Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Survivor


__ADS_3

Lea POV


Kami semua menunggu Anthem, karena Penguasa tidak mungkin meninggalkan singgasananya, kan? Bisa-bisa dunia ini berhenti berputar dan bumi menjadi kacau.


"Lea, tadi ayah membujuk Matt untuk menggantikan ayah sebagai raja, dan dia mau. Ayah dan ibumu bisa honeymoon ke bumi. Oh, ayah sudah tidak sabar," bisik ayahku.


Apa tujuannya melengserkan diri hanya untuk bersenang-senang? Raja yang aneh. Tapi aku jadi berpikir rayuan apa yang di berikan oleh ayahku sampai Matt mau mengemban tanggung jawab sebagai raja? Susah loh jadi raja itu.


Aku mencari Matt yang sedang asik berbicara dengan salah satu peri bunga. Peri itu menawarkan Matt sesendok kecil madu.


"Matt, sedang apa?" tanyaku berbasa-basi.


Matt segera merangkul pinggangku. "Oh, aku tadi ingin melihat ke bawah sana, dan peri bunga kecil ini menawariku madu," cerita Matt sambil menunjuk ke arah Air Terjun Pelangi.


"Kamu mau kesana? Ayo, aku akan menunjukan kepadamu tempat apa itu," sahutku menggandeng tangan Matt.


Matt mengikutiku, di bawah Air Terjun Pelangi ada sebuah lembah, dan disinilah para peri itu tinggal. Mereka seukuran telapak tangan, dan suaranya berdecit dengan nyaring.


Matt menanyaiku tentang banyak hal. "Itu tempat apa?" tanya Matt melihat air mancur yang berdiri tepat di tengah lembah.


Aku tersenyum. "Ayo mendekat. Tapi, aku sarankan kamu menutup sebelah matamu," usulku.


Matt menaikkan alisnya. "Untuk apa?" tanya Matt heran.


"Nanti kamu akan tau," jawabku.


Aku mengajak Matt mendekati air mancur itu. Begitu Matt mendekat, suara teriakan yang memekakan telinga menyambut kedatangan kami.


Alih-alih menutup sebelah matanya, Matt menutup kedua telinganya. Teriakan itu semakin menjadi-jadi. "Matt, tutup sebelah matamu!"


Matt segera menutup sebelah matanya dengan cepat dan suara teriakan pun berhenti. "Apa itu tadi?" tanya Matt kepadaku.


Aku meminta Matt untuk terus menutup sebelah matanya dan aku menuntun Matt lebih dekat ke air mancur itu. "Ini tempat mandi para peri, kenapa hanya sebelah mata? Karena para peri itu bisa menutup sebelah penglihatanmu, jadi hanya sebelah mata saja yang perlu kamu tutup," aku menjelaskan.


"Bagaimana denganmu? Kenapa ukuranmu berbeda?" tanya Matt.


"Karena aku setengah manusia, dan ayahku menyesuaikan ukurannya supaya sama dengan aku dan ibu," jawabku lagi.


Matt mengganggukan kepalanya. "Tapi kalau kamu seukuran mereka, aku selalu bisa membawamu di dalam saku kemejaku," kata Matt bercanda.

__ADS_1


Kami kembali berjalan menyusuri lembah kecil itu, Matt juga bercerita kalau Meltem meramal mereka. Dan menurut Meltem akan ada seorang manusia pria yang akan menjadi bagian dari kami.


"Oh yah? Siapa kira-kira?" aku mengira-ngira siapa pria itu.


Apakah Aiden? Dia cukup dekat dengan Matt dan aku. Tapi tidak mungkin dia akan mengikuti Matt sampai sini kan? Itu mustahil sekali.


"Kenapa kamu mau jadi seorang raja, Matt?" aku bertanya kembali kepada Matt.


"Karena aku melihat ayahmu. Ayahmu adalah sosok pria yang aku kagumi dan ayahmu dapat mengatur seluruh kerjaan dengan cukup baik. Jadi kupikir, aku akan menjadi raja seperti ayahmu, hahahaha," jawab Matt sambil bercanda.


Aku menggelengkan kepalaku. Apakah Matt tau untuk menjadi seorang raja itu sama susahnya dengan menjadi seorang presiden? Apalagi yang diatur adalah makhluk-makhluk gaib seperti kami yang sanggup melakukan sihir.


Kami berjalan sampai ke pantai duyung. "Apa kamu tau, pantai ini tersambung dengan lautan di bumi?" tanyaku.


Matt mengangguk. "Ayahmu baru saja memberitahuku," jawab Matt.


Wah, ayahku benar-benar sudah berniat menjadikan Matt seorang raja. Langkah ayah aku akui cukup cepat dan tepat.


"Mau coba?" aku menyeringai kepada Matt, aku tau rasa penasarannya sekarang membuncah semakin besar.


Matt membulatkan matanya. "Bisakah?" tanya Matt.


Byur!


Begitu kami menyelam, para duyung menyambut kami dan melambaikan tangan ke arah kami. Sirene dan Sedna dengan cepat mendekati Matt dan menggandengnya. Membawa Matt jauh dariku. Duyung centil!


Sirene tau kemana kami akan pergi karena ia dapat membaca pikiranku sama seperti Rue dan Anthem.


Aku menoleh ke arah Hades yang tampak kesal saat Sirene membawa Matt. Aku mengajak Hades pada akhirnya. Setelah menyelam cukup lama, sampailah kami pada sebuah cahaya yang sangat terang di depan kami.


Aku meletakkan Hades yang berjalan miring menyusul Sirene dan Sedna. Suara capitnya berklaping-klaping dengan cepat.


Matt memandang dengan takjub. "Waw! Ini hebat sekali, Lea!" Matt berseru dan berlari di pesisir pantai. Kemudian ia kembali berlari ke arahku.


Wajahnya antusias dan sinar matanya berbinar-binar ceria. "Ini luar biasa, Lea. Tapi kita sedang berada dimana?" tanya Matt.


"Kita berada di pantai di pusat kota. Padahal kita berencana akan liburan disini tapi kita belum menemukan waktu yang tepat," aku menjawab pertanyaan Matt.


Matt merangkul pinggangku dan mencium bibirku dengan lembut. "Sejak aku mengenalmu, keajaiban terus terjadi di hidupku. Bahkan untuk ke pantai saja aku perlu keajaiban," sahut Matt.

__ADS_1


Aku memberikan senyumku yang termanis. "Kita harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua, Matt. Akhir-akhir ini kamu kebanyakan menghabiskan waktu bersama Aiden," ucapku memprotes waktu Matt yang semakin berkurang.


Setelah menikmati pantai, kami pun kembali lewat jalur yang sama.


"Hei, kemana Hades?" tanya Sirene.


Kami pun celingukan mencari Hades. Tak lama terdengar suara klaping. "Lupakan saja aku! Tinggalkan saja!" kata Hades dalam bentuk kepiting.


Sirene mengangkat Hades dan mengajaknya berenang bersama. Hubungan yang aneh tercipta antara Sirene dan Hades. Akan seperti apa hubungan mereka nanti?


***


Setibanya di Kerajaan Awan, ayah memberitahukanku kalau Penguasa baru saja memberikan pesan, Anthem sudah sadarkan diri dan kekuatannya sudah mulai pulih.


"Syukurlah, Alesya," ucapku memeluk wanita yang dengan setia menunggu Anthem.


Alesya mengangguk dan menitikkan air matanya. "Aku tidak tau kalau tidak ada kalian, apakah aku akan sekuat ini," sahut Alesya terisak.


Aku dan ayah pergi ke tempat Penguasa untuk menemui Anthem.


"Ah, kamu sudah mirip manusia, Anthem. Wajahmu pucat, dan kamu tampak lemah," aku menggoda Anthem. Tetapi memang Anthem tampak menyerupai manusia saat ini. Ia tidak pernah tampak lemah dan tak berdaya seperti itu.


Anthem tersenyum simpul. Aku duduk di sebelahnya dan merangkul pundaknya. "Apa yang kamu rasakan?" tanyaku bersimpati.


"Lelah," jawab Anthem lemas.


"Dia butuh banyak istirahat, Lea sebelum dia sanggup bepergian," kata Penguasa.


Aku terpikirkan tentang Matt yang nanti akan di jadikan abadi, apakah akan semenderita Anthem?


"Bagaimana dengan Matt nanti?" akhirnya aku tak tahan untuk tidak bertanya.


Penguasa dan ayahku saling berpandangan. "Lebih sulit menjadikan makhluk seperti kita menjadi manusia daripada menjadikan mereka abadi. Kebanyakan dari kaum kita memilih untuk menjadi manusia dan tidak sedikit pula mereka tidak kuat dengan prosesnya kemudian mati," jawab Penguasa bersedih.


"Pada kasus Anthem, aku akan mengerahkan segenap kekuatanku untuk menjadikannya tetap hidup dan memperoleh kekuatannya kembali," kata Penguasa lagi.


"Aku berharap Matt akan lebih kuat dari ini, karena prosesnya kurang lebih sama," sambung Penguasa.


Aku memikirkan Matt, bagaimana kalau dia tidak kuat dan mati? Aku belum bisa menerima kalau nanti terjadi sesuatu padanya. Kami baru saja berbahagia, waktu kami baru sebentar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2