Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Face It, Max!


__ADS_3

Lea POV


"Wah, dia benar-benar tertidur seperti seorang bayi Rue. Padahal ini sudah waktunya sarapan. Apa aku bangunkan saja?" Aku bertanya kepada Rue.


Melihat Max tertidur dengan nyenyak rasanya damai sekali dan aku tidak tega untuk membangunkannya. Tapi memang mantra tidur Rue kadarnya sama seperti obat tidur. Tidur tanpa bermimpi.


"Rue apakah ada efeknya jika kita memakai mantra tidur terlalu sering?" Tanyaku.


Rue mengangguk, "Tentu saja. Segala yang berlebihan memang tidak baik kan? Dia akan tertidur terus kira-kira seperti itulah." Jawab Rue.


"Seperti Aurora tetangga kita itu?" Tanyaku teringat Aurora. Rakyat kerajaan sering memanggilnya putri tidur sampai katanya harus di bangunkan oleh seorang pangeran. Setelah kupikir jika seseorang terus tertidur, pasti akan ada yang berubah seperti wajahnya menua, badan kurus belum lagi banyak luka tekan dimana-mana.


"Sudah lama kita tidak mengunjungi dia yah, kapan-kapan kita harus kesana." Sahut Rue.


Aku mengangguk, "Aku bawakan bunga krisan jingga untuk kuminumkan kepadany." Usulku. Rue setuju.


"Dan sekarang, kita harus membangunkan dia bukan? Sudah lebih dari dua belas jam Max tertidur." Ucapku kepada Rue.


"Max. Bangunlah Max." Aku mengusap-usap lengannya tapi Max tidak bergeming.


Aku kembali membangunkannya, "Max!" Kali ini dengan tepukan lembut di pipinya.


Aku mengangkat tanganku, "Dia tidak terbangun." Sahutku putus asa.


"Begitulah efek buruknya. Aku akan menemui Vivi dan Rose, tolong jaga Max." Kata Rue.


"Kenapa aku tidak ikut denganmu saja? Max kan ada Eleanor." Aku berusaha menawar kebijakan Rue sambil tersenyum lebar.


Rue menggelengkan kepalanya, "Ini urusan kami." Jawabnya galak.


Selepas kepergian Rue, aku memandangi Max yang masih tertidur. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke bibirnya,


Cup!


Max membuka matanya, dan membalas kecupanku dengan ciuman yang panas. Aku memejamkan mataku dan mengikuti permainannya.


Max tersenyum, "Cara membangunkan yang sangat klasik. Aku suka itu." Sahutnya.


Blush!


Wajahku panas dan aku yakin memerah. Kenapa aku melakukan itu?


"Ba... Bagaimana tidurmu?" Aku bertanya hanya untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Max tersenyum dan tampak segar sekali, "Luar biasa. Setelah bertahun-tahun aku terbangun baru kali ini aku merasakan tidur tanpa mimpi. Benar-benar hebat! Kemana Rue?" Tanya Max sambil celingukan.


"Rue sedang ada urusan dengan Vivi dan Rose baru saja pergi." Aku menjawabnya.


Max menggenggam tanganku, "Temani aku sarapan." Katanya.


"Kan ada Eleanor." Aku menjawabnya, kulepaskan tanganku tapi genggaman Max terlalu kuat.


Max memandangku tajam, dia terus berjalan ke arahku hingga aku terjatuh di ranjang Rue, Max masih terus mendekatiku.


"Ma...Max, biarkan aku bangun." Pintaku.


Max tidak melepaskan tatapan matanya dariku, dan menciumku kembali dengan lembut. Aku berpikir apa boleh aku begini terus?


"Sepertinya aku menyukaimu, Lea." Bisiknya tersenyum. Kemudian berdiri dan menggenggam tanganku lagi, "Maka itu tetaplah di sisiku dan temani aku." Kata Max lagi.


Kami keluar dari ruangan Rue dan Max masih memegang tanganku. Hari ini dia sangat ceria, wajahnya berseri-seri dan di penuhi dengan senyuman.


"Selamat pagi Nelson, Eleanor." Sapa Max.


Eleanor membuka mulutnya untuk protes, namun Max menutup bibir Eleanor dengan jari telunjuknya, "Sstt... Kalian semua tau ini adalah Lea dan Eleanor ternyata berteman dengan Lea selama ini dan yang kamu temui selama kamu disini itu adalah dia, Lea." Kata Max menjelaskan kepada Nelson.


"Dan pagi ini aku terbangun dan menyadari satu hal yaitu aku menyukai Lea." Ucap Max membuatku mematung tak bergerak.


"Perjanjianku denganmu akan aku revisi, hari ini juga aku akan bertemu dengan orangtuamu untuk bernegosiasi sekaligus memberikan kompensasi untuk mereka." Jawab Max.


"Aku menolak!" Jawaban itu sekali lagi bukan dari Eleanor melainkan dari Nelson.


"Ini tidak ada hubungannya denganmu Nelson jadi kumohon tutup mulutmu!" Tukas Max.


Aku mulai merasakan emosinya memuncak karena genggaman tangannya pada tanganku mengencang. Aku memegang tangannya dengan tanganku yang bebas berharap itu bisa menenangkannya.


Nafas Max yang tadi memburu perlahan mulai teratur. Max mengambil nafasnya, dan melanjutkan sarapannya. Aku mencari topik untuk mencairkan ketegangan di antara mereka.


"Apa itu bioskop?" Tanyaku, namun tidak ada yang menggubrisku.


"Tentu saja ini berhubungan denganku, Max. Apa kamu ingat pembicaraan kita saat itu tentang penggabungan wilayah? Eleanor paham tentang strategi itu dibanding Lea yang tampak tidak tau apa-apa ini." Tukas Nelson.


Max kembali emosi, "Jangan menjelek-jelekan dia!" Sahut Max.


Aku berusaha tidak mendengar ucapan Nelson, bisa di hukum kalau aku meledak disini lagi.


"Max, aku tidak apa-apa. Aku keluar dulu untuk menunggu Rue kembali." Sahutku.

__ADS_1


Eleanor memaksaku untuk duduk, "Kamu perlu tau apa rencana kami jika kamu ingin berada disini." Kata Eleanor.


"Aku tidak ingin tau tentang apa pun." Jawabku dan bergegas pergi. Namun Eleanor menahan tanganku, dan memaksaku untuk tetap di tempatku.


"Nelson, lanjutkan." Perintah Eleanor.


"Aku ingin memperluas wilayah yuridiksiku jadi aku mengajakmu bergabung bersamaku. Seperti kubilang kamu akan tetap menjadi seorang Don. Kamu tidak perlu khawatir, Max. Kita bertiga akan menjadi Max Capone terkuat di seluruh penjuru negri." Ujar Nelson.


Max tidak menggubrisnya, "Aku tidak tertarik." Jawabnya santai sambil menggigit sepotong roti bagel.


"Aku akan memberikan jaminan kepadamu. Akan kuberikan anggota afiliasiku untukmu, Max. Jangan sampai aku memakai cara kasar. Kamu cukup duduk saja seperti biasa dan biarkan Eleanor yang mengatur segalanya sedangkan aku menjalankannya. Aku bagian kotornya, Max." Nelson masih terus membujuk Max. Tapi Max tampak sangat tidak peduli tentang itu.


Aku tidak berani membuka mulutku karena itu bukan ranahku dan aku tidak tau menau tentang gangster atau mafia macam mereka. Sepertinya dunia mereka gelap sekali.


Kali ini Eleanor ikut angkat suara, "Max sayang pikirkan keuntungan yang akan kita dapatkan. Akan berkali-kali lipat, Max. Dan la..."


Dor!


Max menembakkan senapannya ke arah langit-langit, "Aku baru bangun tidur dan aku lapar! Aku tidak suka kalau kalian mengajakku bermimpi di saat aku sedang menikmati sarapanku!" Katanya santai seolah tidak sedang terjadi perdebatan di meja makan.


Eleanor membeku seketika, jantungku pun mulai memainkan iramanya dengan cepat.


Tapi tidak dengan Nelson, "Gertakan yang luar biasa Max. Tapi aku ingatkan kembali tentang rencana kita, Max. Bagaimana? Maukah kamu bergabung bersama kami?" Tanya Nelson.


Max bangkit dari kursi makannya dengan kasar, dan menodongkan senapannya ke dalam hidung Nelson, "Kalau kamu berani membahas hal ini lagi, aku tidak segan-segan menghabisimu, Nelson. Sekali pun kamu temanku."


Nelson tertawa, "Jadi kamu lebih memilih perempuan tidak jelas itu dibandingkan aku yang sudah menemanimu berbulan-bulan? Ingatlah kiprahmu di dunia hitam, Max. Apa kamu pantas berdampingan dengan seorang gadis polos seperti dia? " Balas Nelson memandang ke arahku sambil tersenyum meremehkan.


Max mengangguk, "Ya! Aku lebih memilih dia daripada kamu! Paling tidak targetku tahun ini adalah mengembalikan sisi kemanusiaanku." Kata Max lagi.


Nelson kembali tersenyum aneh, "Kalau begitu tembaklah aku Max. TEMBAK SEKARANG!" Gertak Nelson.


Dor!


Dor!


Dor!


Max melepaskan tiga tembakan tepat di depan Nelson kemudian dia meminta kepada pelayannya, "Singkirkan dia dari hadapanku!" Perintahnya.


Max kembali melanjutkan sarapannya dan memandang tajam kepada Eleanor yang gemetar ketakutan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2