
No POV
Anthem menghela nafasnya. "Apakah novel ini sudah mau tamat, karena peran kami sedikit sekali akhir-akhir ini?" tanya Anthem.
Rue yang sedang seekor kepiting berwarna hitam legam mengangkat bahunya. "Entahlah, hanya penulis itu yang tau, kan?" kata Rue.
"Benar katamu. Lalu, kepiting jelek ini mau kita apakan? Asam manis? Sup?" tanya Anthem sadis.
Rue mengangkat kepiting itu. "Kecil begini, mana enak di asam manis. Lea memintaku untuk menyatukan dia bersama para duyung," jawab Rue.
"Ide bagus. Akan kutemani. Aku tidak mau menemani Matt, biarlah ia mendapat ganjaran dari apa yang telah ia lakukan," kata Anthem.
Rue mengangguk setuju. "Dengan kata lain, kita cari aman. Hehehe," sahut Rue terkekeh.
"Benar sekali," jawab Anthem menanggapi.
Mereka berdua pun terbang menuju Kerajaan Awan dan menyatukan Hades yang telah berubah menjadi seekor kepiting dengan para duyung.
Sementara itu, kita kembali kepada Lea.
Setelah selesai dengan Hades, ia menepuk-nepukan kedua tangannya, seakan Hades berdebu sekali. Kemudian, ia merendahkan terbangnya dan mendarat. Ia kembali mencari Matt, kali ini tidak sulit mencari Matt karena ia sudah mengingat jalannya.
Matt tidak ada disana lagi! Dimana Matt? Lea menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari Matt. Namun, tetap ia tidak dapat menemukan Matt.
Apakah mungkin Matt ke kamar kecil? Lea berjalan menuju kamar kecil dan menjeblakkan pintu-pintu kamar kecil itu sampai semua terbuka dan menampakan siapa yang berada di dalamnya.
Matt tidak ada disana! Lea terpaksa harus menyisir kerumunan untuk mencari Matt! Ia memicingkan matanya dan membuang pandangannya ke kiri sehingga menyebabkan kerumunan di tengan berpindah ke kiri, begitu pula sebaliknya.
Itu dia!
Matt sedang asik berciuman dengan seorang wanita di meja bar! Lea menahan amarahnya. Ia mendekati Matt. "Hai Matt," sapanya.
Matt terhuyung saat Lea tiba-tiba ada di depannya. "Uwo. Lea," sahut Matt. Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya.
Lea mengibaskan tangannya untuk mengusir bau alkohol tersebut. Dia tidak bisa berbicara dengan Matt jika Matt seperti ini.
Matt menawar gelas kecil berisi minuman kepada Lea. "Minumlah, sepertinya kamu haus," kata Matt.
Lea meminumnya dalam sekali tenggak. Minuman itu terasa membakar tenggorokannya. "Aaaarrgghh!" ucapnya.
__ADS_1
Matt tersenyum dan kembali menambahkan minuman ke dalam gelas Lea. Dengan cepat Lea menenggak minuman itu.
Dan sekarang, dua makhluk hidup yang mabuk tengah berdansa di atas lantai dansa menikmati dentuman musik yang keras malam itu.
"Matt, kenapa kamu malah mengajakku berdansa?" tanya Lea.
Matt menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau. Yang aku tau kamu ingin marah kepadaku," jawab Matt.
Lea melompat-lompat kesal. "Matt bodoh! Kalau aku marah, harusnya kamu dengarkan, kan? Bukan mengajakku berdansa!" tukas Lea.
"Karena aku tidak mau kamu menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis, Lea," jawab Matt lagi.
Kali ini Matt berhenti berdansa. Ia berdiri di tengah lantai dansa menatap Lea. Sepanjang percakapan mereka tadi berteriak-teriak untuk mengimbangi suara musik yang berdentum-dentum kencang.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan aku, Lea? Aku sudah pergi terlalu jauh dan aku terhasut Hades. Aku tau, rasanya tidak tau malu sekali jika aku meminta maaf darimu," kata Matt.
Lea mengeluarkan tongkat berbintangnya dan ia menghentikan waktu dengan satu kali kibasan tongkat. Saat ini, di seluruh alam semesta ini hanya dia dan Matt yang memiliki waktu.
"Musik sudah berhenti, waktu pun sanggup aku hentikan, Matt. Tidak ada yang tidak bisa kulakukan. Itulah kesombonganku. Tapi ternyata, ada satu hal yang tidak bisa aku lakukan, aku tidak bisa memilikimu baik itu dulu atau pun saat ini, Matt," ucap Lea.
Matt menggelengkan kepalanya. "Jangan berkata seperti itu, Lea. Aku yang tidak pantas bersanding denganmu, maka dari itu,-"
Setelah itu, dia keluar dan meninggalkan hingar bingar tempat itu. Ia tidak tau apa yang mau ia dengar.
Matt mengejarnya, "Lea! Lea!"
Namun sayangnya, Lea sudah menghilang dari pandangan Matt sama seperti kabut yang hanya lewat dan menyapanya setelah itu ia menghilang.
***
"Kenapa kamu kabur, bodoh?" tanya Anthem kesal.
Pagi itu, Lea mengunjungi Anthem dan menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Matt malam itu.
"Aku takut! Aku takut! Aku takut! Aku tidak siap sakit, Anthem. Ah, bagaimana ini?" tanya Lea menutupi wajahnya.
"Apa sih yang kamu takutkan? Kalau dia menolak, kamu bisa mencari yang lain, kan?" tanya Anthem.
Lea menatap Anthem tajam. "Aku pikir ketika kamu sudah menikah, kamu akan de asa ternyata aku salah! Huh! Kamu belum paham tentang cinta, Anthem! Kasihan sekali Alesya," ucap Lea pedas.
__ADS_1
Anthem hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar Lea marah-marah.
"Temui dia lagi dan tanyakan padanya mau dibawa kemana hubungan kalian. Ayo, kamu mampu mengalahkan Hades dengan gagah berani, artinya kamu harus berani juga menghadapi jawaban Matt nanti," usul Anthem
Lea memegangi dadanya dengan dramatis. "Lalu hatiku? Bagaimana kalau dia terluka? Aku melindungi hatiku," kata Lea.
"Hatimu akan tetap berada di tempatnya dan menjalankan fungsinya sebagai hati sampai kamu mati nanti. Tenang saja," jawab Anthem enteng.
Lea memberikan decakan dahsyatnya kepada Anthem. "Ck! Malaikat apa itu! Tidak ada belas kasih sama sekali!" tukas Lea.
"Kalau aku punya belas kasih aku tidak akan menjadi Malaikat Kematian, Lea. Aku akan menjadi Malaikat Cinta seperti si cupid itu. Kecil, bersayap kecil, dan berwarna pink! Tidak keren! Kamu saja yang belum pernah mendengar keluh kesahnya! Apa enaknya jadi Malaikat Cinta?" ujar Anthem tak kalah kesal.
Lea sudah membentangkan sayapnya. "Anthem, aku pergi,"
"Hei, Lea! Lakukanlah dengan berani. Semakin lama kamu menundanya semakin sakit kau dibuatnya," pesan Anthem sebelum Lea pergi.
Lea mengacungkan ibu jarinya kepada Anthem. "Thanks," jawab Lea.
Ia mendatangi apartemen Matt dan mengetuk pintunya perlahan.
Tok! Tok!
"Matt, kamu di dalam?" tanya Lea.
Kemudian ia mengetuk pintu apartemen Matt sekali lagi, kalau Matt tidak di tempat berarti dia yang akan memutuskan.
Lea menunggu di depan pintu itu, berharap Matt membukakan pintu untuknya, menyambut dan memeluknya. Lea menghela nafasnya panjang. Mungkin ini sudah berakhir. Novel ini sudah mencapai 50k lebih, namun ternyata kisah cintanya dengan Matt harus berakhir sampai sini. Lea mulai mendramatisir keadaan.
Dengan wajah sedih, Lea pergi meninggalkan apartment Matt. Ia kembali ke apartemennya sendiri, dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kosong sekali rasanya, yah? Akhirnya aku patah hati lagi, Rue," ucap Lea.
Rue yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu tidak menanggapinya. Sampai kemudian terdengar bel pintu berbunyi.
"Rue, bukakan pintunya. Mungkin itu Alesya. Anthem memintanya untuk menemaniku hari ini. Anthem sialan itu pasti memberitahukan kisah patah hatiku kepada Alesya seakan-akan itu kabar gembira dan patut di rayakan! Aaarrggghh! Aku kesal sekali!" tukas Lea.
Rue membukakan pintu untuk tamu mereka. "Oh, kamu sudah di tunggu. Dia sedang menggila, bicaralah pelan-pelan. Aku akan memberikan kalian waktu dan tempat untuk menyelesaikan masalah ini. Selesaikanlah," kata Rue kepada tamu mereka.
Tamu itu tersenyum ala kadarnya dan mengucapkan terima kasih kepada Rue. Kemudian ia masuk dan mendengar ocehan Lea. "Lea, ini aku,"
__ADS_1
...----------------...