
Aku duduk di tengah ruangan Rue dengan dikelilingi oleh lilin biru yang cahayanya berpendar-pendar.
"Tarik nafasmu dan hembuskan." Ucap Rue nyaris berbisik.
Aku menurutinya, dan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.
Rue menempelkan tongkat sihir ajaib ke setiap inci tubuh Lea, kemudian, "Lea ikuti aku." Sahutnya.
"Cahaya Lilin Biru..."
"Cahaya Lilin Biru," aku mengulangnya.
"Tutuplah hati Maximilianus untuk Lea." Kata Rue lagi.
"Tutuplah hati Maximilianus untuk Lea." Aku kembali mengulang ucapan Rue.
"Simpan semua rahasia hatinya,"
"Simpan semua rahasia hatinya," Ulangku.
"Buanglah semua gairah cintanya," ucap Rue lagi, dan aku kembali mengulangi ucapan Rue.
"Dan buatlah cintanya pergi menjauh." Lanjut Rue
"Dan buatlah cintanya pergi menjauh." Sahutku mengulanginya.
Setelah selesai, Rue memintaku mengulanginya kembali dengan kata-kata yang sama hanya namanya saja yang diubah sedikit.
"Sekarang tiuplah semua lilin itu." Kata Rue setelah selesai. Aku menurutinya dan meniup semua lilin yang melingkariku.
"Kapan ini akan bekerja?" Tanyaku setelah ritual pembacaan mantera selesai.
"Kamu sudah bisa mengeceknya." Jawab Rue.
Aku menarik nafasku kembali dan menghembuskannya, "Terimakasih Rue." Ucapku kepadanya.
"Lea..." Panggil Rue.
Aku menoleh melihatnya, "Ya, Rue."
"Tidak jadi." Katanya sambil tersenyum lebar.
Aku berdecak pura-pura kesal kepadanya, setelah itu bergegas keluar untuk menemui Max.
"Lea, ikut aku!" Kata Max begitu melihatku. Dia menarik tanganku dengan kasar.
"Ouch, aku bisa jalan sendiri Max. Lepaskan aku!" Sahutku memberontak.
Max tetap menarikku dan memaksaku naik ke dalam mobilnya, "Waktu itu, aku berjanji kepadamu untuk menunjukkan pajak yang aku tarik dilarikan kemana. Aku akan menunjukkannya sekarang." Sahut Max.
Aku menurutinya walau pun dengan perasaan kesal karena cara Max yang seenaknya sendiri itu. Aku sekalian mau mengecek apakah mantra Rue berhasil kepadaku atau kepada Max.
Aku duduk di sampingnya, aku mencoba merasakan apakah ada getaran atau debaran.
1 menit...
2 menit...
Hingga...
5 menit berlalu...
__ADS_1
Tidak ada! Sudah hilang sama sekali! Yeeeiiiyy! Max pun begitu. Rue benar-benar hebat.
Aku menikmati pemandangan dengan hati tenang sekarang. Kanan kiri kami di penuhi oleh orang yang berlalu lalang.
"Dari sini kita akan berjalan kaki. Akan susah di lalui oleh kendaraan beroda empat. Ayo, Lea." Kata Max menawarkan tangannya untukku.
Aku spontan meraih tangan Max. Max menggandengnya sepanjang jalan, "Kamu lihat taman di bundaran itu? Itu hasil dari kalian membayar pajak, aku kembangkan menjadi taman indah itu. Dan apa kamu tau, pasar-pasar di kota ini termasuk pasar modern? Menurutmu itu hasil darimana? Aku mengelola pajak orang-orang dan aku gunakan sebaik mungkin untuk kebaikan mereka. Aku tidak tau kamu mendapat informasi buruk tentangku darimana." Sahut Max.
"Hanya tau saja." Jawabku sekenanya.
Max mengajakku ke sebuah restaurant, "Aku lapar." Katanya.
Aku mengikutinya dari belakang. Otakku tidak berhenti berpikir, siapa yang sebenarnya membohongiku, Eleanor atau Max? Siapa diantara mereka yang bisa kupercayai?
...----------------...
"Rue! Rue!" Panggilku. Rue tampak tertidur di ranjangnya, sulit sekali untuk membangunkannya.
Aku perlahan keluar dari ruangan Rue dan kembali ke kamarku sendiri. Dan ternyata Max juga tertidur. Bagaimana bisa dia tertidur? Pekerjaannya hanya memutari kota, duduk, rebahan dan terkadang jalan sebentar itu pun memakai mobil kesayangannya.
Dia cukup tampan saat tertidur seperti ini. Kenapa Eleanor tidak menyukainya? Kalau aku pasti akan menyukainya.
Hush! Lea! Hempaskan pikiran itu!
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kencang untuk menyadarkanku.
Tapi memang dia tampan. Bagaimana ini?
Selagi aku asik memandanginya Max membuka matanya,
Cup!
Dia mengecup bibirku!
Apa-apaan itu! Aku tidak bisa menjawabnya sama sekali! Hatiku tolong tenanglah, kita tidak bisa terus-terusan begini. Kalau aku mencari cinta, nanti aku akan sakit, walau pun aku belum tau akan sesakit apa tapi aku tidak mau. Kumohon mengertilah hatiku.
Aku berjalan lemas ke ruangan Rue. Rue masih tertidur, aku membaringkan diri di sofa santainya sembari menenangkan hatiku. Begitu Rue bangun nanti, aku akan meminta dia belajar lebih giat lagi karena baru kali ini sihirnya tidak bekerja.
"Eleanor bangunlah!" Aku mendengar suara Max memanggilku. Aku menggeliat, dan merentangkan tangan kakiku.
Aku melihat Max berdiri di depanku sambil melipat tangannya, tunggu! Bukankah aku berada di ruangan Rue? Aku memejamkan mataku kembali. Mungkin saja aku bermimpi kan?
Dan aku benar-benar tertidur kembali sampai aku merasakan ada yang berbisik di telingaku.
"Eleanor.... Eleanor!" Bisiknya.
Aku membuka mataku, dan berbalik.
Max!
"Kamu! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyaku, "bu...bukankah tadi aku berada disana? Mengapa sekarang aku bisa disini bersamamu?" Tanyaku bingung.
"Untuk apa kamu tertidur di ruangan pengawal? Kamu mempunyai ranjang yang empuk disini tapi malah memilih tidur bersama pengawalmu!" Tukasnya.
"Aku hanya menunggunya bangun, karena ada yang ingin kutanyakan. Aku tidak tidur bersamanya! Perlu kamu catat itu!" Sahutku tidak terima.
"Baguslah. Ayo ikut aku!" Seru Max.
"Kemana?" Aku bertanya dengan heran, bagaimana bisa dia mengajakku keluar rumah terus? Ini berbanding terbalik dengan Eleanor yang asli.
"Ikut sajalah!" Katanya dan menarik tanganku.
__ADS_1
...----------------...
"Mana Eleanor yang asli?" Tanya Max tiba-tiba. Ternyata dia mengajakku ke sebuah rumah. Disana sudah berdiri Eleanor, Vivi dan Rose.
Aku melirik ke arah Eleanor yang asli, dan dia memintaku untuk diam. Tak lama, Rue datang dengan dikawal oleh dua orang penjaga. Karena badannya yang tinggi dan kekar.
"Eleanor? Apakah kamu Lea?" Tanya Max kepadaku, aku kembali melihat ke arah Eleanor tapi Eleanor memalingkan wajahnya.
Sudah waktunya untuk jujur, "Aku Lea." Ucapku. Eleanor melihatku dengan kesal.
"Dan ini teman-temanmu yang waktu itu? Bisa-bisanya kalian membodohiku!" Tukas Max. .
"Aku tidak membodohimu, bahkan aku tidak menyebutkan namaku." Sahutku memberanikan diri.
"Apa maksud kalian bertukar posisi seperti ini? Apa rencanamu Eleanor!" Seru Max kepada Eleanor.
"Aku meminta kebebasanku, Max!" Jawab Eleanor.
"Kebebasan?" Tanya Max tidak percaya.
Eleanor memberikan sejumlah uang kepada Max, "Berikan aku kebebasanku! Lepaskan aku! Dan ini bayaran hutang keluargaku!" Tukas Eleanor.
"Aku sudah membebaskanmu, Eleanor!" Sahut Max membela diri, "orangtuamu yang tidak pernah mengijinkanku untuk melepasmu!" Bisik Max kepadanya tapi masih cukup terdengar oleh kami.
"Aku tidak mencintaimu, Max! Bebaskan aku!" Kata Eleanor lagi, namun tiba-tiba saja ia berteriak.
"Aaarrgghhh, apa ini?" Serunya.
Tubuhnya dipenuhi oleh bentol-bentol kecil berwarna merah, dan terasa gatal. Semakin Eleanor menggaruknya, semakin gatal pula tubuhnya.
Dia melihat ke arah Rue tajam, "Ini pasti perbuatan kalian!" Sahutnya lagi.
"Itu karena kamu berbohong. Kamu mencintai dia tapi kamu menyanggahnya." Jawab Rue.
Deg!
Eleanor mencintainya? Lalu kenapa ia menghindari Max? Apa yang terjadi?
...----------------...
Max POV
"Nelson kamu mengangguku! Aku sedang bersama Eleanor dan kamu mengganggu kami." Ujarku.
Nelson terkekeh, "Dia bukan Eleanor. Dia Lea, yang saat itu pernah kamu ceritakan kepadaku." Kata Nelson.
Aku memandangnya darimana dia tau kalau Eleanor bukan Eleanor yang asli, "Bagaimana kamu mengetahuinya?" Tanyaku.
Nelson mengirimiku sebuah video dari kota sebrang di selatan kota ini, "Eleanor tidak akan pernah melepaskan kalung dan liontinnya, Max. Lea tidak memakai perhiasan apa pun. Anak buahmu yang mencurigainya. Karena menurut dia, Nona Eleanor terlalu baik dan ramah. Hal sekecil itu bisa luput dari penglihatanmu Max." Jawab Nelson, nada suaranya sedikit meremehkanku.
"Apa rencana mereka?" Tanyaku.
Nelson tertawa, "Mempermainkanmu mungkin...hehehe." jawabnya terkekeh.
"Yang aku tau Eleanor memintamu untuk melepaskannya, dan ia minta kebebasan." Kata Nelson lagi.
"Orangtuanya tidak menginginkan dia bebas. Aku harus apa? Orangtuanya seperti menyerahkan Eleanor kepadaku." Sahutku.
"Mereka minta kamu menikahinya dan hutang mereka akan dibebaskan. Begitulah perikiraanku Max." Jawab Nelson.
"Aku tidak menyukainya kenapa aku harus menikahinya. Hanya saja aku yang berhutang kepada orangtuanya, bukan mereka yang berhutang kepadaku. Itu yang sesungguhnya terjadi, kan?" Ucapku, dan tiba-tiba saja ingatan burukku menyeruak kembali ke dalam benakku.
__ADS_1
...----------------...