Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
When I'm Fall In Love


__ADS_3

Anthem POV


Aaahhh senangnya aku dibuatkan bab sendiri sekarang. Posisiku naik menjadi tokoh utama, hahahaha.


"Sombong sekali kamu Anthem! Ingatlah Penguasa tidak menyukai makhluk yang sombong." Ucap Max, maaf Matt mengingatkan.


"Aku tidak sombong, aku hanya mengungkapkan fakta yang terjadi." Ucapku.


Setelah aku mengantar Axel masuk ke dalam kediaman Penguasa, aku turun kembali karena misiku belum selesai untuk membawa Alesya pergi.


Yang jadi masalah adalah, aku tidak mau membawa dia pergi. Tugas keduaku adalah mengantar Matt ke lingkungan manusia karena Castiel sedang membimbing Axel di atas sana, jadi dia meyerahkan Matt sementara kepadaku.


Mengenai Alesya, aku sudah menceritakan perasaanku kepada Raja Wren yang tak lain adalah ayah Lea, aku minta kepadanya untuk tidak menceritakan masalah ini kepada siapa pun.


Namun yang terjadi adalah, Raja Wren menceritakan masalahku kepada Penguasa.


"Aku tidak menceritakan kepada siapa pun. Aku hanya bercerita kepada Penguasa." Sanggah Raja Wren.


Alhasil, aku dipanggil oleh Sang Penguasa untuk dimintai keterangan.


"Maafkan aku, itu terjadi begitu saja. Aku pun tidak menyangka kalau aku akan jatuh cinta kepadanya." Ucapku.


Penguasa menggeser notebooknya ke bawah, disana tertulis nama Alesya Simpson dan riwayat hidupnya kemudian Penguasa menggeser notebook itu ke kanan. Dan aku bisa melihat nama Lesley Simpson tertulis disana juga.


Betapa terkejutnya aku begitu Penguasa menggeser kembali notebooknya ke kanan, tertulis namaku Anthem. Apakah aku akan mati bersamanya?


"Garis hidupmu akan berubah Anthem. Persiapkan dirimu, jangan menolak atau menyangkalnya karena Aku sudah merencanakan sesuatu yang besar untukmu." Sahut Penguasa.


Aku mencoba menerkanya tapi Penguasa tertawa, "Tidak usah mencoba menebaknya. Jalani saja, kamu selalu tau bahwa rancanganKu selalu indah." Kata Penguasa.


Aku terdiam, ada sedikit rasa takut yang dengan cepat menjalar di hatiku.


"Hahahaha, jangan takut. Percaya saja kepadaKu Anthem. Kamu sudah melihat betapa besar karya penyelamatanKu untuk Max. Percayalah." Jawab Penguasa berusaha menenangkanku.


Begitulah, jadi saat ini aku mencoba untuk mengikuti rencana Penguasa.


"Matt, aku mempunyai kenalan di restoran ini dan kebetulan mereka sedang mencari seorang waitress pria untuk menggantikan waitress lain yang sedang sakit. Apa kamu mau?" Tanyaku kepada Matt.


Matt mengangguk, "Tentu saja aku mau. Tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan." Jawab Matt.


Aku memandangnya dan menggelengkan kepalaku, "Apa yang kamu pelajari selama hidup Matt?" Tanyaku kesal.


"Bertarung dan menembak." Jawab Matt singkat.


Aku mencoba mengumpulkan kesabaranku, "Baiklah, aku yang salah karena bertanya seperti itu kepadamu. Maafkan aku." Tukasku.

__ADS_1


Akhirnya aku memperkenalkan Matt kepada Alesya, "Ini Matt, dia seperti saudaraku." Ucapku.


"Kenapa harus seperti saudaramu?" Tanya Matt protes, "kenapa tidak bilang saja aku saudaramu?" Lanjutnya lagi.


"Aku tidak mau bersaudara denganmu!" Tukasku.


Tentu saja percakapan itu dilakukan dengan berbisik.


"Hai Matt. Ikuti aku." Kata Alesya.


"Dia cukup cantik." Bisik Matt lagi.


"Jaga hatimu dan jangan jadi pria hidung belang yang brengsek!" Tukasku.


Matt mengangkat kedua tangannya, "Aku hanya memuji dan menganguminya. Hatiku tetap milik Lea seorang. Tenang saja." Kata Matt.


Aku tidak suka diriku yang sedang seperti ini karena aku jadi ingin membawa semua pria yang memandang Alesya.


Kalau menurut Lea aku jatuh cinta, "Itu jatuh cinta namanya, Anthem. Apakah nanti kamu akan diusir dari kediaman Penguasa dan tinggal di bumi yang menyedihkan ini? Begitu kan katamu tentang bumi? Hahaha." Ledek Lea saat itu.


Berabad-abad aku menjadi seorang malaikat dan selalu menjemput manusia tanpa halangan atau rintangan yang berarti. Bahkan aku sering menjadi Angel Of The Month. Mengapa dengan Alesya aku tidak bisa segera membawanya?


***


Aku tersenyum dan membelikan dia serta anaknya Leslie camilan makan malam, "Ini untuk Leslie." Sahutku memberikan bungkusan cokelat itu kepada Alesya.


"Kamu terlalu memanjakannya Anthem. Tapi terimakasih." Sahutnya tersenyum manis.


Deg!


Aku selalu terpaku saat melihatnya tersenyum. Dia sungguh cantik sekali.


Kemudian kami berjalan bersama menuju rumah Alesya. Inilah yang kulakukan hampir setiap malam jika aku tidak bertugas membawa seseorang.


Setelah sampai di rumahnya aku akan bermain sebentar dengan Leslie dan membacakannya sebuah dongeng sebelum ia tidur.


"Terimakasih sekali Anthem. Berkat kamu, segala pikiran negatifku hilang karena aku mempunyai teman untuk berbicara sekarang." Ucap Alesya.


Aku tersenyum, "Tidak masalah. Aku suka melihatmu bekerja dengan giat, aku suka melihatmu bermain dengan Leslie. Aku juga suka Leslie walaupun kondisi tubuhnya lemah tapi dia tetap semangat dan keinginan untuk hidupnya sangat tinggi." Sahutku.


Aku menggenggam kedua tangan Alesya dan aku bersorak kegirangan karena ia tidak menepi tanganku, "Maka itu Sya, hidup bahagialah, jangan pikirkan tentang kematian. Bertahanlah dan terus berjuang serta nikmati hidupmu. Ada Leslie di sampingmu yang selalu menunggumu. Dia akan sehat dan hidup sampai dewasa begitu pula denganmu, jangan cepat menyerah dengan keadaan." Sambungku lagi.


Alesya meneteskan airmatanya, andai itu Lea yang menangis aku akan mengejeknya dan mengambil baskom untuk menampung semua mutiaranya.


Tapi di depanku saat ini adalah Alesya, melihatnya menangis seperti itu aku semakin ingin terus berada di sampingnya dan melindung dia serta Leslie.

__ADS_1


Aku mengusap airmatanya, "Aku selalu di sampingmu. Mulai sekarang ceritakan semua masalahmu kepadaku."


Tanpa sadar aku mengucapkan janji yang bahkan aku sendiri tidak tau apakah aku bisa menggenapi janji itu.


Aku mengutuk mulutku sendiri! Ternyata begini rasanya jatuh cinta. Aku menjadi bodoh seperti Max dan Lea. Cinta mereka bahkan mengalahkan kematian. Apakah aku dan Alesya akan menghadapi itu?


Perlahan Alesya mendekatiku dan hampir saja mendaratkan bibirnya sampai Leslie berteriak,


"Mama, temani aku tidur. Aku bermimpi buruk."


"Mama kesana sayang." Jawab Alesya.


Dia tersenyum dan dengan cepat ia mengecup pipiku.


***


"Apa yang terjadi dengan sayap mu Anthem?" Tanya Lea.


"Rontok karena jantungku." Jawabku.


Lea menatapku dengan tatapan mengejek, "Memangnya kamu punya jantung?" Tanya Lea.


Aku memicingkan kedua mataku dan menerbangkannya, "Aku akan menurunkanmu jika kamu meminta maaf! Walaupun aku tidak punya jantung tapi aku bisa merasakan sesuatu berdebar, Lea! Arrgghh! Aku benci padamu!" Seruku.


Bukannya takut, Lea tertawa di atas sana, "Hahaha...karena kamu tidak mempunyai jantung maka bulu sayapmu rontok? Hahaha, itu lucu sekali." Ujar Lea.


Bruk!


Percuma saja menghukum dia. Aku bahkan tidak bisa berpikir saat ini. Satu hal yang pasti aku tidak akan mencuci mukaku selama-lamanya.


"Katakan kepada Penguasa kamu jatuh cinta kepada manusia yang bernama Alesya itu." Usul Rue


"Dia sudah tau." Sahutku.


"Dan apa kataNya?" Tanya Lea.


"Aku harus percaya kepadaNya karena dia mempunyai rencana yang besar untukku." Jawabku.


"Rencana besar? Apa itu?" Lea dan Rue bertanya secara bersamaan.


Aku mengangkat bahuku dan kemudian terbang kembali ke tempat asalku.


Andai aku tau apa rencanaNya. Aku hanya berharap semoga rencana Penguasa indah untukku dan Alesya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2