
Anthem POV
Lea menggila! Dia bisa saja mencabik-cabik Brad bahkan mengoyak-koyak tubuh Brad dalam satu kali hempasan.
"Rue, tolong aku! Hentikan Lea!" tukasku berseru kepada Rue yang duduk terdiam di dalam mobil.
"Tidak bisa! Dia memakai mantra ikat tubuh kepadaku sehingga aku tidak dapat bergerak dan dia memblokir pikiranku, Anthem!" jawab Rue. Tampak jelas ia berusaha melonggarkan ikatan tubuh dari mantra Lea.
Mengerikan! Lea itu seorang peri keturunan malaikat dan keturunan manusia. Saat dia belum abadi, seperempat kekuatannya mampu memusnahkan setengah isi bumi. Bisa dibayangkan kalau dia abadi, hanya tertiup hembusan nafasnya saja bumi sudah hancur berantakan. Ckckckck... mengerikan. Itulah sebabnya, Raja Wren melarang keras Lea untuk turun ke bumi.
"Hei, bodoh! Bukan waktunya seperti itu kan! Aku bisa membaca pikiranmu! Cepat! Masuk kembali ke dalam, cari Matt hanya dia yang bisa menyelamatkannya." perintah Rue.
Tring
Tring
Tring
Tring
Dan itu terus berbunyi hingga sepuluh kali. Aku dan Rue saling memadang, "10 kematian." kami mengucap kata itu bersamaan.
Aku mengambil notebook dan mengeceknya, "10 kematian hari ini, di tempat ini dan terjadi sekitar 30-50 menit ke depan." jawabku suram.
Aku segera mencari nama Matt, atau Axel atau Max. Kemudian aku menghela nafas lega. Tidak ada 3 nama itu di daftar kematianku hari ini.
Apakah itu Lea akan membunuh 10 orang, "Rue, keluarkan semua mantra perlindungan..."
"Tidak bisa kan? Lea mengontrol semuanya! Maka itu sudah kukatakan kepadamu, segera cari Matt, hanya dia yang bisa menghentikan Lea!" seru Rue.
Aku segera terbang setinggi atap gudang tua itu untuk mencari dimana Matt di sekap. Aku mengintip lubang demi lubang dari jendela yang telah pecah.
Kemudian, aku mendengar sayup-sayup suara desa*han. Apakah Matt menggila? Akan kubunuh manusia itu jika dia menghianati Lea!
Aku terbang rendah dan masuk ke dalam salah satu jendela yang sudah lepas kacanya. Kemudian aku mengikuti arah suara itu. Suara itu mengarahkanku untuk terus masuk ke dalam.
Gudang itu di penuhi bilik kecil. Hanya ruangan tempat Lea dan Brad bertarung saja yang ukurannya cukup luas. Bunyi pecahan tidak membuat fokusku pecah.
Namun, tiba-tiba,
Dor!
"Aaaarrgghh, wanita sialan!"
Suara erangan kesakitan memenuhi kepalaku, apakah dia yang akan mati? Aku mengecek notebookku, belum waktunya dia mati.
Aku kembali fokus mencari suara desa*han tadi. Suara itu semakin jelas dan semakin dekat.
"Tolong aku! Hentikan ini!" ucap seorang wanita yang mende*sah itu.
__ADS_1
Brak!
Aku menendang pintu ruangan itu, dan pintu lapuk itu segera saja rubuh, jatuh ke bawah.
"Matt!" Aku berseru. Di depan Matt tampak seorang wanita sedang duduk bersimpuh, ia memegang kedua lutut Matt sambil terus memohon.
"A...apakah ini Eleanor?" tanyaku.
Matt mengangguk.
Aku menelan salivaku, aku akan membawa wanita ini dalam waktu 30 menit lagi. Apa penyebab kematiannya?
"To...tolong aku!" pinta Eleanor terus memohon.
Aku tidak tau apa yang terjadi, dan akan aneh jika Matt menjelaskan kepadaku karena tidak ada manusia yang dapat melihatku kecuali manusia pilihan seperti Matt ini.
"Obat perangsang, Brad menyiksanya dengan keji hingga ia seperti ini." kata Matt tanpa berbisik.
"Apakah dia sadar?" tanyaku.
Matt menggeleng, "Tidak. Dia tidak akan memperhatikan apa pun karena yang dia tau hanyalah bagaimana melampiaskan hasratnya sampai tuntas." jawab Matt.
Aku memandang wanita itu dengan iba, "Apa kesalahan yang dia perbuat sampai dia harus diperlakukan seperti ini oleh Brad?" tanyaku.
"Tidak ada. Dia hanya dijadikan sebuah mainan. Yang jika sudah rusak, akan dibuang." jawab Matt.
"Aku berharap Lea berhasil membunuh Brad." kata-kata itu terucap begitu saja.
Aku membantunya, dan Matt berhasil melepaskan talinya. Dia bergegas pergi, namun aku melarangnya karena ini harus sesuai dengan kehendak sang Penguasa.
"Kenapa kamu menahanku!" tukas Matt.
"Karena aku harus mengantar jiwa wanita itu dulu, setelah itu kita akan bergerak ke depan." sahutku.
Wanita bernama Eleanor itu sudah berbaring di lantai yang dingin, tubuhnya meringkuk. Entah menahan sakit atau apa, aku tidak tau.
Aku memberikan sebuah selimut untuknya, dan aku melihat ada perapian di ujung ruangan kecil ini. Aku menyalakan perapian itu, supaya dia tetap hangat.
"Apa tidak terlalu lama? Sementara di luar sana sudah ramai sekali? Apakah Lea bisa menahannya seorang diri?" tanya Matt khawatir.
Aku menatap Matt, "Lea sudah abadi, saat aku mendapat notifikasi akan ada 10 kematiam hari ini, namamulah yang pertama aku cari, Matt. Kamu masih bisa mati, tapi Lea tidak akan mati. Dia melindungimu." aku menjawab Matt dengan tenang, karena aku tidak mau dari 10 menjadi 11 kematian.
"Aku easa sebentar lagi Castiel akan datang untuk melindungimu." ucapku menambahkan.
Dan benar saja, sesosok malaikat besar dan sayap berbulu lebat datang menaungi Matt. Memang disitulah tempatnya.
"Hai, Anthem. Maafkan aku datang terlambat. Penguasa memintaku membuat laporan hutang piutang untuk satu bulan ini." kata Castiel menjelaskan.
"Tidak masalah. Tugasmu adalah melindungi dia. Aku akan membawa wanita itu pergi." sahutku kemudian menghitung mundur waktu kematiannya,
__ADS_1
"Lima,"
"Empat,"
"Tiga,"
"Dua,"
"Satu,"
Syut..
Jiwa Eleanor keluar. Dia cantik dan berbeda sekali dengan tubuhnya.
"Sudah siap?" tanyaku.
Dia menatap tubuhnya yang tergeletak tak bernyawa di lantai, kemudian dia melihat ada beberapa lebam di bagian tubuhnya. Tak lama dia mengangguk, "Aku siap." katanya.
"Matt, tetap di tempatmu kalau tidak mau hari ini menjadi 11 kematian." ucapku. Aku terbang membawa jiwa Eleanor dan mengantarnya langsung ke tempat Penguasa.
"Tidak ke Lembah Kematian?" tanyaku begitu sampai.
Malaikat penjaga disana menggelengkan kepalanya, "Kami hanya akan membuatnya pintar saja karena selama hidupnya dia banyak di bodohi." ucap Malaikat itu.
"Baiklah, aku akan menjemput yang lainnya." sahutku dan kembali ke Bumi.
Aku meminta Matt untuk tetap di tempatnya sedangkan aku menyaksikan pertarungan Lea, memang disanalah tempatku.
Seru sekali!
"Bos!" ucap salah satu anak buah Brad.
Sedangkan Brad, tergantung terbalik di langit-langit gudang tua ini tanpa ikatan, dia ia seperti melayang.
Lea beterbangan kesana kemari, mengangkat manusia-manusia itu dan menjatuhkannya begitu saja. Sejauh ini belum ada kematian, mung...
Dor!
Satu tembakan di arahkan kepada Lea, namun Lea mengembalikan peluru itu dan tepat mengenai jantung si penembak.
Aku bertepuk tangan.
Seorang lagi membawa senapan panjang dan menembak Lea beruntun. Mungkin disinilah tugasku,
Dor! Dor! Dor!
Lea memutar balikkan sembilan peluru sekaligus dan menembaki peluru itu dengan asal tapi tepat sasaran. Jiwa kesembilan orang itu mulai melayang, dan tugaskulah untuk mengantar mereka.
Tapi, tunggu! Tidak ada Brad! Tidak nama Brad disini!
__ADS_1
Bagaimana kematiannya? Apakah bukan hari ini?
...----------------...