
Lea POV
"Jadi dia datang ke rumah kalian dan menanyakan tentangku?" tanya Matt.
Aku mengangguk dan menyesap jus strawberryku, "Hmm, dia berkata tampaknya dia mengenalmu. Kamu seperti Max. Begitu katanya." ucapku.
Matt manggut-manggut, "Kenapa dia mencurigaiku dengan cepat?" tanya Matt.
"Insting." sahut Rue yang tiba-tiba datang dan bergabung bersama kami.
"Sebaiknya kita melakukan penyelidikan dan menyamar menjadi mata-mata. Bagaimana usulku?" tanya Rue.
"Bagaimana memancing dia untuk datang ke kantor?" tanyaku lalu aku teringat sesuatu,
Brak!
"Aku meminta dia datang hari ini! Itu dia!" tukasku bersemangat.
"Yup, dan kita bisa mengikutinya setelah itu." jawab Rue tersenyum lebar.
"Insting mafia itu tajam, kami akan segera tau kalau kami sedang di mata-matai. Jadi kita harus mencari cara bagaimana memata-matai tanpa menarik perhatiannya?" Matt bertanya sambil berpikir keras.
Aku heran kepadanya, dia mantan mafia tapi mengapa dia berpikir keras untuk memata-matai saja? Seharusnya dia yang memberikan kami ide, bukan? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sendiri.
"Hei! Kamu itu mantan mafia paling tidak kamu sudah bisa memahami jalan pikiran seorang mafia, kan?" Aku bertanya putus asa kepadanya.
Matt memandangku dengan tatapan sedih sekaligus prihatin, "Ingatanku tentang itu sudah terhapuskan, Lea. Andaikan tidak terhapus aku akan mampu memikirkan hal ini dengan cepat." kata Matt.
Castiel yang sedari tadi berada di belakang Matt, memunculkan dirinya.
"Aku diminta oleh Penguasa untuk menghapus semua yang buruk yang ada di pikiran dan hatimu jadi jangan salahkan aku. Aku tidak akan minta maaf kepadamu karena aku hanya menerima perintah dari atasanku." kata Castiel membela dirinya sendiri.
Matt mengangguk dan memahami ucapan Castiel, "Aku tau. Axel mendapatkan fasilitas eksklusif dari Penguasa maka itu aku harus di jaga sebaik mungkin. Begitu bukan? Axel orang baik." balas Matt terharu.
Kami bertiga akhirnya memutuskan kami akan memata-matai Brad tidak dengan cara manusia. Tentu saja ini membuat Matt kesal, "Sombong sekali kalian! Aku manusia, mana bisa seperti itu kan! Aku ingin sekali ikut tapi aku tidak bisa kalau kalian menyarankan ide seperti itu." tukas Matt geram.
"Memang tugasmu saat ini adalah penjaga gawang dan kami yang akan menggiring bola nanti kamu yang akan menangkapnya, jangan sampai masuk ke dalam gawang. Oke, Matt?" sahut Rue.
Aku melihat wajah Matt yang tidak senang dengan keputusan ini. Kenapa kami tidak mengajaknya karena aku takut Brad melihat Max dan mengenali gerak gerik serta kepribadian Max di dalam tubuh Axel. Itu alasan pertama kami tidak mengajaknya dan yang kedua adalah Max itu pintar, dan kami takut jika Max kembali bergabung dengan Brad sebagai mafia.
Dengan kesal, Matt kembali ke kantor sambil menjejakkan kakinya saat berjalan. Aku hanya tersenyum melihat dia kesal seperti itu.
"Oke, setelah Matt sampai baru kamu boleh menyusul ke kantormu? Jangan sampai terlihat kalian mempunyai suatu hubungan. Anggaplah kalian mengenal hanya sebagai karyawan dan atasan." ucap Rue.
Aku mengangguk.
"Bersabarlah, ini akan segera selesai." kata Rue.
"Aku sudah di kantor. Kemarilah sayang." Matt mengirimu pesan yang membuatku setengah geli setengah lucu.
__ADS_1
Rue menatapku, "Ada apa?" tanya Rue berjalan menghampiriku dan melirik pesan di ponselku.
"Jangan baca pesanku!" tukasku, "ayo kita ke kantor. Kita tunggu Brad disana." sambungku lagi.
Sesampainya disana, Brad belum sampai.
"Sudah datang?" tanyaku kepada Matt.
Matt menggelengkan kepalanya dan ia memberikanku isyarat untuk mengecek pesan yang baru saja ia kirimkan kepadaku.
Aku membuka ponselku, "Bolehkah aku memanggilmu sayang?" tanya Matt dalam pesan.
Aku tertunduk dan tersipu. Aku melihat Matt dan Matt kembali memberiku isyarat untuk menjawabnya dengan mengirimkan pesan.
Aku menghampirinya dan berbisik di telinga Matt, "Aku tidak paham bagaimana membalas pesan melalui ponsel."
Matt mendengus dan tertawa, "Hahahaha! Lalu untuk apa kamu punya itu, Lea? Kamu lucu sekali." tanya Matt tergelak.
Aku kembali ke tempatku dan memandangi ponselku tanpa tau apa yang harus kulakukan dengan benda itu. Di tengah keputusasaanku, Brad datang dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
"Lea," kata Brad.
Aku segera berdiri dan menyapanya, "Pagi Brad. Akhirnya kamu datang juga." sahutku menyapa Brad.
"Pagi, mana anak baru itu. Oh, ini?" Brad menoleh ke arah Matt dan menjabat tangan Matt dengan antusias.
"Aku Brad. Perkenalkan dirimu." titahnya kepada Matt.
Aku memperhatikan Matt yang sekarang seperti mempunyai dua kepribadian. Dia bisa menjadi Max dan dalam waktu yang berbeda dia pandai sekali menjadi seorang Matt. Luar biasa. Aku jatuh cinta lagi kepadanya.
Aku tersenyum memandang Matt, dia manis sekali saat menjadi Matt seperti itu.
Brad memperhatikan Matt dari atas sampai bawah mungkin untuk mendeteksi keberadaan Max dalam diri Matt. Tapi kewaspadaannya terhadap Matt masih tampak dengan jelas.
"Baiklah kalau begitu, apakah hari ini ada jadwal rapat, Rue?" tanya Brad.
Rue segera menghampiri Brad dan memberikan jadwal meeting juga beberapa pertemuan kepada Brad yang sekarang mengangguk-angguk dan jarinya terus mengusap layar tablet.
"Oke, tidak ada masalah yang memerlukanku kan?" tanya Brad melihatku.
"Oh, tidak ada. Kami masih bisa menanganinya sendirian, Bradd." jawabku.
"Baik, kalau begitu aku tinggal dulu karena aku masih ada pekerjaan di tempat lain. Matt, semoga kamu nyaman bekerja bersama kami dan selamat karena telah menjadi bagian dari tim kami." ucap Brad kemudian berpamitan.
Rue segera menghilang untuk mengikuti Brad, "Matt, berjagalah disini aku akan menyusul Rue." sahutku kepada Matt.
Swush!
Aku mengepakkan sayapku dan siap untuk terbang, tapi Matt memanggilku.
__ADS_1
"Lea, tunggu sebentar." Matt keluar dari mejanya dan menghampiriku.
Dengan yakin dia berjalan ke arahku dan mencium bibirku. Aku memejamkan kedua mataku dan membalas ciumannya.
Cup!
Matt melepas ciuman kami dan memberikan kecupan tambahan di keningku, "Berhati-hatilah, Lea." ucapnya manis.
Aku masih mau.....
Aaahhh! Dia berhasil mengacak-acak hatiku!
Kemudian aku terbang membelah langit dan mencari Rue. Tak lama aku melihat sayap putih yang besar berada di depanku, itu Rue! Aku mempercepat kecepatan sayapku dan menyusulnya.
Setelah beberapa berada di atas, kami mendarat. Rue mengusulkan untuk tidak menampakan diri selama proses pengintaian.
"Dimana kita?" tanyaku.
Mobil Brad berhenti di sebuah gedung tua yang tampaknya sudah tidak di tempati sejak lama. Dan begitu Brad keluar dari mobilnya sejumlah pria segera keluar dan membentuk barisan teratur untuk menyambutnya.
"Bos." sahut salah satu dari mereka.
"Bagaimana perkembangan kalian dalam mencari musuh bebuyutan kita itu?" tanya Brad tegas.
Aku dan Rue mengikutinya ke dalam. Bau nikotin memenuhi ruangan itu. Aku mengibaskan tanganku di depan hidung untuk mengusir bau nikotin yang menyengat.
"Aku rasa dia benar-benar sudah mati bos. Tidak ada yang melihatnya selama setahun ini." jawab salah satu anak buah Brad.
Wajah Brad yang tidak pernah aku lihat dia munculkan disini. Bengis, tanpa ampun, dan menyeramkan.
"Kalau dia mati berarti harus ada makamnya kan? Hunter bodoh itu aku tidak tau kenapa dia bisa mati! Tidak ada luka tembak! Tidak ada darah, tidak ada lebam, dan bahkan tidak ada luka penyiksaan tapi dia mati! Max pasti memakai ilmu hitam!" tukas Brad kesal.
Brak!
Dia membanting kursinya dengan kesal. Wajahnya tampak murka.
"Brengsek! Cari lagi! Kalau memang dia memakai ilmu hitam, bantu aku untuk menemukan orang pintar yang bisa aku percaya dan benar-benar pintar!" seru Brad. Dia mendorong beberapa pria yang tampaknya gagal mendapatkan Max dan,
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
"Aku tidak akan mengampuni manusia tidak berguna seperti itu! Sampah!" tukas Brad.
"Rapikan!" perintah Brad kepada sisa anak buahnya.
__ADS_1
Anthem datang dan mengajak jiwa yang tertembak itu, "Kalian ini membuatku sibuk bahkan aku tidak bisa berlibur satu hari pun. Hai Rue, hai Lea. Maafkan aku hanya mampir." kata Anthem sambil melirik kepada jiwa yang ia tuntun.
...----------------...