Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Sheep and Wolf


__ADS_3

Lea POV


Drap...


Drap...


Drap...


Aku berlari setelah berbicara dengan Max, hatiku terasa sakit sekali. Aku harus meluapkan emosiku ini supaya tidak meledak dan aku menerbangkan segala yang ada di dekatku.


Belum jauh aku berlari seseorang menyekapku dan menarikku, "Eemmbbpp!!"


Aku menggigit telapak tangan yang menutupi mulutku,


Krauk!


"Aaww! Sialan! Kejar gadis itu!" Teriak pria itu kepada temannya yang lain.


Dan segera saja tiga pria mengejarku. Aku terus berlari menerobos gang-gang sempit di pusat kota. Aku rasa aku semakin jauh dari tempat Tom dan yang pasti aku tersesat.


"Dia kesana!" Aku masih mendengar teriakan para pria aneh itu.


Aku merapalkan mantra tak terlihat, dan..


"Sialan! Kemana gadis itu?"


"Tidak mungkin dia secepat itu kan?"


Mereka berhenti tepat di depanku dengan nafas terengah-engah. Aku tidak berani bergerak seinci pun, bahkan untuk bernafas saja aku tidak berani.


"Bos akan membunuh kita kalau sampai kehilangan gadis itu." Sahut pria itu.


Sepertinya mereka berempat karena mereka tadi berpencar untuk mengejarku dan sekarang sudah berkumpul disini.


Siapa bos yang mereka maksud? Nelson kah?


"Aku sudah mencari kemana-mana tapi tidak kutemukan!" Salah seorang pria muncul dan berlari ke arah kami. Mereka berlima. Untuk apa pria-pria ini mengejarku? Apakah bos mereka mengutus lima orang hanya untuk menangkapku?


"Habislah kita!" Seru salah satu pria.


"Kata bos Nelson gadis itu gadis ajaib yang bisa mengubah airmatanya menjadi butiran mutiara, apa kalian percaya itu?" Tanya pria yang kugigit tangannya.


Pria di depannya mendengus, "Huh! Apa kalian percaya? Kalau ada manusia seperti itu aku tidak akan memberikannya kepada siapa pun, dan akan kunikmati sendiri! Apalagi kalau dia seorang gadis kan? Hahaha!" Sahut pria itu, tertawa kejam.


Aku geram sekali mendengar pembicaraan mereka! Ingin rasanya kucabik-cabik mereka menjadi beberapa potongan kecil, beruntunglah kalian aku baik dan tidak suka daging manusia.


"Aku rasa bos Nelson mabuk. Dia terlalu banyak bermain bersama Eleanor, hahaha. Semua orang juga tau Bos Max dan Eleanor hanya menikah bohongan. Kita tidak pernah tau bagaimana mereka di dalam kan?" Sahut pria satu lagi, dan ucapannya itu disambut dengan gelak tawa dari teman-temannya yang lain.


Aku mengerutkan keningku, kenapa jadi mengobrol disini. Baiklah, aku akan pergi! Aku berjalan pelan melewati belakang kepala tiga pria, sebisa mungkin aku tidak menyentuh mereka.


Fiuh, akhirnya lolos juga.


Aku tidak menampakkan diriku sampai aku bertemu Rue atau kedai Tom.


Aku berjalan tak tentu arah sampai aku bertemu dengan jalan setapak yang biasa aku lewati saat aku bekerja dengan Vivi dan Rose. Aku bernafas lega dan melanjutkan perjalanan lagi.


Deg!


Aku bertemu dengan Nelson dan Max. Tampak wajah Nelson sedang gusar, pasti karena laporan anak buahnya yang gagal menangkapku. Aku mengendap-endap mendekati mereka dan duduk di sebelah Nelson.

__ADS_1


"Jadi? Kalian kehilangan jejak gadis itu! Hahahaha!" Seru Max tertawa.


"Sialan kamu Max! Akan kubunuh mereka semua kalau berani menunjukkan batang hidungnya di depanku!" Sahut Nelson.


"Apa yang akan kamu lakukan jika menangkapnya? Apa rencanamu dan apa yang kamu pikirkan?" Tanya Max.


"Tentu saja aku akan menggunakannya. Sayang sekali jika kamu memiliki aset berharga tapi didiamkan begitu saja sama seperti berlian tidak akan terang sinarnya jika kamu hanya mendiamkannya saja." Jawab Nelson.


"Max! Kamu kekasihnya bukan?"


Max menggelengkan kepalanya, "Bukan!"


"Jadikan dia kekasihmu maka dia akan menuruti segala permintaanmu. Aku akan mengurus Eleanor." Sahut Nelson.


"Untuk apa?" Tanya Max menyesap minumananya.


"Gadis itu seperti berlian, Max. Kita harus mengemasnya dengan baik. Anggap saja dia aset kita." Jawab Nelson.


Max menenggak lagi minuman di dalam botolnya kemudian dia tertawa kecil, "Lalu?"


"Manfaatkan dia! Gadis itu terlalu berharga jika kita mendiamkannya saja. Kalau kamu tidak tega, biar aku yang melakukannya." Kata Nelson beranjak pergi.


Ceklek!


Suara kokangan senjata Max memerintahkan Nelson untuk tetap diam di tempatnya, "Aku sudah bersumpah untuk menjadi orang baik di dunia ini. Jadi, aku tidak akan bisa bekerjasama denganmu lagi kecuali kalau itu menyangkut kebaikan." Jawab Max dengan suara nyaris berbisik.


Aku mendekapkan kedua telapak tanganku ke mulutku, aku takut berteriak karena setelah Max mengokang senjatanya, Nelson dengan cepat mengarahkan senapannya ke pelipis Max.


Max berdiri dan melakukan hal yang sama kepada Nelson. Mereka berdua saling mengitari dan mengarahkan senapan mereka.


"Kamu memilih mati daripada harus mengotori tanganmu, Max?" Tanya Nelson pelan.


Max mengangguk sambil mengibaskan tangan bebasnya, "Ya, tentu. Kalau tanganku kotor sudah pasti hatiku kotor juga kan? Sudah cukup aku melakukan pembantaian itu bersamamu bertahun-tahun lalu." Jawab Max.


Dor!


"Aaaa!" Suara erangan muncul dari seorang asing yang kebetulan lewat. Darah mengalir dari dadanya dan dalam hitungan detik, orang itu jatuh tersungkur. Tidak ada yang menolongnya. Dia mati menyedihkan.


Baik Nelson maupun Max tidak menoleh namun masih fokus kepada masing-masing mereka, "Bau darah selalu menyenangkan bukan, Max?" Tanya Nelson menyeringai.


Max membuang salivanya, "Tidak selamanya bau darah itu menyenangkan Nelson, bagaimana kalau kamu yang kubuat seperti itu?" Tanya Max.


Aku tidak sanggup melihat perdebatan mengerikan seperti ini. Aku mendekati seorang pria yang tertembak tadi, dan kukibaskan tanganku untuk menyembuhkan dan menutup luka tembaknya.


Dengan susah payah kukeluarkan airmataku setetes, dan peluru yang bersarang di dadanya terangkat keluar.


"Hhhhhhaaaaahhhh!" Pria itu menarik nafasnya panjang dan meraba dadanya, kemudian dia menatapku dengan bingung. Jelas saja karena aku tak terlihat, dia akan bingung. Tak lama, dia berlari menjauh dari tempat itu.


Nelson dan Max memperhatikanku dan menghampiriku, aku bergerak mundur perlahan.


Aku tau Max melihat ke sekeliling area itu hanya untuk mencariku, dia tau aku ada disana!


Aku berlari sekuat tenagaku hingga sampai di kedai es milik Tom. Aku segera mencari Rue, dan begitu kutemukan aku menyeratnya.


"Lea? Tampakkan dirimu! Kupikir kamu hantu!" Kata Rue.


Aku menampakkan diriku, berusaha mengatur nafasku yang tersengal-sengal, "Mereka mengejarku! Mereka ingin menangkapku maka itu aku membuat diriku menjadi tak terlihat!" Sahutku.


Rue memberikanku segelas air, "Minumlah dulu, tenangkan dirimu!" Rue berseru.

__ADS_1


Aku mengambil gelas dari tangan Rue dan menenggaknya, "Aah, segarnya!" Sahutku.


"Ceritakan kepadaku apa yang terjadi?" Tanya Rue dengan wajah serius.


"Anak buah Nelson mengejarku. Mereka ingin menangkapku." Sahutku.


"Lalu?"


"Aku berhasil melarikan diri dari mereka tetapi aku tersesat begitu ingin kembali kesini. Dalam perjalanan kembali aku bertemu Max dan Nelson, mereka hampir saling menembak seperti waktu itu. Mereka menembak orang, dan..."


"Lea! Tenanglah! Ceritakan dengan perlahan!" Seru Rue.


Aku menhatur nafasku kembali, menarik dan menghembuskannya, "Aku bertemu dengan Nelson dan Max di taman. Mereka hampir saling menembak dan Nelson menembak seseorang. Aku melakukan kesalahan, maafkan aku." Sahutku, menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


Rue mengambil tanganku dan menggenggamnya hanya untuk menenangkanku, "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Rue lembut.


"Aku menghidupkan kembali orang yang tertembak itu." Jawabku pelan.


"Apa!" Tukas Rue.


"Apa sebelumnya dia sudah mati?" Rue bertanya lagi.


Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau." Ucapku.


Rue memegangi pelipisnya dan memijatnya disana, "Bagaimana memang kalau dia sudah harus mati Lea? Harusnya kamu lari saja!" Kata Rue putus asa.


"Itu spontan kulakukan karena aku berpikir dia tidak bersalah dan tidak adil untuknya jika mati seperti itu." Sahutku.


"Kalau memang dia diharuskan mati Seperti itu, kamu sudah merubah lingkaran hidupnya." Jawab Rue.


Aku memejamkan mataku sebelah dan melirik Rue, "Aku lupa peraturan itu, maaf." Jawabku.


"Bagaimana dengan Max?" Desak Rue lagi.


"Dia sepertinya tau aku ada disana begitu juga dengan Nelson." Ucapku.


Kami terdiam beberapa saat dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.


Tak lama Max datang, "Apa itu kamu? Apa itu kamu yang disana tadi Lea?" Tanya Max.


Aku mengangguk.


"Nelson semakin menginginkanmu. Untuk sementara jangan muncul di dekat sini. Kembalilah ke atas sana Lea!" Tukas Max.


Dan tiba-tiba terdengar suara rentetan senapan yang di tembakkan ke penjuru kedai,


Dor


Dor


Dor


Pengunjung berlarian memyelamatkan diri menghindari peluru yang di tembakkan ke segala arah.


"MAX! MAX! SERAHKAN LEA KEPADAKU ATAU KUHABISI SEMUA ORANG YANG ADA DISINI!" Sahut Nelson.


Rue dan Max menyembunyikanku, "Pergilah Lea! Pergi cepat!"


Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak! Akan kuhadapi Nelson brengsek itu layaknya seorang laki-laki!" Sahutku dan menghampiri Nelson dengan langkah berani.

__ADS_1


"Berhenti menembak Nelson! Aku akan ikut denganmu!" Seruku.


...----------------...


__ADS_2