
Max POV
"Jadi, sampai ada rumah kami itu seberapa dekat hubunganmu dengan Lea?" Tanya Brad.
Aku tersenyum sambil mengarahkan senapanku kepada taget yang ada di depanku ini,
Dor!
"Menurutmu?" Tanyaku dan bergaya dengan sombong saat tembakanku tepat mengenai sasaran.
Brad bertepuk tangan, "Wow, kamu seorang maestro ternyata huh?" Ucap Brad.
Aku melihatnya dari balik bilik kaca yang memisahkan kami di arena tembak sambil tersenyum, "Intinya hanya satu, fokus." Jawabku.
"Oke, akan kucoba untuk fokus ke titik yang ingin menjadi target tembakku." Ucap Brad.
Dor!
Tembakan Brad mengenai sisi samping kiri dari papan target, "Lumayanlah. Kalau target itu seorang manusia, kamu menembak lengannya." Ujarku.
Brad melepas penutup telinganya, "Kenapa aku harus menembak manusia jika sudah ada papan target di depanku?" Tanya Brad.
"Karena banyak manusia yang rela saling membunuh hanya untuk memperebutkan hal yang tidak penting bahkan tidak ada harganya." Sahutku, dan mulai mengarahkan senapanku pada sasaran bergerak di depanku.
Dor! Tepat mengenai kepala boneka target.
Brad kembali bertepuk tangan, "Apa benar kamu seorang mafia?" Tanya Brad lagi, penasaran.
Aku melepaskan penutup telinga dan kacamataku kemudian berjalan menuju ruang istirahat untuk mengambil minum, "Bagaimana pendapatmu kalau aku seorang mafia?" Aku membalikkan pertanyaan kepadanya.
Brad menenggak minuman dari botolnya, "Itu keren sekali, Max." Jawabnya.
Aku tertawa, "Aku seorang mafia dulunya, mafia yang hanya memikirkan soal tanah, wilayah kekuasaanku maupun pajak. Aku tidak pernah benar-benar bertobat sampai aku bertemu dengan Lea. Dia membawa terang dan mengubah hidupku." Jawabku.
"Luar biasa. Sedekat itu ternyata hubungan kalian. Lalu sekarang? Kamu ingin kembali? Apa yang terjadi kepadamu dan Lea?" Tanya Brad ingin tahu.
"Ceritanya panjang. Sesuatu yang sangat ajaib terjadi kepadaku." Ucapku, "Lea masih menolak untuk kami bisa kembali seperti dulu." Jawabku lagi menambahkan.
Brad duduk di samping kursiku, "Aku jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu. Matanya sembab dan membawa cup es krim. Ada yang membuatku tertarik dalam diri Lea, maksudku selain karena dia cantik." Sahut Brad.
Deg!
Tembak! Tembak Max! Aku ingin sekali menembaknya saat ini juga!
"Aku tidak sengaja menabraknya, kakaknya marah sekali kepadaku. Mereka menolak untuk ke rumah sakit, hanya meminta pekerjaan kepadaku. Ya sudah kuberikan mereka rumah dan pekerjaan. Mereka tampak baik dan menyenangkan." Sambung Brad lagi.
Ceklek!
Tidak sengaja aku mengokang senapanku, kemudian kuarahkan ke target bergerak yang ada dua meter di depanku.
__ADS_1
Clang!
On point,
Kuletakan kembali senapanku dengan tenang dan menatap Brad yang saat ini terkagum-kagum karena keliahaianku dalam menembak. Dia tidak tau kalau pikiranku saat ini sedang berkecambuk antara ingin menembaknya atau tidak.
"Mereka bukan adik kakak. Lea adalah seorang putri tunggal sedangkan Rue yah seperti penjaga Lea. Wajar kalau dia sangat marah kepadamu saat kamu menabraknya." Sahutku.
Brad mengangguk, "Aku tidak khawatir Max." Katanya tiba-tiba.
"Khawatir tentang apa?" Tanyaku memicingkan kedua mataku.
"Kamu tampan dan kamu cukup dekat dengan Lea, aku tidak khawatir untuk bersaing denganmu. Jadi, ayo kita bersaing secara gentle." Kata Brad, mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya, "Oke. Aku tidak takut dan aku juga tidak khawatir." Jawabku.
***
Malam itu aku sengaja mengunjungi Tom dan kuajak dia ikut bersamaku dengan membawa segala keperluan dan bahan untuk membuat es krim.
"Sa...saya mau dibawa kemana Tuan Max?" Tanya Tom tua ketakutan.
"Mana mungkin aku membunuhmu dengan segala keperluan dan bahan pembuat es krimmu!" Tukasku sedikit geram.
Tom masih tidak yakin dan menolak untuk ikut denganku, "Maaf Tuan Max, tapi saya menolak!" Katanya.
Benar saja Lea ada password, begitu nama Lea disebut wajah Tom berubah menjadi ceria dan matanya berbinar-binar, "Nona Lea? Dimana dia sekarang? Baik Tuan, saya mau bertemu Nona Lea." Jawab Tom pada akhirnya.
Dengan secepat kilat ia menyiapkan segala yang kupinta tadi.
Di dalam perjalanan Tom bersenandung dan tak ada berhentinya berbicara tentang Lea, "Apakah Nona Lea sehat? Apakah dia baik-baik saja? Aku pasti akan menangis nanti saat bertemu dengannya. Lea sudah kuanggap seperti cucuku sendiri." Kata Tom sambil menguntel-untel pakaiannya.
"Dia baik-baik saja, dan dia merindukanmu Tom makanya aku menjemputmu." Sahutku.
Tom menoleh ke arahku dan meringis lebar, "Iya Tuan." Jawab Tom senang.
Sesampainya di rumah Lea, aku membantu Tom untuk membawakan barang-barangnya.
"Tunggulah disini." Pintaku kepada Tom.
Ting...tong
Ting...tong
Tak lama kemudian, Rue membukakan pintu untukku. Dia berkata ada Brad di dalam dan menunjukkan kepadaku dimana rumah Brad.
"Itu rumahnya? Tepat depan rumah ini? Sialan!" Tukasku tak percaya. Pantas saja setahun ini dia dekat dengan Lea karena dia berada dekat sekali.
Cih! Aku kalah start.
__ADS_1
Aku meminta Tom untuk masuk ke dalam, "Ayo kita beri kejutan untuk Lea." Sahutku berbisik.
Rue memimpin jalan kami, dan begitu sampai di ruang tempat Lea dan Brad bekerja, "Lea, lihatlah siapa yang datang?" Tanya Rue
Lea menghampiri kami dan menelisip ke belakang Rue, "Tom!" Sahutnya dan segera memeluk pria tua itu.
"Tom, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu Tom. Syukurlah kamu sehat dan masih hidup." Kata Lea.
"Yang kamu rindukan itu aku atau es krimku?" Tanya Tom berkelakar.
Lea tertawa, "Hahaha... semuanya." Jawab Lea.
"Anak baik." Kata Tom.
Setelah seleaai bercengkrama, Tom membuatkan es krim kesukaan Lea di bantu oleh Rue. Sedangkan Lea? Brad memberinya lem super kuat sehingga Lea tidak berpindah tempat dari sisi Brad.
Prang! Prang!
Satu gelas kristal terjatuh karena tergelincir dari tanganku, "Maaf, aku tidak sengaja." Sahutku sambil melirik ke arah Brad dan Lea yang sama sekali tidak terganggu olehku.
Tom sudah selesai membuat es krim, aku mengambil es krim dari tangan Tom dan memberikannya kepada Lea, "Ini es krim kesukaanmu." Ucapku.
"Terimakasih." Sahutnya tanpa sedikit pun memberikan perhatian kepadaku.
Apa menariknya selembar kertas dan layar sialan yang ada di dalam sana dibandingkan denganku?
"Bersabarlah Max. Ini hal baru untuk Lea dan dia belum paham tentang semua yang ia rasakan saat ini. Yang dia tau hanyalah dia ingin menjadi manusia, dan menjadi kaya sehingga ia punya rumah di bumi." Sahut Rue perlahan.
"Aku sudah kaya. Aku sanggup membelikan dia rumah berapa pun yang ia mau." Tukasku.
"Ini bukan persoalan sanggup atau tidak sanggup. Kami bukan manusia, perasaan kami tidak sekompleks kalian maka dari itu saat ini Lea sedang belajar apa itu cemburu, apa itu cinta, apa itu patah hati atau marah. Yang dia tau hanya senang dan sedih. Senang ya tertawa sedangkan sedih itu menangis." Kata Rue menjelaskan.
Aku memandang Lea, "Tapi, misalkan dia jadi menyukai Brad padahal Lea dulu sangat dekat denganku. Bagaimana itu Rue?" Tanyaku lemas.
Rue tertawa, "Hahaha, itu takdir kalian. Aku tidak bisa ikut campur." Katanya.
Sial! Aku di tertawakan! Baiklah, aku akan berusaha supaya Lea juga melihatku.
Aku mengambil satu buah ceri, kemudian aku lepaskan ujungnya dan kumasukan ke dalam mulut. Aku tau Lea suka sekali buah ceri.
Aku menghampiri Lea, "Lea," Aku memanggilnya.
Lea melihat ke arahku, "Ya Max?" Katanya dengan manis.
"Kamu melupakan ceri di es krimmu." Sahutku.
Dan sebelum Lea melihat ke arah mangkuknya, aku menempelkan bibirku ke bibir Lea kemudian memberikan buah ceri itu langsung ke dalam mulutnya, dan dalam hitungan detik aku menciumnya dengan lembut. Ciuman rasa ceri.
...----------------...
__ADS_1