Mafia And The Princess Of Wands

Mafia And The Princess Of Wands
In The Darkness


__ADS_3

Lea POV


Ceklek!


Suara berurutan itu mulai membuatku takut, tapi aku harus tetap tenang.


"Hunter, apa kamu tidak mau mencoba kue buatanku?" Aku mencoba mengalihkan suasana panas ini.


Max memberiku isyarat untuk segera pergi dari sana tapi aku bergeming.


"Hentikan Hunter! Letakkan senjatamu!" Tukasku tajam kepada Hunter.


Hunter menatapku karena perubahan suara dan sikapku yang sangat tiba-tiba.


Max juga menatap ke arahku, dan ia menurunkan senjatanya.


Aku berbisik kepada Anthem ketika dia melayang rendah di atasku, "Berapa nama?" Tanyaku.


"Lima." Jawab Anthem sambil lalu.


Ia kembali terbang melayang ke atap kemudian berputar-putar, sambil terus mengepakkan sayapnya.


Melihat Max menurunkan senjatanya, Hunter memberikan tanda kepada anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka.


Aku menarik nafas lega, "Makanlah!" Tukasku tegas kepada mereka.


Aku mencari Rue dan ternyata dia menungguku di belakang, "Aku tau kamu akan memintaku untuk melindungi Max bukan? Lalu bagaimana denganmu? Mantra perlindungan ini tidak bisa melindungi kalian berdua." Kata Rue.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri." Aku menjawab Rue.


"Setipis itu? Aku tidak tau kemarin kamu darimana tapi itu benar-benar menguras tenagamu Lea." Ucap Rue.


"Tidak masalah denganku." Sahutku.


Aku melihat Rue melapisi Max dengan mantra perlindungannya, dan aku sangat menghargai itu.


Anthem melayang rendah dan mendarat di samping Rue, aku bisa mendengar Rue berkata sebentar lagi dia akan membawa tiga orang terlebih dahulu.


Aku menghampiri Max dan Hunter dan berpikir bagaimana membubarkan mereka?


"Hunter, jika urusanmu sudah selesai silahkan tinggalkan kami." Ujarku.


Hunter memiringkan kepalanya sambil tersenyum mengerikan, "Aku? Selesai? Ini saja belum dimulai, Nona." Kata Hunter.


"Apa kamu tau Nona, laki-laki yang kamu lindungi ini telah membunuh keluargaku. Puluhan tahun aku harus hidup seorang diri di saat anak-anak lain di penuhi oleh kehangatan orangtua mereka, aku harus bertahan hidup demi mendapatkan kesempatan ini." Sambung Hunter lagi.


Tatapan mata laparnya tidak membuatku gentar sedikit pun.


"Begitu pula dengan suamiku, Max. Salah satu keluargamu telah membunuh orangtua Max. Kesalahan terbesar Max adalah balas dendam dengan membunuh seluruh keluargamu. Dan ini akan menjadi lingkaran setan yang tidak akan pernah berhenti. Maka itu kali ini aku mohon, maafkan suamiku dan kita bisa menjadi satu keluarga, bagaimana Hunter?" Tanyaku berusaha menyelesaikan misi perdamaian ini.


Anthem kembali terbang rendah dan ia menggelengkan kepala kepadaku tanda bahwa ucapanku tak berarti. Aku bersikeras, tidak ada salahnya mencoba.


"Maaf? Aku tidak pernah menerima kata maaf. Tidak ada kata maaf dalam hidupku, Nona. Jika aku menerima permintaan maaf aku tidak akan ada disini, aku akan memberikan khotbahku di gereja dengan memakai kasula." Jawab Hunter.


*Kasula : jubah yang dipakai oleh Pastor atau Romo saat memimpin upacara keagamaan atau misa di gereja.


"Apa yang kamu lakukan kalau Max sudah mati?" Aku nekat bertanya kepada Hunter.


Hunter menyeringai lebar dan seram, ia menatapku tajam, "Sudah kukatakan tadi, targetku bukan Max. Tapi kamulah targetku, Nona cantik."

__ADS_1


Hunter perlahan mendekatiku, dua anak buah Hunter dengan cepat menahan tangan Max.


Max berusaha melepaskan diri, "Jangan dekati dia! Jika tangan kotormu menyentuhnya aku tidak akan segan membunuhmu!" Tukas Max.


Aku berhadapan dengan Hunter, dia menyentuh wajahku dengan jari-jarinya yang terasa kasar di wajahku. Aku memalingkan wajahku untuk menghindari sentuhannya.


"Aku mendapatkan informasi dari Si Tua Nelson kalau airmatamu sangat berharga Nona." Bisik Hunter.


"Hentikan Hunter brengsek! Hadapi aku!" Max berseru, ia terus memberontak dari dua orang yang menahan tangannya.


Satu orang yang menahan tangannya menggunakan senapan yang diarahkan ke kepala Max,


Ceklek!


Senapan itu sudah dalam kondisi siap menembak, "Berhenti bergerak atau kamu mati!" Katanya.


Max terdiam dan menuruti perintah penahannya.


Aku melirik ke arah Max dan sedikit bernafas lega.


"Apa maumu?" Tanyaku memberanikan diri kepada Hunter.


Hunter kembali menyeringai, "Menangislah Nona Cantik!" Perintah Hunter.


"Hanya itukah yang kamu mau? Setelah aku menangis apakah kamu akan melepaskan Max?" Tanyaku.


Anak buah Hunter memberikan sebuah kotak kosong yang sangat besar, "Penuhi kotak ini! Jika ini penuh, maka aku akan membebaskan kalian dan tidak akan mengusik kalian lagi. Sanggup?" Tanya Hunter.


Rue berjalan mendekatiku dan menampar Hunter,


Plak!


Dor!


Anak buah Max menembakkan senapannya ke langit-langit rumah Max kemudian mengarahkan senapan itu kepada Max, "Mundurlah! Jangan ikut campur!" Serunya.


Rue mundur karena melihatku yang ketakutan, ia mengangkat kedua tangannya dan menjauh, "Baik, aku mundur!" Tukas Rue.


Aku menarik nafas lega, "Aku akan menangis. Berjanjilah untuk menepati janjimu, Hunter." Sahutku meminta janjinya.


Hunter tersenyum lebar, "Aku berjanji Nona Cantik." Katanya.


Aku bisa melihat tiga orang pria menatapku khawatir, salah satu di antaranya Anthem. Tubuhku sedang dalam kondisi yang sangat lemah dan saat ini aku harus mengeluarkan mutiara-mutiaraku dengan cara menangis yang mana hal ini juga akan menguras energiku.


Aku membayangkan semua peristiwa sedih yang sudah terjadi, dan yang akan terjadi.


Tuk...tuk.


Tuk..tuk


Perlahan airmataku berubah menjadi butiran mutiara yang berjatuhan ke dalam kotak itu.


Hunter bertepuk tangan dan bersorak kegirangan, "Wowh! Kukira Nelson gila karena usia tuanya ternyata ucapannya bukan isapan jempol belaka. Penuhi kotak itu dengan mutiaramu, Nona! Kalau bisa cepatlah! Hahahaha!" Sahut Hunter berpuas diri.


Butiran airmata mulai memenuhi kotak besar itu, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menangis.


Rue dan Max sadar akan hal itu, "Lea hentikan!" Tukas Max.


Max menyikut perut anak buah Hunter dan menahan tangannya kemudian ia mengambil alih senapannya.

__ADS_1


"Max hentikan!" Aku berseru.


Dor!


Suara senapan memecah telingaku, Max menembak anak buah Hunter yang menahannya tadi.


Aku bisa melihat perlindungan Rue terhadap Max bekerja sangat sempurna karena satu peluru yang di arahkan kepada Max terpental dan berbalik arah.


Dua orang telah mati dan dibawa oleh Anthem. Siapakah satu lagi? Aku? Max? Atau Hunter?


Hunter berpindah ke belakangku dan mengarahkan senapannya kepadaku, "Hentikan Max atau istri luar biasamu ini akan mati!" Katanya.


Max menjatuhkan senapannya, "Lepaskan dia!" Ucap Max.


Hunter mendengus, "Menangislah! Lanjutkan mutiaramu! Jangan berhenti sebelum kotakku penuh! Aku tidak akan membunuhmu jika kotak itu penuh!" Kata Hunter.


Masih tersisa setengah kotak tapi sepertinya airmataku sudah habis begitu pula dengan mutiaranya.


Aku memaksakan diri untuk menangis, mutiaraku mengecil tidak sebesar biasanya.


"Lea! Hentikan!" Tukas Rue.


Rue menghampiriku dan merebut kotak mutiara itu, "Kamu ingin ini penuh? Begitukah? Aku yang akan memenuhinya." Kata Rue lagi.


Dengan ayunan tongkatnya, Rue sanggup mengeluarkan mutiara-mutiara yang dengan segera memenuhi kotak itu.


Hunter kegirangan. Seringai serakah terpatri di wajahnya, ia memberikan kotak besar kosong lagi dari anak buahnya, "Penuhi ini!" Katanya tertawa.


Max menarikku mendekat ke arahnya sementara perhatian Hunter teralihkan oleh Rue.


"Pergilah Lea. Bawa Max keluar dari sini! Pergilah yang jauh aku akan mengalihkan perhatian si brengsek ini! Cepatlah!" Rue mengirimkan telepati kepadaku.


Baru saja kami akan keluar, Anthem menghadang kami.


"Tersisa satu nyawa, ini harus di genapi. Begitu perintahNya." Kata Anthem


Aku tidak tau harus apa, tapi Max menarikku untuk pergi. Salah satu anak buah Hunter berteriak, "Bos, mereka kabur!" Serunya.


"Tembak mereka! Hahaha. Kita akan kaya! Tembak saja keduanya, aku sudah tidak butuh wanita itu lagi! Hahaha!" Aku mendengar Hunter berseru dari dalam.


Kejadiannya begitu cepat,


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Aku terjatuh lemas, dengan cepat darah mengalir dari tubuhku. Aku merasa kehangatan meninggalkanku. Perlahan-lahan kesadaranku pergi dariku, aku berusaha mencari Max. Aku melihat Max terjatuh di sampingku dan mencoba meraih tanganku.


Aku menggapai tangan Max, namun segalanya berubah menjadi gelap. Kegelapan yang sangat mengerikan.


"Max hiduplah. Bertahanlah Max." Aku mencoba menguatkan Max, tapi kegelapan segera menelanku.


Di tengah kegelapan Anthem menghampiriku, "Sudah siap pergi, Lea?" Tanya Anthem.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2