
No POV
"Bisa tidak kalian berpisah sedikit?" tanya Rue kesal. Akhir-akhir ini ia menganggap Lea dan Matt seperti sepasang magnet berkutub utara dan selatan yang tidak dapat di pisahkan.
Lea melepaskan pagutan bibirnya dari Matt. "Tidak! Ini rumahku, bebas dong aku mau berbuat apa saja. Lagipula dalam beberapa hari lagi, Matt sudah akan di lantik menjadi raja, tugasnya akan bertambah banyak, Rue. Maka itu biarkanlah kami!" jawab Lea, ia memainkan suaranya dengan sangat baik sehingga yang mendengar jawabannya pun ikut serta merasakan apa yang ia rasakan.
Rue hampir saja melupakan pelantikan itu, karena semua susunan hierarki akan di reshuffle oleh Raja Wren. Rue akan di tempatkan sebagai wakil Raja nantinya, karena tugas Matt di bumi tidak dapat ia tinggalkan.
Selama Matt ke bumi nanti, Rue lah yang akan menggantikan tugas kerajaan Matt.
"Pelantikan itu. Aku pun ingin menghindarinya tapi tidak bisa, kan? Lagipula selama ribuan tahun, ayahmu tidak pernah minta di gantikan, kenapa sekarang ia melantik Matt dan aku sekaligus?" tanya Rue berkeluh kesah. Jujur saja ia belum siap untuk pelantikan itu.
"Ayahku ingin istirahat, ia ingin menikmati masa-masa tuanya. Setelah itu ia akan mengurus anakku katanya. Kalau untuk itu tentu saja kularang, Matt," jawab Lea, dan Matt menatapnya tajam saat Lea berniat menyerahkan kepengurusan anak mereka kepada Raja Wren.
Rue duduk di antara mereka, dan meluruskan kakinya ke atas meja kecil berkaki yang akan siap berpindah kemana pun ia dibutuhkan.
"Kapan kalian akan membuat anak?" tanya Rue santai.
"Apakah Anthem sudah?" Matt balik bertanya.
Rue mengangguk. "Ya, mereka bergerak cepat. Luar biasa Anthem itu. Aku akan mengunjunginya sore nanti," kata Rue.
"Bagaimana kami bisa membuat anak jika kami terus memikirkan pelantikan itu dan kau selalu mengganggu kalo, Rue!" ucap Lea gusar.
Rue tergelak. "Aku bosan. Aku kehilangan Anthem dan itu membuat hidupku kosong. Hades tidak seasyik Anthem," jawab Rue.
Anthem lebih banyak menghabiskan waktu di bumi sekarang-sekarang ini, karena pekerjaannya dan ia ingin menikmati perannya sebagai manusia.
"Bermainlah bersamaku sambil mengawasi pekerjaan Aiden, apakah dia menaati perintahku atau hanya sekedar bermain-main," ucap Matt.
Ia ingin Aiden tetap berada di bawah jangkauannya sekaligus untuk mencari tau, apakah ia mengerjakan pekerjaannya atau bermain-main.
"Kamu memerintahku namanya, Matt dan itu bukan bermain. Cih!" tukas Rue berdecih dan bergegas pergi meninggalkan pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
Lea kembali mendekatkan dirinya ke samping Matt. "Kenapa dia marah?"
"Dia terlalu lama sendiri," jawab Matt santai, tanpa menunggu lama, Matt sudah mengulum kembali bibir Lea dan mereka masuk ke dalam gairah yang tidak ada batasnya.
***
"Biarkan saja mereka, Rue. Mereka belum sempat berbulan madu kemarin-kemarin itu karena padatnya jadwal mereka, kan? Biarkan saja," ucap Ratu Edwina saat Rue ingin membangunkan Lea dan Matt untuk sarapan keesokan harinya.
__ADS_1
Rue mengangguk dan membungkukkan badannya dengan hormat kepada sang Ratu. "Baik, Ratu. Jam berapa pelantikan Matt nanti?" tanya Rue.
"Kita akan menunggu Matt, dan untukmu, santai saja Rue. Tidak perlu terlalu resmi begitu. Kamu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Nikmati waktumu," kata Ratu Edwina geli melihat tingkah serta air muka Rue yang gugup.
Sementara itu di kamar Matt, terjadi peperangan dahsyat antara Matt dengan Lea. Ranjang mereka sudah tidak berbentuk sama sekali, sama seperti ketika zodiak Cancer dan Scorpio bertemu, ranjang mereka tidak akan pernah rapi. Begitulah kondisi ranjang Matt dan Lea saat ini.
Suara lenguhan, erangan, dan dessahan memenuhi ruangan besar tersebut.
"Wow, Lea. Luar biasa sekali, aku tidak merasakan lelah sama sekali. Aku bisa melakukan ini sepanjang hari tanpa berhenti," ucap Matt dengan suara terbata-bata.
Tangan Matt masih sibuk bermain dengan dua buah bola kembar yang berada di depannya.
Lea melenguh kembali ketika tangan Matt bermain disana. "Kita bisa melakukan ini selama-lamanya, Matt. Kalau kamu masih menjadi manusia, kamu akan mati dalam kenikmatan," jawab Lea.
Tangan Lea juga tidak diam saja, ia terus mempermainkan tongkat kebesaran milik Matt yang tidak pernah membuatnya bosan.
Matt memagut bibir Lea. "Tapi kita harus berhenti, sebentar lagi acara pelantikan. Oh, dimana ayah dan ibumu? Kenapa mereka tidak menghentikan kita?" tanya Matt, yang kini menindih tubuh Lea yang kecil namun gesit itu.
"Mana kutau. Aku tidak peduli mereka dimana, kita tuntaskan yang satu ini. Oh, bergeraklah Matt, kau menyiksaku jika kau diam saja," keluh Lea
Bruk!
Tak lama kemudian, akhirnya pintu kamar mereka di ketuk oleh salah seorang penjaga. Beruntunglah karena Matt dan Lea sudah menghentikan pergelutan seru mereka untuk sementara.
"Iya, aku kesana," ucap Lea.
Baru saja ia akan memakai gaun kerajaan, Matt dengan sigap merangkul pinggang belakang Lea dan memasukan ciuman panasnya ke leher Lea.
Lea terkesiap, tetapi ia mengalungkan tangannya ke kepala Matt dan memintanya untuk tidak berhenti. Matt pun paham dengan maksud Lea. Ia membalikan tubuh Lea dan berhadapan dengannya.
Tangan Matt kemudian menurun ke leher Lea dan terus menurun sampai ke bukit indah milik Lea, tak puas bermain dengan tangan, kini Matt tengah asik menikmatinya menggunakan bibir dan lidahnya yang lincah.
Permainan panas mereka harus terhenti ketika, pintu kamar kembali di ketuk.
"Lea, apakah masih lama. Yang lain sudah menunggu," suara itu suara Ratu.
"Tidak ibu, aku hanya tinggal merapikan rambutku setelah itu kami keluar," jawab Lea membuka pintunya sedikit.
Ratu Edwina tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Bergegaslah, Sayang," kata Ratu Edwina lagi.
Setelah beberapa menit, Lea dan Matt keluar menuju tempat pelantikan. Benar saja, seluruh penghuni langit menyambut Matt dan Lea.
__ADS_1
Rue sudah menunggu mereka bersama Raja dan Ratu. Ia menangkap tatapan mata bersalah Lea saat mereka bertatapan.
Tampak Anthem dengan sayap hitamnya yang mungkin ia sewa dari Castiel serta Alesya yang terlihat cantik dengan gaun berwarna keemasan. Lea melambaikan tangannya kepada mereka.
Hingga sampailah mereka ke singgasana Raja dan Ratu. Raja Wren merangkul Matt. "Hari ini adalah hari yang kunanti-nantikan. Aku akan melantik putraku untuk menggantikan tugas kepemimpinanku. Banyak yang bertanya mengapa aku turun tahta? Karena aku sudah terlalu lama duduk di singgasana itu, dan kerajaan ini butuh perombakan serta suasana baru. Bukan begitu? Hohoho," sahut Raja Wren dengan suara besarnya.
"Maka dari itu, hari ini aku Wrensius Frenzo akan menyerahkan jabatanku kepada Matthew Johnson dan mulai hari ini, segala kepemimpinan akan kualihkan kepadanya," sambung Raja Wren sembari menepuk tongkat kebesarannya di pundak kanan dan kiri Matt, serta memberikan tongkat itu kepada Matt.
Beberapa peri bunga memakaikan mahkota di kepala Matt dan mengalungkan Matt dengan bunga-bunga berwarna cerah. Suasana pelantikan itu sangat sunyi karena ada dua orang yang akan di lantik.
Raja Wren kemudian berpaling kepada Rue, ia melakukan hal yang sama kepada Rue dan menyihir tongkat kebesarannya menjadi dua, setelah itu ia memberikan tongkat itu kepada Rue.
Kali ini Matt yang memberikan mandat kepada Rue. Ia menggunakan pedang berlapis perak yang berkilauan dan menggenggamnya bersama Rue. "Rue Laurensius, dengan perjanjian ini maka aku akan memberikan mandat kepadamu seandainya aku memiliki tanggung jawab lain yang tidak dapat kutinggalkan,"
Darah segar mengalir dari telapak tangan Matt dan Rue dan mengaliri pedang perak itu. Setiap tetes darah yang mengalir dari ujung pedang membuat pedang itu bersinar kemerahan tanda bahwa janji mereka sudah diikat dan tidak dapat di langgar. Jika salah satu dari mereka melanggarnya, maka pedang itu akan membunuh si pelanggar perjanjian.
Setelah mereka saling mengucapkan janji, muncullah tujuh warna pelangi yang di semburkan dari Air Terjun Pelangi di dekat Lembah Pelangi.
"Dengan ini, semua penghuni langit diwajibkan untuk menaati semua tata tertib yang di buat oleh dua raja baru ini serta menghormati Raja Matt dan Raja Rue bersama dengan Ratu Lea. Hidup Raja Matt!" seru Raja Wren dengan lantang.
Segenap kerajaan langit pun bersorak mengagungkan nama Matt. "Hidup Raja Matt! Hidup Raja Matt!"
"Hidup Raja Rue!" kembali suara Raja Wren menggema.
"Hidup Raja Rue!" ulang seluruh penghuni langit.
Setelah acara pelantikan selesai, mereka pun berpesta menyambut datangnya Raja dan Ratu Kerajaan Awan. Dekorasi kerajaan pun telah di ganti menjadi segala sesuatu yang disukai oleh Matt, Lea, serta Rue.
Ucapan selamat terus berdatangan untuk mereka bertiga.
"Hei, mau meneruskan yang tadi?" bisik Matt kepada Lea.
Lea memandang suaminya dengan terkejut. "Bagaimana bisa? Kita sedang berada di tengah-tengah pesta," ucapnya.
"Tentu saja bisa. Ini termasuk tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan. Lagipula Rue selalu berada di sisi ayahmu, kita bisa menyelinap pergi. Ayolah," bujuk Matt sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lea melihat ke sekelilingnya, apakah tidak apa-apa jika ia meninggalkan pesta ini? Sampai akhirnya ia tersenyum nakal dan mengecup bibir Matt. "Kita lakukan disini saja, bisa sekalian mengawasi jika ada seseorang yang mencari kita. Bagaimana?" tanya Lea, kemudian ia menarik tongkat berbintangnya dan membuat singgasana mereka menjadi tak terlihat.
"Oh, ini akan nikmat sekali, Matt," dessahnya.
...----------------...
__ADS_1