
Akhirnya aku tinggal disini setelah mereka semua pergi, dan baiklah demi cuanku, aku harus berpura-pura menjadi Eleanor. Bagaimana gayanya tadi?
"Max! Max! Aku datang!" Aku berseru-seru memanggil Max, suamiku. Maksudku suami bohonganku.
Max keluar dari ruangannya dengan menjeblak pintu ruangannya, "Ada apa kamu berteriak-teriak seperti itu, Lea!" Tukas Max.
Max memicingkan matanya ke arahku, "Kamu Lea atau Eleanor? Ah, kalian berdua membuatku pusing!" Seru Max lagi. Bergegas masuk kembali ke dalam ruangannya.
"Hei! Max!" Seruku lagi. Kalau dia masuk ke ruangannya otomatis aku akan sendirian kan disini? Tidak akan kubiarkan!
"Apa lagi?" Tanya Max.
Aku mendekatinya, "Tetaplah bersamaku disini. Aku sedang, maksudku aku tidak mau sendirian disini!" Sahutku.
Max memiringkan kepalanya, "Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Max, sekali lagi memperhatikanku matanya menatap tajam ke dalam mataku.
Jantungku berdegup kencang dan aku merasakan panas menjulur hingga ke wajahku, "A...apa yang kamu lihat, Max?" Tanyaku.
"Tentu saja kamu. Apa kamu pada akhirnya merindukanku?" Tanya Max menyelidik.
Aku tidak tau harus menjawab apa, "Ti...tidak ada yang merindukanmu bodoh!" Sahutku, dan aku memasuki ruangannya.
Brak!
Ruangan Max yang dipenuhi dengan dinding berbatu dan hiasan pohon-pohon kecil kembali mengingatkanku akan pernyataan Eleanor, ada tawanan yang di sembunyikan oleh Max.
Max menghampiriku, "Hei, siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam ruanganku?" Tanya Max.
"Aku hanya ingin bersamamu saja. Bagaimana pun aku istrimu kan?" Tanyaku mengalihkan pandanganku darinya. Tatapan mata Max mengandung racun yang mematikan, aku tidak bisa bergerak saat di tatapnya.
"Eleanor tidak pernah mengaku sebagai istriku, jadi apakah kamu Eleanor atau Lea?" Tanya Max berbisik di telingaku.
Pria bodoh ini selalu sukses membuat jantungku berdegup kencang saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku memberanikan diri mendekatinya, jarak diantara hanya tinggal satu inci saja, aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku, "Pe...perhatikan aku Max." Sahutku menahan rasa gugup. Dia tidak boleh mengetahuinya kalau kakiku bergetar dan jantungku seperti mau lepas.
Max tersenyum, dan memegang wajahku dengan kedua tangannya, "Sekarang, apa yang kamu butuhkan nona manis?" Tanyanya.
Deg!
Aku refleks melepaskan kedua tanganku, "A...aku ti...tidak mau apa-apa bodoh!" Sahutku. Dia berhasil membuat wajahku menjadi merah merona.
Max tertawa. Aku menatapnya, dia benar-benar tertawa. Eleanor berkata Max tidak pernah tertawa, tapi hari ini dia tertawa. Aku yakin dia mentertawakan kebodohanku! Huh!
"Duduk manislah disana karena masih ada yang harus aku kerjakan." Katanya, kemudian Max kembali menyibukkan dirinya dengan aktifitas sebelumnya.
Aku duduk di dalam ruangannya melihat ke kiri dan ke kanan, aku penasaran dengan apa yang berada di dalam tembok batu itu. Aku berdiri dan menekan-nekan semua dindingnya. Aku mendekatkan telingaku ke dinding itu, tapi aku tidak mendengar suara apa pun.
Hhhmmmm? Kemudian, aku mengetuk-ngetuk setiap batunya.
Tok...tok
Tok...tok
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Lea?" Bisik Max yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Mm...Max! Apa yang kamu lakukan di belakangku!" Tukasku dan memegang tengkukku.
Max kembali tertawa, "Apa yang kamu lakukan dengan dindingku, Lea?" Tanyanya. Matanya tidak lepas sedetik pun dari mataku.
Aku mengalihkan pandanganku, Max memojokanku hingga aku terpepet pada dinding batu tersebut. Tangannya ada di atas kepalaku, satu tangannya berada di kantung celananya.
"Ma...mau apa kamu Max?" Tanyaku.
Max semakin mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Ja...jangan sakiti aku!" Aku berseru ketakutan.
Max mendekatkan bibirnya ke arahku, dan menempelkan bibirnya ke bibirku.
Deg
Deg
Deg
Jantungku kian cepat tak beraturan iramanya.
Apa yang aku lakukan? Aku membuka mulutku sedikit, dan dengan leluasa Max menyambar bibirku. Entah kenapa aku menikmatinya, dan aku tidak ingin Max melepaskannya.
Aku memejamkan mataku, dan menikmati setiap sentuhannya. Aku menginginkannya saat ini juga. Perasaan apa ini?
Blush!
Wajahku kembali merona. Apa Eleanor melakukan ini sebelumnya? Tapi dia bilang mereka belum pernah bersentuhan. Kenapa aku malah mengikuti permainannya?
...----------------...
Aku bergegas mencari Rue. Kalau aku ketahuan mencari Rue, mereka akan curiga.
Aku berbisik memanggilnya, "Rue, kamu sedang apa?" Bisikku sambil mengetuk ruangannya.
Rue membuka pintu untukku, "Apa yang nona lakukan disini? Kembalilah! Nanti semua orang curiga karena kita berdekatan." Sahutnya panik.
Aku menyelinap masuk ke dalam ruangannya, "Rue, ijinkan aku untuk tidur disini malam ini." Pintaku.
Rue tampak kaget, "Apa yang terjadi padamu nona? Apa kamu rindu rumah?" Tanya Rue.
Aku menggeleng, "Bukan seperti itu. Eleanor bilang dia tidur bersama dengan Max. Aku takut jadi bisakah aku tidur bersamamu saja?" Aku memohon kepada Rue.
Rue menggelengkan kepalanya, "Jangan seperti itu nona. Nanti aku yang akan repot. Nona Lea tidak bisa tidur bersamaku." Ucapnya tegas.
Hasil didikan ayahmu memang tidak pernah gagal, cih!
"Bisakah kamu berhenti memanggilku nona dan bersikap seperti itu? Kamu satu-satunya orang yang aku kenal saat ini, jadi kita harus bekerja sama. Stop memanggilku nona Lea, cukup Lea saja!" Titahku kepadanya.
__ADS_1
"Baik nona. Maksudku baik Lea." Katanya tersipu.
"Jadi? Bagaimana?" Aku kembali bertanya kepada Rue dan kuberikan senyuman paling manis yang aku tau.
"Walaupun kamu seperti itu, jawabanku tetap tidak!" Katanya tegas.
Aku berdiri dengan kesal, dan mendorongnya dengan badanku, "Pelit! Rue menyebalkan!" Tukasku lalu bergegas keluar dari ruangan Rue.
...----------------...
Malam itu aku memutuskan untuk tidak tidur dengan Max karena apa yang ia lakukan kepadaku sore tadi sangat berbahaya untuk mental dan kesehatanku.
Aku memeluk lenganku, "Aku akan memukulnya kalau dia mendekatiku lagi." Sahutku.
Max kemudian masuk ke dalam tidur, "Loh, kamu belum tidur?" Tanya Max.
"Aku tidak akan tidur dan aku rasa aku tidak bisa tidur denganmu." Ucapku.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidur duluan. Tapi kamu selalu tidur di ranjang, karena katamu badanmu akan pegal-pegal kalau tidur di sofa." Kata Max tersenyum menatapku.
"Be... begitu? Oke, nanti saja aku kesana. Aku rindu sofa ini." Kataku berkilah.
"Baiklah kalau begitu. Kamu tau kan akubl tidak akan menyentuhmu, kecuali sore tadi anggap saja itu suatu ketidaksengajaan aku menciummu. Itu akan jadi yang terakhir." Katanya, dan Max segera masuk ke dalam selimut yang tebal.
Oh, jadi itu tadi namanya mencium? Itu menyenangkan. Ups, ada apa denganku! Lea! Hentikanlah! Aku berbaring di sofa dan berusaha memejamkan mataku.
***
Max POV
"Ada yang aneh dengan Eleanor kita, Nelson." Sahutku saat melakukan panggilan video dengan Nelson.
Nelson tertawa, "Jangan katakan kepadaku kamu jadi menyukainya...hehehe." sahutnya terkekeh.
"Aku tidak menyukainya. Aku hanya merasa ada yang berbeda darinya. Biasanya Eleanor tidak bergerak sembarangan seperti itu dan selalu menjaga jarak denganku, tapi sekarang dia menjadi pribadi yang sangat berbeda." Ucapku menjelaskan.
Nelson menyimak penjelasanku, "Dan dimana Lea yang lain?" Tanya Nelson.
"Menurut orangku, Lea dan kawan-kawannya mencari pekerjaan tapi temannya yang pria tetap disini katanya sebagai patokan ketika kembali ke tempat asal mereka nanti. Selama dia tidak mengganggu aktifitasku aku menerimanya. Dia selalu berada di dalam ruangannya, jadi kita aman." Ucapku.
Nelson mengangguk, "Jangan terlalu jauh bermain dengan Eleanor barumu itu. Jaga jaraklah dengannya, Max." Kata Nelson memperingatkan.
"Aku akui itu sulit. Bahkan bibirku pun otomatis akan terkembang saat melihatnya. Entahlah aku masih sulit untuk mengungkapkannya apa namanya ini." Sahutku, bahkan sekedar membicarakannya saja aku sudah tersenyum.
"Max bodoh! Itu namanya cinta!" Jawab Nelson.
Deg!
Benarkah? Sesingkat itu?
...----------------...
__ADS_1