Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
Matt Feeling Blue


__ADS_3

Matt POV


"Hai, Lea. Ini aku," aku menyapa Lea yang sedang mengoceh seorang diri. Entah apa yang sedang di ocehkannya.


Lea dengan cepat beranjak dari posisi berbaringnya. "Matt!"


Aku mendekatinya. Rue sudah meninggalkan kami berdua di ruangan ini. Dan aku juga tidak tau apa yang harus kukatakan kepada Lea, karena aku yakin sekali, apa yang sudah kuperbuat tidak dapat dimaafkan.


"Hai, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapku.


"Sudah seharusnya begitu, kan?" balas Lea.


Aku mengangguk dan memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya. "Aku minta maaf," sahutku lagi.


"Kalau minta maaf semudah itu, tidak akan ada penjara atau neraka, Matt!" tukas Lea.


Aku tau, aku tidak pantas mendapatkan maaf dari Lea. Hanya saja ini yang ingin kuungkapkan kepadanya. Aku tidak minta kembali kepadanya, aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah kulakukan.


"Aku tau, aku tidak mengharapkan untuk kembali kepadamu. Aku hanya ingin memohon maaf kepadamu," ucapku.


Lea menautkan kedua alisnya. "Apa maksudnya kau tidak mengharapkan kembali kepadaku?" tanya Lea.


Apakah aku salah bicara? Aku memang tidak mengharapkan kembali kepada Lea, walaupun aku ingin sekali bersamanya. Saat ini aku hanya ingin meminta maaf dan memeluknya.


"Aku tau aku tidak pantas untuk kembali kepadamu, Lea. Aku, aku... Maafkan aku," ucapku berusaha menata kalimatku supaya Lea tidak salah paham.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Lea kepadaku.


Aku tertunduk. "Aku tersesat sesaat, Lea. Dan aku minta maaf," jawabku.


"Kenapa kamu bisa tersesat? Apa kamu tidak puny kompas? Atau GPS sampai bisa tersesat?" tanya Lea lagi.


Aku menatap mata Lea, matanya belum berubah. Masih aman. "Maksudku tersesat bukan tersesat itu, Lea. Maksudku adalah apa yang kamu lihat tadi malam, itu bukan aku yang sebenarnya," sahutku menjelaskan kepada Lea.


"Aku tau. Tapi itu kamu. Kamu punya pilihan, Matt dan kamu memilih untuk mengikuti Hades. Kamu bisa saja tetap berada di dekatku, tapi, tidak. Kamu memilih bersama Hades dan berbuat mes dengan wanita-wanita berpakaian setengah terbuka itu!" tukas Lea kesal.


Aku paham kalau dia kesal, dan aku tidak melarang dia untuk marah, kalau pun dia mau meledak, silahkan saja. Aku akan menerimanya.


"Aku mabuk," jawabku.


Lea membuang wajahnya dan berdecih kesal. "Cih! Kamu sudah membuat perjanjian dengan Anthem dan Axel bahwa kami tidak mabuk-mabukan memakai tubuh Axel, kenapa kamu lakukan itu?" tuntut Lea.


"Sudah kukatan kepadamu, kan kalau aku tersesat, dan aku minta maaf. Kalau aku bisa meminta maaf kepada Axel pun akan kulakukan, Lea!" kesabaranku semakin tipis mendengar pertanyaan bodoh dari Lea yang semakin lama semakin menyudutkanku.

__ADS_1


Lea menatap tajam ke arahku. "Pergilah," katanya lirih.


Plop!


Lea menghilang.


Aaah! Sialan! Bagaimana bisa aku menjelaskan kepada dia apa yang terjadi jika dia kabur-kaburan seperti itu.


Aku pergi dengan membanting pintu,


Syuut!


"Rusak pintu rumah kami nanti, Matt," ucap Rue yang tiba-tiba turun dan berdiri di depanku.


"Rue," sahutku.


"Aku gagal. Lea pergi meninggalkanku," sahutku lagi.


Rue menepuk-nepuk pundakku dan memintaku untuk masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Ini rumahmu. Kamu bisa kesini kapan saja sebenarnya atau bahkan tinggal disini. Oh iya, sudah makan? Kebetulan aku ingin membuat English Breakfast dengan egg benedict. Kubuatkan sekalian, yah?" ucap Rue.


Tak lama, ia mulai sibuk menyiapkan telur, roti tawar, dan ia membuatkan segelas teh sebagai penyanding sarapan hari itu.


Aku merasa tidak enak karena hanya melihatnya saja dan lagi hatiku masih sangat kesal karena Lea tidak mau mendengarkanku.


Aku menatap Rue tak percaya. Bisa-bisanya dia santai di pagi hari di saat hatiku sedang berantakan.


"Ini salahku, Rue. Ini salahku," ucapku.


"Ya memang ini salahmu. Makanya makanlah dahulu," kata Rue menyodorkan piring itu ke arahku kembali.


Mau tidak mau, aku menggigit roti panggang yang sudah di siapkan oleh Rue, dan aku menusuk sosis gemuk itu kemudian aku masukan ke dalam mulutku.


"Bagaimana? Enak?" tanya Rue, menyesap tehnya dengan santai.


Aku mengangguk.


"Bagaimana dengan hatimu? Lebih ringan?" tanya Rue lagi. Sekarang ia mengunyah beacon sambil menatapku.


Aku terdiam, dan merasakan hatiku. Ya, kenapa tiba-tiba terasa lebih ringan? Apakah ia memasukan beberapa mantra ke dalam piring beacon ini?


"Jadi? Apa maumu?" Rue kembali bertanya.

__ADS_1


Aku menelan beacon itu dan kemudian menjawab pertanyaan Rue. "Aku ingin meminta maaf kepada Lea," jawabku.


"Apa yang kamu harapkan dari hubungan kalian?" Rue terus menanyaiku tentang ini dan itu, seakan-akan dia seorang polisi yang sedang melakukan penyelidikan kepadaku.


"Apakah Lea akan memaafkanku? Jujur saja, pertanyaanmu itu tak bisa kujawab saat ini. Aku mendapat maaf dari Lea saja, aku sudah bersyukur," jawabku.


Rue menganggukan kepalanya. "Lea bukan pemaaf. Dia sulit sekali memaafkan. Jika kamu pernah bersalah dan ia memaafkanmu itu berarti kamu berharga di hidupnya, Matt. Itu satu hal yang harus selalu kamu ingat," ucap Rue.


Aku terdiam, otakku terlempar ke belakang untuk mengingat berapa kali Lea memaafkanku. Ya, dia selalu memaafkanku. Apakah kali ini dia memaafkanku? Aku tidak yakin. Aku menghela nafasku. Ini sulit.


"Jadi, dia tidak akan memaafkanku?" tanyaku.


Rue terdiam. Ia kembali sibuk dengan pisau dan garpu makannya. Untuk ukuran seorang peri penyihir, ia cukup pandai beradaptasi di dunia manusia. Tidak akan ada yang menyangka kalau dia ada seorang peri penyihir.


"Apakah kamu mencintainya, Matt?" tanya Rue.


"Selalu, Rue. Aku selalu mencintainya," jawabku mantap.


"Kenapa kamu bisa berciuman dengan wanita lain jika kamu mencintai Lea? Kenapa kamu tidak bisa setia dengannya? Kenapa kamu menghilang di saat ia mencarimu?" pertanyaan Rue membombardirku dengan cepat.


Namun, entah kenapa aku tidak merasa terintimidasi dengan pertanyaannya. Setiap kali dia bertanya, dia selalu memintaku untuk meminum tehku.


"Karena aku, itu bukan aku. Aku merasa orang lain masuk ke dalam tubuhku dan melakukan apa saja yang ingin ia lakukan," jawabku, berusaha meyakinkan Rue.


"Yakinkanlah Lea, Matt. Jika kau bisa. Kesalahanmu kali ini cukup besar bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana Lea akan memaafkanmu," sahut Rue.


Setelah sarapan, aku kembali ke apartemenku. Dan betapa terkejutnya aku, karena Lea sudah menungguku disana. Kamarku di banjiri oleh mutiara besar dan kecil berwarna putih berkilauan.


"Le...Lea," ucapku gugup.


"Kau tau, Matt berapa lama aku menangis disini sampai mutiaraku berubah bentuk seperti ini, bahkan ada yang gepeng? Itu tandanya kamu sudah membuatku sakit, sakit sekali, Matt," jawab Lea.


Aku bingung harus menjawab apa. Mata biru Lea berubah menjadi seperti kelereng. Dia marah sekali kepadaku saat ini.


"Ikut aku," serunya.


"Kemana?" tanyaku.


Lea sudah mengepakkan sayapnya, dan menarikku terbang ke atas.


"Ikut saja! Aku harus menghilangkan kekesalanku dahulu baru aku bisa bicara denganmu," ucapnya lirih dan dia mengajakku terbang sangat tinggi.


"Waaaaa....Lea!"

__ADS_1


Aku memejamkan mataku, dan kali ini aku memasrahkan diriku hanya saja aku berharap Lea tidak menjatuhkanku di tengah-tengah nanti.


...----------------...


__ADS_2