
Lea POV
Sejak kepergian Leslie tidak hanya Alesya yang tampak murung, tapi malaikat kematian yang biasanya sangat lincah dan tidak mau diam ini juga tampak murung.
Sehingga aku dan Rue memutuskan untuk menghiburnya.
"Anthem! Mana ada malaikat murung? Malaikat itu membawa sukacita lihat saja Castiel." Tukasku. .
Anthem menepis tanganku,"Aku malaikat kematian mana mungkin membawa sukacita kan? Lihat saja bagaimana Alesya sekarang. Tadinya aku ingin mengajaknya menikah tapi kemudian aku mendapat perintah untuk membawa Leslie." Sahut Anthem seakan protes kenapa dia menjadi malaikat kematian.
Ya, aku bisa merasakan aura di sekitar Alesya, bahkan semangatnya yang kemarin sempat meluap sekarang hilang entah kemana.
Dia tidak melakukan apa pun, tidak makan, tidak minum, bahkan dia tidak berani menghadapi dunia.
"Sebentar lagi aku akan membawa dia juga, Lea." Ujar Anthem lemas.
"Kita bisa mencegahnya. Paling tidak kita bisa mencoba untuk melawannya. Apa alasan kematiannya?" Tanyaku
Anthem menggeleng, "Aku tidak tau. Mereka tidak memberitahuku. Aku tidak sanggup membawanya, Lea." Isak Anthem.
Dahsyat sekali cinta itu. Anthem sosok malaikat kematian yang terkuat. Bayangkan saja dia harus menjemput jiwa dari tubuhnya, mengantar dan menunggui jiwa itu sampai bersih di Api Penyucian. Setelah dari sana, Anthem harus mengantar jiwa itu melewati gerbang Penguasa untuk dilakukan penimbangan hal baik dan hal buruk selama hidupnya dan menunggu jiwa itu saat Pengadilan Terakhir.
Ia harus memastikan jiwa itu masuk ke dalam tempat yang telah di sediakan oleh Penguasa.
Namun sekarang Anthem tidak berdaya hanya karena cinta. Aku menemani Anthem dan duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalaku ke pundaknya.
"Kalau kamu butuh teman kamu selalu punya aku dan Rue." Ucapku.
"Terimakasih." Sahut Anthem.
"Sampai kapan kita harus menempel pada jendela ini?" Tanya Rue.
Aku lupa, kami memantau Alesya dari atas jendela rumah Alesya. Tidak mungkin kami bertiga masuk ke dalam rumahnya jadi kami memutuskan untuk tetap memgawasi Alesya dengan terbang.
Akhirnya kami menjauh dari jendela rumah Alesya dan terbang sedikit lebih jauh.
"Apa dia akan baik-baik saja jika kita tinggal?" Tanyaku.
"Biarlah Alesya menjadi urusanku dan jika aku membutuhkan bantuan kalian aku akan segera menghubungi kalian secepatnya." Kata Anthem.
"Berjanjilah kepada kami Anthem." Aku dan Rue mengulurkan tangan kami yang sudah berpendar-pendar merah tanda bahwa janji ini harus di tepati.
Anthem menempelkan tangannya dengan tanga kami dan sinar merah segera memancar keluar.
"Anthem, jangan terpaku pada manusia ka..."
__ADS_1
"Lalu, kamu dengan Max atau Matt di sebutnya apa, Lea?" Tanya Anthem sinis.
Aku tertawa, "Aku pengecualian, hahaha." Jawabku.
Setelah kami meninggalkan Anthem, aku dan Rue kembali ke kantor. Karena hari ini Matt berjanji akan datang untuk mencoba wawancara kerja disini.
"Matt jam berapa?" Tanya Rue.
Aku memberikan tatapan peringatan kepada Rue, "Kita hanya akan melakukan wawancara kerja normal tanpa sihir Rue." Tukasku menegaskan.
"Aku hanya ingin mengetestnya apakah dia benar-benar lupa kepada kita." Jawab Rue.
Aku mengusir Rue keluar supaya aku bisa menyiapkan segala sesuatunya sebenarnya menyiapkan diriku sendiri untuk menyambut Matt.
Aku mengingat kejadian malam itu, saat aku menciumnya. Jujur saja aku tidak berniat menciumnya tapi itu terjadi begitu saja. Jadi, jangan anggap aku wanita murahan karena mencium pria lebih dulu. Itu karena ya begitulah.
***
"Nona Lea, ada tamu." Ucap sekretarisku. Sekretaris Max lebih tepatnya, tapi karena dia tidak ada jadi segala miliknya menjadi milikku.
"Oh, masuk saja. Terimakasih." Balasku.
Tak lama, Matt masuk ke dalam ruanganku dengan membawa sebuah dokumen.
"Selamat siang Nona Lea." Sapa Matt sopan.
Aku mengambil dokumen Matt dan membacanya sepintas, "Namamu adalah Matthew Johnson berusia 27 tahun, dan tempat tinggalmu tidak menetap. Kenapa bisa tidak menetap?" Aku bertanya kepada Matt.
"Aku tidak dapat mengingat masa laluku dan aku belum mempunyai cukup uang untuk membeli sebuah apartemen atau rumah." Jawab Matt.
"Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan? Sehingga kamu tidak dapat mengingat masa lalumu." Tanyaku.
Matt menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu. Namun, saat kamu menciumku malam itu aku merasakan kerinduan yang sangat dalam. Aku merasa bahwa aku mengenalmu sudah sangat lama dan hubungan kita cukup dekat." Jawab Matt.
Deg!
Jantungku seperti akan lepas saat Matt mengingatkan tentang ciuman kami malam itu. Apakah aku harus jujur saja? Dan mengungkapkan segalanya bahwa aku dan dia pernah menikah serta aku akan mengingatkan bahwa dia adalah Max, suamiku yang sangat bodoh.
"Apa yang kamu rasakan dari ciuman itu?" Aku bertanya memberanikan diri karena aku tahu pertanyaan itu sangat memalukan.
Bletak!
Tiba-tiba saja ada suatu benda yang keras jatuh di atas kepalaku. Aku tahu ini pasti pekerjaan Rue.
Aku kembali fokus dan mewawancarai dia dengan normal, "Jadi pernahkah kamu bekerja sebelumnya? Maksudku bekerja di sebuah perusahaan?" Tanyaku
__ADS_1
Matt menggelengkan kepalanya, "Aku belum pernah bekerja kecuali di restoran Alesya." Jawabnya.
"Kalau kamu bekerja denganku bagaimana pekerjaanmu di restoran Alesya?" Tanyaku
"Aku akan mengajukan pengunduran diri karena aku juga termasuk orang baru di sana Anthem yang membawaku dan mengenalkanku kepada Alesya." Jawab Matt.
Aku menganggukan kepalaku dan mulai mengirimkan catatanku kepada Rue.
"Oke, aku akan menghubungimu dalam waktu 3 hari ke depan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang." Sahutku berlagak seperti seorang profesional.
Ah, aku bangga dengan diriku sendiri.
Selepas kepergian Matt, Rue menemuiku dan mengetuk keningku, "Bersikaplah profesional sedikit!" Tukas Rue.
"Sudah. Aku tau aku salah tapi aku segera memperbaikinya kok." Ucapku membela diri.
"Bagaimana Matt?" Tanya Rue.
"Dia oke. Tidak ada salahnya kita menerima dia kan? Biarkan dia bekerja di bagian kecil kita akan lihat bagaiman kinerjanya. Apa dia reinkarnasi dari Max atau hanya seorang Matt." Jawabku.
Ada yang masih harus aku buktikan apakah dia benar Max. Tapi kata-kata bodohnya di malam itu sudah cukup meyakinkanku kalau dia memang reinkarnasi Max.
Brak!
Pintu ruangan kerja kami tiba-tiba menjeblak terbuka, "Aku tau penyebab kematian Alesya!" Tukas Anthem.
Wajahnya pucat pasi, dan tampak sangat ketakutan.
"Apa penyebab kematiannya dan bagaimana kamu mengetahui penyebab kematian Alesya?" Tanyaku.
"Dia memiliki depresi berat dan kematian Leslie membuat depresinya kambuh kembali. Dia akan bunuh diri di hari Kamis minggu ini pukul 04.00 pagi." Jawab Anthem.
"Belum ada notifikasi masuk di notebookku hanya saja tiba-tiba aku mendapat penglihatanku kembali." Anthem melanjutkan jawabannya.
"Berarti Penguasa belum memintamu untuk membawanya kan? " Tanya Rue.
Anthem menggelengkan kepalanya, "Sejauh ini belum. Biasanya dia akan memberitahukanku tujuh atau lima hari sebelum aku membawa jiwa manusia." Jawab Anthem.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanyaku.
Anthem tampak bingung, "Apakah kau aku harus menjadi malaikat atau manusia? Kalau aku menjadi manusia saat genting terjadi Aku tidak akan mampu menolongnya tapi jika aku menjadi seorang malaikat aku akan sanggup melakukan apapun hanya saja dia harus bertahan seorang diri."
"Jadilah dirimu sendiri Anthem, aku dan Rue akan membantumu. Aku akan menemani Alesya, sedangkan Rue dan kamu bisa menjaganya dari atas. Kita bisa bergantian." Usulku.
"Baiklah. Itu usul yang cukup bagus untuk saat ini. Waktu kita hanya tersisa 3 hari." Sahut Anthem.
__ADS_1
Aku dan Rue mengangguk. Apa pun akan kami lakukan untuk merubah garis hidup Alesya dan Anthem. Sama seperti aku dan Max yang berjuang melawan takdir Penguasa.
...----------------...