
Lea POV
Blup!
"Apa yang kamu lakukan Max jelek!" Tukasku kesal. Ciuman tiba-tiba yang datang dari Max membuat jantungku seolah bermain drum.
Max tersenyum, "Aku memberimu ceri. Kamu suka kan?" Tanya Max menggodaku.
Blush!
Wajahku memerah dan terasa panas. Aku melihat Brad yang sepertinya juga cukup kaget karena Max yang tiba-tiba menciumku, "Suka! Maksudku cerinya aku suka!" Jawabku kesal dan menahan malu.
Max membuat perasaanku tak menentu. Kemunculannya yang tiba-tiba, perubahannya yang mendadak, sampai ciuman tak di rencanakan yang tadi dilakukan oleh Max. Semua serba tiba-tiba. Hatiku belum siap.
Selama ini aku diam karena aku sedang menata hatiku untuk bisa tetap tenang berada di dekatnya.
Karena ciuman Max tadi, aku jadi tidak fokus belajar bersama Brad, "Maafkan aku tapi bisakah kita melanjutkan i ini besok?" Tanyaku kepada Brad.
Brad tersenyum, "Bisa saja. Baiklah, kita akan lanjutkan besok di jam makan siang. Bagaimana?" Tanya Brad.
Aku mengangguk dan beranjak dari kursi yang tadi kududuki, namun Brad menahan tanganku, "Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Brad.
Aku mengangguk, "Silahkan." Jawabku.
Brad menengok ke sekeliling rumah kami dan tampak tidak nyaman, "Kita bicara di tempat lain, mau?"
Aku kembali mengangguk. Aku tau apa yang akan ia bicarakan.
Brad mengajakku ke rumahnya. Aku belum pernah masuk ke dalam rumah Brad. Tentu tidak akan nyaman bukan? Karena kamu sudah dipinjami rumah olehnya tanpa bayar jadi tidak mungkin aku masuk ke dalam rumahnya.
"Masuklah." Kata Brad mempersilahkan aku masuk.
Aku masuk ke dalam rumah Brad yang ternyata nyaman sekali. Ruangan Max serba putih begitu juga dengan rumah barunya, namun tidak dengan Brad. Brad mendominasi rumahnya dengan warna cokelat dan hijau jadi tampak nyaman sekali.
"Silahkan duduk." Kata Brad lagi. Sepertinya dia bingung dengan apa yang akan ia lakukan.
Aku menuruti kata-katanya. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan dan tak lama keluar lagi, "Mau menawarkan sesuatu tapi tadi kita sudah makan dan minum banyak sekali di depan." Sahutnya tersipu.
Brad duduk di samping kursiku, ia mengusap-usap kedua kakinya dan berdeham, "Ehem.. maaf kalau ini mendadak. Aku ingin bertanya, sejauh mana hubunganmu dengan Max?" Tanya Brad.
Apa aku harus menjawabnya dengan jujur? Aku tidak tau, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
__ADS_1
"Hubungan kami tidak terlalu jauh hanya sama memang kami pernah dekat. Aku tidak tau harus cerita darimana karena ini panjang sekali sudah sampai 43 bab." Sahutku jujur.
Brad mengangguk, "Benar juga. Tapi apakah sudah sampai tahap tunangan atau menikah atau bagaimana?" Tanya Brad lagi.
Aku menatapnya, "Aku tidak pernah punya keinginan untuk menikah dengan manusia bumi dan..."
"Manusia bumi?" Brad memotong jawabanku.
Ups!
"Ma...maksudku seseorang. Aku tidak pernah berniat untuk menikahi seseorang, begitu maksudku." Jawabku cepat.
"Berbicara tentang manusia bumi. Mengapa Eleanor menyebutmu penyihir kecil?" Pertanyaan Brad semakin mendesakku.
Deg! Bagaimana ini? Apa aku harus membuatnya melupakan kejadian ini? Atau kubuat dia tertidur saja?
Baiklah, keputusan sudah kubuat.
"Aku minta jangan kedipkan matamu dan perhatikan aku. Katakanlah ini tes, setelah melihat ini apakah kamu masih yakin menyukaiku atau tidak. Bersiaplah Brad." Sahutku.
Brad menatapku serius, tidak ada raut ketakutan di wajahnya.
Aku memejamkan mataku, dan memanggil Ayshill sepasang sayapku,
Kemudian aku mengeluarkan tongkat bintang kecilku, dan mengeluarkan api kecil berwarna hijau di depan Brad,
Aku membuka mataku dan menatap Brad, "Inilah sebabnya mengapa Eleanor memanggilku penyihir." Aku mengeluarkan airmataku, dan butiran airmata segera berjatuhan di lantai rumah Brad.
Brad tidak berbicara, hanya melihatku dengan tatapan asing yang tidak dapat kutebak, "Brad?" Sahutku. Brad terdiam tak bergeming.
Aku kembali memejamkan mataku, dan seolah tidak terjadi apa-apa aku duduk kembali di kursi panjang Brad dan berusaha menyadarkan Brad yang masih duduk termangu menatapku.
"Brad, kamu baik-baik saja?" Tanyaku sambil mengibaskan tanganku ke depan wajahnya.
"A...aku oke. Ja..jadi a...apa itu tadi?" Tanya Brad terbata-bata.
"Tadi itu aku." Sahutku singkat.
Brad memperoleh kesadarannya dan kembali duduk di kursi panjang yang tadi ia tempati, "Bagaimana dengan Max?" Tanya Brad.
"Dia sudah tau tentu saja." Jawabku santai, "aku hanya ingin kamu tidak melihatku dari penampilan luarku saja. Itu kuanggap sebagai kekuranganku karena sampai saat ini aku belum menemukan apa kelebihanku." Ucapku.
__ADS_1
Brad masih mencerna apa yang baru saja ia lihat, "Aku tidak takut hanya sedikit terkejut. Aku pikir di jaman canggih seperti ini sudah tidak ada yang namanya penyihir atau apa pun itu. Jadi kamu ingin menjadi manusia?" Tanya Brad.
Aku mengangguk, "Tapi ayah dan ibuku tidak mengijinkannya, menurut mereka manusia bumi itu kejam. Mereka selalu melarangku untuk turun ke bumi." Jawabku.
"Bagaimana Max menerima ini semua?" Brad bertanya lagi. Dan sepertinya banyak sekali yang ingin ia tanyakan kepadaku.
Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau. Kamu bisa bertanya sendiri kepadanya. Max itu seorang pria bumi yang bertanggung jawab dan keren. Ayahku pun mengakuinya." Ujarku, aku teringat kembali apa yang kami alami satu tahun lalu dan sekarang perasaanku kepada Max tumbuh kembali.
"Max sudah bertemu ayahmu?" Tanya Brad.
Aku mengangguk, "Sudah. Dan kemarin mereka berteman baik entah kalau sekarang." Jawabku.
Brad terdiam, ia masih tampak bingung dengan apa yang baru saja ia lihat. Jadi aku memutuskan untuk berkenalan ulang dengannya. Aku mengulurkan tanganku, "Kenalkan, namaku Lea. Lea saja tidak ada panjang-panjangnya." Sahutku dengan sayap kukibas-kibaskan di belakangku.
"Hai, Lea. Senang berkenalan denganmu." Balas Brad entah tersenyum atau apa aku tidak tau.
Plep!
Aku kembali ke rumahku sendiri dengan menggunakan tongkat ajaibku. Sudah di ramalkan hanya Max yang akan menerimaku, apa pun bentuk dan wujudku.
Rue menyambutku, "Kita harus bersiap pergi dari sini?" Bisik Rue.
Aku mengangguk, "Aku belum memberikan mantra lupa kepadanya." Ucapku.
Cukup sedih sebenarnya karena harus membuat orang lain melupakan kita dan kita harus menghilang dari hidupnya tanpa diingat sedetik pun olehnya.
"Nanti aku yang berikan." Jawab Rue.
Aku kembali mengangguk, "Terimakasih Rue."
Drap...drap
Drap ....drap
"Lea, jangan lupakan aku dan aku tidak mau dilupakan olehmu. Aku akan tetap menyukaimu, apapun kamu. Jadi jangan pergi kemana-mana tetaplah di sisiku!" Brad tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kami.
Aku dan Rue menatapnya tidak percaya, "Benarkah Brad?" Tanyaku.
Brad mengangguk kemudian ia berseru kepada Max, "Max! Aku sudah tau siapa Lea. Kedudukan kita seri. Mulai detik ini aku secara resmi mengumumkan kita akan bersaing mendapatkan Lea! Aku akan tetap disisinya apa pun ya mng terjadi!" Seru Brad.
Max memicingkan matanya dan mengarahkan senapan dengan secepat kilat ke pelipis Brad, "Aku tidak pernah mengenal kata kalah dalam kamus hidupku, jadi jika salah satu dari kita patah hati, kamu tau maksudku Brad?" Tanya Max.
__ADS_1
Brad tersenyum liar, "Tentu saja. Aku terima tantanganmu, Max dengan senang hati." Jawab Brad.
...----------------...