Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Human


__ADS_3

Anthem POV


Aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang manusia, dan sudah kuberikan jawabanku ini kepada sang Penguasa. Dalam beberapa hari, aku akan di lantik menjadi seorang manusia. Aku harus mati dulu jika mau bereinkarnasi, dan itu terlalu bertele-tele. Jadi, aku memilih cara yang cepat saja.


"Apakah kamu yakin, Anthem?" tanya Penguasa saat itu.


"Yakin sekali, Yang Mulia," jawabku.


Sang Penguasa memilin-milin janggutnya. "Baiklah, ayo kita mulai," kata Penguasa.


"Apakah akan sakit?" tanyaku. Sebenarnya tidak ada masalah jika sedikit sakit, hanya saja aku sedikit ragu mengenai proses perubahannya.


Penguasa tertawa. "Tidak, rasanya seperti di perciki air dingin, setelah itu kamu akan merasakan sakit yang luar biasa. Seperti baru keluar dari arena tinju dan kamu KO," jawab Penguasa.


Aku menghela nafas lega. "Syukurlah, aku pikir akan sakit sekali sampai aku tidak sanggup berdiri. Aku memikirkan Alesya, kasihan dia jika aku sakit dan tidak bisa bangun. Dia akan repot sekali," sahutku.


Penguasa tersenyum, matanya yang ditutup kaca mata bundar tampak berseri-seri. "Aku bangga padamu, Anthem. Begitu kamu mengenal cinta, kamu meraihnya dan benar-benar mendalami rasa cintamu itu," ucap Penguasa.


Blush!


Bulu-bulu di sayapku beterbangan beberapa helai karena aku tersipu malu.


Penguasa menertawaiku dan Ia memelukku. "Kamu sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Anthem. Aku akan kehilanganmu disini, dan aku yakin kamu akan menjadi seorang manusia yang baik," sahut Penguasa.


"Kalau aku menjadi manusia bisakah aku tetap mengunjungiMu? Bagaimana pun juga, Kamu adalah orangtuaku," ucapku.


Sejujurnya aku tidak menyukai situasi seperti ini, karena ini menguras air mata.


"Selalu bisa. Kalau kamu melupakanku, aku akan menarikmu dari atas sini, hahahaha," jawab Penguasa terkekeh.


Aku melepaskan pelukan Penguasa. "Apakah kita akan menunggu Wren?" tanyaku.


Penguasa mengangguk. "Tentu saja. Sepertinya Lea baru saja datang berkunjung. Wren itu, aku tidak tau tapi dia benar-benar mempercayai Matt," ucap Penguasa.


"Apa yang akan dia lakukan setelah melepaskan jabatannya sebagai Raja?" tanyaku. Aku juga penasaran apa yang akan dia lakukan.


Belum sempat menjawab pertanyaanku, suara tawa yang renyah dan menggelegar datang menghampiri kami.


"Hola, halo, ahoi teman-temanku! Hahahaha, aku datang," katanya dengan suaranya yang ramah dan ceria.

__ADS_1


"Ah, aku harus berterima kasih dulu padamu, Anthem. Kamu tidak salah memilih seorang pendamping. Alesya menjadi kakak yang baik untuk Lea. Kemarin Lea membawakanku kukis, aku sudah takut aku akan sakit perut saat memakannya tapi ternyata enak sekali, walaupun belum sempurna tapi paling tidak layak dimakan, aku bahagia sekali," sahut Raja Wren dengan antusias.


Ya, aku pernah merasakan masakan buatan Lea dan aku tidak berhenti ke kamar kecil selama beberapa hari. Padahal aku malaikat, bisa di bayangkan bagaimana kalau manusia yang memakannya.


Aku tersenyum. "Syukurlah kalau dia sudah bisa masak, kita semua aman dan sehat. Bukan begitu, Wren? Hahahaha,"


Penguasa dan Raja Wren ikut tertawa mendengar kelakarku.


"Sebelum kita mulai proses humanisasi Anthem. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, Wren. Apa rencanamu setelah melepaskan jabatanmu?" tanya Penguasa.


"Kamu seperti tidak pernah merasakan tua saja, hahaha. Tentu saja aku ingin mengistirahatkan pikiranku. Kerajaan Awan butuh sosok seseorang yang inovatif dan penuh dengan ide-ide menarik. Aku melihat itu pada Matt, kebijakan dan keberanian Matt membuatku jatuh cinta padanya," ucap Raja Wren.


Pandangan Raja Wren menatap jauh ke depan. Mungkin dia sedang membayangkan jika Matt menjadi raja, apa yang akan ia lakukan dan bagaimana kerajaannya di tangan Matt.


"Aku mau mengubahnya menjadi abadi supaya dia bisa selalu menemani Lea," sambung Raja Wren lagi.


Aku sudah menebaknya, Wren menjadikan Matt abadi untuk menemani Lea, atau jangan-jangan ia ingin menjadi manusia. "Kalau kamu menjadikan Matt abadi untuk menemani Lea, bagaimana denganmu dan Edwina?" tanyaku.


"Aku ingin tinggal di bumi. Beribu-ribu tahun aku tinggal disini, bosan sekali rasanya," jawab Raja Wren.


Penguasa menurunkan bibirnya. "Lalu, apa kalian pernah memikirkan bagaimana rasanya menjadi aku?" tanya Penguasa.


"Artinya aku tidak boleh bosan. Apa yang akan terjadi jika Aku bosan? Bagaimana dengan alam semesta kita? Itulah yang menjadi penyemangatku saat aku merasa bosan," ujar Penguasa.


Kami semua termenung. Benar sekali Penguasa tidak boleh bosan, siapa yang akan menjaga bumi terus berputar kakau Dia bosan atau merajuk, dan lagi tidak ada yang sanggup menggantikan tugas Penguasa.


Aku merasa kasihan kepadaNya.


"Bagaimana? Kita lakukan sekarang?" tanya Penguasa memecah pikiran kami.


Aku dan Raja Wren mengangguk. Penguasa memintaku berdiri di hadapannya dengan di saksikan oleh Raja Wren proses humanisasiku pun di mulai.


***


"Lea, Anthem masih demam. Apa prosesnya lama?" aku mendengar suara Alesya berbicara dengan Lea saat Lea mengunjungi kami.


Sudah delapan hari, proses humanisasiku belum berakhir. Aku masih terkapar lemah dan tak berdaya. Kasihan Alesya, ia bingung dan sibuk mengurusiku.


Lea, Matt serta Rue bergantian mengunjungiku dan menanyakan bagaimana keadaanku.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu hari ini, Anthem?" tanya Matt saat menjengukku.


Aku berusaha memberikan senyumanku yang termanis. "Aku masih sama seperti kemarin, aku pun bingung kenapa prosesnya lama sekali. Penguasa mengatakan kepadaku tidak sampai tiga hari, aku sudah pulih,"


"Apa kamu tidak mau ke rumah sakit? Mengingat sekarang kamu seorang manusia, dan kamu jatuh sakit jadi pergilah ke rumah sakit," usul Matt di sertai anggukan dari Rue.


"Marahi saja, Matt! Seret kalau perlu! Aku sudah menyuruhnya ke rumah sakit berkali-kali tapi dia menolak! Bahkan aku sudah mengingatkan dia kalau dia bukan seorang malaikat lagi, tapi manusia yang bisa mati! Tidak lucu kalau dia mati hanya karena ini! Aku sudah pernah jadi seorang janda, dan aku tidak mau menjanda dua kali! Seret saja dia, Matt!" tukas Alesya kesal


Aku melirik ke arah Alesya yang sedang mengomel. "Iya, aku manusia, Sya," sahutku menanggapi omelan Alesya.


Namun, Rue mengerutkan dahinya. "Apa itu janda?" tanya Rue.


Matt mengibaskan tangannya. "Sudahlah,"


Seperti hari ini, Lea yang mengunjungiku kembali. Ia membawa buah-buahan dan satu set daging sapi.


"Aku membaca dari benda yang bernama jaringan internet itu, katanya kalau lagi sakit, harus banyak makan daging merah, buah serta sayuran. Aku bawakan ini semua untuk Anthem. Bagaimanapun kabarnya dia hari ini, Sya?" aku mendengar Lea bertanya.


"Masih demam, silahkan ke kamar," jawab Alesya.


Lea menjulurkan kepalanya untuk mengintipku. "Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Lea.


"Hari ini aku merasa kedinginan sekali, seluruh badanku ngilu! Jika aku tau proses menjadi manusia ini sulit, aku akan tinggalkan keinginanku," jawabku.


Lea menempelkan telapak tangannya ke keningku. "Aku melihat dari berbagai macam video di jaringan internet, kata mereka kalau ingin mengecek suhu tubuhmu normal atau tidak, dengan cara seperti ini," kata Lea.


"Apakah kamu sudah minum obat?" Lea bertanya kembali.


Aku menggeleng. "Obat-obatan itu pahit sekali, aku tidak suka,"


"Kalau manis namanya cokelat! Makanya kau harus sehat dulu baru bisa menikmati manisnya cokelat!" tukas Alesya, suaranya kencang sehingga aku bisa mendengarnya.


Aku tau, dia pasti lelah. Ah, apakah aku akan mati? Menyedihkan sekali.


Tiba-tiba saja seluruh badanku bergetar hebat, dan aku tidak dapat mengontrol tubuhku sendiri.


"A-Alesya! Terjadi sesuatu kepada Anthem!" aku masih bisa mendengar suara Lea.


Namun, ketika Alesya masuk ke dalam, getaran di tubuhku makin hebat dan aku tidak bisa mendengar atau mengucapkan sepatah kata pun!

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2