Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
It's Hard


__ADS_3

Matt POV


Aku masih menunggu Anthem di kediaman Raja Wren. Aku dan Alesya tepatnya. Sudah dari beberapa jam sejak Lea memberitahukan kepada kami kalau Anthem sudah sadar hanya saja masih lemah.


Saat ini Raja Wren, Lea san dan Rue sedang melihat kondisi Anthem di tempat Penguasa.


Alesya datang menghampiriku yang sedang duduk di bawah pohon besar. "Hai, Matt," sapa Alesya.


Aku membenarkan posisi dudukku. "Hai, Sya," jawabku.


Alesya kemudian duduk di sampingku. "Seperti menanti seorang pasien yang sedang dalam kondisi kritis ya, Matt? Selama Anthem di bumi, aku tidak pernah tidur dengan baik. Begitu aku disini, Ratu Edwina selalu memberikanku susu hangat sebelum tidur, dan kualitas tidurku lebih baik," cerita Alesya.


Aku tersenyum. "Segala yang ada disini adalah keajaiban, Sya. Seperti pohon ini, dia seolah menghalangi matahari yang masuk saat aku berbaring disini," sahutku.


Alesya mendongak ke atas dan benar saja sinar matahari itu seharusnya masuk menembus dedaunan akan tetapi pohon besar ini menghalangi sinar matahari masuk.


"Benar sekali katamu. Berapa lagi kira-kira Anthem akan pulih? Mengapa dia tidak memilih menjadi malaikat saja? Aku akan mencintai dia, tidak peduli apapun bentuknya," tanya Alesya.


"Karena dia ingin menemanimu sampai kamu tua nanti. Anthem ingin bergandengan tangan saat kulit kalian mulai keriput, dia ingin menghabiskan waktu luangnya bersamamu dan dia tidak mau hanya kamu yang menua, dia ingin menua bersamamu," jawabku.


Aku akui pemikiran Anthem sangat luar biasa tentang cinta tanpa batas ini. Aku memandang Alesya, wajahnya tampak terharu saat aku menjelaskan tentang Anthem dan caranya mencintai.


"Aku tidak pernah menyangka kalau Anthem bisa semanis dan selembut itu, Matt. Dia seorang malaikat dengan segala kebesaran dan keagungannya dan kupikir dia tidak akan mau bergaul dengan manusia tapi aku salah. Dia luar biasa, " kata Alesya menahan haru.


Aku merangkul Alesya yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri itu. "Bersabarlah semoga Anthem cepat pulih, kita tidak bisa melihatnya di atas sana,"


"Padahal aku ingin bertemu Leslie, aku sangat merindukannya," ucap Alesya.


"Aku tau, tapi itu tidak bisa dan tidak di perkenankan oleh Penguasa," jawabku.


Tak lama kami terdiam dan menunggu Anthem juga Lea datang menemui kami. Sampai Ratu Edwina memanggil kami untuk kudapan sore, Lea belum kembali.


"Apakah memang selama ini, Ibu?" tanya Alesya kepada Ratu Edwina.


Ratu Edwina menuangkan sorbet strawberry banyak-banyak ke mangkuk Alesya. Apakah Ratu Edwina lupa kalau Alesya bukan Lea? Lea pencinta strawberry dan kayu manis, tapi setauku Alesya tidak suka itu. Ataukah ia penyuka segala? Entahlah.

__ADS_1


"Apa yang lama anakku? Oh, Anthem? Biasanya tidak selama ini. Atau karena kekuatan Anthem besar jadi agak sulit menyesuaikan dengan tubuh manusianya? Aku juga kurang paham, nak," jawab Ratu Edwina, ikut duduk di antara kami.


Selagi kami menikmati sorbet buatan Ratu Edwina, Lea dan yang lainnya datang.


"Anthem!" aku berseru, dan segera berdiri untuk menyambutnya. Aku memeluk Anth erat, dia tampak seperti manusia sekarang.


Alesya menatap Anthem dengan tatapan haru, dengan cepat ia menghampiri Anthem untuk memeluk dan menciumnya. "Terimakasih karena kamu bertahan, baby," ucap Alesya. Ia menciumi Anthem tanpa henti.


Kami mengelilingi meja makan, para peri rumah segera membuat makanan di dapur. Sehingga begitu ada piring kosong di atas meja makan, dengan cepat piring itu akan tersisi lagi. Luar biasa.


"Bagaimana perasaanmu menjadi manusia?" tanyaku menyeringai lebar.


"Lemah dan badanku sakit semua. Aku baru tau kenapa manusia membutuhkan jasa pijit karena mereka cepat sekali lelah dan mengalami keluhan pegal-pegal," jawab Anthem.


Aku mengangguk setuju. "Begitulah, ah tapi aku senang sekali melihatmu menjadi manusia," sahutku senang sekali.


Aku memandang Anthem, yang sedang mengambil nyamuk dari tangnnya dan membiarkan nyamuk itu terbang. Aku rasa Anthem juga akan menjadi manusia yang luar biasa.


"Setelah ini kau harus ajarkan aku untuk menjadi manusia yang hebat dan tampan. Ketampananku berkurang begitu melihat cermin tadi," bisik Anthem kepadaku.


"Justru, ketampananku harus tetap di pertahankan supaya Alesya tetap melihatku," jawab Anthem tersenyum lebar.


Oh iya, kenapa aku tidak pernah terpikirkan untuk berbuat itu. "Idemu luar biasa, Anthem. Kita harus tampan bersama-sama. Jika nanti kita punya anak, kita akan jadi ayah yang tampan yang bisa di banggakan oleh anak-anak kita," ujarku semangat.


Mata Anthem berbinar-binar saat membicarakan soal anak, dia antusias sekali.


"Hei, Matt. Aku sekarang manusia, saat melakukan adegan dewasa nanti, aku bisa mencapai puncak bersama dengan Alesya. Wah, asik sekali," kata Anthem lagi.


"Coba saja nanti malam, ah tapi kamu masih lemah. Energimu tidak boleh banyak keluar, Anthem yang malang," sindirku kepadanya.


Melihat raut wajahnya yang tampak menyesal, sontak saja aku tertawa keras.


***


"Aku akan menjadikanmu abadi mungkin tujuh hari dari sekarang, Penguasa menunggu Anthem untuk pulih. Kalian berdua adalah anak kesayangannya," kata Raja Wren malam itu.

__ADS_1


Aku mengangguk. Raja Wren mengajukan syarat yang cukup berat untukku.


"Kalian dilarang melakukan adegan dewasa sampai kamu menjadi abadi, Matt. Kamu sanggup?" tanya Raja Wren.


"Apa? Kenapa?" tanyaku terkejut.


Aku tidak bisa, aku tidak sanggup!


"Anak kalian nanti akan menjadi seperti Lea. Setengah manusia, setengah peri. Rencanaku adalah aku menjadikanmu abadi, setelah itu anak kalian akan menjadi abadi. Aku tidak mau cucuku melewati proses yang menyakitkan seperti Lea, Anthem atau kamu nantinya," jawab Raja Wren.


Aku terdiam, ini sulit sekali. "Apakah tidak bisa kalau kami bermain aman? Lea agak sulit menahan, ayah tau maksudki, kan?" tanyaku mencoba menawar dengan memakai nama Lea.


Raja Wren mengusap-usap janggut panjangnya, tanda ia berpikir keras. "Hmmm, benar juga katamu. Lea itu keinginannya keras. Kalau begitu, bagaimana kalian menghadapinya saja, hahahaha," ujar Raja Wren terbahak-bahak.


Setelah berdiskusi tentang segala hal yang berhubungan dengan perpindahan keabadian, kami pun mengakhiri perbincangan kami.


Aku menemui Lea di kamarnya, dan ia menungguku. Begitu aku masuk ke dalam kamar, ia menyeret tanganku. "Apa kamu yakin kamu ingin menjadi abadi dan memimpin kerajaan ini? Tatap mataku, Matt! Ini persoalan yang cukup serius," tanya Lea tiba-tiba.


Aku mengangguk. "Memangnya ada apa?" tanyaku bingung.


"Kamu tidak sedang berada di bawah ancaman siapa pun, kan?" Lea kembali bertanya.


"Ada apa sih? Tentu saja tidak," jawabku.


Lea menghembuskan nafasnya. "Kamu sudah lihat Anthem, dia nyaris mati, Matt. Aku tidak mau melihatmu seperti itu. Kita jalani saja saat ini," ucap Lea.


"Ini kemauanku, Lea. Percayalah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi," sahutku berusaha menenangkannya.


Lea menggelengkan kepalanya. "Sebelum ayahku menjadi raja, kakaknya seorang manusia. Penguasa menjadikannya abadi, tapi tubuh pamanku itu tidak sanggup dan akhirnya dia mati. Dia mati, Matt! Aku tidak mau kamu mati!" tukas Lea memelukku.


Deg!


Apakah separah itu proses menjadi abadi? Aku menepuk punggung Lea dengan lembut, dan memikirkan kembali ucapannya serta keputusanku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2