
No POV
"Heh! Kenapa begitu?" tanya Anthem bingung.
"Seharusnya ini giliran siapa?" tanya Rue dengan santai.
Lea terbang merendah, dan memberhentikan sementara Brad yang melayang di atas langit-langit, "Seharusnya ini giliranku. Kenapa tidak ada POV?" Lea juga bertanya dengan bingung.
"Hahahaha! Apa kalian tau, ini sudah memasuki bab 80. Panjang bukan?" tiba-tiba Matt datang dan bergabung dengan kami.
Castiel mengintip dari atas kepala Matt, "Lalu, apa masalahnya? Seharusnya ini giliranmu kan yang bercerita?" tanya Castiel kepada Matt.
"Benarkah? Oh, itu benar. Lalu kenapa...." belum selesai Matt bicara, semua adegan sudah di aktifkan kembali.
"Itu giliranku, bukan Matt!" tukas Lea
"Cih! Penulis itu ingin memainkan perannya. Diskusikan dulu seharusnya lebih awal! Baiklah, apa yang harus kami lakukan?" tanya Anthem.
Setelah diberikan pengarahan oleh Penulis itu, maka mereka kini berada di posisinya masing-masing walaupun dengan perdebatan yang lumayan panjang.
"Oke! Start! Action!"
***
Setelah Anthem mengantar jiwa-jiwa itu ke Api Penyucian, Anthem kembali ke gudang tua itu. Dia melihat Lea masih memainkan Brad di langit-langit.
"Lea, hari ini bukan hari kematiannya. Paling tidak buatlah dia tidak bisa pergi jauh dari sini!" ucap Anthem.
Sementara Anthem memanggil Matt, Lea memandang Brad dengan tatapan matanya yang tajam, "Jadi? Kamu tidak mati hari ini?" tanya Lea kepada Brad.
"Turunkan aku, makhluk aneh!" tukas Brad. Brad mencari-cari senapannya di dalam kantung kemeja atau pun kantung celana panjangnya.
'Sial! Mereka berjatuhan!' sesal Brad dalam hati.
Lea menjungkirbalikkan Brad,
Bruk!
Brad terjatuh, "Aarrgghh! Sialan kamu, tunggu saja pembalasanku!" tukas Brad lagi. Susah payah ia mengesot dan meraih senapan.
Namun, sayangnya Lea lebih cepat. Ya, Lea berniat membunuh Brad hari itu juga. Dengan kekuatan ajaibnya Lea menembakkan senjata-senjata itu tanpa menyentuhnya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Rentetan senapan memenuhi ruangan gudang tua itu, suaranya bergaung dengan kencang. Lea tertawa puas melihat Brad meringkuk ketakutan, ia melindungi dirinya dari serangan peluru yang di tembakkan Lea dengan menggila.
Lea membuat suara tawanya menyeramkan dan memekakkan telinga Brad,
"Hentikan!" teriak Brad.
"Ini pertarungan antara aku dan kamu. Ambil senjatamu, manusia lemah! Aku tidak menyangka kamu serendah ini, Brad! Kamu mempermainkan kami yang baik selama bertahun-tahun, kamu mendekati kami, dan mencari tau tentang Max! Jahat sekali!" tukas Lea.
Ayshill, sayap Lea masih berkepak-kepak lembut di belakang Lea, siap mengikuti perintah tuannya.
"Kalian saja yang bodoh! Kenapa baru tau setelah kematian Max brengsek itu! Kalau kamu sehebat ini, artinya kamu bisa membaca sifatku, kan?" tanya Brad.
"Aku? Rasa itu sempat ada, Brad. Tapi kutepis jauh-jauh karena kamu sangat baik kepada kami." jawab Lea jujur.
Lea dan Brad saling berhadapan, mata mereka waspada. Kemudian Brad membalas ucapan Lea, "Kamu bodoh berarti. Sekarang katakan kepadaku dimana Max?"
"Mati! Dia mati!" jawab Lea.
__ADS_1
Grep!
Brad berhasil mengambil senapan yang ada di bawah kakinya dengan cepat. Dia mengarahkan senapan itu ke arah Lea, dia berpikir Lea akan mati jika tertembak, tapi Brad tidak tau kalau Lea sudah abadi. Mau tertembak beberapa kali pun dia tidak akan mati.
Ceklek!
Brad mengokang senjatanya, tepat saat itu Matt masuk dengan senapan tertarah kepada Brad.
"Matt, jangan bodoh! Bersembunyilah!" seru Lea.
Matt tidak bergeming, "Aku akan menemanimu disini! Aku akan melindungimu, Lea." jawab Matt.
"Tidak bisa kan! Matt, nanti kamu mati!" sahut Lea lagi.
Tapi Matt bersikeras ingin berada disana menemani Lea.
Melihat perdebatan kecil antara Lea dan Matt membuat Brad kenal,
Dor!
Brad menembakkan senjatanya ke langit-langit, "Apa yang kalian lakukan? Bodoh sekali! Pulang saja dan setelah itu tidurlah!" ejek Brad.
Lea menyerang Brad sejetika, dia terbang ke arah Brad dan berhenti di pundaknya. Kemudian ia menerbangkan Brad kembali.
Brad berteriak, "Malaikat gila, lepaskan aku!"
Kemarahan Lea sudah pada puncaknya, segala yang ada disana beterbangan. Ia menggantungkan Brad di dinding, dan membuat barang-barang itu menyerang Brad.
"Aaaarrrrgghhh! Tolong aku!" Brad terus berteriak dan menghindari barang-barang yang menyerangnya dengan brutal.
"Anthem, bawa Matt keluar!" perintah Lea melalui pikirannya.
Lea menatap tajam kepada Anthem, dengan suaranya yang menyeramkan, Lea berteriak, "Turuti perintahku! Bawa dia pergi dari sini!"
Baru kali Matt melihat perubahan Lea. Lea sosok wanita yang kecil, mungil dan berwajah manis. Namun, Lea yang saat ini dilihatnya seperti pixxie raksasa. Suaranya kecil melengking dan bergaung ke segala arah, muncul taring di giginya, tatapannya menyeramkan. Sangat berbeda dengan Lea yang biasanya.
*pixxie : makhluk imajinasi berwarna biru bertaring dan mereka bisa terbang. Suaranya berdecit nyaring sekali.
Matt dan Anthem akhirnya menyingkir, "Apa yang merasukinya?" tanya Matt.
"Begitulah dia kalau sedang marah, dia akan berubah wujud menjadi monster pemusnah mengerikan. Aku heran karena tidak ada kematian lagi." jawab Anthem.
Melihat Brad di serang, di putar-putar, dan di terbangkan kemudian di jatuhkan, hebat sekali jika ia tidak mati.
"Tenaga Lea akan habis, Matt. Dia akan tertidur berhari-hari jika tenaganya habis. Kita har..."
Dor! Dor! Dor!
Lea menggila! Dia menembakkan senapan ke arah Brad, tapi Brad selalu dapat menghindarinya. Dan ini membuat Lea semakin kesal.
Dia melirik kepada Matt dan Anthem, kemudian menerbangkan mereka dan membawa mereka masuk ke dalam mobil bersama Rue.
"Lea, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Matt saat melihat Lea akan kembali ke gudang tua itu.
"Aku akan membuatnya mati hari ini! Apa pun yang terjadi dia harus mati hari ini!" jawab Lea kemudia ia terbang kembali ke dalam gudang tua itu dan menutup pintunya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Matt panik.
"Hades." ucap Anthem tiba-tiba.
Rue dan Matt memandangnya, "Hah? Hades? Penjaga Alam Kegelapan?" tanya Rue.
__ADS_1
Anthem mengangguk, "Brad menjual jiwanya kepada Hades. Dia tidak akan bisa mati karena Hades ada di belakangnya. Sial! Kenapa aku baru sadar!" tukas Anthem.
Matt meronta-ronta seolah terikat dengan tali yang tak terlihat. Usahanya sia-sia, dia tidak dapat bergerak.
"Selama Lea belum tenang, kita tidak dapat bergerak Matt." ujar Rue.
"Harus!" tukas Matt tidak mau menyerah. Dia terus bergerak.
"Lea! LEA! KELUARLAH!" teriaknya dari jendela mobil.
"Darimana kamu tau Hades di belakang Brad?" tanya Rue tenang.
"Di belakang Brad ada sebuah sayap kecil berwarna hitam sepertiku. Aku pikir itu sesuatu yang memang ia miliki di tubuhnya. Ternyata itu sayap kecil. Hanya Hades yang mempunyai sayap kecil dari semua malaikat." jawab Anthem.
Rue mengangguk, "Ya, dia tidak mempunyai sayap dan dia dilarang datang ke tempat Penguasa."
"Aku tidak peduli itu Hades atau siapa, yang jelas aku harus lepas dari ikatan sialan ini! Eerrgghh!" Matt terus berusaha.
"Aku mohon, terbukalah. Aku ingin menyelamatkan Lea." pintanya dalam hati.
Tiba-tiba Castiel muncul dan membawa harapan Matt kepada Penguasa.
Lima menit kemudian,
Tes!
Matt kembali dapat bergerak bebas, "Anthem! Rue! Gerakan tubuh kalian!" usul Matt, "aku berhasil lepas dari ikatan ini!" ucap Matt tersenyum senang.
"Permohonannya di acc oleh Penguasa dalam waktu cepat. Dia beruntung, Penguasa sedang tidak terlalu sibuk." jawab Castiel..
Matt berlari ke arah gudang tua itu dan ia kembali memohon supaya ia di berikan kekuatan untuk menyelamatkan Lea.
Begitu Matt masuk, tampak Lea sedang berada di atas Brad yang meringkuk. Tangan Lea memegang palu besar yang kemungkinan akan di gunakan untuk menghantam kepala Brad.
"Lea! Hentikanlah! Tidak akan ada kematian lagi hari ini." sahut Matt tenang.
Ia berjalan menghampiri Lea dan dengan lembut ia mengambil palu besar dari tangan Kea kemudian membuangnya dengan asal.
Matt mengunci tangan Brad, dan memperlihatkan apa yang tadi dikatakan Anthem. Jelas sekali sayap kecil yang berkepak-kepak lemah di belakang Brad.
"Dia menjual jiwanya kepada Hades. Bodoh sekali kamu, Brad!" ucap Matt sambil memborgol tangan Brad ke sebuah rak besi.
"Darimana kamu tau itu?" tanya Brad.
"Malaikatku." Matt menjawabnya santai.
Setelah selesai memborgol Brad, Matt menghampiri Lea yang masih berwujud menyeramkan. Matt memegang pipi Lea dan menciumnya lembut, "Tenanglah Lea." bisiknya.
Syut!
Lea terjatuh dari pelukan Matt dan menangis, "Huaaa...aku jelek sekali pasti saat aku marah! Aku kesal sekali!" tangisnya.
Matt memeluknya. Tak lama, Anthem dan Rue masuk menyusul mereka. Anthem meminta Hades untuk menampakan wujudnya, "Hades keluarlah." titah Anthem.
Dari dalam tubuh Brad keluarlah sesosok bayangan hitam yang sangat besar, "Anthem." kata sosok itu dengan suara besar.
"Berapa harga yang dia jual untuk jiwanya?" tanya Anthem kepada sosok hitam itu.
"Sangat mahal Anthem. Jiwa yang kamu bawa tadi, seharusnya itu bayaranku. Dan wanita yang mati di dalam sana, manusia itu memberikannya kepadaku. Sayang sekali, kamu lebih cepat menyelamatkan jiwanya. Tapi jiwa manusia ini serta raganya, milikku selamanya. Senang berjumpa denganmu, Laskar Penguasa." sahut sosok hitam itu kemudian ia menghilang membawa Brad bersamanya.
...----------------...
__ADS_1