
Lea POV
Max telah memberikan kepadaku segala sesuatu yang kuinginkan termasuk pesta ulang tahun. Entah bagaimana caranya tapi ia berhasil segenap penghuni langit untuk turun ke bumi hanya untuk berpesta.
Membujuk ayahku juga bukan pekerjaan yang mudah. Ayahku sulit sekali di taklukan namun Max berhasil membuat ayah menikmati pesta ulang tahun kemarin.
Aku tau waktunya semakin dekat aku bisa merasakan itu. Ditambah lagi ada beberapa orang yang akhir-akhir ini sering sekali mengintai rumah kami.
Aku sudah merapalkan mantra perlindungan dan Rue pun menambahkannya. Mereka tidak bisa melihat kami walau pun kami lewat di depannya. Mereka hanya bisa melihat rumah kami saja.
Max belum kuberitahukan tentang hal ini. Sebisa mungkin aku akan menjaganya. Aku tidak mau dia malah pergi menjauh dariku. Aku mau dia tetap di sampingku dan menghadapi ini bersama-sama.
"Lea, ada apa dengan jendela itu? Kenapa kamu memperhatikan jendela itu daritadi?" Tanya Max.
"Ah, aku berpikir ini kotor dan berdebu sekali." Jawabku berbohong, aku mengibaskan tongkatku dan debu segera menghilang dari pinggiran jendela itu.
Aku tidak mungkin menjawab ada dua orang berpakaian hitam sedang mengintai di rumah kami, kan?
"Max, sewaktu kamu masih bersama Nelson dulu apakah kalian mempunyai banyak musuh? Ataukah ada yang dendam kepadamu atas kematian Nelson?" Tanyaku.
Max menghampiriku dan merangkul pinggangku, "Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu takut mereka akan datang?" Max balik bertanya.
Aku menggeleng, "Aku tidak takut dengan itu. Aku hanya takut kehilanganmu Max." Jawabku jujur.
Max menarikku ke dalam pelukannya dan aku merebahkan kepalaku di pundaknya, "Kita tidak akan berpisah. Aku akan menjamin itu. Percayalah kepadaku." Kata Max, "dan aku tau apa yang sedari tadi kamu perhatikan. Aku juga tau dan sering melihat mereka." Sambungnya.
"Benarkah Max? Jujur saja, aku takut. Aku tidak takut mati tapi aku lebih takut kehilanganmu." Ucapku memperat pelukanku.
Max menghelas nafas panjang, dan aku tau dia sedang memikirkan hal yang sama denganku. Andai jalan kami bisa dirubah.
Aku ada ide!
Keesokan harinya aku ijin tidak masuk kerja kepada Brad, dan aku meminta Rue untuk mengerjakan semua pekerjaanku.
Saat aku terlalu banyak melakukan protes, ayahku selalu berkata, "Kalau mau protes, bicaralah langsung dengan Penguasa!" Begitu kata ayahku. Dan sekarang aku akan lakukan itu!
"Ayshill!" Sahutku berseru memanggil sayapku.
Wush!
Seketika itu juga mereka terbang menghampiriku dan segera mengangkatku ke atas.
Aku melewati gerbang keeemasan tempatku dan naik lagi tinggi lagi ke atas awan.
__ADS_1
Dan tiba di gerbang tinggi berwarna putih, disini lebih banyak awan. Begitu aku mendarat dua orang malaikat menjaga gerbang tinggi putih itu.
"Aku tau kamu bukan manusia, jadi apa keperluanmu?" Tanya malaikat itu.
"Aku ingin bertemu Sang Penguasa." Ucapku.
Malaikat itu tinggi dan besar dengan sayap yang sangat lebar. Jika dibandingkan, aku adalah seekor kupu-kupu dan mereka adalah pterodactyl.
"Untuk apa? Dia sedang sibuk meloloskan permintaan manusia." Jawab malaikat yang satu lagi.
"Apa aku tidak bisa meminta waktunya sebentar saja?" Tanyaku memberanikan diri.
Kedua malaikat itu saling berbisik, dan mereka masuk ke dalam. Tak lama mereka keluar dan menghampiriku, "Masuklah." Mereka membuka gerbang putih itu dan menyuruhku masuk.
Sekumpulan awan menyingkir begitu mereka terkena kakiku, dan salah satu awan melekat di atas kakiku sehingga aku tidak perlu melangkah karena awan kecil itu mengantarku.
Jalan masuk dari gerbang ke tempat singgana Penguasa cukup jauh, tempat itu di penuhi oleh pilar-pilar tinggi dan besar berwarna emas. Dan Penguasa berada di dalam bangunan berpilar besar itu.
Begitu mendekati tempat Penguasa, timbangan besar bergerak naik dan turun di depanku. Mengerikan sekali. Aku tau ini arahnya kemana. Dan ratusan orang tampak mengantri disana. Ada tiga orang malaikat yang sedang bertugas, salah satunya membawa catatan. Dua lainnya berdiri di sisi kiri dan kanan.
Kedua malaikat penjaga pintu gerbang iu hanya mengantarku sampai pintu masuk dekat timbangan. Sisanya aku harus berjalan sendirian. Aku takut tapi tidak mungkin aku kembali kan?
Aku menaiki tangga berundak untuk bisa sampai ke atas. Di atas sini mulai banyak di temui malaikat. Mereka menyapaku karena mereka tau Anthem dan Penguasa adalah teman ayahku.
Aku tersenyum, "Tidak aku hanya mampir sebentar kesini dan kebetulan ingin bertemu dengan yang punya tempat ini. Apa Dia sibuk?" Tanyaku mendekat.
"Sama seperti biasa kan? Ini bukan hari Minggu juga pastilah sibuk. Tapi masuk saja, siapa tau kamu beruntung bisa bertemu denganNya." Ucap Malaikat itu.
Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepadanya.
Aku sudah sampai di pintu yang sangat tinggi dan besar, bahkan untuk mengetuknya saja aku harus terbang sedikit. Malaikat itu tinggi dan besar jadi mereka tidak perlu sepertiku saat ingin bertemu dengan Penguasa disini.
Dok...dok.
Pintu terbuka sendiri, dan suara Penguasa menyambutku.
"Halo Lea." SapaNya.
"Halo." Balasku.
"Duduklah." SahutNya mempersilahkanku untuk duduk di kursi yang sangat tinggi dan besar. Sekali lagi aku harus terbang sedikit untuk mencapai kursi itu.
"Apa yang membawamu kesini Lea?" Tanya Penguasa.
__ADS_1
"Aku yakin Anda sudah membaca hati dan pikiranku. " Jawabku segera.
Penguasa tertawa, "Hahaha... Baiklah Aku sudah mengetahuinya. Lalu? Kalau Aku katakan tidak bisa? Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Penguasa.
Aku menatapNya. Hanya Dia harapanku saat ini, "Kalau tidak bisa, aku menawarkan negosiasi. Tukarlah dengan nyawaku." Ucapku.
Penguasa tertegun, "Kamu belum abadi Lea. Kamu akan mati seperti manusia." Jawab Penguasa.
Hatiku sudah sangat sesak mengetahui Max akan mati dalam waktu dekat, "Aku tidak peduli asalkan Max tetap hidup." Sahutku.
Penguasa tampak memikirkan ucapanku, "Kamu tidak memikirkan ayah ibumu?" TanyaNya lagi.
"Apa Max harus mati? Dan apakah Anda memikirkanku saat membuat keputusan itu?" Tanyaku.
Aku sengaja membuatNya marah supaya Ia tidak mengambil Max.
"Apa yang membuatmu sangat mencintainya?" Tanya Penguasa.
"Apakah ada alasan untuk mencintai? Apakah aku perlu mencari jawaban kenapa aku mencintainya?" Tantangku.
Penguasa tertawa lagi, "Hahaha. Benar-benar putri seorang Wren. Jadi? Kamu ingin menukarnya dengan alasan kamu mencintainya? Walau pun kamu akan beresiko akan mati juga dan karena kamu belum abadi maka segala perbuatanmu akan di perhitungkan juga. Sanggupkah Lea?" Tanya Penguasa.
Aku rasa Dia ingin menguji cinta dan keseriusanku. Aku mengangguk mantap.
"Baiklah." KataNya.
"Dan tolong rahasiakan ini dari ayah dan ibuku." Pintaku.
"Itu salah satu dari kesalahan juga, Lea." Kata Penguasa lagi.
"Tidak jadi masalah buatku. Jadi, apakah kita sepakat?" Tanyaku.
Penguasa mengangkat bahuNya dan tertawa, "Hahaha...pulanglah Lea. Sampaikan salamku pada Wren dan Edwina." UcapNya.
"Aku akan memegang kesepakatan kita karena aku percaya padaMu." Sahutku.
Penguasa mengangguk-angguk, "Terimakasih atas kepercayaanmu Lea. Tapi, kehandakKu lah yang terjadi bukan kehendakmu." JawabNya tersenyum.
Aku tau tidak akan bisa. Aku terbang dengan lunglai dan aku merasa sayapku ini berat sekali. Airmataku dengan cepat menetes dan butiran mutiara berjatuhan.
Di tengah jalan aku bertenu dengan Anthem, "Maafkan aku Lea, ini sudah waktunya aku turun dan menyertai Max atau pun kamu." Katanya.
Aku mengangguk, "Ya, aku tau." Jawabku. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengikuti kehendakNya tapi apapun yang terjadi nanti aku akan membuat Max tetap hidup.
__ADS_1
...----------------...