Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
What Do You Want?


__ADS_3

Lea POV


Nelson sialan ini hanya ingin aku menangis? Baiklah, akan kulakukan. Aku berusaha mengingat saat aku harus dipisahkan dengan Max, saat Max tertembak dan tubuhnya di penuhi darah, dan saat aku mengingat Max bersama Eleanor.


"Hiks ... Hiks.. "


Tes...


Tes ..


Airmataku tumpah dengan cepat, dan butiran mutiara mulai berjatuhan dan menggelinding dengan mulus di lantai.


Nelson tercengang, wajahnya dipenuhi dengan ketamakan dan penuh rasa lapar.


Dipungutnya salah satu mutiara itu kemudian dia meneliti mutiara itu asli atau tidak. Karena tidak mungkin ada seseorang yang mampu mengubah airmatanya menjadi butiran mutiara.


Eleanor yang sedari tadi bersembunyi di depan pintu, maju mendekat dan bergabung bersama Nelson untuk memunguti mutiara. Aku tersenyum dalam hati, manusia yang serakah tidak pantas kalian berlama-lama di bumi.


Aku mengeluarkan airmata sebanyak yang aku bisa. Biasanya kalau seperti ini ayahku akan turun tangan dan bertanya ada apa denganku.


"Lea hentikan tangisanmu! Mereka bisa terkubur di dalam mutiara!" Seru Max.


"Tapi mereka cukup bahagia, Max!" Aku menjawab Max.


Max mendekatiku dengan susah payah, membuka tali pengikat tanganku dan menurunkanku darisana. Max meninggalkan Nelson dan Eleanor yang sedang asik berenang di dalam kolam mutiara.


"Apa kamu tidak lelah terus menangis seperti itu?" Tanya Max lembut dan memberikan gelas berisi air untukku.


Aku menerima gelas itu dan meminumnya, "Terimakasih." Sahutku, "aku sedikit lelah." Menangis itu melelahkan tapi mengapa manusia kebanyakan mengatakan menangis itu kekuatan? Aneh sekali.


"Tidurlah. Aku akan menjagamu." Kata Max.


"Kamu tidak perlu menjagaku, Max. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Sahutku.


"Lea. Namamu Lea? Gadis aneh. Darimana asalmu?" Max bertanya lagi, "dan kenapa aku merasa sangat dekat denganmu, apa kita pernah dekat sebelumnya?"


Aku tersenyum, "Ingatlah aku, Max." Kemudian aku tertidur.


Aku tidak tau berapa lama aku tertidur, namun begitu aku bangun tangan Max sudah menggenggam tanganku. Max benar-benar menjagaku tidur.


Aku membelai rambutnya, kemudian aku merapal satu mantra untuknya. Mantra yang hanya Max yang bisa menerimanya.


Setelah itu aku kembali memejamkan mataku.


"Hei, bangun! Bangunlah!"

__ADS_1


Aku membuka mataku dan melihat siapa yang memanggilku, "Ada apa Eleanor?"


Dengan kasar, Eleanor menyentakkan genggaman tangan Max, "Kenapa kamu tidur bersama dia? Max suamiku!" Tukasnya, "dan jangan memanggilku Eleanor tapi Nyonya Eleanor!" Katanya lagi.


"Untuk apa aku memanggilmu nyonya?" Aku bertanya.


Dan sepertinya Eleanor ini bukan seseorang yang sabar, karena dia berdecak dan membelalakkan mata ke arahku, "Sudahlah. Kembali sana ke ruanganmu. Terimakasih mutiaranya. Apa ada dari bagian tubuhmu yang mengandung berlian?" Seringai Eleanor.


Aku tersenyum, "Bekerjalah untuk mendapatkan sebongkah berlian!" Jawabku.


Aku kembali ke ruangan tadi. Ini bukan ruangan Rue yang biasa Rue pakai. Aku memutari rumah Max, banyak sekali ruangan disini. Aku ingat saat pertama kali kesini, Max pernah bilang jangan masuk ke semua ruangan atau kamar yang tertutup rapat.


Oh, ada satu ruangan yang tertutup rapat. Apa ini? Aku mengeluarkan tongkat kecilku dan membukanya,


Ceklek


Ruangan itu sangat gelap berbeda sekali dengan ruangan Max yang pernah kutinggali. Aku menyalakan penerang di ujung tongkatku.


Deg!


Aku mendekap mulutku sendiri supaya aku tidak berteriak. Ruangan ini di penuhi gambar-gambar menyeramkan. Gambar Max saat melakukan kejahatan, apa ini yang membuatnya bermimpi buruk? Tapi Max bilang mimpi buruk itu karena trauma yang dialaminya saat masih kecil.


Gambar-gambar ini tergantung pada seutas benang, dan semakin dalam gambar itu semakin menakutkan. Apa ini pekerjaan mafia? Ada gambar dimana Max dan beberapa orang temannya menenteng sebuah kepala dan serbuk aneh. Di gambar itu, Max tersenyum puas.


Apa dia gila? Aku tidak habis pikir. Kenapa Max melakukan itu semua?


Aku keluar dengan perlahan supaya tidak menimbulkan suara sedikit pun namun,


Ceklek


Hah?! Pintunya terkunci? Aku mematikan penerangan di ujung tongkatku dan berjalan keluar dengan menabrak dan meraba foto gambar yang bergelantungan.


Bruk.


"Apa yang kamu lakukan disini Lea?"


Max! Itu suara Max!


"A..aku hanya tersesat. Rumahmu ini sangat super duper extra besar sekali jadi wajar saja kalau aku tersesat." Aku menjawab Max sekenanya.


"Apa yang kamu cari?" Tanya Max lagi.


"Kamar mandi." Jawabku singkat.


Karena ruangan ini hanya di penuhi gambar yang menggantung, jadi bisa dibilang kamar ini sempit sehingga aku bisa merasakan alunan nafas Max di hadapanku.

__ADS_1


Max mendengus, "Huh, kamar mandi arahnya bukan disini tapi disana. Apa kamu sengaja mencari -cari sisi kelamku?" Tanya Max. Suaranya nyaris seperti bisikan di telingaku.


"Sudah kubilang, aku tersesat. Sudahlah, biarkan aku keluar!" Seruku dan menerobos tubuh Max. Tapi Max menangkapku.


"Kalau kamu sudah melihat ini enaknya bagaimana yah? Aku harus berbuat apa denganmu agar kamu tutup mulut dan tidak menceritakan ini kepada siapapun. Sepertinya kamu bukan gadis lemah yang takut akan ancaman. Aku menyebutmu gadis pemberani." Kata Max, suaranya terdengar sangat dekat. Karena kamar ini gelap sekali, aku tidak tau dimana posisiku berdiri. Yang jelas saat ini Max mencengkram kedua bahuku.


"Aku berjanji akan tutup mulut. Dan sekarang keluarkan aku dari sini!" Pintaku.


Max tidak melepaskanku, dia terus mendorongku hingga ada sebuah meja atau apa itu menabrakku dan membentur pinggangku. Aku meringis kesakitan, "Ouch."


"Max! Keluarkan aku! Kalau kamu membunuhku disini, Tom akan curiga kepadamu karena ini tempat terakhir yang kukunjungi dan pasti polisi akan mencari dimana mayatku." Ancamku kepada Max.


Max tertawa, "Hahaha, Lea...Lea. Seharusnya aku yang mengancammu bukan kamu yang mengancamku." Katanya.


"Ya sudah maka itu ijinkan aku keluar. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi disini. Ayolah Max!" Pintaku. Dan aku mulai mendesaknya.


Max mendekatkan tubuhnya lagi ke arahku dan mendaratkan bibirnya di bibirku.


Aku memejamkan mataku dan membalas ciumannya. Tak lama Max melepaskan ciumannya, "Sekarang aku tau bagaimana menghentikanmu." Kata Max berbisik. Kemudian Max menciumku lagi lebih dalam. Ciuman kami semakin lama dan menuntut. Max menaikanku ke atas sesuatu dan membaringkanku disana, ia melepaskan ciumannya sebentar, "Kamu membuatku melakukan apa, Lea?" Tanya Max.


Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak melakukan apa pum terhadapmu, Max." Jawabku.


Aku mendengar Max tertawa kecil dan meletakkan kepalanya di dahiku, "Tidak mungkin. Karena aku ingin selalu berada di dekatmu, apa yang telah kamu lakukan?"


"Aku tidak melakukan apa pun, Max. Ayo kita keluar!" Seruku.


Max kembali mengecup bibirku, "Aku tidak bisa jauh darimu, Lea. Apa yang terjadi denganku? Kamu bisa merubah airmatamu menjadi mutiara, bukan tidak mungkin kalau kamu merubahku untuk menyukaimu bukan? Siapa kamu sebenarnya Lea?" Tanya Max panjang.


Mantraku berhasil!


Aku mendekatkan wajahku ke telinga Max, "Aku Lea bukan siapa-siapa. Hanya Lea." Bisikku kemudian dengan santai aku menyalakan kembali penerangan di ujung tongkatku dan mencari pintu keluar.


***


"Biarkan keajaiban datang ke dalam ruangan ini dan bekerja diantara kami,"


"Sembuhkan luka di hati kami,"


"Perbaharui janji kami,"


"Bentangkanlah kembali segala ingatannya tentang kami,"


"Dan terbitkanlah kembali cinta di hati kami,"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2