Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Forget You


__ADS_3

Lea POV


Samar-samar aku mendengar suara Rue bertanya kepada Max, apa yang terjadi denganku? Perlahan aku membuka mataku dan,


"Apa yang terjadi?" Aku bertanya.


"Maafkan aku, harusnya aku lebih bisa mengontrol emosiku di depanmu." Sahut Max memegangi tanganku. Wajahnya tampak pucat.


"Rue, kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan?" Aku bertanya kepada Rue.


Rue mengangguk, dan mengayunkan tongkat ajaibnya. Seketika itu juga kabut turun dari tongkatnya dan memenuhi seluruh isi rumah Max.


"Nelson, jangan lupakan dia." Aku mengingatkan Rue. Dan Rue kembali mengangguk.


Tak lama ia kembali, "Nelson pingsan kurasa. Entah apa yang dilakukan oleh Max kepadanya." Sahut Rue melaporkan.


Tak sampai satu menit, segala kekacauan sudah di rapikan dan rumah Max kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa disini.


"Lea, ikut aku." Perintah Rue.


Aku mengangguk dan mengikutinya.


Ini kedua kalinya aku seperti itu, Rue bilang aku tidak boleh kembali ke bumi. Karena jika sampai hal itu terjadi lagi maka energiku akan terkuras habis.


"Kamu harus belajar menahan emosimu, dan cara satu-satunya adalah kita harus keluar dari sini secepatnya. Aku sudah mengatur hal ini dengan Vivi dan Rose, kamu bisa tinggal bersama mereka." Sahut Rue.


"Lalu bagaimana dengan Max?" Aku mengkhawatirkan Max karena aku mempunyai perasaan tidak nyaman saat dekat dengan Nelson.


"Aku melihat dari bola kristal untuk masa depan, pada akhirnya dia akan bergabung dengan Nelson." Jawab Rue.


"Aku tidak akan membiarkan dia bergabung dengan Nelson, Rue. Aku tidak suka dengan Nelson sejak pertama bertemu, dan lagi dia selalu meremehkanku." Sahutku.


"Dia akan melupakanmu, Lea." Kata Rue, ada nada bersalah dalam suaranya.


"Maksudmu?"


"Max, Nelson, dan Elanor." Jawab Rue singkat.


Bagai disambar kilatan Adra Kadabra aku terdiam mematung sesaat, "Apa maksudmu? Kamu membuat Max melupakanku juga? Kenapa Rue?"


"Karena kamu tidak boleh menyukai dia dan begitu pun sebaliknya, Lea! Kalian sangat berbeda!" Tegas Rue.


"Dan kamu membuatnya melupakan aku seakan aku tidak pernah ada?" Tanyaku sekali lagi kepada Rue. Aku marah sekali kepadanya.


"Aku hanya membuatnya lupa akan perasaan sukanya kepadamu. Maafkan aku." Kata Rue berlutut.


Aku lupa dia pengawal sekaligus penjagaku dan Rue akan selalu memastikan aku baik-baik saja. Aku terhenyak di sofa kecil di dalam ruangan Rue.


Rue bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya, "Sudah saatnya kita pergi dari sini sebelum mereka terbangun." Ajaknya lembut.


Aku menepis tangan Rue, "Aku bisa jalan sendiri!" Sahutku kesal, "aku mau melihat Max sebentar. Tunggu aku di luar aku akan menyusulmu." Perintahku kepada Rue.


Aku menemui Max yang tidak sadarkan diri di lantai, aku mengangkatnya menggunakan tongkatku dan membaringkannya di sofa panjang.


Aku memandangi wajahnya yang di penuhi lebam karena mungkin Max menabrak atau terkena sesuatu. Airmataku turun dan membasahi pipinya.

__ADS_1


Tes...


Tes...


Butiran airmataku berubah menjadi mutiara kecil saat menangis. Tapi siapa peduli dengan itu, perlahan aku mendekatkan wajahku ke arah Max. Aku mendaratkan ciumanku tepat di bibir Max dan aku mengucapkan mantra bahagia untuknya.


***


"Sudahlah Lea, kamu jadi memenuhi tempat ini dengan mutiara! Kalau ada orang jahat lewat kamu akan diculik dan dipaksa untuk terus menangis." Seru Rose.


"Aku sudah tidak mau menangis tapi airmataku terus berjatuhan." Sahutku.


Ternyata rindu itu berat dan sakit, kenapa Rue tidak sekalian memberikan kabut pelupa kepadaku? Waktu dia memberikan mantra untuk menutup hatiku itu tidak berpengaruh untukku atau pun Max. Aku jadi ragu dengan kemampuan dia.


"Apa kamu tau bagaimana ibumu bisa melupakan rasa sakitnya saat di bumi?" Tanya Vivi.


Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak tau. Saat itu ada ayahku disamping ibuku, itu berbeda denganku." Ujarku.


"Apa kamu tau kalau ibumu adalah manusia bumi?" Tanya Rue tiba-tiba.


"Darimana saja kamu Rue?" Tanya Vivi


Rue hanya tersenyum lebar, "Itu urusanku. Sudah saatnya aku memberitahukanmu sesuatu, Lea." Kata Rue.


"Apa itu?" Aku bertanya kepadanya.


"Ibumu adalah manusia bumi. Saat itu ibumu patah hati dengan seorang pria. Aku tidak tau apa ibumu dikhianati atau putus cinta. Yang jelas saat itu ayahmu marah sekali kepada pria itu. Butuh bertahun-tahun untuk ibumu bisa pulih dari rasa sakitnya." Kata Rue menjelaskan.


"Lalu kenapa ibu akhirnya di atas sana?" Aku bertanya kepada Rue. Aku belum pernah mendengar cerita ini sebelumnya baik itu dari ayah atau ibuku.


Aku berpikir, "Apa ceritamu ini dapat di percaya?" Aku sedikit meragukan cerita Rue akan tetapi wajah Rue tampak meyakinkan.


Rue mengangguk mantap. Sekali lagi aku berpikir apakah benar ibuku manusia bumi? Ibu begitu sempurna merapal mantra dan menggunakan tongkat.


"Apa buktinya?" Aku menantang Rue.


"Aku tau dari bola kristal ini, harusnya aku tidak boleh melihatnya tapi aku tidak sengaja melihatnya. Kalau tidak sengaja tidak menyalahi aturan kan?" Kata Rue lagi.


Aku masih menyangsikan cerita Rue, suatu hari aku akan bertanya kepada ibuku tentang masalah itu.


Sudah seminggu lebih sejak aku pergi dari rumah Max dan tinggal bersama teman-temanku. Aku senang karena aku bisa berkumpul kembali bersama mereka, namun aku tetap memikirkan Max. Bagaimana kabar dia, bagaimana tidurnya, bagaimana dia menghabiskan hari-harinya. Aku ingin tau segalanya tentang Max.


Apalagi Rue berkata kepadaku bahwa dia sudah memberikan mantra pelupa kepada Max. Aku khawatir apa dia masih mengenalku nantinya? Mantra pelupa Rue biasanya sangat kuat. Sama seperti mantra tidur, kecuali mungkin mantra untuk menutup hati. Itu gagal!


Suatu hari aku ingin pergi menemui Tom untuk memberikan strawberry kepadanya dan lagi aku sudah lama tidak pergi kesana kan?


Vivi dan Rose menemaniku tapi Rue tidak ikut karena dia harus menjaga toko yang ditinggalkan oleh Vivi dan Rose.


Sesampainya di kedai es krim Tom menyambutku, "Lea, kejutan yang menyenangkan." Katanya memelukku.


Aku memberikan sekotak besar strawberry berukuran jumbo yang sangat manis, "Tom ini buatmu." Kataku.


Tom menerimanya dengan mata berbinar, "Wah, akan kugunakan ini untuk membuat es krim khusus untukmu. Tunggulah disini." Sahutnya.


Aku menengok ke kanan dan kiri untuk mencari Max. Mungkin saja kan dia datang kesini dan duduk di pojokan sana sambil memikirkanku. Tapi sejauh mataku memandang tidak ada penampakan Max disini.

__ADS_1


Jarak kedai es krim ini dengan rumah Max cukup dekat. Ah, aku punya ide.


"Tunggu aku disini, nikmati es krim kalian. Aku mau memberikan ini untuk Max." Sahutku meminta Vivi dan Rose menunggu di tempat Tom.


"Kami menemanimu." Kata mereka.


"Tidak perlu, aku ingin sendirian kesana. Kumohon." Aku membujuk mereka. Dan akhirnya mereka mengangguk.


Dengan riang gembira aku melangkahkan kakiku ke rumah Max, dan sesampainya disana seorang penjaga menghadangku.


Penjaga itu memperhatikanku, "Nona Eleanor silahkan masuk." Sahutnya dengan penuh hormat.


Ada untungnya juga punya wajah pasaran, aku tertawa dalam hati.


Begitu sampai di dalam aku segera ke ruangan Max.


Tok...tok


Aku mengetuk pintunya lebih dulu.


Tok....tok


"Max ini aku, Lea." Aku memanggilnya. Namun, pintu itu tidak kunjung terbuka. Maka aku memberanikan diri untuk membukanya.


Tidak ada orang, sepi sekali.


"Max." Aku memanggilnya.


Apa dia berada di ruangan rahasianya, aku berjalan pelan-pelan dan menggerakan batu ke tigabelas ke arah kanan. Pintu batu itu terbuka dengan suara mendecit lembut.


"Max." Entah kenapa setiap masuk kesini aku selalu berbisik.


Aku mendengar suara...


Suara wanita..


"Max..." Ada suara wanita memanggil nama Max juga. Apa dia mencari Max sama sepertiku? Tapi kenapa suaranya mende*sah?


Desa*hannya makin kencang. Aku takut wanita itu sedang kesakitan. Aku segera menuruni tangga berundak itu, dan yang kulihat Eleanor dan Max sedang melakukan suatu pergulatan dahsyat dengan tangan dan kaki Eleanor diikat di atas ranjang.


"Max!"


Deg


Deg


Deg


Jantungku berdegup kencang sekali, nafasku tercekat dan terselip rasa sakit disana.


"Ma...Max, apa yang kalian lakukan?" Aku bertanya kepadanya.


Max yang hanya memakai celana panjangnya memandangku, "Siapa kamu?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2