Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Sleep Spell


__ADS_3

Max POV


"Apa maumu?" Tanyaku ketus kepada Eleanor. Bagaimana tidak, dia melarang Lea untuk bertemu denganku bahkan dia mengurung Lea bersama Rue.


"Janjimu, Max." Jawab Eleanor.


"Aku sedang menepati janjiku, kan? Dan ini tidak ada hubungannya dengan Lea jadi biarkan dia bertemu denganku." Sahutku pergi dan bergegas menemui Lea.


Aku mengetuk pintu kamar Rue dan membukanya, "Lea," aku memanggilnya.


Rue membukakan pintu untukku namun setelah itu, dia menutupnya hingga terlihat kepalanya saja yang muncul dari balik pintu, "Max, kata Eleanor Lea dilarang menemuimu jadi demi kebaikan bersama jangan bertemu Lea dulu." Jawab Rue.


"Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja." Aku memaksa Rue untuk mempertemukanku dengan Lea.


Lea muncul dari balik lengan Rue, "Ada apa Max?" Dan entah kenapa dia berbisik.


"Apa kamu baik-baik saja?" Aku bertanya dengan berbisik.


Dia mengangguk, "Tapi aku ingin sekali bermain dan makan es krim bersamamu Max. Aku sedang ingin mencoba es krim rasa mint dan cokelat." Katanya.


Aku menggelengkan kepalaku. Dasar Lea! Di saat aku mengkhawatirkannya dia malah lebih memikirkan bermain dan es krim.


"Bisakah kamu keluar?" Aku bertanya kepadanya.


Rue membukakan pintu sedikit lebih lebar sehingga aku bisa melihat seperempat tubuh Lea, "Kita tidak boleh berteman dulu karena nanti Eleanor akan marah kepadaku. Kalau Eleanor marah padaku, nanti dia tidak akan memberikan pekerjaan kepadaku dan teman-temanku." Sahut Lea.


Aku berusaha mengerti jawabannya, "Apa maksudmu dengan pekerjaan? Memang apa pekerjaanmu disini?" Tanyaku.


"Saat itu dia membayarku untuk menjadi istrimu, tapi kan ternyata kamu sudah mengetahuinya jadi kupikir saat ini Eleanor bisa mencarikanku pekerjaan selain menjadi istrimu." Jawab Lea lagi.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Dia seorang putri dari kerjaan nun jauh disana dan turun ke bumi benar-benar untuk mencari pekerjaan, "Hahaha..., Aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiranmu, Lea. Ayolah, kita makan es krim sebentar." Aku menarik tangannya.


Lea memandang Rue, "Ya sudahlah." Jawab Rue, "tapi sebentar saja yah." Katanya lagi menambahkan.


Aku menggandenga tangan Lea begitu dia keluar. Lea memakai pakaian yang belum pernah aku lihat sebelumnya dan dia benar-benar cantik sekali. Dengan memakai gaun panjang berwarna hijau cerah, rambut dililit ke belakang dan dihiasi ranting serta bunga-bunga kecil diantara lilitan rambutnya.


Sesampainya di kedai es krim, dia benar-benar memesan es krim mint dan cokelat, bahkan dia sudah mengenal dengan baik nama pemilik kedai itu.


"Khusus untukmu aku akan berikan satu scoop es krim coklat chip ini gratis, maksudku tidak perlu bayar." Kata pemilik kedai es krim itu.


Mata Lea membesar dan berbinar ceria, "Benarkah Tom? Kamu baik sekali." Ucap Lea berterimakasih.


Aku tersenyum memandangnya, "Sejak kapan kamu dekat dengannya? Aku yang bertahun-tahun tinggal disini saja tidak tau nama pemilik kedai ini." Sahutku.

__ADS_1


Lea tersenyum manis, "Aku juga tidak tau tapi dia yang bertanya siapa namaku dan dia bertanya apakah aku istrimu dan aku jawab iya." Jawab Lea.


Aku menatapnya, segudang rasa terimakasih aku berikan untuknya karena dia mau mengakuiku sebagai pasangannya, "Terima kasih Lea." Sahutku.


Lea membalasnya dengan senyuman manis. Kami banyak berbincang selama menghabiskan es krim kami, dan aku rasa Lea lebih manis daripada es krim cokelat ini.


"Apakah kamu masih sulit tidur?" Tanya Lea.


"Itu traumaku. Aku pernah mengalami kejadian pahit sewaktu aku kecil. Dan ya cukup mengerikan." Aku menjawab pertanyaannya.


"Apa itu?" Tanya Lea, "apa ini ada hubungannya dengan perjanjianmu bersama Eleanor?" Tanya Lea lagi.


Aku mengangguk, "Benar. Aku ingin menghapus perjanjian itu tapi aku harus mati dulu baru perjanjian itu akan terhapus." Jawabku.


"Kenapa seram sekali?" Tanya Lea.


"Kita harus punya banyak waktu untuk itu." Sahutku.


Tiba-tiba Lea mengeluarkan tongkat kecil berbintangnya, "Apa kamu mau menceritakannya sekarang?" Tanya Lea sudah siap dengan tongkat ajaibnya.


Aku mengambil tongkat itu darinya, "Ti... Tidak perlu hari ini. Akan ada saat yang tepat tanpa kamu harus memakai ini untuk mendengarkan ceritaku." Ucapku dan dengan penuh kehati-hatian aku mengembalikan tongkat itu kepada Lea. Aku lebih takut memegang tongkat Lea daripada revolver. Revolver hanya akan meledak, tapi tongkat bisa melakukan apa pun. Aku bergidik ngeri.


Lea memperhatikanku, "Ada apa dengamu, Max?" Tanyanya kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Segala kerisauanku, ketakutanku, dan segala keresahanku menguap begitu aku melihat senyum serta menggenggam tangannya. Apa itu termasuk kategori cinta? Aku tidak tau tapi aku sangat menikmati perasaan yang aku rasakan inin


Eleanor sudah menunggu kami, "Jadi, darimana saja kalian?" Tanya Eleanor.


Lea melihat ke arahku untuk meminta persetujuan dariku menjawabnya, "Kami tidak dari mana-mana hanya makan es krim disana." Jawab Lea.


Eleanor mengulurkan tangannya ke arahku, "Ajak aku kesana juga dan genggamlah tanganku seperti kamu menggenggam tangan Lea." Pinta Eleanor.


"Itu akan janggal Eleanor. Wajah kalian sangat mirip, akan aneh jika aku kesana lagi." Jawabku.


Eleanor menggeser Lea dan memasukkan lengannya ke dalam lenganku, "Ya sudah kita berjalan-jalan saja." Rengeknya dan menyeretku untuk jalan bersamanya.


Mau tidak mau aku menurutinya. Satu hal yang aku pelajari dari hal ini adalah tidak enak berpoligami karena harus seadil mungkin kepada pasangan-pasanganmu.


***


Malam itu, tidurku kembali gelisah. Hanya ada Eleanor yang tidak terbangun sama sekali. Aku takut sekali dengan malam, aku tidak suka malam. Karena ketika malam datang, aku hanya di temani oleh kesunyian, gelap dan rasa sepi yang mencekam.


Andai Lea bersamaku, aku yakin dia akan terus mengoceh hingga aku tertidur. Ternyata aku tidak hanya menyukainya, aku membutuhkannya. Aku membutuhkan Lea di hidupku. Itu yang selalu aku syukuri karena sejak saat Lea datang, Lea mampu memberikan ketenangan dan kedamaian di hidupku.

__ADS_1


Aku bangkit dari ranjangku, dan aku membuka pintu kamarku. Betapa terkejutnya aku karena Rue sudah menungguku di depan pintu.


Dia meletakkan jarinya di mulutnya dan memintaku untuk mengikutinya.


Rue mengajakku ke ruangannya, disana sudah ada Lea duduk di tengah lilin berwarna putih yang di nyalakan melingkar di sekeliling Lea.


"Apa ini?" Tanyaku tidak mengerti.


"Duduklah di tengah bersama Lea." Pinta Rue.


Lea tersenyum dan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya. Aku masuk dengan agak takut namun Lea menggenggam tanganku dan kami duduk berhadapan di tengah lilin putih yang menari-nari di sekelilingku.


Rue memulai ritual yang aneh ini, dia memintaku untuk mengikuti segala ucapannya.


"Max, ini adalah mantra untuk membantumu tidur dengan nyenyak setiap malam, tapi tidak untuk menghilangkan traumamu. Kamu tetap harus menghadapi traumamu sendiri." Kata Rue.


Aku mengangguk perlahan, "Ba... Baiklah," jawabku.


"Oke, pejamkan matamu dan ikuti setiap kata-kataku."


Aku kembali mengangguk, rasanya bodoh sekali seperti ini. Tapi demi tidur yang berkualitas aku rela melakukan ini.


"Dengan cahaya lilin ini aku tertidur," ucap Rue dan Lea.


Aku mengulanginya, "Dengan cahaya lilin ini aku tertidur,"


"Tersembunyi dari lelahnya hari dan gelapnya malam," ucap Rue lagi


Aku kembali mengulangi kalimat luar biasa itu


"Oh Nyonya bulan, hantarlah aku ke dalam mimpi dan terangi aku dengan sinarmu," kata Rue.


Setiap kalimat yang kuucapkan semakin lama semakin janggal di pendengaranku.


Aku mengulangi ucapan Rue itu,


"Dan ketika cahaya lilin ini menjauh, tutuplah mataku." Ucap Rue.


"Dan ketika cahaya lilin ini menjauh, tutuplah mataku."


"Ijinkan aku terbangun bersama hangatnya sinar mentari." Rue mengucapkan kalimat terakhir dari mantra itu.


"Ijinkan aku terbangun bersama hangatnya sinar mentari." Aku mengulanginya dan tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas dan mataku sangat berat.

__ADS_1


Aku tidak tau aku berada dimana, tapi si Nyonya bulan benar-benar datang dan mengajakku terbang ke awan. Mimpi yang aneh.


...----------------...


__ADS_2