
Max POV
Hari itu aku bertekad untuk membuktikan apakah yang tinggal bersamaku itu Lea atau Eleanor. Mereka seperti anak kembar. Wajah mereka sama, cara bicara mereka sama, bahkan suaranya pun sama. Yang membedakan hanyalah Eleanor lebih dewasa, sedangkan Lea masih agak kekanak-anakan.
"Eleanor! Eleanor!" Seruku pagi itu memanggilnya. Sejak Eleanor berada disini, setiap pagi dia suka menghilang entah kemana.
Seorang anak buahku berlari menghampiriku, "Nona Eleanor sedang di depan, tuan." Jawabnya.
"Depan mana?" Tanyaku.
Kemudian ia menunjukkan kepadaku, Eleanor sedang bernyanyi sambil menyiram tanaman, tidak dengan penyiram elektrik tapi memakai watering can, dan bahkan ia mengajak bicara bunga-bunga disana satu per satu.
Aku seperti menonton film putri-putri kerajaan. Aku mendekatinya dan berdeham, "Ehem. Kamu sedang apa?" Tanyaku.
"Aku sedang menyiram tanaman. Apa kamu tidak bisa melihatnya?" Eleanor balik bertanya.
"Maksudku, ada penyiram tanaman otomatis kenapa harus pakai watering can?" Tanyaku.
Eleanor melihat alat penyiram tanaman otomati di bawah kami dan hanya memandanginya saja dengan tatapan meremehkan, "Aku lebih suka ini." Sahutnya.
"Tapi tidak biasanya kamu seperti ini. Kamu tidak biasa bangun pagi, karena kamu alergi dingin." Ucapku memandangnya.
Aku tidak melihat keraguan sedikit pun di matanya, "Mungkin karena aku terbawa oleh paman dan bibiku saat aku mengunjungi mereka kemarin." Jawabnya santai.
Kemudian ia meletakkan watering can disisi taman dan masuk ke dalam.
Ini bukan Eleanor, dia Lea. Pikirku dalam hati.
"Max, apa rencanamu hari ini?" Tanyanya.
"Kenapa? Apa kamu ingin pergi bermain lagi?" Tanyaku.
Dia menggeleng, "Tidak. Aku hanya bertanya." Jawabnya, "Max." Panggilnya lagi.
Dalam hal ini Eleanor dan Lea sama. Aku menjadi ragu kembali.
"Hmmm." Jawabku lagi.
"Bisakah kapan-kapan aku melihat apa yang ada di balik dinding batu itu?" Tanyanya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya itu, tapi aku akan mengajaknya. Aku menekan batu ke tigabelas dan menggerakannya ke kanan,
Drrrrtttt!
Dinding batu itu terbuka, "Masuklah." Aku mengajaknya masuk.
__ADS_1
Eleanor masuk dengan berjingkat-jingkat seolah-olah akan membangunkan sesuatu atau mengganggu sesuatu.
Kami menuruni tangga berundak yang berputar, "Waahh!" Serunya, "Apakah ini semua bukumu?" Tanyanya takjub.
Aku tersenyum, "Tentu saja. Apa yang selama ini kamu pikirkan tentang ruangan ini?" Aku bertanya kepadanya. Aku pikir dia akan takut atau sungkan untuk menjawab pertanyaanku itu, tapi ternyata tidak.
"Aku berpikir kamu menyembunyikan tawanan disini." Katanya santai.
Aku tertawa, "Hahahaha! Kamu pikir aku apa?" Tanyaku.
"Mafia kan? Mafia itu biasanya jahat, arogan, dan seenaknya sendiri. Apalagi aku mendengar orang mengeluhkan pajak yang terlalu tinggi, belum lagi wilayah kekuasaan yang ingin kamu rebut." Sahutnya.
Aku tidak tau dia mendengar berita itu darimana, tapi dia cukup berani mengungkapkannya. Aku semakin yakin dia bukan Eleanor. Eleanor yang aku kenal tidak seberani dia.
"Apa kamu tau fungsi pajak? Sore nanti aku akan mengajakmu berkeliling kota, untuk melihat pajak itu di gunakan untuk apa saja." Jawabku.
"Dan mengenai perluasan wilayah, apa salahnya dengan itu?" Tanyaku sedikit menantangnya.
"Memang itu tidak salah, tapi yang kamu ambil adalah wilayah milik orang lain dan kalian memperebutkannya. Itu tidak baik. Kenapa kamu tidak mengembangkan wilayah yang sudah kamu miliki?" Jawabnya.
"Apa kamu pikir manusia tidak mencari keuntungan? Kamu terlalu naif jika tidak memikirkan itu." Sahutku lagi berusaha mendebatnya.
"Boleh saja mencari keuntungan tapi tidak dengan cara yang seenaknya sendiri." Jawab Eleanor lagi.
Wanita ini benar-benar keras kepala sekali.
"Berhentilah merebut wilayah kekuasaan orang lain! Dan nikmati saja hidup tanpa harus mengusik orang lain. Satu lagi, jangan pernah menggandakan piutangmu!" Jawabnya ketus.
"Piutang? Aku tidak pernah melakukan itu." Sahutku.
"Benarkah? Lalu kenapa aku bisa ada disini? Aku ingat sekali orangtuaku berhutang kepadamu dan mereka tidak bisa membayarnya jadi aku yang dijadikan alat untuk membayarmu." Katanya.
Aku yakin dia bukan Eleanor.
"Bagaimana kamu bisa lupa?" Tanyaku, aku berniat masuk kedalam permainannya, "Memang orangtuamu punya hutang kepadaku, dan mereka memberikamu kepadaku sebagai jaminan hutang mereka. Tapi satu hal yang kamu lupakan, kamu menawarkan dirimu sendiri untuk menjadi jaminan keluargamu, sampai akhirnya keluargamu menyetujuinya." Jawabku. Aku membeberkan kebenaran kepadanya. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksinya.
"Karena aku menyayangi mereka. Aku tidak mau mereka susah." Sahutnya.
Wajahnya datar tanpa ekspresi aku bahkan tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya padahal matanya sedari tadi menatapku dengan tajam. Menarik.
"Benarkah? Kenapa kamu lebih memilih pergi ke paman dan bibimu bukannya menjenguk mereka?" Tanyaku mendekatinya.
"Karena disini paling dekat ke rumah paman dan bibiku dibanding ke rumah orangtuaku." Sahutnya lagi, dia mundur perlahan.
"Oh yah? Sampai ke kota sebrang? Bukankah paman dan bibimu berada di kota ini? Orangtuamu berada di utara. Dan oke memang itu jauh dari sini. Tapi apa yang kamu lakukan di kota sebrang?" Tanyaku mendesaknya.
__ADS_1
Eleanor semakin terpojok dan dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi, "Aku bertemu dengan temanku di kota sebrang, ada masalah dengan itu? Dan apa salahnya jika aku mengunjungi teman atau kerabatku?" Jawabnya.
Luar biasa sekali wanita ini, tidak ada rasa gugup setiap menjawab pertanyaanku bahkan dia sanggup menatap mataku.
Dia masih memandangku, entah sihir apa yang ia berikan kepadaku tapi setiap kali berada di dekatnya aku tidak bisa mengalihkan pikiranku selain memikirkannya. Eleanor menyeruak masuk begitu saja ke dalam pikiranku dan menguasai hampir seluruh wilayah di hidupku.
Aku mendekatkan wajahku ke arahnya, dan menyatukan bibirku dengan bibirnya. Eleanor membalas ciumanku. Aku menciumnya dengan lembut dan dalam. Sulit sekali untuk melepaskan ini kalau Nelson brengsek tidak menggangguku.
...----------------...
Lea POV
Aku berlari keluar dari ruangan dinding batu Max. Jantungku berdegup kencang, aku memeganginya. Aku takut jantungku melompat keluar dan menggelinding ke bawah sana lagi.
"Apa yang kamu lakukan Lea!" Tukasku dalam hati. Aku benci diriku sendiri yang selalu menyerah ke dalam pesona Max.
Aku mengetuk ruangan Rue, "Rue, biarkan aku masuk!" Seruku.
Rue membukakan pintu untukku. Dia menuntunku untuk duduk dan memberikanku segelas air.
"Minumlah. Apa yang terjadi?" Tanya Rue.
"Berikan aku mantra yang paling kuat yang ada di muka bumi ini. Aku ingin melupakan Max." Pintaku kepada Rue.
Rue menatapku, "Apa maksudmu?" Tanyanya lagi.
Aku menceritakannya kepada Rue tentang segalanya, tentang ciuman pertama kami, ciuman kedua hingga ciuman ketiga kami, tentang debaran jantungku, dan semuanya tidak ada yang terlewat.
"Apa menurutmu itu cinta seperti kata Vivi?" Tanya Rue.
Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak tau. Cinta itu indah kata mama, bukan berdebar-debar seperti ini. Dan lagi aku mencari uang bukan mencari cinta!" Sahutku.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Rue, penjelasan Eleanor dengan Max sangat berbeda." Aku menceritakan kecurigaan Eleanor dan kenyataan yang diberikan oleh Max kepada Rue.
"Apakah Eleanor berbohong kepada kita, Rue?" Tanyaku.
"Aku telah memantrainya. Kita akan segera tau jika Eleanor berbohong." Jawab Rue santai.
"Apa yang akan terjadi kepadanya?" Tanyaku penasaran.
"Kamu akan tau nanti." Jawab Rue singkat.
Aku masih berpikir, "Rue, tapi untuk apa Eleanor berbohong kepada kita?" Tanyaku lagi.
Rue mengangkat bahunya. Aku hanya berharap, Eleanor memperlakukan Vivi dan Rose dengan baik. Kalau tidak, dia akan berhadapan denganku.
__ADS_1
...----------------...