
Anthem POV
Hari mulai pagi, Tuan Matahari mulai menampakkan secercah sinarnya di ufuk timur. Aku menbangunkan Rue dan Matt. Oh, kami masih berada di Kerajaan Awan, tidak mungkin untuk turun ke bumi karena akan membuang banyak waktu jika harus naik kembali ke atas.
Selama disini, kami tinggal di kediaman Raja Wren. Istana Raja Wren berbeda sekali dengan Istana Penguasa. Di dalam istana Raja Wren, ramai sekali karena Raja dan Ratu senang dengan aneka macam perabotan kecil-kecil. Ditambah lagi karena Ratu Edwina berasal dari Bumi, maka Raja Wren membuatkan setengah dekorasi istananya memakai dekorasi ala-ala bumi.
"Selamat pagi, Matt. Selamat pagi Rue. Apakah kalian siap pagi ini?" tanyaku.
Matt menguap lebar dan merentangkan tubuhnya, "Apakah kita terlambat hari ini?" tanya Matt.
"Aku pikir kita akan jalan subuh sekali, tapi saat melihatmu masih tertidur dengan nyenyak aku ikut tidur kembali." sambung Matt lagi.
Aku menatapnya kesal, "Kenapa kamu tidak membangunkanku, Matt?" tanyaku.
Matt menyeringai lebar.
"Sudah siapkah kamu? Perasaan hatimu harus seperti kemarin. Berbunga-bunga, bahagia dan penuh cinta. Kalau sekarang apa yang kamu rasakan?" tanyaku.
"Mengantuk dan lapar." jawab Matt sekenanya.
Dasar manusia!
"Baiklah, ayo kita cari makan." ucapku dan menarik Matt untuk segera beranjak dari ranjang.
Lea, Raja Wren, serta Ratu Edwina sudah menunggu kami di sebuah meja makan besar dan panjang dengan berbagai macam hidangan tersedia disana.
Seusai kami makan, aku meminta Lea untuk berbicara denganku sebentar, "Ikut aku." sahutku berbisik sambil melirik ke arah Rua dan Matt yang sedang asik berbincang dengan Raja Wren.
Lea mengikutiku, "Ada apa?" tanya Lea.
Aku mengajak Lea ke Jembatan Pondok Madu, disana tenang dan sepi. Karena Air Terjun Pelangi masih terbelah dua, kami tidak dapat pergi kesana dulu.
"Bisakah kamu menggoda Matt selama satu jam?" tanyaku.
Lea mengerutkan keningnya, "Menggoda? Apa maksudmu?" tanya Lea belum memahami maksudku.
"Rencana kita kemarin akan kita jalankan pagi ini, tapi kondisi hati Matt sedang biasa saja. Dia tidak sedang jesal, tidak sedang marah, tidak sedang bahagia, pokoknya biasa sajalah. Aku butuh dia berbunga-bunga atau semangat menggebu-gebu atau bergairah sampai meletup-letup. Aku butuh itu." jawabku.
Lea terdiam, kemudian ia membuka mulutnm tapi ia mengatupkannya kembali.
"Kamu takut tidak bisa?" tanyaku berusaha membaca pikirannya.
Lea mengangguk, "Kalau tiba-tiba aku menggoda Matt, dia pasti akan takut. Dan lagi disini ada orangtuaku, mana bisa, kan?" ja BBwab Lea.
Anthem mengetuk-ngetuk jarinya, "Aku ada ide. Aku akan mengalihkan perhatian ibu dan ayahmu. Pakailah kamarku disana itu. Oke, 60 menit. Kalau kamu bisa 30 menit sudah bagus." kataku bersemangat.
Lea masih berpikir,
"Tidak perlu dipikirkan, ayo kembali. Dan silahkan menunggu Matt disana. Aku percayakan kepadamu, Lea." ucapku lagi memberikan semangat kepadanya.
"Huh! Kamu memanfaatkan kami untuk menyelamatkan Alesya!" gerutu Lea.
"Kita yang akan menyelamatkannya. Ayolah Lea, setelah ini kamu bisa meminta apa saja kepadaku." ucapku membujuknya.
__ADS_1
Dengan wajah tersipu dan memerah, Lea mengikutiku, "Tunggu sajalah disini. Aku akan panggilkan Matt untukmu. Kalian bebas mau melakukan apapun, hehehe." kataku lagi.
Swwoosshh!
"Le...Lea!"
Lea memincingkan matanya dan ia menerbangkanku,
Brak!
Aku terlambat mengepakkan sayapku dan menabrak dinding hingga hancur. Spontan saja Raja Wren, Ratu Edwina, Rue, serta Matt melihat ke arahku. Mereka bergegas membantuku untuk keluar dari dinding itu,
"Ouch, ouch, ouch!" seruku meringis kesakitan.
Mereka melihat ke arah kamarku, tapi Lea tidak kalah cepat dia sudah menghilang dari sana.
"Kamu kenapa, Anthem? Siapa yang menerbangkanmu?" tanya Ratu Edwina, mengusap-usap punggungku.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Matt khawatir.
Ini kesempatanku, "Matt, tolong ambilkan sesuatu untukku di atas nakas di dalam kamar. Tolong ambilkan segera. Ouch." sahutku berpura-pura.
Yes!
Segera saja Matt bergegas ke kamarku, dan aku berhasil mengalihkan perhatian Raja dan Ratu serta Rue. Namun, aku rasa Rue sudah tau.
***
45 Minutes Later.
"Siap berangkat sekarang?" tanyaku.
Mereka mengangguk.
Kami segera terbang menuju Alam kegelapan, sebelumnya kami memberikan perlindungan sempurna untuk Matt, percayalah itu sangat sempurna. Bahkan seekor nyamuk tidak akan bisa membuatnya bentol.
Sesampainya kami di tempat Hades, seperti perkiraanku, kosong.
"Aku dan Rue akan bersembunyi. Mainkan peranmu, Lea dan Matt jangan lakukan apa pun. Cukup berdiri saja. Biarkan Hades yang mendekatimu, paham?" ucapku.
Matt dan Lea mengangguk, "Kamu berhutang cukup besar kepada kami, Anthem." kata Lea mengingatkan.
Aku mengangguk, "Aku tau. Aku akan membujuk Penguasa untuk membuat Matt abadi." janjiku.
Mata Matt berbinar, "Benarkah? Wah, aku senang sekali." jawab Matt.
Perasaan Matt bertambah besar dan aku mendengar suara sesuatu melayang, Hades datang! Aku segera bersembunyi bersama Rue.
Dan benar saja dugaanku, Hades mengendus harum perasaan Matt.
Sniff! Sniff! Sniff!
"Anak manusia lagi. Manusia memang memiliki hati yang luar biasa." kata Hades berbisik. Aku bisa mendengar dan melihat mereka dengan jelas dari tempat persembunyianku.
__ADS_1
Hades mendekati Matt, Lea masih belum menampakkan dirinya. Good job, Lea.
"Apa keperluanmu kesini, manusia. Oh, kamu lezat sekali." wajah Hades tampak sangat lapar.
"Dimana temanku, Alesya?" tanya Matt.
Hades tertawa. Tawanya nyaring dan terdengar kering.
"Wanita manusia itu. Aku suka sekali dengannya, wanita pilihan kakakku memang luar biasa. Pantas saja kakakku tersayang mencintainya. Dia tidak mengenal takut, dan satu lagi, aku tidak bisa menghisap jiwanya. Perlindungan macam apa itu?" tanya Hades, kemudian ia mengendus Matt lagi.
Hades mencium perlindunganku pada Matt, tapi aku bersyukur Alesya baik-baik saja.
"Ada jejak kakakmu disini. Ya, ya, ya, kalian berteman." bisiknya parau.
Dengan ayunan tongkat ajaibnya ia menghancurkan perlindunganku dengan mudahnya.
Tast! Gelembung perlindunganku pecah begitu saja.
Hades mengendus lagi, ada perlindungan Lea disana.
Tast! Sekali lagi ia menghancurkan perlindungan Lea di tubuh Matt. Aku mengintip Matt, dia tenang tidak ada rasa takut di wajahnya.
Mampukah Hades menghancurkan perlindungan Rue?
Tast! Heh? Secepat itu!
Bagaimana ini? Aku tidak dapat berbuat apa-apa karena aku tidak mau rencanaku berantakan.
"Sekarang aku bisa mendekatimu, wahai Manusia." kata Hades. Dia melayang dan merambat di tubuh Matt. Matt memejamkan matanya.
"Kamu tidak takut? Apakah ada malaikatmu disini?" tanya Hades lagi tertawa.
Matt tidak menjawab.
"Aku mencium aroma wanita di sebelahmu, tunjukan wajahmu, wanita!" seru Hades dan mengayunkan tongkatnya kembali.
Wuush! Lea muncul di samping Matt.
"Wow, Lea, Lea, Lea! Aku suka wanita pemberani tapi kenapa setiap wanita yang kusukai sudah menjadi milik orang lain? Kenapa? Dan inikah kekasihmu, Lea?" tanya Hades.
Mata Lea mulai berubah menjadi seperti kelereng berwarna biru metalik. Dia menatap tajam kepada Hades. Matt terus memegangi tangan Lea, aku terharu. Kerjasama yang apik sekali.
"Pikirkan dimana Alesya, Anthem! Ini bukan saatnya terharu." kata Rue mengingatkan.
Aku mengangguk, "Oke. Kita tunggu Lea marah dan mengomel." sahutku.
Hades melepaskan pegangan tangan Matt, "Hahaha! Aku tau kisah kalian. Manusia ini yang mati karena kebodohannya sendiri, kan? Aku benar kan? Tapi hatimu penuh sekali. Aku akan menghisapnya sedikit demi sedikit." ucap Hades memiringkan kepala dan memainkan lidahnya.
Raut wajahnya menjadi sangat menakutkan.
"Hentikan, Hades!"
Wah, Lea sudah mulai terpancing emosinya. Bersiaplah, Hades!
__ADS_1
...----------------...