Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Loose Control


__ADS_3

Lea POV


"Hei, Matt itu Eleanor! Lihat! Lihat! Disana!" aku berseru kepada Matt.


Matt meletakan jari di bibirnya dan memintaku untuk diam, kedua tangannya bergerak turun ke arah bawah, memintaku untuk tetap tenang.


Aku mengangguk, "Oke." bisikku.


Eleanor, untuk apa dia disini? Apa dia di culik? Kasihan sekali sampai kurus kering begitu. Apa dia sedang melakukan apa yang dilakukan oleh manusia bumi kebanyakan? Apa kata Alesya itu, died atau diet? Entahlah, tapi aku rasa died, karena menyedihkan sekali melihat Eleanor hanya tersisa tulang dan kulit.


"Woi! Hentikan pemikiran jahatmu, Lea!" suara Rue berdengung di kepalaku.


Aku belum bisa menutup pikiranku dari Rue. Perlu bertahun-tahun untuk menyamakan level Rue.


Aku menghela nafas panjang, dan tiba-tiba beberapa barang di depanku berjatuhan.


Gedumprang! Prang! Prang!


Aku membuka mulutku dan spontan berdiri karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan lagi.


Ceklek!


Suara senapan diarahkan kepadaku. Ada lima senapan siap tembak mengarah kepadaku. Aku menoleh ke arah Matt, "Maaf!" bisikku dari jauh.


Beberapa orang mengikuti pandanganku dan segera menangkap Matt.


"Bodoh!" seru Rue dari dalam kepalaku.


"Maafkan aku, Rue." jawabku, menyampaikan isi pikiranku kepada Rue.


"Angkat tangan kalian!" titah salah seorang dari mafia itu.


Beberapa orang memeriksa tubuhku dan Matt, mereka tidak menemukan apa pun pada kami. Tentu saja, kami tidak berniat menembak orang, menembak seekor semut pun tidak.


Tak lama, Brad keluar. Dia tersenyum dan bertepuk tangan,


Prok...prok...prok


"Matthew dan Lea. Kunjungan yang sangat tidak aku sangka. Apakah kalian mengikutiku atau hanya kebetulan saja berada disini?" tanya Brad mendekatiku.


Aku harus berbohong padahal aku sudah di sumpah untuk tidak boleh berbohong.


"Kami kebetulan berada disini. Mobil kami mogok, kamu bisa memeriksa mobil kami, Brad. Ada Rue di dalam sana." ucapku.


Pada saat yang sama, aku mengirimkan pikiranku kepada Rue dan Anthem, "Habiskan bensinnya. Buat mobil itu rusak parah dan tidak bisa jalan!" aku berseru ke dalam pikiran Rue.

__ADS_1


"Ini mobil Matt, Lea. Kita tidak bisa merusaknya terlalu parah." sahut Rue.


Aku memperhatikan Brad yang masih melongok ke dalam mobil dan kemudian ia meminta anak buahnya untuk memeriksa mobil itu.


"Rue! Habiskan bensinnya cepat! Dan keringkan olinya!" tukasku berseru.


"Kenapa kamu tampak panik, Lea? Wajah cantikmu itu tidak cocok mengekspresikan panik. Senyumlah." ucap Brad dan menyentuh wajahku dengan jarinya.


"Sudah berapa lama kalian berada disini?" tanya Brad. Nada suaranya berubah menjadi tajam dan kejam.


"Baru saja." jawab Matt.


Dor!


Brad menembakkan pelurunya ke lantai, aku segera melihat ke arah Matt. Peluru itu tidak mengenainya. Kalau sampai peluru Brad mengenal Matt, lihat saja....


"Lea, tenanglah." kata Rue. Suaranya setenang lautan dan menyejukkan seperti hujan di tengah kemarau.


Aku menarik dan menghembuskan nafasku, aku berusaha untuk tetap tenang.


Tak lama suara sepatu berderap di lantai bangunan tua ini, "Aman bos." kata anak buahnya. Brad mengangguk, Anthem mulai terbang mengitari kami. Apakah akan ada kematian disini?


"Baiklah. Menurut anak buahku kalian aman dan tandanya kalian juga aman. Namun, karena kalian sudah sampai sini tidak sopan rasanya jika aku tidak menjamu kalian." ucap Brad.


Brad berjalan ke dalam dan menyeret seorang wanita. Mulutku sudah tidak bisa di kendalikan lagi , "Eleanor! Brad lepaskan dia!" ucapku.


"Penyihir kecil...." Eleanor berbisik.


Damn! Kenapa Eleanor harus berbisik seperti itu? Tenang, Lea. Tenang. Rue sudah menghapus ingatan Brad tentangku.


"Belum, Lea!" jawab Rue melalui pikiran.


Deg!


Apakah dia akan mengingatnya?


"Katakan kepadaku sekali lagi, Eleanor! Apa yang baru saja kamu katakan!" perintah Brad.


Dengan terseok-seok, Eleanor berdiri kemudian tersenyum mengerikan, "Dia...." tangannya terarah menunjukku.


"Dia seorang penyihir. Hahahaha.... Bodoh sekali! Kenapa dia bisa menjadi seorang penyihir?" tanya Eleanor.


Brad terdiam, "Penyihir? Sepertinya aku mengingat sesuatu tentang penyihir." Brad mendekatiku dan berbisik di telingaku.


"Brad, jangan usik dia!" Matt berseru.

__ADS_1


Brad berpaling kepada Matt, "Hai, anak baru." Brad menganggukkan kepalanya dan beberapa anak buahnya menyeret Matt beserta Eleanor.


"Matt! Brad, lepaskan Matt! Dia tidak tau apa-apa, Brad! Lepaskan dia kumohon." pintaku kepada Brad.


Tentu saja aku meminta Anthem mengawasi Matt.


"Lea...Lea..Lea." ucap Brad.


"Aku tidak pernah lupa, di malam kamu menunjukkan sesuatu kepadaku. Awalnya aku takut, tapi selama dua tahun ini aku bertanya-tanya tentang keberadaan Max dan kelebihan yang kamu miliki, Lea." sahut Brad lagi.


"Aku tidak mengerti maksudmu!" jawabku kesal.


Karena saat itu aku dan Rue percaya kepadanya, kami tidak menghapus ingatan Brad tentangku. Dan bodohnya kami melupakan itu.


"Tidak usah pura-pura tidak tau, Lea. Setelah Max menghilang aku memperhatikan kalian. Bagaimana rumah yang kosong melompong, berlumut, bersarang laba-laba bahkan ditumbuhi tumbuhan liar yang menjalar dalam sekejap berubah menjadi bersih dan tampak baru? Aku mendatangi rumah itu setiap hari, Lea. Setiap hari." kata Brad.


"Dan yang kedua, jasad Max. Selepas kejadian itu, jasad Max masih ada di rumah sakit. Ya, aku masih melihat bekas tembakan di kakinya, begitu pula dengan tubuhmu. Namun, selepas malam, jasad kalian berdua menghilang. Dan tiba-tiba saja kamu muncul kembali bersama dengan Matt." sambungnya lagi.


"Yang lebih mengherankanku adalah, Hunter. Dia anak buah kesayanganku. Dia kuanggap sebagai adikku sendiri. Tapi kematiannya lah yang paling aneh. Tidak ada luka tembak, tidak ada lebam, tidak ada tanda kekerasan, dan ketika aku mengautopsinya, jantung dan organ lainnya dalam kondisi sangat sehat. Bagaimana kamu menjelaskan itu, Lea?" tanya Brad.


Aku terdiam, Brad sudah mengumpulkan semua bukti kehadiran aku dan Rue disana. Tidak ada cara lain selain mengakuinya dan memantrainya.


"Kenapa kamu baik kepadaku dan Rue saat kita pertama bertemu?" tanyaku, mengulur waktu.


"Kenapa? Karena kamu wanita terdekat Max. Nelson bermain dengan senapan, tapi aku bermain dengan otak dan senjataku. Aku mendekatimu, dan dingdong! Max datang setelah memenangkan pertarungannya dengan Nelson. Kalian orang-orang baik pasti akan bersatu di dalam sebuah circle orang baik juga, karena kamu memasukan Max ke dalam circlemu, dimana disitu ada aku dengan label baik. Tak mudah mendekati Max, tapi pada akhirnya dia percaya padaku. Dengan mudah aku merencanakan sebuah balas dendam begitu Max masuk ke dalam lingkaranku." jawab Brad panjang lebar.


"Aku tidak tau darimana kalian mengetahui jati diriku hari ini. Namun, aku yakin ini pasti darimu, Lea. Apa yang kamu lakukan? Penyihir kecil? Hahahaha." ucap Brad lagi.


Sudah cukup bermainnya, aku sangat marah mendengar jawabannya. Aku dan Max terpisah karena ide si brengsek ini!


Prang!


Prang!


Lampu-lampu berjatuhan dan pecah berantakan. Seluruh benda yang ada di ruangan ini beterbangan. Aku sudah melepaskan diriku sendiri dari ikatan anak buah Brad.


Dengan sayapku, aku terbang ke arah Brad yang sekarang ketakutan, "Penyihir kecil katamu, Brad?" ucapku.


Aku mengangkat Brad dengan mudah, aku mencengkeram dagunya, dan kulemparkan dia ke dinding.


Brak!


"Aarrgghh!" Brad mengerang. Aku menyeringai puas mendengar rintihan kesakitannya.


"Lea, hentikan! Le...!"

__ADS_1


Aku memblock pikiranku dari Rue. Hanya ada satu hal yang harus dan ingin kulakukan saat ini, musnahkan Brad!


...----------------...


__ADS_2