
No POV
"Anthem, Rue, siapa pun! Matt! Matt melayang! Aku tidak bisa mendekatinya! Sepertinya energiku dengan energi Matt bertabrakan!" tukas Lea.
Sontak saja, mereka yang berkumpul di ruang tamu segera masuk ke dalam kamar Matt dan melihat segala sesuatu sudah melayang teramasuk Matt.
"Hai guys," sapa Matt dari atap.
Mereka semua memandangi Matt dan berpikir bagaimana menurunkannya dari sana.
"Kita harus mencoba satu per satu untuk membantunya turun karena kekuatan dan energinya belum dapat terkontrol dengan baik," ucap Rue.
Semua mengangguk setuju dengan usul Rue dan mulai mendekati Matt satu per satu, tentu saja selain manusia yang bisa melayang.
Pertama, Rue yang mendekati Matt. Rue merentangkan kedua sayapnya,
Blugh!
Blugh!
Baru saja Rue hendak naik, kekuatan Matt sudah menghalanginya untuk mendekat. Rue terbanting kembali ke bawah dan jatuh terjerembab.
"Wah, Matt! Dia menolakku," ucap Rue meringis kesakitan.
Matt menangkupkan kedua tangannya. "Maafkan aku, Rue. Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku tidak tau apa yang terjadi denganku," katanya sungkan.
Lea sudah tidak mungkin mencobanya karena ia mengalami hal yang sama dengan Rue.
"Aku akan mencoba memanggil ayahku di tempat Penguasa, karena ayah pergi kesana lagi. Bersabarlah Matt," ucap Lea dan bergegas pergi.
Tak beberapa lama kemudian, Raja Wren beserta Lea sudah datang dan segera masuk ke dalam kamar Matt. Raja Wren mencoba mendekati Matt, akan tetapi sama seperti Rue dan Lea, ia terpental jauh saat mencoba mendekati Matt.
__ADS_1
"Tak ada cara lain, kau harus bisa mengontrolnya, Matt," sahut Raja Wren.
"Bagaimana caranya?" tanya Matt putus asa.
"Hanya kamu yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menunggumu bisa turun kembali," jawab Raja Wren.
Matt berpikir bagaimana cara mengontrol kekuatannya dan karena ia tidak mau menyakiti orang lain maka ia meminta semuanya meninggalkan ia sendiri, tak terkecuali Lea.
Setelah semuanya pergi, tinggallah Matt seorang diri. Dia menikmati kekuatan baru yang ada di dalam dirinya kini. Ia mulai mencoba untuk berpindah tempat.
"Hup!"
Matt berpindah dari ujung kanan ke ujung kiri, kemudian ia melayang lagi ke ujung satunya. Ia memusatkan pikirannya untuk dapat mendarat ke bawah.
"Fokus Matt! Jangan merepotkan orang lain!" katanya bermonolog.
Tep!
Splash! Namun, tubuhnya seperti bulu, ia terangkat kembali ke atas.
"Aaahhh, sedikit lagi!" kata Matt kesal.
Ia tidak dapat membayangkan bagaimana kalau ia akan melayang seumur hidupnya.
"Ayo, Matt! Fokuslah!" Matt kembali menyemangati dirinya sendiri.
Matt turun ke bawah,
Tep! Kali ini ia bertaha, tapi tidak lama sampai akhirnya ia terpental kembali ke atas.
Splash!
__ADS_1
"Aaarrgghhh!" teriak Matt frustasi.
Alih-alih mencoba lagi, Matt jalan menurun melalui dinding di kamarnya.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, sampai akhirnya Matt berhasil menjajaki lantai. Dan ia tidak terpental.
Matt tersenyum puas dan merayakan kemenangannya sendiri. "Yes! Akhirnya aku bisa turun," kata Matt, senyum bahagia terpatri di wajahnya.
Ia bersiap memanggil Lea, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Raja Wren berkata ia harus mampu mengontrol kekuatannya jadi dia tidak akan memanggil Lea dan lainnya selama ia belum bisa mengontrol kekuatannya.
Sementara itu,
Di luar kamar Matt, Lea sedang berjalan bolak-balik dari ujung ke ujung sambil sesekali melirik ke arah kamar Matt. "Menurutmu, apakah Matt sanggup mengontrol kekuatannya?" tanya Lea kepada Rue dan Anthem.
Mereka mengangguk. "Tentu saja, dia bukan seseorang yang mudah menyerah. Tenang saja Lea. Aku rasa paling lambat besok malam, Matt sudah berhasil menguasainya," kata Rue.
Lea menghela nafas dengan kasar. "Ya, semoga," jawab Lea berharap.
Alesya mengajak Lea untuk beristirahat di kamar tamu supaya Alesya dapat menemaninya. Atau kalau Lea tidak ingin tidur, ia bisa menjadi teman bicara Lea sepanjang malam.
Lea tadinya menolak tetapi karena dia merasa percuma juga menunggui Matt, maka ia memutuskan untuk ikut bersama Alesya sedangkan Anthem bersama Rue.
Keesokan harinya,
Matt telah di temukan tertidur di lantai, Lea yang menemukannya. Ia berpikir Matt mati tapi begitu dilihat dadanya yang naik turun, Lea menghela nafasnya lega.
"Matt, kamu tidak apa-apa?" tanya Lea sambil memberanikan diri untuk menyentuh Matt.
Namun, tidak ada respon dari Matt. Lea kembali menyentuh tubuh Matt dan kali ini ia menggoyang-goyangkannya. "Matt, kau baik-baik saja?" tanya Lea lagi.
Tak lama, Matt membuka kedua matanya perlahan dan ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Lea. "Aku baik, terima kasih kamu telah mengkhawatirkan aku dan maafkan aku telah membuatmu menunggu lama untuk bisa bersamaku," ucap Matt. Ia menarik ceruk leher Lea dan memagutnya dengan penuh gairah.
__ADS_1
...----------------...