
Max POV
Nelson melemparkan koin yang di pegangnya, kemudian ia menangkap dan menangkupkannya di dalam genggaman tangannya.
Tak lama ia membuka telapaj tangannya dan tersenyum lebar, "Angka." Sahutnya.
****! Itu berarti Rue yang akan menembak terlebih dahulu. Nelson kali ini benar-benar di luar kendali, dan aku harus tetap tenang karena ada Lea melihatku.
Rue menelan salivanya kasar, ia mengacungkan senapan laras pendek itu ke arahku. Tepat ke arahku, apa yang di pikirkan Rue sih? Kenapa harus tepat ke arahku?
Aku berusaha tenang karena begitu aku bergerak maka tembakan Rue bisa saja mengenaiku.
"Oke Rue aku siap." Sahutku dan memejamkan mataku.
Dor!
Suara cetar senapan mengejutkanku,
Ting!
Peluru itu jatuh tanpa ledakan, aku bernafas lega begitu juga Rue.
Nelson pun menonton kami dengan tatapan tegang, dan aku melihat ke arah Lea, nafasnya tampak tercekat dan tatapannya tidak dapat aku gambarkan. Andai aku bisa memeluknya sekarang.
Aku memperhatikan Rue, sama sepertiku Rue juga sesekali melirik ke arah Lea untuk memastikan semua akan baik-baik saja.
Sekarang giliranku, aku berdoa semoga ini peluru kosong.
"Rue, bersiaplah!" Sahutku. Aku mengarahkan senapanku lebih tinggi sedikit dari tubuh Rue. Akan tetapi Nelson mengetahui itu.
"Max ,arahkan yang benar!" Sahutnya.
"Itu nyawa orang tidak bersalah, bodoh!" Jawabku kepada Nelson.
Nelson tertawa, "Justru itu letak keseruannya kan?" Kata Nelson lagi.
Aku menurunkan senapanku sejajar dengan Rue, rencanaku adalah aku akan menembakkannya ke arah kaki Rue. Tapi aku terus berhadap peluru ini adalah peluru kosong.
"Maafkan aku Rue." Ucapku.
Aku menembakkan senapanku,
Dor!
Rue berkelit dan menghindar,
Ting
Sekali lagi, itu peluru kosong. Aku dan Rue sama-sama bernafas lega. Sisa empat peluru lagi.
Giliran Rue, setiap waktu aku semakin tegang karena kami tidak tau dimana letak peluru yang berisi. Dan lagi aku tidak suka mengotori tanganku, biasanya aku meminta anak buahku untuk menghabisi seseorang.
Sudah kukatakan, aku ini mafia baik bahkan membunuh seekor lalat pun aku tidak sanggup dan ketika nyamuk menggigitku aku tidak menepuknya, aku selalu berkata kepada nyamuk itu, "Ambillah sebanyak yang kamu perlukan." Betapa baiknya aku.
Rue memintaku bersiap, jantungku berdegup kencang. Dan begitu senapan di tembakkan sekali lagi itu peluru kosong. Giliranku sekarang, Rue tersisa satu peluru bisa saja itu berisi peluru yang sesungguhnya.
Dor!
__ADS_1
Peluru kosong. Kami hanya mempunyai dua peluru sekarang. Nelson bertepuk tangan kegirangan.
"Aku tidak sabar menunggunya, ayo cepat kita selesaikan ini!" Sahut Nelson.
Wajah Lea sudah sangat panik.
"Sekarang kalian berdua tidak bergantian. Arahkan senapan itu kepada masing-masing dari kalian. Lakukan ini secara bersama-sama." Kata Nelson.
Lea membebaskan dirinya dari cengkraman anak buahku, "Nelson hentikan! Ini gila!" Tukasnya.
Rue mendekap Lea, "Tenangkan dirimu, Lea. Percayakan kepadaku." Kata Rue.
Nafas Lea masih memburu seperti seorang yang berlari kencang.
"Cepat kita selesaikan ini." Sahutku.
Aku dan Rue sudah berdiri berhadapan, Nelson yang memimpin acara terakhir kami ini.
"Sesuai hitunganku, 3.."
Aku dan Rue sama-sama mengokang senapan kami sesuai instruksi Nelson,
"2.." Nelson menghitung mundur.
Namun sebelum Nelson sampai ke angka 1, tiba-tiba angin menderu sangat kencang seakan ada badai yang masuk ke dalam rumahku.
Semua peralatan dan perabotan beterbangan menghantam dinding dan salah satu kursi menghantam kepala Nelson. Pisau-pisau dapur terarah kepada Nelson, Rue! Aku mencari Rue.
Bukan Rue, karena di tengah serangan angin kencang aku mendengar Rue berteriak memanggil Lea.
Lea! Ini ulahnya.
Dan aku melihat Rue terbang!
Ma..maksudku untuk apa mencari Lea di atas kan!
"Lea!"
"Lea!" Aku terus memanggil namanya. Tapi tidak nampak Lea di bawah sini.
Aku melawan akal sehatku, aku alihkan pandanganku ke atas dan tampaklah Lea melayang di udara. Tubuhnya tegap tidak bergerak hanya tatapan matanya mengerikan.
"Lea turunlah! Rue bagaimana bisa aku ke atas sana?" Teriakku kepada Rue.
Rue yang selalu memakai tas slempang kecilnya menuangkan bubuk berwarna emas ke atas kepalaku, dan aku..
Terbang!
Ini pasti mimpi. Pasti!
Aku bergerak mendekati Lea dan Rue.
"Bagaimana menghentikannya?" Tanyaku pada Rue.
Aku melihat kekacauan yang terjadi di bawah, rumahku hancur berantakan. Angin topan kecil-kecil menerjang ini dan itu. Penjaga, pelayan dan anak buahku berlari untuk menyelamatkan diri mereka.
"Ini emosinya yang tertahan Max. Hanya Lea yang bisa menghentikannya, dan ayahnya." Jawab Rue.
__ADS_1
Aku berusaha memahami maksud Rue, dan tanpa ragu aku memeluk Lea.
"Lea tenanglah. Aku dan Rue baik-baik saja. Terimakasih atas pertolonganmu." Bisikku di telinganya. Aku harap dia mendengar suaraku.
Aku terus memeluk Lea, tapi sepertinya ini tidak berhasil. Aku memberanikan diri untuk menciumnya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan memegang kedua pipinya, "Lea, tenangkan dirimu." Bisikku lembut dan mencium bibirnya.
Srruutt!
"Waaa...waaa! Apa yang terjadi?" Ucapku. Karena tiba-tiba aku jatuh ke bawah bersama Lea.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas. Rue masih di atas sana, kemudian aku melihat sekelilingku. Semua sudah tenang, Lea! Dimana dia?
"Lea, kamu baik-baik saja?" Tanyaku dan kembali memeluknya.
"Kamu melakukan apa padaku, Max bodoh!" Tukasnya dan,
Plak!
Dia menampar pipiku.
Aku memegangi pipiku, "Apa kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu hampir menerbangkan rumahku! Kamu seperti cicak di atas sana! Aku yang menenangkanmu!" Sahutku tidak terima.
Rue turun dengan sempurna dari atas sana, aku yakin jika ada orang lain yang tidak mengenalnya mereka akan menyangka Rue adalah seorang penerjun payung.
"Max membantu untuk menenangkanmu, Lea." Kata Rue kepada Lea.
Lea tersadar dan melihat sekelilingnya, "Dimana Nelson?" Tanyanya.
Aku dan Rue menunjuk ke arah Nelson yang tergeletak tidak berdaya dengan benjolan sebesar telur di keningnya, "Disana." Kami menjawabnya bersamaan.
Lea kemudian berdiri, "Wah, tugasku banyak Rue." Katanya.
"Tentu saja aku akan membantumu." Jawab Rue.
Kedua manusia bertongkat itu berdiri dan merapikan segalanya. Mereka menyatukan kembali kaca yang sudah pecah, mengembalikan barang-barang yang beterbangan ke posisinya semula. Kemudian entah apa yang terjadi, seperti ada kabut berwarna putih dan biru menyelimuti rumahku ini.
Kabut apa itu?
...----------------...
Lea POV
"Rue, apa kamu yakin tidak ada yang tertinggal?" Tanyaku.
Rue menggeleng, "Berjanjilah kepadaku Lea untuk mengontrol emosimu! Atau kita akan mengalami sesuatu yang tidak kita inginkan." Sahutnya memperingatkanku.
Aku mengangguk lemah, "Maaf Rue. Tadi aku takut, kesal dan marah. Semua menjadi satu dan tiba-tiba saja aku meledak. Maafkan aku." Ucapku memohon permaklumannya.
Rue mendekapku, "Ayahmu pasti mengawasi kita dari atas sana. Aku bisa di pecat kalau aku tidak bisa menjagamu. Kalau aku di pecat aku harus apa? Disini mencari pekerjaan sangat sulit." Kata Rue, suaranya terdengar putus asa.
"Maafkan aku. Ayahku tidak akan memecatmu, Rue." Sahutku menghiburnya.
Aku teringat sesuatu, "Apa kabut pelupa mengenai Max juga?" Tanyaku.
"Tentu saja. Dia kan bernafas pasti otomati akan menghirup kabut itu." Jawab Rue.
Aku mengangguk, ada sedikit penyesalan dalam hatiku.
__ADS_1
Max tadi menciumku dan sekarang dia lupa. Aku memegangi bibirku. Biarlah hanya aku yang mengingat ciuman Max yang lembut tadi itu. Kapan-kapan aku akan mencobanya lagi.
...----------------...