha, maafkan aku. Tapi aku tidak tertarik dia memiliki mutiara atau tidak. Aku hanya tertarik dengannya, ada atau tiada mutiara." Sahut Brad lagi.


"Aku pun demikian Brad. Dia wanita yang berani dan berterus terang. Dia membawa seribu sinar di hidupku. Kamu tau masa laluku, penuh dengan hal-hal kotor dan gelap. Begitu Lea datang dan masuk ke dalam hidupku dia tidak hanya menyalakan satu lampu, tapi dia menyalakan ribuan lampu di hidupku yang gelap." Ujarku. Mengingat bagaimana Lea mengubah kehidupanku.


"Sebegitu dalamnya kah cintamu untuk Lea?" Tanya Brad.


"Tentu saja. Cinta kami sudah melewati batas kematian, Brad. Kamu boleh metertawakanku tapi aku kenal dengan malaikat kematian. Kami selalu diramalkan bahwa salah satu dari kami akan mati jika kami tetap bersama. Dan saat itu, Lea sudah merubah ramalan itu dan menantang kematian untuk menyelamatkanku. Dan kali ini Meltem kembali meramalkan kami bahwa salah satu dari kami akan mati. Waktunya tinggal sedikit lagi." Ucapku menceritakan kepada Brad tentang ujian cintaku dan Lea.


"Kalian berhasil melewatinya dengan baik, Max. Aku salut denganmu dan aku yakin apa pun ramalannya jika kalian mempunyai keinginan yang kuat, yang di atas sana pasti akan mempertimbangkannya." Sahut Brad menepuk lenganku.


"Lawanku malaikan kematian yang bisa kapan saja memotong benang kehidupanku...hehehe." ucapku tertawa masam.


Brad memperhatikanku yang masih melihat ke arah luar jendela, "Berbicara tentang masa lalumu, siapa mereka?" Tanya Brad.


Aku mengangkat bahuku, "Ini hanya perkiraanku saja. Saat aku membalaskan dendam kedua orangtuaku, ada salah satu keluarga yang tidak komplit. Aku pikir anak itu matu atau apa, ternyata sepertinya dia ada disana, bersembunyi dan menghapalkan wajahku dalam ingatannya dan saat ini ia menuntut nyawaku sebagai ganti nyawa keluarganya." Jawabku.


Sama seperti kisahku, mungkin anak itu mengingat wajahku dan mengalami mimpi buruk yang sama denganku. Aku menutupi wajah dengan kedua tanganku dan menghela nafas panjang.


"Aku tidak menyangka aku menyisakan satu keturunannya, kupikir mereka semua sudah habis." Ucapku pelan.


Brad mendengarku, "Apa maksudmu menghabisi mereka?" Tanya Brad.


"Aku tidak akan mengatakannya kepadamu, Brad. Karena aku yakin kamu sudah mengetahuinya." Jawabku membiarkan Brad berfantasi dengan pandangannya sendiri.


Brad bersiul, "Jika aku seorang wanita, kupastikan aku akan jatuh cinta kepadamu, Max." Kata Brad.


Aku tertawa, "Kenapa?" Tanyaku

__ADS_1


Brad memandangku dengan tatapan menggoda, kemudian ia berdiri dan memainkan jarinya di sekitar tulang selangka Max, "Karena mafia itu seksi Max." Jawabnya sambil berpura-pura mende*sah.


Max menepis jari Brad, "Hentikan itu! Hentikan! Aku normal!" Jawab Max.


Brad tertawa, dan tak lama aku ikut tertawa bersama Brad.


Akhirnya setelah sekian lama aku bisa merasakan hidup normal seperti ini.


Ketika kami berhenti tertawa aku kembali teringat nasibku dan ramalan itu, "Brad, seperti yang sudah kukatakan di hari pernikahanku. Jika terjadi sesuatu denganku, aku titipkan Lea kepadamu. Kamu satu-satunya temanku yang paling baik dan yang bisa aku percaya." Sahutku.


Brad menepuk-nepuk pundakku, "Kamu akan tetap hidup dan panjang umur, Max. Dan ketika aku menikah nanti kalian akan menjadi pengiring pengantinku. Lea akan menjadi wali anakku. Begitu pula denganku dan istriku nanti. Kita akan menua bersama Max. Cam kan itu!" Tegas Brad.


Aku mendengus, "Huh! Aku ingin seperti itu tapi tidak selamanya matahari akan terus bersinar kan?" Tanyaku suram.


Brad menatapku terdiam.


***


Aku menunggu Lea datang malam itu, dan tak lama ia datang bersama dengan Rue.


Aku memeluknya, "Kamu darimana saja?" Tanyaku.


"Melakukan negosiasi dengan pencipta alam semesta dan segala isinya ini. Dan sekarang aku lelah." Kata Lea.


Rue membopongnya, "Tenaganya terkuras habis, dia butuh istirahat." Kata Rue.


Aku mengambilnya dari Rue, "Biar aku saja." Pintaku dan Rue menyerahkan Lea kepadaku.


Aku membawanya ke kamar tidur kami dan membaringkannya disana. Lea tampak lelah sekali. Darimana dia sebenarnya dan apa yang ia rencanakan?


"Rue, apa kamu tau dia darimana?" Tanyaku.


"Dari tempat yang sangat tinggi, wajar sekali kalau dia lelah. Max, lindungilah Lea dengan segenap kekuatanmu. Kumohon. Dia melakukan segala cara untuk melindungimu maka dari itu aku mohon lindungilah dia." Pinta Rue kepadaku.


"Kamu tidak perlu khawatir Rue. Tanpa diminta pun aku akan menghadang peluru untuknya atau apa pun itu. Aku akan selalu menjadi tameng yang menjaganya." Jawabku memastikan.


Ya, itu yang akan kulakukan. Aku tidak akan membiarkan Lea mati.

__ADS_1


Anthem, aku akan menantangmu kali ini!


...----------------...


__ADS_2