Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Mission : Save Alesya


__ADS_3

Anthem POV


H-1


Malam itu kami sedang menguji nyali Matt yang ternyata tidak setegar Max saat menerima kenyataan. Apakah naluri Matt ada yang tertinggal sampai Max menjadi lemah sekali seperti ini?


"Kenapa kita harus membuat dia ingat tentang masa lalunya?" Tanya Lea.


"Karena aku butuh bantuannya. Jika dia seorang Max dia akan kuat tapi jika dia seorang Matt, aku tidak yakin dia akan berhasil membantuku." Jawabku menatap Matt yang pingsan di depanku.


"Bantuan dalam hal apa?" Tanya Rue.


"Aku ingin dia menjaga Alesya esok hari karena aku akan ke atas untuk meminta Penguasa untuk tidak membawanya dan aku butuh kalian berdua bersamaku." Sahutku lagi.


"Dia harus mengingat kalau dirinya adalah Max!" Ucapku setengah memaksa.


Tak beberapa lama, Matt kembali terbangun dari pingsannya.


"Matt! Hai." Sahutku.


"Ha..hai." Balas Matt.


"Jadi, bagaimana perasaanmu?" Tanyaku.


Lea menatapnya dengan khawatir.


"Ba... baik. Aku baik-baik saja." Jawab Matt.


Kami berempat masih memakai wujud asli kami supaya Matt dapat mengingat kembali. Namun, wajah Matt masih ketakutan dan terpana menatap kami.


"Aku mempunyai mantra yang dapat mengembalikan ingatan tapi tentu saja akan memiliki efek samping." Kata Rue.


"Apa itu?" Aku bertanya.


"Dia akan kembali ke sifat asalnya kalau dia tidak kuat." Jawab Rue.


Aku berpikir sejenak, "Baiklah, kita coba saja."


Rue mengayunkan tongkatnya dan mengarahkan tongkat itu kepada Matt. Tak lama nampaklah kepulan asap berwarna kuning di depanku.


Matt dipenuhi kepulan asap kuning itu, tangannya dikibas-kibaskan ke depan wajahnya, "Uhuk! Uhuk!"


"A...apa ini?" Tanya Matt masih terbatuk-batuk.


Setelah kepulan asap itu menghilang, aku, Lea dan Rue menatap Matt dari dekat. Castiel yang sedari tadi duduk di samping Matt melirik ke arah kami, waspada.


Karena tugasnya melindungi jadi Castiel akan selalu waspada kepada siapapun dan apapun yang mendekati tuannya.


"Max?" Panggil Lea.


Matt memandang Lea, Rue, aku dan kemudian Castiel.


"Apa yang terjadi?" Tanya Matt.


Seakan seseorang baru saja memasukan bola ke dalam gawang. Kami semua bersorak, "Yeeeiiiy! Berhasil!"


"Ada apa?" Tanya Matt.


"Siapa kamu?" Tanyaku mengujinya.

__ADS_1


Matt menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Max!" Jawab Matt.


"Lalu, sebutkan semua yang ada disini!" Perintahku.


Matt merasa dipermainkan, "Untuk apa? Aku tidak mau! Aneh sekali!" Tukas Matt.


"Oh ayolah!" Pintaku berusaha membujuk Matt.


Dengan malas ia menunjuk ke arahku, "Anthem, Lea, Rue, dan kamu? Malaikat credit." Jawab Matt.


Aku memeluk dan mencium pipi Matt, "Kamu telah kembali Max! Kamu telah kembali!" Sahutku kegirangan.


"A...ada apa sih? Lepaskan aku!" Tukas Matt kesal dan mendorongku.


Mau Matt mendorong, mencubit, memukul, aku akan terima semuanya dengan besar hati. Oh, aku senang sekali.


Castiel tiba-tiba mengeluarkan sebuah catatan, "Max, karena kamu sudah mengingatku..."


"Cicilan sayap." Jawab Matt lemas dan mengambil buku catatan hutang Castiel.


Castiel merebutnya dan bersorak, "Sudah lunas! Lea yang melunasinya!" Katanya riang.


Bletak!


"Sudah kukatakan jadikan itu rahasia kita atau kamu wajib mengembalikan uangku dua kali lipat!" Tukas Lea gusar.


"Maafkan aku." Ucap Castiel memegangi pucuk kepalanya yang baru saja di ketuk Lea.


"Baiklah, karena kita sudah berkumpul disini dan Matt juga sudah mengingat segalanya. Maka aku akan mengadakan rapat di.."


Matt mengangkat tangannya, "Mohon maaf para malaikat yang terkasih, karena aku satu-satunya manusia disini dan aku sudah berjanji untuk menjaga tubuh yang sangat kece ini maka ijinkan aku untuk tidur." Sela Matt mengesalkan.


"Tidak bisakah kamu..?" Tanyaku mendesaknya.


"Hei manusia! Pastikan kamu tidur bukan melakukan hal lain yah!" Aku berseru.


Itu sebabnya aku tidak bisa mempercayai manusia begitu saja.


Cih!


"Lalu?" Tanya Rue.


"Ya sudah! Istirahatlah, aku akan menemani Alesya." Sahutku.


Malam itu hampir menjelang pergantian hari, aku menyusuri gelapnya malam dan menembus langit-langit kelam untuk mengunjungi Alesya.


Syuut.


Aku melihat Alesya dari balik jendela rumahnya, dia belum tidur dan tampak sedih. Tatapannya kosong dan raut wajahnya sangat datar.


Ingin sekali aku memeluknya, "Alesya kuatlah." gumamku.


Aku memutuskan untuk menjadi seorang manusia, dan baru saja aku hendak mengetuk pintu rumah Alesya sebuah pesan masuk.


Deg!


Ini yang aku takutkan,


"Alesya Simpson, usia 26 tahun. Penyebab kematiannya adalah overdosis karena menenggak obat tidur dan anti depresan dalam jumlah yang cukup banyak dalam sekali minum sehingga saluran pernafasannya tersumbat oleh obat-obat tersebut." Begitu bunyi pesan itu.

__ADS_1


Hatiku seperti ditusuk-tusuk rasanya. Aku mengepalkan tanganku dan berharap Penguasa akan cepat mendatangkan pagi untukku.


***


Pagi-pagi sekali aku sudah menemui Matt dan Lea, "Max, kita kehabisan waktu." Ujarku.


Lea dan Rue memandangku, "Pukul berapa?" Tanya mereka.


"12.30 siang ini." Aku menjawab dengan cepat.


"Matt, aku minta tolong kepadamu. Aku butu bantuanmu karena hanya kamu yang mampu membantuku." Sahurku cepat


"Minta tolong apa?" Tanya Matt.


"Kamu ingat Alesya? Wanita waitress itu?" Tanyaku. Matt mengangguk.


"Siang ini aku akan membawanya tapi aku tidak mau membawanya karena aku mencintai dia." Jawabku.


"Apa yang bisa kulakukan?" Tanya Matt.


Aku menatap matanya, "Pergilah ke rumahnya. Temui dan temani dia. Anaknya baru saja meninggal dan dia sedang mengalami depresi yang cukup berat. Ajak dia mengobrol, mengeluarkan isi hatinya." Jawabku.


Matt mengangguk memahami perintahku, "Berapa lama waktu yang dia punya? Dan bagaimana denganmu?" Tanya Matt.


"Waktumu kurang lebih enam jam lagi dari sekarang. Aku percayakan kepadamu Matt. Sedangkan aku, Lea dan Rue akan pergi ke Penguasa untuk menggantikan hidup Alesya." Jawabku.


"Lakukan apa pun untuk mencegahnya meminum obat! Apapun itu aku ijinkan." Sambungku lagi.


Matt segera pergi menemui Alesya sementara aku, Lea dan Rue akan menghadap Penguasa.


Sesampainya kami disana, Penguasa seperti biasa sudah menunggu kami.


"Hohoho, Lea lagi dan Anthem lagi." Ucap Penguasa terkekeh.


"Alesya! Kumohon jangan ambil dia." Aku berlutut di depan singgasanaNya.


"Itu kuasaku Anthem. Berjuanglah dan berikanlah alasannya kepadaku kenapa aku tidak boleh mengambilnya?" Tanya Penguasa.


"Karena aku mencintainya." Sahutku.


Tidak terpikirkan alasan lain di kepalaku selain itu. Waktuku sangat sedikit sekali untuk berdebat.


"Hanya itu?" Tanya Penguasa yang selalu dapat mengetahui kebenaran isi hatiku ini.


"Aku ingin menikahinya, membangun sebuah keluarga bersamanya dan memiliki anak seperti manusia pada umumnya." Aku menjawab Penguasa tanpa berpikir


"Berarti kamu ingin menjadi seorang manusia?" Tanya Penguasa.


Deg!


Aku tidak memikirkan hal itu, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau aku menjadi manusia? Aku akan menjadi tua, layu, dan mati.


Namun, ketika aku menjadi malaikat, aku tidak perlu memiliki beban seberat ini.


Sejujurnya aku tidak peduli mau jadi manusia atau malaikat, yang aku inginkan hanyalah aku ingin melihat Alesya tetap hidup dan tersenyum.


"Anthem, jawab aku! Apakah kamu ingin menjadi seorang manusia?" Tanya Penguasa.


"Aku ingin..."

__ADS_1


Aku berpikir sejenak.


...----------------...


__ADS_2