Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
The Lady with Pearls


__ADS_3

Max POV


Aku terbangun, dan melihat banyak sekali mutiara di atas tubuhku. Aku memungutinya satu per satu dan mengamati mutiara-mutiara itu.


"Darimana mutiara ini?" Aku bertanya dalam hati.


Apa ini perhiasan Eleanor? Apa yang terjadi sebenarnya? Dan mengapa aku bisa tertidur di sofa?


Aku meregangkan tubuhku untuk mengusir rasa pegal karena tidur di atas sofa. Kemudian aku beranjak mencari Eleanor.


"Eleanor! Lihat apa yang kutemukan." Sahutku.


Eleanor keluar dari ruanganku dan menghampiriku, "Ada apa Max? Tidak biasanya kamu memanggil namaku. Biasanya kamu selalu memanggil Lea!" Tukas Eleanor galak.


Lea? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu.


"Siapa Lea?" Aku bertanya kepadanya.


Eleanor tampak heran tapi kemudian dia tidak memusingkan hal itu, "Ada apa kamu memanggilku?" Tanya Eleanor.


Aku memberikan mutiara-mutiara itu kepada Eleanor, "Perhiasanmu terlepas. Lain kali berhati-hatilah dan kenapa bisa perhiasan itu bertebaran di atas tubuhku?"


Eleanor menerima mutiara itu, dia tampak berpikir dan mengingat-ingat, "Aku tidak punya perhiasan dari mutiara. Tapi apakah ini boleh untukku? Mereka cantik sekali." Tanya Eleanor kegirangan.


Aku mengibaskan tanganku, "Ambillah." Sahutku.


Entah kenapa setelah kejadian penemuan mutiara itu aku merasakan ada ruang kosong di hidupku, aku tidak tau apa itu dan aku tidak terlalu memikirkannya.


Pagi ini aku terbangun dan rasanya lelah sekali. Mimpi buruk itu masih terus menghantui bahkan lebih menjadi lebih parah dari sebelumnya dan menjadi lebih sering.


"Pagi Max." Sapa Eleanor pagi itu masih menggunakan lingerienya.


"Hmmm," aku membalas malas sapaannya.


"Hari ini kita akan membahas sesuatu dengan Nelson. Kamu harus ikut yah sayang." Pinta Eleanor menggelendot manja di punggungku.


Aku memejamkan mataku saat Eleanor masuk ke dalam leherku dan mengecupnya disana, membuat tanda kepemilikan.


"Aku sedang tidak ingin." Ucapku.


Eleanor adalah istriku, namun itu hanya status semata karena aku tidak pernah mencintainya dan Eleanor adalah hasil perjanjian antara aku dengan orangtuanya. Satu kesamaan kami adalah kami saling membutuhkan hanya untuk kebutuhan biologis, selebihnya tidak.


"Dimana Nelson?" Tanyaku kepada Eleanor yang cemberut karena aku menolaknya untuk bermain.


"Dia akan menunggumu di ruang makan." Jawab Eleanor.


Aku menghampiri Nelson di ruang makan. Wajahnya tampak seram namun ceria sekali. Aku tau dia masih berusaha membujukku untuk penggabungan wilayah kekuasaan.


Dan benar saja,


"Bagaimana Max?" Tanya Nelson setelah bercerita panjang lebar tentang rencana perluasan itu.


Aku tidak mau ambi pusing saat ini karena kepalaku rasanya sudah sakit sekali, "Atur saja aku akan ikut dengan keputusan kalian. Elanor, ikut aku!" Sahutku.

__ADS_1


Aku mengajak Eleanor ke ruang bawah tanah di balik dinding batu, aku ingat aku pernah menunjukkan ini kepadanya atau kepada orang lain, aku tidak bisa mengingat siapa orangnya. Mungkin itu Eleanor. Siapa lagi kan?


Aku meminta Eleanor melepas semua pakaiannya, dan berbaring di ranjang. Aku memborgol tangan dan kakinya dengan menggunakan borgol.


Eleanor panik tapi aku menaiki tubuhnya dan tersenyum, "Sstt...ini akan menyenangkan." Bisikku.


Aku memulai permainanku, aku membiarkan Eleanor mende*sah dan bergerak liar di bawahku. Aku hanya ingin sakit di kepala dan di hatiku ini hilang.


Aku tidak mendengar ada seseorang yang memanggil namaku dan aku tidak peduli dengan itu. Malah itu membuatku semakin fokus pada Eleanor.


"Ma...Max!


Tiba-tiba seorang wanita berdiri di tengah tangga berundakku sambil memegangi sekotak es krim besar di kedua tangannya dan memakai pakaian aneh, gaun panjang berwarna putih, rambutnya panjang terurai, dan mengenakan straw hat berpita panjang menjuntaj.


Aku menatapnya cukup lama, "Siapa kamu?" Tanyaku. Anehnya wanita itu langsung pergi dan menangis.


Kedatangan wanita itu menyita perhatianku, aku beranjak berdiri dari atas tubuh Eleanor yang terus berteriak,


"Max! Max! Kita harus menyelesaikan ini!" Teriak Eleanor. Aku berjalan dan menaiki tengah tangga, dan sekali lagi aku menemukan sebuah mutiara kecil berwarna putih.


Eleanor kembali berteriak, "Max! Sialan! Max!"


Aku menengok ke arah Eleanor, "Baiklah kita selesaikan ini dengan cepat." Sahutku.


***


"Aku butuh tanda tanganmu disini." Seru Nelson. Di surat perjanjian itu, Nelson sudah membubuhkan tanda tangannya berupa darah yang di memenuhi ibu jarinya.


"Secepat ini? Apa tujuanmu?" Aku bertanya. Aku tidak menunggu jawabannya. Aku menyayat kecil ibu jariku hingga darahku menetes di kertas perjanjian itu.


"Stop sampai situ, Nelson!" Tukasku, "wilayah ini tetap berada di bawah kendaliku. Aku harap kamu tidak mengacak-acak wilayahku. Ingat aku don nya!" Aku mengingatkan kembali kepada Nelson.


Nelson tercengang, dan air mukanya berubah menjadi kesal, "Aku ingat. Aku ingat akan itu Max. Apa kita butuh seorang konselor? Aku punya kenalan...."


"Pakai konselorku!" Tukasku, sekali lagi memotong ucapan Nelson. Aku tidak mau dia merebut wilayah kekuasaanku begitu saja cepat atau lambat.


"Aku akan memanggilnya. Dan aku serahkan urusan ini pada konselorku! Aku ada urusan." Sahutku.


Aku bergegas menemui Eleanor dan meminta mutiara yang kuberikan kepadanya waktu itu, "Aku butuh mutiara yang kemarin!" Perintahku.


Eleanor melindungi tempat perhiasannya, "Kenapa kamu memintanya lagi? Itu sudah menjadi milikku! Kata ibuku, kalau seseorang sudah memberikan sesuatu kepada kita, dilarang untuk memintanya kembali. Apa kamu tau itu pamali? Kamu akan kena hukum alam!" Seru Eleanor mengoceh.


Aku berdecak kesal, "Aku tidak akan memintanya kembali, aku hanya ingin melihatnya." Sahutku.


Dengan ragu, Eleanor memberikan kantong kecil berisi mutiara-mutiara kepadaku.


Aku mengambil satu butir mutiara dan aku membandingkan dengan mutiara yang kupungut di tangga berundak. Warna dan bentuknya sama. Ini indah sekali? Mutiara termasuk perhiasan langka tapi gadis itu mempunyai banyak sekali mutiara.


"Aku pinjam sebentar mutiara itu." Ucapku dan meminta Eleanor keluar dari ruanganku.


Aku mengambil seutas benang dan aku merangkai mutiara-mutiara itu menjadi sebuah kalung dan gelang. Mutiara itu masih tersisa cukup banyak? Apa gadis itu memakai lebih dari satu gelang mutiara?


Aku segera keluar dan meminta anak buahku untuk mengantarku berkeliling kota hanya untuk mencari keberadaan gadis itu.

__ADS_1


Aku melihat ke setiap sudut kota, karena dari pakaian yang ia kenakan tidak mungkin dia berasal dari kota besar. Beda sekali penampilannya dengan Eleanor.


Aku juga tidak tau kenapa mencarinya.


Aku meminta anak buahku untuk terus berjalan hingga ke pusat dagang yang berada di sebelah utara kota. Sesampainya disana aku memutuskan untuk berjalan kaki untuk menyusuri kota itu.


Aku tidak menemukannya di toko penjual kain, aku juga tidak menemukannya di toko penjual perhiasan. Harusnya dia berada disana jika memakai kalung mutiara sebagus itu.


Dan aku mendengar seorang gadis berteriak memanggil pengunjung, "Nona, belilah strawberry yang baru saja kupetik ini. Segar dan cantik sekali seperti wajahmu." Katanya.


Aku memperhatikan gadis itu, ya dia adalah gadis yang aku cari! Rambutnya hari ini dililit menjadi dua bagian. Aku mendekatinya.


"Halo.." aku baru mulai menyapanya, tetapi seorang pria tinggi besar dan bermata sangat biru menghadangku.


"Ada perlu apa Tuan?" Tanyanya.


Aku tidak mungkin mundur kan?


"Aku ingin membeli strawberry yang dijual gadis itu." Aku menjawabnya tenang.


"Vivi dan kalian semua masuklah!" Perintah pria itu. Dan ketiga gadis itu masuk.


Gadis mutiara itu menatapku dari dalam.


"Berapa yang anda butuhkan, Tuan?" Tanya pria tegap itu.


"Bisakah aku berbicara dengan gadis itu?" Tanyaku menunjuk kepada gadis mutiara.


Gadis mutiara itu terus memandangku dan menatapku tajam.


Deg!


Kenapa jantungku berdebar hanya dengan di tatap?


Gadis mutiara itu keluar dengan di kawal oleh pria berbadan tegap yang melayaniku.


"Halo." Sapaku kepada gadis mutiara itu. Dan kuperhatikan dia tidak memakai mutiara di leher atau di tangannya. Jadi darimana mutiara-mutiara itu berasal?


"Halo." Gadis itu membalas sapaanku. Jantungku berdesir-desir manis di dalam. Perasaan apa ini?


Aku memberikan kalung dan gelang mutiara yang tadi kurangkai, "Apa ini milikmu?" Aku bertanya kepadanya.


Gadis itu menggeleng, "Bukan. Selamat tinggal!" Katanya dan kembali masuk ke dalam


"Pergilah Max." Sahut pria tegap itu.


Kenapa dia mengenalku sedangkan aku tidak mengenalnya. Oh aku lupa, aku terkenal. Ini wilayahku.


"Aku akan kesini lagi." Sahutku.


"Jangan! Lupakanlah." Kata pria itu.


Tiba-tiba saja hanya dalam hitungan detik, kepalaku terasa pusing dan berputar.

__ADS_1


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, "Loh, kenapa aku bisa disini?" Tanyaku bingung.


...----------------...


__ADS_2